
'Apa dia akan intervensi urusan rumah tanggaku?' batin Delmira penuh curiga dengan ajakan dari mertua.
Delmira mengangguk, Aisyah tersenyum. Tangannya bergerak merangkul Delmira berjalan ke kantin.
Setelah sampai di tempat, mereka duduk di salah satu kursi yang ada di kantin.
"Makan yang banyak," ucap Aisyah setelah pesanan mereka tersaji di meja.
"Aku dengar dulu kamu pernah jual makanan via on line?" tanya Aisyah mengawali pembicaraan setelah beberapa sendok makanan masuk ke mulutnya.
"Oh, itu dulu Ummi, sebelum...,"
"Sebelum?" tanya Aisyah karena Delmira menghentikan ucapannya.
"Sebelum keluargaku meninggal," lirih Delmira.
"Oh, maaf. Ummi mengungkit luka kamu."
Delmira mengangguk pelan, dengan senyum kecut.
"Makanan cemilan?"
"Semacam kue kue gitu Mi,"
"Wow, kamu hebat sekali. Dari dulu Ummi pengen sekali bisa buat kue gitu tapi tidak juga bisa. Lain waktu ajari Ummi buat ya," pinta Aisyah.
Delmira sekali lagi mengangguk.
"Zaidan juga suka loh makan kue cemilan. Dia tidak merokok makanya lebih suka camilan."
"Oh."
Aisyah memandang ke arah Delmira yang terlihat tanpa ekspresi.
"Zaidan anak yang baik Del. Kamu sangat beruntung mendapatkannya," ujar Aisyah dengan nada serius.
"Kamu sudah tahu kalau dia anak angkat Ummi?"
"Sudah Ummi," sahut Delmira.
Aisyah mengempaskan napasnya, matanya menatap kosong ke arah depan, otak memorinya mulai memutar kejadian tempo dulu.
"Zaidan, kami rawat karena orang tuanya meninggal dunia dibunuh perampok."
'Apa mungkin ini sebabnya, saat itu dia takut sekali ketika ditodong preman?' batin Delmira.
"Dia, tumbuh menjadi anak yang cerdas. Namun, sangat pendiam. Dia hanya mau berinteraksi dengan Ummi dan almarhum abah. Bicara seperlunya, bahkan teman-teman yang akrab juga hanya hitungan jari."
Aisyah menoleh ke arah Delmira, tersenyum lalu mengelus lengan Delmira dengan pelan.
"Ummi, sebenarnya menentang pernikahan kalian karena saat itu Zaidan mempunyai calon istri tapi Zaidan sungguh anak yang berbakti pada almarhum abah. Dia tidak ingin mengecewakan abahnya dan tentunya Zaidan sudah memikirkan secara matang pernikahan yang akan dia jalani. Maka dia sikekeh untuk menerima tawaran almarhum abah dan pada akhirnya menikah dengan kamu."
"Aku tahu dia menikah denganku karena terpaksa," sahut Delmira dan entah kenapa ulu hatinya terasa sakit mendengar apa yang disampaikan mertuanya.
"Bukan terpaksa Nak, Zaidan menikahi kamu karena Allah melalui salat istikharahnya."
"Istikharah?" ulang Delmira atau tepatnya sebuah tanya mengenai istikharah karena dirinya sama sekali tidak paham soal agama.
"Istikharah itu, salat sunnah yang dikerjakan untuk meminta petunjuk Allah saat kita berada di antara beberapa pilihan dan merasa ragu untuk memilih atau saat akan memutuskan suatu hal."
"Apa benar Tuhan akan memberi petunjuk?" tanya Delmira.
"Tentu, Allah akan memberi petunjuk pada mereka yang meminta petunjuk," jawab Aisyah.
"Dan Zaidan yakin, menikah denganku itu petunjuk dari Tuhan?"
"Kalau tidak yakin dia tidak akan melangkah sejauh ini."
"Tapi aku jauh dari kata solekha, apa mungkin petunjuk Tuhan pada Zaidan itu salah?"
"Maka dari itu Zaidan salat istikharah agar petunjuk yang Allah berikan itu tidak samar, Wallahu 'alam, hanya Allah yang tahu. Manusia hanya menjalankan yang sudah digariskan Allah." Aisyah mengempaskan napasnya.
"Label solekha ada dua pandangan, menurut pandangan manusia dan menurut pandangan Allah. Mungkin saja manusia memandang dia jauh dari kata solekha, tapi belum tentu di mata Allah sama," lanjut Aisyah.
