Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 20


__ADS_3

"Aku langsung pergi," ujar Delmira sekaligus pamit.


Delmira sedikit berlari menyusuri ruang-ruang kerja administrasi. Masuk dalam lift dan berjalan di lantai dasar menuju ke parkir mobil.


"Hai Del."


Sapaan seseorang membuat langkah Delmira terhenti, badannya memutar melihat sosok yang memanggilnya.


"Dokter Riki," lirih Delmira dengan lesu.


"Sepertinya buru-buru, mau kemana?"


"Oh... urusan dengan mitra kerja," jawab Delmira.


"Aku telepon kenapa tidak angkat?"


"Telepon? retoris Delmira karena dia langsung teringat akan benda pipih canggih itu sepertinya tidak dia masukkan dalam tas. Tangan Delmira gegas membuka tas dan meraba saku celana.


"Sial! Ketinggalan di meja!" gerutu Delmira.


"Aku tinggal ya, mau ambil ponsel!" seru Delmira sedikit lari menuju ruang kerjanya kembali.


Dokter Riki menggelengkan kepala dengan senyum tercetak di wajah, matanya tetap memandang ke arah Delmira hingga wanita itu tidak terlihat karena masuk dalam lift. Kakinya kemudian melangkah dan mengambil tempat duduk yang tidak jauh dari tempat dia tadi menyapa Delmira.


Ternyata ada seseorang yang melihat interaksi keduanya, dia hanya tersenyum sekilas dan tetap duduk di depan salah satu poly yang sudah sepi pasien.


"Aku harus ambil tindakan," ucapnya sambil membenarkan kerudung yang maju ke depan.


"Sudah kamu ambil?" tanya Riki mendekat ke arah Delmira yang muncul dari arah lift.


Delmira mengangguk, "ada perlu apa telepon?"


"Mengajak kamu santai di kafe," jawab Riki.


"Hai Sayang."


"Ummi," terkejut Delmira setelah menolehkan tubuhnya ke sumber suara.


"Mau ke dealer AZM?"


"Kok Ummi tahu?" sahut Delmira.


"Ummi atasan kamu jadi tahu semua kegiatan pegawainya, termasuk kegiatan kamu."


"Assalamualaikum Dokter Riki," sapa Aisyah menoleh ke dokter Riki.


"Waalaikum salam Bu," balas Riki ikut menganggukkan kepala sebagai rasa hormat.


"Ummi, akan ke atas. Jangan lupa sampaikan salam pada anak lelaki ganteng Ummi itu,"


"Sip Ummi," jawab Delmira.


Aisyah mendekat ke Delmira kemudian mencium pipi kanan dan kiri, "sampaikan juga ciu*man ini," lanjut Aisyah.


"Cium pipi kanan kiri?" tanya Delmira dengan ekspresi wajah terkejut tangannya bergerak memegang pipi kanan kirinya.


Aisyah mengangguk dan tersenyum, "dia suami kamu, lebih dari itu juga tidak apa-apa," bisik Aisyah di telinga Delmira namun bisikan itu sengaja dia naikkan nada suaranya.


Aisyah tersenyum hingga barisan gigi putihnya terlihat.


Delmira hanya membalas senyum nyengir dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Sudah Ummi tinggal ya, kamu hati-hati di jalan, tidak usah terburu-buru," ujar Aisyah kemudian melangkah pergi.


Tatapan Delmira masih tertuju pada sang mertua, dia sampai lupa pada dokter Riki sedari tadi hanya sebagai pendengar diantara dia dan Aisyah.


"Dia mertua kamu?" tanya Riki.


"Iya," jawab Delmira dengan mantap.


Dokter Riki mendengus mendengar jawaban dari Delmira.


"Kenapa tidak bicara sejak awal kalau kamu sudah menikah?"


Delmira menolehkan pandangannya ke arah dokter Riki karena dari nada suaranya dia terlihat kesal.


"Maksud kamu?" tanya balik Delmira.

__ADS_1


"Kamu pura-pura tidak tahu!" sahut Riki lantas pergi dari hadapan Delmira.


"Aneh! Dia masih puber kah?!" gerutu Delmira kembali melanjutkan langkahnya menuju parkiran mobil.


"Untung Ummi Aisyah datang dan secara tidak langsung dia mengatakan aku sudah bersuami."


Apa yang dikatakan dokter Riki sebenarnya benar, pura-pura tidak tahu karena Delmira sedari awal sudah menangkap sinyal kalau dokter Riki ada perasaan sepesial dengan dirinya. Namun, Delmira tidak ingin dianggap kepedean mengartikan sikap dokter Riki.


