
"Waalaikum salam," sahut Safira, gegas ke ruang tamu dan membuka pintu yang sempat diketuk dari luar.
"Delmira ada?" tanya lelaki yang ada di balik pintu.
"Oh... Mbak Del?" retoris Safira, matanya menatap dari ujung kaki hingga ujung songkok yang dikenakan lelaki di depannya.
"Ada perlu apa?" telisik Safira.
Lelaki itu tersenyum, melihat perubahan ekspresi wajah Safira.
"Perlu bicara dengan Mbak Delmira," sahut nya.
Safira kembali menelisik wajah lelaki itu.
"Bisakah?" Dia memastikan.
"Hmmm," dengung Safira sebagai jawaban, kakinya melangkah masuk menuju kamar Delmira.
"Mbak... Mbak... Mbak Del," panggil Safira, di depan pintu kamar.
"Ada apa?" tanya Delmira setelah membuka pintu.
"Ada cowok ganteng yang mencari Mbak."
"Cowok ganteng? Siapa?"
"Dih, kalau Safira tahu ngapain tidak nyebut namanya."
Delmira meraih kerudung yang ada di castok, memakainya lalu keluar dari kamar menuju teras rumah.
Deg.
Walaupun wajahnya tidak dapat dia lihat karena posisi yang sedang berdiri membelakangi pintu ruang tamu, namun, jelas Delmira tahu lelaki itu.
"Assalamualaikum," sapa Delmira.
Zaidan membalikkan tubuh, "Waalaikum salam," jawabnya, sebuah senyum tergambar mengiringi sahutnya.
"Silahkan duduk."
"Terima kasih," jawab Zaidan duduk berhadapan dengan Delmira dan meja sebagai pembatas di antara keduanya.
Zaidan sesekali curi pandang pada Delmira. Namun, sesekali pula memandang dengan intens wanita yang pernah hidup dalam satu atap dengannya.
"Apa kita hanya akan diam?" lontar Delmira membuka kebisuan.
Zaidan menarik dua sudut bibirnya, "Aku masih ingin memandang kamu, dalam diam seperti ini," ujar Zaidan.
"Ingat, jaga mata, hati, pikiran."
"Bahkan kalau tidak takut dosa, aku ingin meraih tubuhmu dalam pelukanku Mrs. Delmira," sahut Zaidan.
Delmira menengadahkan pandangan, dia tidak menyangka Zaidan berkata selugas itu.
"Boleh aku masuk dalam kehidupan kamu lagi? Memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah kulakukan dan menuliskan cerita yang lebih indah bersamamu," jujur Zaidan.
Delmira semakin tertegun. Semakin tidak menyangka Zaidan akan mengatakan semua itu.
__ADS_1
"Zaid_"
"Maafkan aku," cekat Zaidan.
"Maaf untuk hal apa?" lirih Delmira, entah kenapa matanya tiba-tiba berembun.
"Maaf karena tidak ada untuk kamu di saat kamu butuh, maaf tidak mempertahankan kamu untuk tetap di sisiku, maaf...," sejenak Zaidan berhenti, mengatur napas yang mulai tidak karuan.
"Maaf karena cintaku yang sederhana ini nyatanya tidak mampu membuat kamu bahagia," lanjut Zaidan.
Lama mereka terdiam dalam pikiran masing-masing.
"Seharusnya aku yang minta maaf, semuanya terjadi karena saat itu aku menjadi istri yang durhaka," lirih Delmira membuka suara.
"Kamu terlalu serakah, menanggung semuanya sendiri Mrs. Delmira. Bahkan, kamu juga menanggung kehamilan kamu sendiri. Lelaki yang kamu katakan sebagai kekasih, lamarannya tidak kamu terima, bukankah begitu? Mengapa... mengapa saat itu kamu tidak jujur padaku? Kehamilan kamu bukan disengaja, melainkan karena jebakan Meilin," desak Zaidan.
Embun yang sedari tadi tertampung dalam pelupuk mata kini jatuh membasahi dua pipi.
"Dan... dan bodohnya aku, tidak bisa menyelidiki semua kebenarannya?" lanjut Zaidan, penuh dengan sesal.
"Semuanya sudah terjadi," ucap Delmira.
"Bekas luka di wajah kamu. Itu juga Meilin yang melakukannya?"
Delmira menengadahkan pandangannya kembali menatap pada Zaidan, "Verel yang mengatakan semua?" tanyanya kemudian.
Zaidan menggelengkan kepala.
"Terlalu banyak luka yang Meilin lakukan pada mu. Apa kamu tidak ingin membalasnya?" pancing Zaidan.
Delmira terdiam, "Aku malas berurusan dengan dia. Aku ingin hidup normal tanpa ada dendam," jawabnya.
Sebuah senyum Zaidan tunjukkan, 'Subhanallah... ini kamu yang sekarang Mrs. Delmira? Kamu benar-benar berubah, membuatku semakin yakin untuk kembali padamu,' batin Zaidan.