"Sudah habiskan makannya, kalau ngobrol terus tidak akan selesai. Insyaallah lain waktu ummi ajak makan siang lagi," ujar Aisyah.
__ADS_1
"Besok kamu juga ada kegiatan luar kan?" tebak Aisyah.
"Ummi tahu?" penasaran Delmira karena memang besok ada kegiatan luar.
"Ummi serba tahu, dan sangat ingin tahu kegiatan kamu besok itu apa?" seloroh Aisyah diiringi sebuah senyum.
Delmira hanya membalas dengan senyum.
"Ummi habis ini mau salat dulu,"
"Oh," sahut Delmira, entah kenapa sedikit risih, ucapan Aisyah seakan sebuah tawaran agar Delmira juga ikut salat bersamanya. Namun, Delmira masihlah merasa jauh dari kata untuk beribadah.
"Ummi tinggal ya, assalamualaikum," pamit Aisyah tidak mungkin memaksa Delmira untuk ikut salat tapi hatinya bergumam mendoakan sang menantu agar suatu saat mendapat hidayah dari Sang Pencipta, Allah taala.
"Waalaikum salam," lirih Delmira menatap kepergian mertua hingga punggung mertuanya tidak terlihat oleh mata. Kakinya baru melangkah menuju ruang kerja.
Delmira kini duduk di kursi kerjanya. Sesekali mengelus perut yang terasa kenyang.
'Aku kira Ummi akan memaksaku untuk baikan dengan Zaidan,' batin Delmira.
'Tunggu! Apa Zaidan curhat dengan Ummi, kalau aku sedang marah dengan dia dan sengaja mendiamkannya? Huh! Apa jangan-jangan dia juga curhat mengenai pernikahan ini? Dasar lelaki! Kalau sampai dia curhat ke Ummi, aduh bisa hancur rencanaku!' monolog batin Delmira.
Tuling.
Satu pesan masuk, tertera nama Meilin.
Bisa kita bertemu di cafe biasa, sore ini?
"Dia mau apalagi?" keluh Delmira.
'Lima hari kemarin dia kan sudah menemui aku,' Delmira mengempaskan napasnya.
'Paling dia mau tanya lebih lanjut soal perselingkuhan mas Raffat. Padahal jujur saja aku malas sekali bahas itu. Aku hanya tidak ingin mengorek luka. Biarlah semuanya terkubur bersama kepergian mas Raffat' monolog batin Delmira.
Flashback on.
"Aku... aku boleh pinjam uang?" tanya Meilin.
Delmira yang sedang menyeruput minumannya sampai tersedak.
"Be...berapa?" tanya Delmira gugup pasalnya dia benar-benar sudah tidak punya tabungan lagi. Uang gajian kerjanya saja sudah habis, tersisa hanya untuk beli bensin hingga akhir bulan. Dia di juga terpaksa memangkas nominal donasi yang disalurkan ke panti asuhan.
"Banyak sekali?" sahut Delmira dengan lirih.
"Uang segitu menurut aku tidaklah banyak bagi seorang istri pemilik CV dealer AZM."
"Aku tidak pernah memakai ATM yang dia beri," ucap Delmira.
Wajah Meilin sangat terkejut tapi di balik mimik itu, ada selipan senyum yang mengembang dan dengan cepat dia tarik, 'Aku hanya memastikan, tidak mungkin aku pinjam uang karena hartaku sangat melimpah,' batin Meilin.
"Kenapa?" selidik Meilin.
"Ya... aku tidak mau saja." jawab Delmira.
"Apa karena kamu sedang marahan dengan Zaidan?" cecar Meilin.
"Kamu tahu?"
Meilin terkekeh melihat keterkejutan Delmira karena teman satunya ini gampang sekali dipancing untuk membuka mulut tanpa paksaan.
"Aku mendiamkan dia karena dia berani menyelidiki...,"
"Menyelidiki apa?" tanya Meilin.
Delmira terlihat ragu untuk menyampaikan pada Meilin.
"Hei, kalau bicara jangan sepotong-sepotong!" kesal Meilin.
"Menyelidiki masa lalu mas Raffat, dia curiga kalau mas Raffat selingkuh dan menghamburkan uang untuk selingkuhannya," ucap Delmira panjang lebar.
Seketika wajah Meilin berubah pucat dan terlihat gugup.