Pura-pura tidak tahu adalah jalan terbaik. Walaupun jujur, Delmira merasa risih dengan sikap dan perhatian dokter Riki. Namun, sebelum dokter Riki mengatakan dengan jelas perasaannya apa pantas Delmira tiba-tiba bicara kalau dirinya sudah bersuami? Bagaimana kalau anggapan Delmira salah tentang perhatian dokter Riki? Pasti Delmira malu setengah mati. Maka dari itu, Delmira lebih memilih menjauh dari dokter Riki kendati dokter Riki tetap kekeh mendekatinya.


Siang inilah secara tersirat ummi Aisyah menyampaikan status Delmira dan secara tidak langsung ummi Aisyah sudah menyelematkan Delmira dari kejaran perasaan dokter Riki.


Mobil Delmira sedang melaju di antara mobil-mobil lain di jalanan. Setelah terlihat bangunan dealer AZM, Delmira memarkirkan mobilnya di belakang gedung itu. Kakinya kemudian melangkah ke ruang depan dealer. Kedatangannya jelas di sambut para pegawai yang mengira Delmira akan membeli motor.


"Aku mau bertemu pemilik dealer bukan beli motor," ucap Delmira.


"Oh...Bapak sedang mempersiapkan diri untuk pertemuan dengan mitra kerjanya," jawab salah satu pegawai.


Delmira terdiam, mencerna kalimat dari sang pegawai.


'Apa yang dimaksud mitra kerjanya itu aku?' batin Delmira.


'Apa mungkin Ummi yang memberitahu pada Zaidan?' lanjut monolog batin Delmira dan seutas senyum terlihat di wajahnya.


Tangannya bergerak melepas kaca mata hitam yang menghias wajah.


"Aku mitra kerjanya," ucap Delmira dengan tingkat kepedean di atas awan.


"Maaf Bu, mitra kerja yang akan ditemui pak Zaidan dari koperasi Syariah LUB," jawabnya yang sontak membuat wajah Delmira memerah karena malu.


"Ehem, kamu tidak tahu siapa aku?" lontar Delmira.


"Maaf anda siapa?" lontar balik sang pegawai.


"Aku istrinya," ucap Delmira lalu melangkah masuk ke dalam tanpa mendengar jawaban dari pegawai itu.


Delmira memasuki lorong dan melihat setiap papan di pintu.


'Ini dia!' seru batin Delmira membaca papan bertuliskan ruang direktur.


Tok


tok


"Masuk," suara dari dalam membuat tangan Delmira bergerak memutar handle pintu.


Delmira tersenyum saat lelaki yang dicarinya sibuk hingga pandangan matanya fokus ke berkas yang sedang dia baca. Sedangkan Fernando, akan bersuara namun tercekat tatkala melihat Delmira menaruh jari telunjuk di bibir, isyarat agar Fernando diam. Langkah Delmira pelan dengan sedikit jinjit.


"Dor!" seru Delmira.


"Astaghfirullah haladhim," lirih Zaidan mengelus dadanya karena terlalu terkejut.


Delmira terkekeh memegang perut melihat ekspresi muka Zaidan. Berbeda dengan Zaidan, yang memilih tersenyum menatap wanitanya tertawa lepas. Entah kenapa, ada rasa bahagia yang luar biasa menyelimuti kalbu menyaksikan itu.


"Sepertinya kalian butuh waktu berdua," gumam Fernando.


Bahkan Fernando keluar ruangan dengan mengambil berkas yang ada di depan Zaidan, keduanya pun tidak menyadarinya.


Delmira menghentikan tawanya saat menatap Zaidan yang hanya diam tersenyum memandang dirinya.


"Biasa hanya tersenyum!" gerutu Delmira lalu duduk di kursi depan meja kerja Zaidan.


"Oh, Fernando dimana?" mata Delmira memutar mencari sosok Fernando.


"Mungkin dia keluar," jawab Zaidan karena dirinya juga tidak menyadari kepergian Fernando.


"Emmm... Mau..."


Belum Zaidan meneruskan kalimatnya, Delmira menyodorkan berkas, " Perpanjangan kontrak kerja sama rumah sakit dengan CV. dealer AZM," ujar Delmira.


"Oh...," Zaidan menerima berkas dalam map dan membuka satu persatu berkas tersebut.


"Kenapa tidak mengatur janji dulu dengan kami?"


"Lupa," jawab Delmira dengan santai.


Zaidan tersenyum mendengus. Kakinya mendorong kursi yang diduduki agar mendekat dimana Delmira duduk.

