
'Aku harus cari jalan agar pulang lebih cepat!' batin Verel.
Raka mengurungkan diri untuk membuka pegangan pintu lalu kakinya memutar dan melangkah duduk di sofa.
"Apa itu wanitanya?" lontar Raka melihat foto yang ada di ponsel Verel, "cantik juga," sambung Raka walaupun belum mendapatkan jawaban.
"Dia anak baru Mami Fifi?" cecar Raka. Mami Fifi orang yang biasanya menyediakan wanita untuk penghangat ran*Jang Verel.
"Dia teman dari Meilin," jawab Verel masih lekat menatap foto Delmira waktu tertidur pulas ketika akan ditinggal Verel.
"Maksud Tuan? Dia bukan wanita bayaran?"
"Pantang bagiku tidak mengeluarkan uang untuk urusan ranjang."
"Lalu? Apa Meilin alih profesi menjadi saingan Mami Fifi?"
Verel terkekeh, "Dia hanya membantu temannya yang butuh uang. Temannya itu ditelantarkan suaminya padahal utangnya banyak."
"Teman Meilin, teman dia yang mana?"
"Ya kamu tidak tahu kita kan jarang bertemu Meilin."
"Lalu segampang itu Tuan percaya dengannya?" tanya Raka atau tepatnya layang interograsi.
Verel terdiam, sungguh dalam hatinya mengiyakan lontar tanya dari sang asisten, "Aku hanya cari sensasi yang berbeda, bosan dengan model yang disediakan Mami Fifi," jawab Verel.
"Yang aku tanyakan, Tuan muda segampang itu percaya dengan Meilin!" ulang Raka merasa tidak puas dengan jawaban Verel, "Tuan tidak mengecek dahulu latar belakang wanita yang Tuan tiduri? Kalau wanita dari Mami Fifi jelas mereka wanita bayaran, tapi kalau teman Meilin, apa benar-benar dia rela jual diri untuk mendapatkan uang!?"
"Ya, ya aku percaya. Saat itukan Meilin bercerita panjang lebar tentang dia dengan aku," sahut Verel entah kenapa bisa terbata.
Raka mendengus kesal dia bisa tahu kalau jawaban Tuan mudanya adalah bentuk keraguan, "ceritakan bagaimana wanita itu mau jual diri?" tanya dia, menahan emosi.
"Untuk yang pertama kalinya Delmira melakukan itu. Makanya dia pesan dengan Meilin agar memberi obat agar dia setengah sadar. Bahkan Delmira sendiri tidak tahu orang yang membelinya itu seperti apa," terang Verel.
"Aku tidak habis pikir, baru ditinggal aku satu minggu, mengapa Tuan begitu ceroboh?!" protes Raka.
"Kamu mengejekku!? Kamu tidak takut aku pecat hah!?"
"Pecat saja dari pada aku bingung harus menjawab apa kalau dimintai pertanggungjawaban almarhum Tuan Besar!"
"Issst!" decih Verel bangkit dari sofa lalu membaringkan tubuh ke kasur.
"Tapi kamu tidak lupa kan memakai pengamanan sewaktu bermain dengan dia?"
Deg.
Verel baru ingat, malam itu karena terlalu menikmati permainan dia lupa mengenakan pengaman," Sial!" desis Verel.
"Casanova bisa seceroboh itu!" umpat Raka.
"Hanya satu kali permainan tidak mungkin... tidak mungkin dia hamil," sahut Verel dengan suara melemah.
__ADS_1
"Jika saat itu dia masih masa subur dan kecebong yang Tuan hasilkan kualitasnya bagus maka tidak akan menutup kemungkinan dia bisa hamil!" terang Raka dengan kesal.
"Kalaupun dia hamil gampangkan tinggal minta dia gugurkan!"
"Dia masih bersuami bukan?"
"Meilin bilang dia akan mengajukan perceraian dengan suaminya."
Raka mengempaskan napas dengan kasar.
"Yang perlu dibawakan ke dukun itu Tuan! Sepertinya Tuan terguna-guna oleh perkataan Meilin," tukas Raka.
"Seumur-umur baru melihat kebodohan Tuan Verel!" dumel Raka membenarkan bantal sofa untuk bersandar.
...****************...
"Sayang, aku telepon kamu kenapa tidak kamu angkat? Aku cari kamu kesana-kemari, bahkan teman-teman kamu semuanya ku hubungi tapi tidak tahu keberadaan kamu," ucap Zaidan menyambut kedatangan Delmira dengan nada penuh kekhawatiran.
