Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 144


__ADS_3

Zaidan diam, menatap dalam mata istrinya, sekejap netra itu saling bersitatap sebelum akhirnya Delmira menundukkan pandangannya, "Bukankah Ummi sudah mengamanahkan rumah sakit ini pada Momyang?" tanya Zaidan kemudian.


Kini Delmira yang diam.


"Ummi akan sangat kecewa kalau kamu menyerah begitu saja," imbuh Zaidan.


"Ingat Momyang, yang namanya kerja, apalagi menjalankan sebuah bisnis, pasti akan ada kendalanya," terang Zaidan.


"Tapi aku gagal Papyang, takutnya kalau terus Momyang yang menangani rumah sakit ini, malah keuangan rumah sakit tidak pulih dari krisis," ujar Delmira.


"Papyang melihat banyak kemajuan dari Momyang. Apalagi aksi Momyang saat menemui para perwakilan pendemo lalu mengambil keputusan yang sangat tepat. Papyang baru saja akan mengatakan bangga dengan Momyang. Eh, malah Momyang akan menyerah," ujar Zaidan panjang lebar, dan berharap sang istri berubah pikiran.


"Tapi Papyang juga tidak memaksa. Barangkali Momyang lelah, ya tidak apa-apa. Nanti anak-anak pasti merasa senang karena Momyang lebih banyak lagi waktunya untuk mereka," imbuh Zaidan.


Delmira terdiam. Pekerjaannya memang tidak menuntut dirinya untuk bekerja keras. Delmira hanya perlu memeriksa beberapa laporan yang harus dia tanda tangani untuk disetujui. Kalau pun ada permasalahan yang lebih rumit, pasti Zaidan akan membantu untuk menyelesaikan.


'Kalau aku mengundurkan diri, itu artinya Papyang harus pegang rumah sakit juga dealer,' monolog batin Delmira penuh dengan keraguan.


"Pikirkan baik-baik, besok atau kapanpun kamu beri kepastian kembali."


Delmira mengangguk pelan mengiyakan ucapan Zaidan.


"Kalua begitu, pulang yuk," ajaknya dan Delmira pun gegas mengambil tas.


...****************...


"Astaghfirullah haladhim," ujar Icha kaget karena saat berlari untuk ke kelas, tiba-tiba ada lelaki di depannya. Bahkan Icha sempat akan jatuh namun tertahan oleh tangan kokoh siswa yang bertabrakan dengannya.


"Maaf, aku buru-buru," ujar Icha gegas berdiri tegap, membenarkan rok dan bajunya, kemudian gegas pergi tanpa mendengar jawaban Kaffah yang sebenarnya akan memberikan siraman rohani pagi.


"Woe! Kalau mau lari-lari sana di lapangan!" teriak Kaffah.


"Apa semua cewek di sini sama? Selalu saja ceroboh dan main pergi tanpa meminta maaf?!" gerutunya kemudian.


Klutak.


Kaki yang baru melangkah itu dia hentikan. Membalikkan tubuh lalu mengambil sebuah kunci yang jatuh dari tas Icha.


"Woe kunci kamu?!" teriak Kaffah tapi tidak didengar olehnya.


"Mahluk aneh!" gumam Kaffah. Kakinya kembali melangkah.


Dia membelokkan langkah menuju kelas Kahfi terlebih dahulu.


Kaffah dan Kahfi tidak masuk ke kelas bersama. Kahfi harus cepat ke kelas karena ada urusan dengan Pe'i. Sedangkan Kaffah menunggu di samping gerbang sekolah menunggu ketua ekskul bela diri karena juga ada keperluan.


Kepala Kaffah mendongak mencari keberadaan saudara kembarnya.


Dia tidak tahu, kalau dongakkan kepalanya membuat siswi-siswi kelas itu meleleh hanya menatap ketampanan Bagas Kaffah Kusuma Mukhtar.


"Mencari Kahfi?" lontar seorang siswi menghampiri Kaffah.


"Cie cie cie...," sorak siswi yang lain melihat cewek tercantik di kelas itu mendekat ke arah Kaffah.


Kaffah tersenyum pada siswi yang ada di depannya, tidak lupa juga melempar senyum dan melambai tangan pada siswi-siswi yang ada di dalam kelas.


"Hai...," balas serentak siswi-siswi di dalam kelas.

__ADS_1


"Kamu melihat Kahfi?"


"Tadi dia menaruh tas di kursi, lalu mengajak Pe'i keluar," lapornya.


"Oh, terima kasih untuk infonya," balas Kaffah.


"Tunggu!" cekat siswi itu saat kaki Kaffah akan melangkah pergi.


"Aku Kirana," ucap siswi itu, menyodorkan tangan memperkenalkan diri.


"Hai Kirana," balas Kaffah sambil menjabat tangannya, "sambung lain waktu ya aku mau cari Kahfi," pamit Kaffah.


"Ok!" sahut siswi cantik nan anggun itu dengan mengerlingkan satu mata.


Kahfi kembali berjalan.


"Kebetulan, temu di sini," ucap Kaffah saat hampir masuk ke kelas ada saudara kembarnya.


"Ada perlu apa?"


Kaffah merogoh saku baju, lalu menyerahkan sebuah kunci.


"Cewek kamu jatuhin kunci ini," terang Kaffah.


"Maksud kamu?" lontar Kahfi pura-pura tidak tahu siapa yang dimaksud Kaffah.


"Berlagak tidak tahu siapa yang aku maksud," sahut Kaffah, "sudah bel, aku masuk kelas dulu," pamitnya kemudian karena kebetulan bel masuk berbunyi.


"Hei!"


'Dia bertemu dengan Icha lagi,' gumam batin Kahfi.