"Aku minta kamu pertimbangkan permintaanku."
"Permintaan, permintaan apa?" retoris Delmira. Dia paham maksud Zaidan apa. Namun, dia ingin mendengar Zaidan mempertegas kembali ucapannya. Takut saja barangkali dirinya salah menafsirkan.
Zaidan melebarkan senyum, "Permintaan untuk kembali hidup bersamaku wahai Delmira Cinta Kusuma," simpul Zaidan.
Delmira tetap saja menunjukkan wajah keterkejutannya. Walau ucapan itu hanya sebuah pengulangan.
"Tapi aku_"
"Aku tidak meminta jawaban sekarang, mintalah petunjuk pada Allah," potong Zaidan diakhiri dengan sebuah senyum.
"Boleh aku pamit dengan simbok yang selama ini sudah merawat kamu?"
"Oh, Mbok Sa'diyah, kamu tahu dia?"
"Sekarang apapun tentang kamu, aku harus tahu," sahut Zaidan.
Delmira mengerucutkan bibir sebagai balasan. Kakinya melangkah masuk, memanggil Sa'diyah.
Tidak lama kemudian mereka keluar menemui Zaidan.
"Assalamualaikum Mbok," sapa Zaidan mencium takdhim punggung tangan Sa'diyah.
__ADS_1
"Waalaikum salam," jawab Sa'diyah.
"Saya Zaidan Mbok, mantan suami Delmira."
Sa'diyah terkejut mendengar pernyataan Zaidan. Dia sudah mendengar semua cerita Delmira dengan mantan suaminya. Namun, baru kali ini bertegur sapa secara langsung.
Sa'diyah mengembangkan senyum, "Saya Mbok Sa'diyah."
"Saya bermaksud meminta restu pada Simbok, restu untuk meminang Delmira kembali," ucap Zaidan tanpa basa-basi.
Sa'diyah menoleh ke arah Delmira, lalu memegang tangannya, "Semua aku serahkan pada non Delmira. Simbok hanya berharap, non Delmira hidup bahagia."
"Apa itu boleh saya artikan, kalau Simbok merestui?"
Sa'diyah tersenyum kembali, "Kamu yakin bisa membahagiakannya?"
"Kalau saya tidak yakin, saya tidak mungkin ada di sini," sahut Zaidan membalas senyum Sa'diyah.
...****************...
"Mengapa setiap hari memesan makan siang ke warung?" gerutu Delmira melihat pesan masuk di ponselnya.
Tangannya segera bergerak membungkus kan beberapa bungkus nasi yang akan dia bawa ke dealer motor Pekalongan.
Sa'diyah mengulas sebuah senyum melihat ekspresi wajah Delmira, "Alhamdulillah... kalau seperti ini, warung Simbok tambah laris," ledek Sa'diyah.
"Sejak kapan Simbok jadi matre seperti ini?" keluh Delmira.
"Sejak ada pelanggan tetap dari dealer motor Pekalongan," sahut Sa'diyah, menahan sebuah senyum.
"CK ck ck... Mbok Sa'diyah sepertinya sudah terhasut dengan tindakan Zaidan," sungut Delmira.
"Mbok berharap kamu juga terhasut dengan tindak tanduk dan omongan Zaidan. Cepat beri jawaban untuk dia," ledek Sa'diyah.
"Hmmm," dengung Delmira sebagai jawaban karena pasrah saja mendengar ledekan dari mbok Sa'diyah.
"Cie cie... kayaknya mbahas mas ganteng ini," ledek Safira yang tiba-tiba masuk ke dalam warung.
"Astaghfirullah haladhim, salam kek," protes Delmira.
"Assalamualaikum," ucap Safira, menurut pinta Delmira.
"Waalaikum salam, gitu dong anak cantik," sahut Delmira lalu mencubit pipi kanan Safira.
"Auww! Sakit Mbak!" gerutu Safira.
"Baru jam setengah 12, kenapa sudah pulang?"
"Para guru mau rapat," jawab Safira.
"Kebetulan sekali, yuk anter Mbak Del ke dealer motor Pekalongan."
"Temu mas ganteng Mbak?" lontar Safira, penuh antusias.
"Semangat sekali. Apakah Om ganteng Raka sudah tergeser posisinya?" ledek Delmira.
"Beda dong Mbak. Kalau om ganteng, sampai kapanpun dia selalu di sini," jawab Safira dengan rasa wajah berseri, tangannya menunjuk ke arah dada, dimana ada hatinya.
__ADS_1
"Sama halnya Mbak Del kan, sampai kapanpun mas ganteng tetap ada di hati Mbak Del?" sambung Safira sekaligus melempar sebuah tanya yang membuat Delmira membeku seketika.
pagi menyapa 🤗 maaf ya baru update 🙏 like komen ya hadiah juga mau🥰😍😘