Kaki Zaidan baru saja akan melangkah keluar untuk mencari Delmira.
"Duduklah, aku ambil minum," ucap Zaidan menuntun Delmira ke sofa.
"Minumlah," tawar Zaidan menyodorkan segelas air putih.
Delmira meneguknya perlahan hingga tandas, rasa haus karena setengah hari perut tanpa diisi minum atau makan.
Zaidan mengelap sisa air yang ada di sudut bibir.
Delmira menurut, kakinya melangkah masuk ke kamar mandi.
Dua puluh menit berlalu, tapi Delmira belum juga keluar dari kamar mandi.
"Mrs Delmira...," panggil Zaidan merasa khawatir sambil mengetuk pintu toilet kamar.
Delmira keluar dengan handuk kimononya. Berjalan ke almari lalu menhambil satu set baju tidur. Setelah baju itu melekat, Delmira gegas ke ranjang membaringkan tubuhnya.
Zaidan mendekat, "Tidak makan dulu?" tawarnya.
"Aku mau tidur," jawab Delmira.
Tangan Zaidan bergerak akan menutup tangan Delmira yang masih di luar selimut.
"Kamu mau apa?!" Refleks Delmira menjerit dan langsung bangkit dari tidurnya.
Zaidan juga tidak kalah terkejut dengan reaksi Delmira, "aku hanya akan memasukkan tangan kamu ke dalam selimut," ucap Zaidan.
Delmira menahan napas diri yang tersengal-sengal, matanya lekat menatap Zaidan dengan penuh penyesalan.
"Maaf," lirih Delmira merebahkan tubuhnya kembali.
"Ada apa dengan kamu? Ceritalah? Mungkin aku bisa membantu?" tanya Zaidan dengan lembut karena dirinya benar-benar khawatir.
__ADS_1
Delmira hanya menggelengkan kepala tanpa membuka mata yang sengaja dia tutup.
Zaidan pasrah, membiarkan sang istri untuk sementara istirahat. Kakinya kemudian memutar ikut mendaratkan tubuh di samping Delmira.
'Sayang, berbagilah beban denganku, katakanlah apa yang ingin kamu katakan, jangan terlalu kamu pendam,' batin Zaidan tangannya bergerak memeluk tubuh Delmira dari arah belakang.
Deg.
Ingin rasanya Delmira menolak perlakuan Zaidan. Namun, hati satunya justru merasa senang dengan perlakuan Zaidan.
Zaidan berkali-kali mengecup pucuk kepala sang istri dan mengeratkan pelukannya.
Mulut Zaidan mengucap lafal doa sebelum akhirnya sang mimpi menjemputnya.
...****************...
Sudah dua hari ini sejak Delmira memastikan kondisi diri di dokter kandungan, dia lebih pendiam.
"Hai Sayang," sapa Zaidan tangannya membuka pintu mobil.
Delmira hanya membalas dengan senyum kecil lalu masuk ke dalam mobil.
"Kita ke taman?" tawar Zaidan setelah mobil keluar rumah sakit. Dia sengaja akan mencari waktu dan tempat yang tepat untuk menanyakan apa yang terjadi pada sang istri karena Delmira sangat berubah drastis menjadi pribadi yang pendiam.
"Langsung pulang saja," sahut Delmira.
"Atau kita sekalian makan di luar?" tawar Zaidan dengan opsi yang lain.
"Kita pulang saja," jawab Delmira masih dengan pilihan yang sama.
Zaidan pasrah dan akhirnya melajukan mobil ke arah kediaman ummi Aisyah.
Delmira turun dari mobil dan gegas berjalan memasuki rumah, menaiki anakan tangga lalu masuk ke kamar.
Sedangkan Zaidan, dia terus mengekor langkah Delmira.
Delmira langsung membersihkan diri, hal yang sama pun Zaidan lakukan.
'Aku harus akhiri semuanya malam ini!' batin Delmira memantapkan diri.
"Kita makan," ajak Zaidan setelah memakai pakaian.
"Ada hal penting yang akan aku sampaikan pada kamu Zaid," ujar Delmira dengan nada serius.
"Hal penting?" ulang Zaidan, "tentang apa? Katakanlah," lanjut Zaidan.
"Mari kita bercerai," ucap Delmira.
jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏 terima kasih untuk kalian yang masih setia dengan cerita ini, lope lope buat kalian 🥰😍😘mampir ke karya temanku yuk, ceritanya dijamin seru 🙏
__ADS_1