Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 18


__ADS_3

Dengan cepat tangan Delmira mengambil baju piyama untuk dikenakan.


"Kalau sudah, kita turun ke lantai bawah untuk makan malam," ajak Zaidan melihat Delmira sudah memoles wajahnya dengan krim malam.


"Aku tidak lapar," tolak Delmira.


"Temani aku makan," pinta Zaidan.


"Makan saja ditemani! Makan sendiri takut?!" gerutu Delmira tapi kakinya melangkah keluar kamar, menuruni anakan tangga kemudian duduk di salah satu kursi makan.


Zaidan yang sedari tadi mengekor langkah Delmira hanya dapat menahan senyum.


"Makan! Jangan hanya disenyumin tuh makanannya," protes Delmira.


"Kamu suka cap cay?" tanya Delmira melihat menu makan yang tersaji di meja.


"Barangkali kamu akan buatkan aku menu seperti ini," jawab Zaidan.


"Aku tanya, bukan menawarkan kamu masakanku. Jangan pernah berharap aku memasakkan makanan untuk kamu!" tekan Delmira.


Zaidan membalas dengan anggukan pelan.


"Cobalah," tawar Zaidan, sendok berisi sayur disodorkan ke mulut Delmira.


"Tidak!" tolak Delmira memundurkan kepalanya.


"Jangan sok akrab, cepat habiskan makanannya, besok aku harus bangun pagi. Aku tidak ingin terlambat di hari pertamaku kerja."


Tanpa menyahuti ucapan Delmira, Zaidan mempercepat tempo makannya.


"Nah gitu dong, anak pintar, makannya dihabiskan," seru Delmira melihat piring telah kosong.


Delmira mengangkat pantatnya beranjak dari kursi.


"Tunggu!" cegah Zaidan memegang tangan Delmira.


"Lepas!" ketus Delmira menatap tajam ke arah Zaidan.


Bukannya Zaidan melepas genggamannya, Zaidan berdiri dan merangkul bahu Delmira dengan sedikit memaksa Delmira agar berjalan sesuai apa yang diarahkan Zaidan.


"Kita mau kemana?" geram Delmira karena tanpa sahutan Zaidan sudah membawanya hingga luar rumah, berjalan lalu berhenti di bangunan sebelah rumah.


Zaidan membuka rolling door bangunan. Tangannya menunjuk ke arah mobil yang dililit pita. Kemudian mengambil kunci mobil yang tadi dia rogoh dari saku piyama.


"Buat aku?" tanya Delmira merasa tidak percaya.


Zaidan mengangguk dan dengan dua sudut bibir yang dia tarik.


Delmira meraih kunci yang ada di tangan Zaidan dengan senyum sumringah mendekat ke arah mobil.


Memang bukan mobil dengan harga milyaran karena Delmira tahu yang dipakai Zaidan juga sebatas mobil harga di bawah satu M. Namun bukan harga yang dia lihat tapi saat ini Delmira sedang butuh roda empat untuk aktifitas barunya nanti.


Delmira masuk, duduk di kursi pengemudi dan langsung mencoba menjalankan mesin mobil.


"Terima kasih," ucap Delmira dengan wajah yang berbinar.


Lagi, hanya anggukan dan senyum yang Zaidan balas. Namun, karena refleks melihat kebahagiaan Delmira tangan Zaidan mendarat di pucuk kepala Delmira, dielus kepala itu dengan lembut.


Senyum yang sedari tadi mengembang di wajah Delmira berubah jadi kaku.

__ADS_1


"Ehemmm," Delmira berdehem sebagai sindiran agar Zaidan menyadari aksinya. Namun, yang disindir tetap tidak peduli.


"Ini asetku!" gerutu Delmira menurunkan tangan kokoh Zaidan.


"Bilang maaf jangan hanya tersenyum!" lanjut Delmira melihat Zaidan tanpa bicara hanya melempar senyum santai tidak ada rasa bersalah.


"Maaf."


"Hmmmm," dengung Delmira menyahuti ucapan Zaidan yang dipastikan hanya satu kata tanpa embel-embel kata lain sebagai basa-basi.


"Jalankan mobilnya," titah Zaidan, setelah duduk di samping pengemudi dan memasang seat belt.


"Keluar rumah?"


"Ya, sekitar kompleks perumahan."


"Siap!" jawab Delmira dengan cepat menginjak pedal koplingnya.


...****************...


Zaidan terkejut, saat masuk dalam kamar setelah joging, Delmira sudah terlihat rapi dengan pakaian kerja.


Rok di bawah lutut dan kemeja panjang sudah terpakai rapi.


"Mau kerja?"


"Mau orkesan di kampung sebelah," jawab Delmira kesal.


Zaidan hanya menahan tawa mendengar jawaban Delmira.


"Kamu tidak baca peraturan yang tercantum di RS Medika Internasional?"


Zaidan berjalan lalu mendorong koper yang ada di sebelah nakas.


"Maaf tadi malam lupa memberikan hadiah dari ummi pada kamu," ujar Zaidan menyodorkan koper.


Delmira terlihat bingung tapi dengan cepat tangannya meraih koper itu lantas membukanya.


"Pakaian kerja?"


Zaidan mengangguk, "Peraturan di RS Medika Internasional mewajibkan setiap pegawai muslim mengenakan baju muslim."