"Kalau lu kagak gerak cepet, Kaffah bisa dapetin Icha lebih dulu," ucap Pe'i di tengah jalan mereka.


Kahfi diam, bukan tidak mendengar ucapan sahabatnya, akan tetapi hatinya entah kenapa merasa tidak rela.


Tiga jam pelajaran telah berlalu. Siswa-siswi SMA Merdeka Berbudi keluar kelas mendengar bel istirahat berbunyi, tentunya setelah guru yang mengajar mereka menutup pembelajaran saat itu.


Kaffah tercengang saat keluar kelas, dekat pintu kelas ada seseorang yang tadi pagi sudah membuat masalah dengannya.


"Mau apa?" lontar Kaffah tanpa basa-basi.


"Tadi pagi kamu melihat sebuah benda?" tanya Icha.


"Maksud kamu kunci?"


Icha mengangguk cepat, kakinya masih mengekor langkah Kaffah.


Kaffah menahan senyum, tiba-tiba otaknya muncul sebuah ide konyol.


"Aku tidak tahu," jawab Kaffah.


"Issst! Kalau kamu tidak tahu, bagaimana bisa kami langsung menebak kalau aku sedang mencari kunci?!" kesal Icha.


"Keluhan model siswi seperti kamu apalagi kalau bukan soal soal kunci!" Bisa juga kunci motor/ mobil atau pun bisa jadi kunci jawaban."


"Kalau tidak tahu keberadaan kunciku, pembicaraan kamu tidak usah melebar kemana-mana! Cukup bilang tidak tahu! Begitu saja susah amat!" gerutu Icha lalu melangkah pergi meninggalkan Kaffah yang berjalan sendiri.

__ADS_1


Kaffah tersenyum menang mendapat kenyataan siswi itu melangkah pergi.


"Ternyata benar. Walaupun saudara kembar, sikap keduanya bisa jauh berbeda," gumam Icha sambil jalan. "Aku harus cari dimana?" Pandangan Icha tertunduk ke bawah, melihat setiap jejak jalan yang tadi pagi dia lewati tapi juga tidak dia temukan.


"Cha, ngapain lu?"


"Oh, Pe'i," sahut balik Icha lalu mengempaskan napas sebelum melanjutkan bicara, "Aku lagi nyari kunci," ucapnya dengan nada putus asa.


"Jadi lu belum temu ame si Kahfi?" lontar Pe'i.


"Dia mencariku?" lontar balik Icha, dengan binar yang berbeda, rasa putus asa, keluh yang mendera karena mencari barang yang hilang tidak kunjung dia temukan, hilang seketika.


Pe'i mengangguk, "Ntuh si Kahfi nunggu lu di perpustakaan," ujarnya.


"Ok, terima kasih," jawab Icha gegas berjalan cepat menuju perpustakaan.


"Perasaan cinte ntuh kagak bise diboongin. Kalian Sling diem, kagak ade nyang nyatain perasaan. Tapi kenyataannye sikap kalian nyang bisa ngomong," monolog Pe'i kepalanya menggeleng pelan menatap punggung Icha yang semakin menjauh.


Icha mengatur napas, agar tidak terlihat lebih tenang. Jalan cepatnya sungguh bagai lari kecil sehingga napasnya tidak terkontrol.


Merasa lebih tenang kini kakinya melangkah masuk, matanya mengarah pada sudut kursi yang biasa mereka duduki.


Benar saja, di situ sudah ada sesosok lelaki yang tidak asing bagi Icha. Walaupun yang terlihat hanya punggungnya tapi Icha sudah dapat menebak sosok lelaki tersebut.


"Sudah lama?" lontar Icha, melempar senyum lalu pantatnya dia dudukkan di kursi depan Kahfi duduk, meja sebagai pembatas di antara keduanya.


Kahfi menolehkan pandangan ke arah sumber suara, senyumnya pun mengembang sebagai balasan.


"Lumayan," balas singkat Kahfi.


Seperti itulah pertemuan Kahfi dan Icha, mereka cenderung sama-sama serius kalau sedang berdua.


Kahfi merogoh saku baju, lalu mengeluarkan sebuah kunci dan dia sodorkan tepat di atas meja Icha.


"Kunciku!" seru Icha, "jadi kamu yang menemukan kunci ruang PMR?" tanyanya dengan wajah yang lega.


Kahfi menggeleng, "Kaffah yang menemukannya," jawabnya.


"Issst! Jadi monster aneh itu yang menemukan kunci ini! Kenapa tadi bilang tidak lihat!" sungut Icha.


"Kamu bertemu dengan Kaffah?"


"Aku menemui dia! Tadi pagi kan secara tidak sengaja kami bertabrakan sampai aku akan jat_"


Icha diam kalimatnya tercekat sampai di situ.


'Tidak mungkin kan aku mengatakan pada Kahfi, aku akan jatuh kalau saja tangan Kaffah tidak menopangku,' monolog batin Icha menggerutu diri.


'Emmm, kalaupun aku katakan kenapa juga? Dia kan bukan apa-apanya aku," sambung batin Icha tapi kalimat sambungan ini seperti sebuah sindiran untuk diri sendiri, dekat dengan seseorang tapi tanpa hubungan status yang jelas.


"Kamu tidak sengaja bertabrakan dengan Kaffah, lalu?" tanya Kahfi karena penasaran yang terlalu tinggi.


Icha gegas menggeleng, "Lupakanlah. Emmm... intinya, kunci ini sudah ditemukan. Terima kasih," seloroh Icha.


"Berterima kasih lah pada Kaffah, dia yang menemukan kunci itu," saran Kahfi.


"Ogah!" cekat Icha membuat mata Kahfi membulat.

__ADS_1


__ADS_2