
Mata elang lelaki yang duduk di kursi kebesarannya terlihat membulat. Lalu bibirnya menyunggingkan sebuah senyum. Tangannya bergerak menutup layar ponsel lalu meletakkan benda pipih nan canggih itu di meja. Matanya kini dia biarkan terpejam. Lama itu dia lakukan, seolah ingin terlelap dan melupakan semua kenyataan pahit yang telah menimpa hidupnya.
"Tuan tidak ingin menemuinya?"
Lelaki itu tetap diam dan tidak ingin sedikitpun membuka matanya dan suaranya.
Lelaki yang sempat bertanya pada tuannya memilih diam juga. Dia tidak mungkin mengulang pertanyaannya.
"Raka, apa kamu pernah merasa sepi padahal kamu dikelilingi banyak orang? Apa kamu pernah merasa tidak bahagia padahal hartamu berlimpah?" lontar sang tuan setelah lama terbungkam.
"Tidak! Aku hanya merasakan sakit kalau Tuan sakit."
Lelaki yang dipanggil tuan itu menolehkan pandangan ke arah Raka.
"Tuan Verel adalah prioritas hidupku," sambungnya.
"Kamu memang bawahanku tapi juga berhak punya kehidupan sendiri. Cari hal yang membuat kamu bahagia. Jangan sampai. menyesali di kemudian hari!" sahut Raka.
"Tuan juga berhak mencari hal yang membuat Tuan bahagia. Jangan sampai Tuan menderita karena memendam dendam yang diam-diam mematik bara api dalam hati. Tuan harus bahagia bukan menderita seperti ini."
Verel terdiam mencerna apa yang diucapkan Raka.
"Apa aku bisa bahagia?"
"Sangat bisa Tuan," sahut Raka dengan cepat.
"Orang yang aku cintai sudah kembali pada cinta sejatinya. Anak yang selama ini aku impikan telah tiada. Lalu hal apa lagi yang bisa membuat aku bahagia?" ujar Verel sorot matanya layang ke langit-langit ruangan.
"Berdamailah dengan keadaan sekarang. Terima wanita yang sekarang sah menjadi istri Tuan," sahut Raka.
Verel tertawa lantang mendengar saran dari Raka.
"Itu hal yang tidak mungkin! Aku akan senang kalau dia semakin menderita! Artinya, Meilin kakaknya juga ikut menderita. Aku tidak akan melewati momen ini! Aku! Aku akan buat lubang neraka untuknya!" ucap Verel diiringi tawa keras.
"Ingat Tuan. Sebenarnya Tuan juga secara tidak langsung ikut terjun ke dalam lubang yang Tuan gali."
Verel menatap tajam ke arah Raka. Dia tidak terima bawahannya berkata demikian.
"Keluar dari sini!" teriak Verel.
Raka beranjak dari ruangan. Dia tahu, titah tuannya tidak terbantahkan. Hanya saja, mengatakan apa yang selama ini dia pendam karena tidak berani mengutarakan itu membuatnya lega. Mengingatkan tuannya agar berjalan di jalan lurus dan meraih kebahagiaan yang hakiki adalah tugas utamanya sekarang.
'Aku harus berbuat apalagi agar kamu sadar tuan? Jalan yang kamu pilih semakin sesat,' monolog batin Raka.
Verel yang dia kenal sudah semakin jauh dari jati dirinya. Temperamen dan hilang harapan kebahagiaan.
'Apa aku harus menemui non Delmira?' lontar batin Raka.
...****************...
"Mbok, apa ... aku boleh bicara?" lontar Delmira sedikit ragu.
"Lah ini Non sedang bicara kan?" canda Sa'diyah dirinya sebuah senyum.
Delmira ikut tersenyum.
"Besok, Zaidan memintaku ikut ke Jakarta. Kami datang untuk meminta restu pada orang tua Zaidan."
"Bagus itu, artinya dia bersikap laki. Dia tidak main-main dengan perasaannya dan perasaan Non."
"Tapi_"
"Non ragu? Sudah istikharah? Lakukan istikharah kalau Non bimbang memilih jalan yang perlu ambil."
__ADS_1
"Sejak Zaidan memintaku kembali, aku sudah mulai istikharah Mbok," jawab Delmira.
"Berarti kira-kira sudah satu bulan. Lalu petunjuk apa yang Non dapatkan?"
"Semoga yang aku terima nyata petunjuk dari Allah, aku menerima tawaran Zaidan."
