Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
extra bab


__ADS_3

POV Delmira.


Tanganku bergerak menyentuh beberapa digit angka hingga terbuka kamar milik anakku. Aku berjalan pelan, mataku layang menatap setiap sudut ruang.


Beberapa kali aku mengempaskan napas mengusir rasa sesak dada yang menyeruak. Ada beberapa foto terpajang di dinding maupun di nakas yang ada di dekat ranjang. Mataku menatap sejurus sebuah foto yang menampilkan dua anakku tersenyum renyah saling merangkul.


Kakiku terus bergerak melangkah hingga tanganku meraih bingkai foto tersebut.


"Momyang kangen kamu Kahfi," ucapku dengan lirih, lalu kupeluk bingkai itu.


Sungguh aku merasa seperti Kahfi membalas pelukanku, hingga tidak terasa buliran air mata jatuh membasahi dua pipi.


"Astaghfirullah haladhim." Sebuah zikir aku dengungkan agar hatiku merasa sedikit lega, dan dadaku tidak terlalu sesak.


"Astaghfirullah haladhim," ku ulang kembali agar semakin tenang.


"Hari ini ulang tahun Momyang, kamu tidak kasih surprise?" gumamku, dan tentunya foto yang aku dekap tidak mungkin menjawab.


"Momyang... Momyang mau kaktus mini sebagai hadiah ulang tahun dari kamu," sambungku.


Aku meletakkan kembali bingkai foto itu pada tempat semula.


"Maaf, Momyang masih saja menangis kalau mengingat kamu. Padahal Momyang yakin, kamu ada di tempat yang terindah," gumamku sekali lagi, lalu ku empasakan napas kasar.


Kakiku memutar berjalan keluar dari kamar tersebut. Aku harus kembali ke rumah sakit.

__ADS_1


Kaffah pasti sudah kelimpungan mencariku. Tadi dia kutinggal begitu saja di kantin rumah sakit. Pasalnya, aku tiba-tiba teringat pada Kahfi, anakku yang telah berada di surga.


Tempat termudah mengingat Kahfi ada di kamarnya, maka aku putuskan langsung pergi tanpa pamit dari Kaffah.


"Mommy dimana?" suara dari seberang sana terdengar panik.


Aku menampilkan sebuah senyum, lalu ku alihkan panggilan tersebut ke video call.


"Momyang perjalanan ke rumah sakit," sahutku, melempar sebuah senyum. Lalu aku memasang seat belt.


Kulihat Kaffah mengempaskan napas dan menelisik background belakang di layar ponsel.


"Momyang pulang ke rumah?" tanyanya, mungkin dia melihat ada sisi khas rumah yang tampak di kamera.


"Momyang kan bisa suruh aku untuk mengambilnya," keluhnya.


"Ya, ya, lain kali Momyang akan pinta kamu untuk mengambilnya," jawabku biar anak itu tenang.


"Ya sudah, Momyang hati-hati di jalan, assalamualaikum."


"Waalaikum salam," jawabku lalu kutaruh ponsel di dalam dasboard mobil.


Tiga puluh menit kemudian, mobilku terparkir di pelataran rumah sakit, aku meminta tolong pada salah satu security untuk memarkirkan mobil di basemen rumah sakit.


Lalu kakiku berjalan menelusuri setiap koridor rumah sakit untuk menuju ruang kerja.

__ADS_1


Kulihat lelaki tampan yang ketampanannya terlihat semakin paripurna setelah menginjak dewasa, duduk di depan meja kerjaku.


Aku melayangkan sebuah senyum, setelah duduk berhadapan dengannya.


"Mommy jangan seenaknya pergi tanpa izin aku!" sungutnya.


Sekali lagi, aku hanya tersenyum membalasnya.


Semenjak Kaffah menjadi anak satu-satunya di keluarga, dia semakin protektif dengan aku. Bukan kebalikan dia yang menjadi manja dan kami yang protektif padanya. Tapi, justru anak yang sudah tumbuh dewasa itu semakin bertanggung jawab, mandiri, pekerja keras, dan rajin belajar. Bahkan semester kemarin, dia mendapat nilai rata-rata mata kuliah dengan nilai memuaskan.


"Sepertinya, Momyang tidak bisa gerak sedikit pun dari jangkauan mata kamu," ucapku merajuk.


"Ya Allah Mom, kalau ada apa-apa dengan Mommy pasti yang akan diinterogasi pertama kali ya aku," protesnya.


Aku kembali melempar senyum, "Ya anak Momyang, maaf, maafkan Momyang mu ini."


Aku lihat dia hanya menggeleng-gelengkan kepala pelan, mungkin pasrah mendengar permintaan maaf yang keluar dari mulutku bak selembut sutra.


"Sepertinya kamu harus Momyang carikan istri biar gerak Momyang tidak terbatas seperti ini!" gumamku.


Aku lirik Kaffah langsung membulatkan mata, "Mommy pasti jalan ke rumah sakit sambil tiduran! Lihat saja omongannya ngelantur!" sungut Kaffah lalu kakinya melangkah keluar.


Aku tertawa mendapat reaksi yang begitu frontal dari anakku.


siang menyapa 🤗 Ya Allah...kangen deh sama kalian 😘🥰

__ADS_1


__ADS_2