"Kamu kenapa Mei? Apa kamu tahu sesuatu?" tanya Delmira melihat ekspresi sahabatnya.
"Oh, aku tidak tahu menahu," balas Meilin dengan gugup.
__ADS_1
"Barangkali kamu tahu, dulu kamu kan sekretarisnya."
"Tahu apa maksud kamu?" tanya Meilin dengan terbata.
"Tahu soal kemungkinan mas Raffat selingkuh."
Meilin mendengus dengan menampakkan barisan gigi, "Aku hanya 8 bulan menjadi sekretarisnya bagaimana aku tahu tentang dia? Seharusnya kamu yang lebih tahu karena kamu istrinya."
"Seharusnya, seharusnyalah aku yang lebih tahu," sahut Delmira dengan nada kepasrahan.
"A...apa kamu juga mencurigai mas Raffat selingkuh?" pandangan Meilin penuh telisik.
Delmira terdiam, bibirnya terasa keluh untuk membicarakan masalah yang sangat menyakitkan baginya.
"Sudahlah kita bahas yang lain. Mas Raffat tetaplah suamiku dan sampai kapanpun dia bagian dari hati dan jiwaku," jawab Delmira dengan mengembangkan senyum.
Meilin membalas senyum itu, walaupun hatinya masih penuh tanya karena Delmira tidak menjawab dengan bahasa yang lugas.
Lama mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.
"Kamu jangan lama-lama mendiamkan Zaidan. Ingat misi kamu yang sesungguhnya belum kamu jalankan. Buat dia mencintai kamu dan hempaskan dia dalam jurang kesengsaraan."
"Marahku dengan dia alami, aku tidak pura-pura marah tapi aku memang marah sekali karena dia berani menyelidiki pernikahanku dengan mas Raffat."
Meilin mengembangkan senyum, "Benar juga sih, dia harus dikasih pelajaran karena berani mengungkit masa lalu pernikahan kamu. Apa untungnya coba buat dia? Apa dia hanya mau cari muka agar kamu semkin simpati dengannya?"
"Nyari simpati untuk apa?"
"Karena dia mulai mencintai kamu," sahut Meilin dengan cepat.
Delmira kembali tersedak mendengar ucapan Meilin.
'Apa ucapan Zaidan waktu itu bukan omong kosong? Dia mencintaiku beneran?' monolog batin Delmira.
Meilin terkekeh, "Sudahlah kamu selalu gugup kalau ditanya soal perasaan."
"Del, boleh aku sedikit bertanya menyinggung soal mas Raffat?"
"Tanyalah," pasrah Delmira.
"Kamu benar-benar tidak ada rasa curiga pada mas Raffat barangkali dia selingkuh?"
Deg.
Delmira mengempaskan napasnya panjang.
"Empat tahun selama kita menikah, aku tidak pernah buka ponselnya. Aku hanya menjalankan tugas sebagi seorang istri dan percaya kalau dia juga menjalankan perannya sebagai suami."
"Jadi benar-benar tidak curiga?" cecar Meilin.
"Sudah ah Mei, aku pulang dulu," kesal Delmira melangkah keluar dari cafe.
Flashback off.
Maaf Mei, sore ini aku ada urusan.
Balas Delmira dan baru kali ini dia menolak ajakan Meilin.
Tuling.
Satu pesan masuk, Delmira mengurungkan akan menaruh ponsel melihat pesan dari Zaidan.
Sore ini aku ke rumah sakit, bisa kita pulang bersama?
Delmira diam. Jemarinya tiba-tiba saja bergerak padahal otaknya menyuruh agar tidak membalas pesan itu.
Kamu kan bisa pulang dengan Fernando.
Balas Delmira.
Fernando ada urusan, dia bawa mobil yang kita pakai.
Cepat sekali dia balasnya," gumam Delmira belum satu menit Zaidan langsung membalas pesannya.
Y
__ADS_1
Delmira hanya membalas satu huruf tapi di balik satu huruf itu ada orang yang sedang kegirangan membaca balasan sang istri.
Pagi menyapa π€ jangan lupa like komen hadiah vote rate π lope lope buat kalian π₯°π terima kasih untuk kalian yang masih setia dengan cerita yang alurnya kek siput ini. Yang penting sabar kalau mau ikuti cerita recehku π₯±π₯±π₯±karena sehari hanya bisa satu kali up itupun kalau waktu dan otak selaras untuk menulis π