"Alhamdulillah, tunggu apalagi. Insyaallah itulah petunjuk yang sebenar-benarnya petunjuk yang Allah berikan," sahut Sa'diyah.
"Jujur Mbok, perasaan aku yakin akan cinta Zaidan dan aku juga yakin cinta yang aku rasakan padanya. Namun, yang aku ragukan, apakah ummi Aisyah akan menerimaku kembali."
Sa'diyah mengempaskan napasnya.
"Mbok yakin, tipe orang seperti orang tuanya Zaidan adalah orang yang bijak. Dia mendidik Zaidan dengan baik hingga Zaidan tumbuh menjadi sesosok yang saleh."
"Walaupun nantinya aku jujur soal kehamilanku dengan..." Delmira diam sejenak, setiap dia akan mengatakan kalimat ini dadanya selalu sesak, "dengan lelaki lain?" sambung Delmira kemudian.
"Jelaskan dengan detail soal musabab Non bisa hamil dengan lelaki lain. Setelah Non jelaskan dengan baik, pasrahkan hasilnya pada Allah ta'ala. Insyaallah kalau semua hal Non pasrahkan pada-Nya, akan ada hal baik yang nanti kita terima."
Delmira terdiam. Lalu mengempaskan napasnya. Hatinya merasa lebih tenang mendengar nasihat yang diberikan Sa'diyah.
"Terima kasih Mbok. Aku tidak tahu harus membalas kebaikan Mbok dengan apa," ucap Delmira tubuhnya bergerak memeluk tubuh wanita tua yang ada di sampingnya.
Tanpa terasa air mata Delmira mengalir dan suara isakan terdengar dari keduanya.
Lama mereka dalam keadaan seperti itu hingga akhirnya Delmira melepas pelukannya.
"Mbok ikut bahagia kalau Non bahagia," ucap Sa'diyah tangannya bergerak menyeka air mata yang membasahi dua pipi Delmira.
Tangan Delmira juga sama, mengusap dua pipi yang sudah terlihat keriput itu.
"Mbok selalu jaga kesehatan ya," ucap Delmira karena akhir-akhir ini Sa'diyah terlihat tidak sehat, hanya saja wanita itu tidak pernah mengeluh akan sakitnya.
Sa'diyah mengangguk pelan, "Apa mbok boleh merepotkan Non?"
"Bukankah selama ini yang sering merepotkan itu aku Mbok?"
"Mbok, Mbok Sa'diyah bicara apa sih. Tanpa disuruh Mbok pun, aku akan menjaga Safira sebisa mungkin dan kita akan menjaganya bersama-sama," cekat Delmira.
Sa'diyah kembali tersenyum, "Terima kasih Non," ucapnya kemudian.
"Mbok jangan ucapkan terima kasih padaku. Aku yang seharusnya berterima kasih banyak pada Simbok."
"Safira sudah yatim piatu sejak kecil. Simbok selalu berusaha menjadi orang tua untuknya. Walaupun Simbok tahu, Simbok tidak akan mampu menggantikan posisi orang tuanya."
Delmira mengempaskan napasnya, "Dia sudah aku anggap seperti adikku sendiri Mbok. Apa Mbok tahu, hadirnya kalian dalam hidupku sangat begitu berarti. Kalian ada di saat aku tersesat jalan, di saat aku di posisi paling dasar," ujar Delmira.
"Ingat Mbok, Mbok harus selalu jaga kesehatan. Jangan berpikiran macam-macam," sambung Delmira.
Sa'diyah mengangguk, "Sudah semakin malam, Non siapkan keperluan yang besok Non bawa. Setelah itu istirahatlah." titah Sa'diyah mengalihkan pembicaraan.
"Baik Mbok," jawab Delmira lalu melangkah keluar dari kamar Sa'diyah.
Delmira masuk ke kamar sederhana miliknya. Kamar yang terhitung sudah satu tahun ini dia tempati.
Matanya kini layang menerobos atap rumah yang belum berplafon.
"Sudah satu bulan Verel tidak beri kabar. Semoga dia hidup dengan baik," gumam Delmira tiba-tiba saja pikirannya tertuju pada sosok Verel.
...****************...
Delmira mengekor langkah Zaidan masuk ke rumah yang dulu pernah dia singgahi setelah mengucap salam. Mereka lalu duduk di kursi tamu, lalu Zaidan meminta mbok Muna guna memanggil Aisyah.