"Ih nggak asik banget sih!" desis Delmira, "kalau begitu aku kerja di dealer kamu saja!" pintanya.


"Dealer aku juga menerapkan peraturan yang sama," sahut Zaidan.


"Terkesan memaksa!" gerutu Delmira.


"Tidak ada paksaan hanya menerapkan yang harus dilakukan, karena segala hal yang menjadi amanah di dunia nanti akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat."


"Aku belum siap memakai pembalut kepala," jawab Delmira menyodorkan koper itu.


"Maksud kamu jilbab?"


"Iya itu," sahut Delmira.


Zaidan terdiam. Memberikan wejangan tentang penutup kepala bagi kaum muslim tentunya akan menjadi mubazir dalam kondisi seperti ini. Zaidan juga mulai sudah tahu karakter Delmira yang tidak suka dipaksa.


"Apa itu artinya kamu menolak kerja di rumah sakit?

__ADS_1


Delmira terdiam. Saat ini tidak ada pemasukan bulanan untuk dia dan tentunya untuk anak-anak panti asuhan. Bulan ini saja dengan kebesarkan hati harus merelakan jual harta satu-satunya yang dimiliki, yaitu mobil. Lalu untuk bulan ke depan?


Mustahil Delmira memakai ATM yang diberikan Zaidan karena prinsip Delmira yang anti minta-minta dan tidak ingin akhirnya berhutang budi.


Tangan Delmira menarik koper yang sudah dipegang Zaidan.


"Dengan terpaksa aku pakai!" gerutu Delmira.


Zaidan tersenyum kemudian masuk ke toilet untuk bebersih.


"Kalau sudah rapi kamu langsung turun ke ruang makan. Kita sarapan bersama," pinta Zaidan di ambang pintu toilet.


"Hmmm," dengung Delmira mengiyakan ucapan Zaidan.


Lima belas menit, Zaidan sudah rapi dan turun ke bawah. Langkahnya dia pelankan tatkala melihat wanita berhijab duduk di salah satu kursi makan.


"Mengapa? Terpesona dengan kecantikanku yang makin paripurna?"


Zaidan membalas dengan sebuah senyum, tangannya menarik kursi yang di dekat Delmira, memegang bahu Delmira agar menghadap ke arahnya.


"Hei apa yang kamu lakukan?" protes Delmira ketika mereka sudah berhadapan dan kini tangan Zaidan sudah menyentuh rahang Delmira agar tepat lurus menghadap ke arahnya. Tangan Zaidan mengeluarkan kotak berisi jarum pentul yang masih tersegel.


Lalu menyematkan jarum itu di kerudung Delmira yang tadinya hanya di selampirkan di dua bahu. Dengan lihai Zaidan membenarkan jilbab yang dikenakan Delmira.


"Sudah," ucap Zaidan manatap tanpa kedip wanita yang ada di depannya.


Delmira mengambil ponsel dan mengamati setiap lekuk wajahnya yang sudah terbalut jilbab.


"Pintar juga kamu makaikan kerudung, pasti biasa makaikan pacarnya," ucap Delmira.


Puji sekaligus tuduhan dilontarkan Delmira namun tetap saja Zaidan membalasnya dengan senyum tanpa mengklarifikasi yang sebenarnya.


Ada kilas balik cerita yang di luar nalar dari seorang Zaidan.


Kemarin Siang, dengan susah payah dan tekun Zaidan belajar memakaikan hijab dan kalian tahu siapa yang menjadi korban percobaan itu? Tidak mungkin kan pegawai wanita? Ya, Fernando. Siang itu Fernando disulap menjadi manekin yang harus diam menurut apa yang dilakukan Zaidan.


"Besok pertama kali Delmira pakai jilbab, pasti dia tidak tahu cara memakainya," ujar Zaidan tatkala melihat hasil karyanya yang sudah tertempel di kepala Fernando.


Fernando hanya pasrah dan menekuk wajahnya. Apalagi Zaidan dengan santainya mengambil beberapa jepretan foto.


"Untuk kenangan-kenangan," ucap Zaidan mengirim foto tersebut ke ponsel Fernando.


"Senyum sedikit saja pasti kamu terlihat cantik mengalahkan wanita lain," canda Zaidan siang itu dan tetap saja membuat wajah Fernando tertekuk.


"Cepatlah makan, jangan mematung seperti itu. Aku nanti terlambat!" cicit Delmira.


Zaidan mengambil piring dan mengisi dengan menu yang ada di meja makan.


Selesai mereka sarapan, Delmira gegas ke parkir mobil.


"Aku berangkat," pamit Delmira setelah duduk di kursi pengemudi.


"Waalaikum salam," balas Zaidan.


"Oh... ya, assalamualaikum," ucap Delmira nyeringis, merasa balasan Zaidan adalah bentuk sindiran untuknya.


"Waalaikum salam," sahut Zaidan, tangannya melambai mengiringi kepergian mobil.


Zaidan menarik dua sudut bibirnya, 'Kamu sangat cantik dengan jilbab itu Del, semoga pintu hidayah datang padamu,' batin Zaidan.

__ADS_1


subuh menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏 dukungan kalian sangat berarti bagiku, lope lope buat kalian 🥰😍😘


__ADS_2