__ADS_1


"Rambut depan kamu kelihatan," ujar Zaidan memasukkan rambut kepala yang nampak keluar dari jilbab yang dikenakannya Delmira.


Sontak Delmira terdiam dengan perlakuan Zaidan, entah kenapa jantungnya terpompa dengan cepat. Matanya tanpa kedip menatap Zaidan yang dengan telaten memasukkan tiap helai rambut ke dalam jilbabnya.


"Sudah," ucap Zaidan melempar senyum memandang wajah Delmira yang terlihat semakin cantik karena Delmira tidak bergeming dari lamunannya Zaidan mencubit lemah pipi Delmira.


"Auw auw sakit!" seru Delmira mengelus pipinya.


Zaidan tersenyum lebar hingga barisan giginya terlihat.


"Kamu! Kamu beraninya pegang asetku!" protes Delmira.


"Kalau tidak aku sentuh, kamu pasti terus memandangku tanpa kedip," sahut Zaidan.


"Issst, pede sekali. Sejak kapan kepedean kamu meningkatkan 200%?!" geram Delmira.


Zaidan menimpali dengan senyum, tangannya kini bergerak membaca kembali berkas yang disodorkan Delmira.


"Maaf, aku tidak bisa tanda tangan hari ini," ucap Zaidan dengan nada serius.


"Kenapa? Apa susahnya cuma tanda tangan?!" dengus Delmira memanyunkan bibirnya.


"Ini perjanjian penting, kami harus mempelajarinya terlebih dahulu."


"Tapi kan mitra kerjanya jelas dari rumah sakit ummi Aisyah. Apa yang diragukan?"


"Semuanya harus sesuai prosedur, sekalipun mitra kerja kami dari orang tua kami sendiri," balas Zaidan.


"Apa-apaan sok idealis!" geram Delmira.


"Kalau kamu tidak mau ya sudah. Kita putus kerja samanya saja."


Delmira nyeringis, "Aku minta maaf, aku bakal tunggu kamu mempelajari berkasnya," ujar Delmira dengan nada lembut.


"Seharusnya begitu," sahut Zaidan.


"Issst!" geram Delmira mengepalkan tangan akan diarahkan ke Zaidan tapi segera Delmira melepas kepalan dan seolah-olah menepuk nyamuk di depan muka saat Zaidan mengarahkan pandangan ke arahnya.


Plak plak.


"Nyamuknya banyak," gumam Delmira dengan nyeringis.


Zaidan yang sebenarnya tahu tindakan Delmira hanya menahan senyum.


"Kalau begitu, aku kembali ke kantor."


Zaidan mengulurkan tangan tapi Delmira menangkupkan tangan sejajar dada sebagai balasan. Lagi, Zaidan tersenyum menanggapi kekonyolan Delmira.


"Terima kasih kunjungannya," ucap Zaidan sebagai sindiran agar Delmira mengucapkan terima kasih.


"Ehem, aku ucapkan terima kasih Bapak Zaidan, sudah meluangkan waktunya," ujar Delmira dengan sungkan. Kakinya kemudian melangkah keluar.


Zaidan berjalan di samping Delmira untuk mengantar hingga keluar.


"Kamu ke kantor atau langsung ke rumah?"


"Kantor!" ketus Delmira.


"Kamu di sini dulu, nanti kita bersama ke rumah sakit, kebetulan aku mau jenguk abah," pinta Zaidan.


"Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan jadi aku tidak bisa buang-buang waktu hanya menunggu kamu di sini!" tolak Delmira.


Zaidan membukakan pintu untuk Delmira, namun, saat pintu terbuka ada wanita cantik dengan balutan jilbab yang menghias di kepalanya.


"Assalamualaikum Mas Zaid," sapanya.


"Waalaikum salam," jawab Zaidan, sopan dengan senyum yang terlihat semakin membuat wajahnya sempurna garis ketampanannya.


Delmira melirik interaksi keduanya dengan tatapan berbeda.


"Halwah bisa langsung ke ruang rapat, nanti aku menyusul," ucap Zaidan tangannya mempersilahkan Halwah ke ruang rapat yang ada di sebelah ruang kerjanya.


Halwah mengangguk kemudian melangkahkan kakinya ke ruang tersebut.


"Aku tunggu kamu di ruangan," ucap Delmira setelah wanita yang dipanggil Halwah berjalan menjauh darinya.


Zaidan terlihat bingung dengan ucapan Delmira dan langkah Delmira yang kembali masuk ke ruang kerjanya. Namun, senyum langsung tergambar di wajah Zaidan mengartikan tindakan Delmira.

__ADS_1


siang menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏


__ADS_2