Zaidan sengaja mengajak Delmira hari Minggu agar ummi Aisyah ada di rumah karena tidak bekerja.
__ADS_1
Sebelumnya, Zaidan telah mengantar Delmira ke hotel yang nantinya untuk bermalam saat Delmira di Jakarta. Setelah bebersih diri dia baru ke rumah ummi Aisyah.
"Waalaikum salam," jawab Aisyah keluar dari ruang dalam, membalas salam yang dilontarkan dari balik ruang tamu.
Aisyah sempat kaget melihat kedatangan Delmira yang tiba-tiba itu.
"Subhanallah... Delmira."
Delmira tersenyum menanggapi lalu gegas mencium punggung tangan Aisyah.
"Nak Delmira apa kabar?" lontar Aisyah.
Perasaan kesal dan kecewa pada sosok Delmira karena lebih memilih meninggalkan Zaidan entah kenapa luluh lebur saat menatap langsung wajah Delmira di depannya.
"Alhamdulillah baik Ummi. Ummi bagaimana kabar?" tanya balik Delmira.
"Alhamdulillah Ummi juga baik. Ayo duduk," tawar Aisyah.
Delmira dan Zaidan pun duduk. Zaidan melempar sebuah senyum melihat keramahan yang ditunjukkan Aisyah.
Mata Aisyah berpindah tatap dari Delmira lalu menatap Zaidan.
"Katakan Zaidan, pasti ada maksud tertentu kamu membawa nak Delmira kemari. Dan Ummi ingin tahu, bagaimana kalian bertemu. Setahu Ummi, bulan-bulan lalu kamu mencari Delmira. Ummi menyuruh kamu ke luar Jakarta untuk membuka lembar baru tanpa bayang-bayang nak Delmira. Kenapa datang-datang malah membawanya?."
"Ummi memang pandai menebak isi hati orang hanya dengan membaca dari wajah," puji Zaidan.
'Rona wajah kamu memancarkan aura yang berbeda Zaid,' batin Aisyah.
"Katakan saja apa yang ingin kamu katakan. Jangan buat Ummi penasaran."
"Maaf, baru kali ini Zaidan cerita dengan Ummi. Sebenarnya, dulu sehari tiba di Pekalongan, Zaidan langsung dipertemukan dengan Delmira. Tentunya itu bukan sebuah kesengajaan. Namun, Zaidan yakin, itu skenario yang sudah Allah rancang untuk kita berdua."
"Benar seperti itu?" bingung Aisyah.
Zaidan mengangguk.
"Itu karena Zaidan tidak durhaka pada umminya. Dia memilih pindah ke luar Jakarta menuruti keinginan sang ummi. Allah langsung menghadiahkan sebuah hadiah untuknya," sela Raka yang sedari tadi ambil diam.
"Subhanallah...," lirih Aisyah.
"Kini, Zaidan bawakan Delmira kemari Ummi. Zaidan ingin meminta restu atas hubungan kita. Zaidan sudah melamar Delmira."
Manik mata Aisyah berpindah tatap ke arah Delmira.
"Betul seperti itu Nak Del?"
Delmira tersenyum lalu mengangguk.
Aisyah mengalihkan pandangan ke arah Zaidan.
"Kalau begitu, tunggu apalagi. Cepat halalkan hubungan kalian." seru Aisyah, memilih menyerah pada pendirian Zaidan yang begitu kekeh untuk memperjuangkan cintanya dengan Delmira.
Zaidan tersenyum lebar langsung memeluk tubuh yang sudah tua itu, "terima kasih Ummi," ucap Zaidan kemudian.
"Apa kamu tidak suka Nak Del?" tanya Aisyah melihat Delmira tanpa ekspresi.
"Jujur, aku sangat bahagia sekali Ummi. Namun, ada hal penting yang harus aku sampaikan pada Ummi."
"Tentang apa? Katakanlah."
Delmira diam sejenak, menata diri agar siap mengutarakan apa yang ingin dia sampaikan pada Aisyah.
"Dulu, sebab aku menceraikan Zaidan, Itu karena...karena aku hamil dengan pria lain," ucap Delmira.
__ADS_1
Ada sesak yang menggerogot dada. Namun, Sejak awal Delmira sudah memasrahkan semua pada Sang Pencipta dan apapun jawaban dari ummi Aisyah, Delmira harus menyiapkan mentalnya.
malam menyapa 🥱 like, komen, hadiah , vote juga ya🙏 dukungan kalian semangat berhar Kak Mel