
"Pesan non Putri, Bapak disuruh tunggu dulu di ruang kerjanya. Sebentar lagi non Putri akan selesai rapat," ucap seorang pegawai di perusahaan garmen milik Putri.
"Ya Mbak terima kasih," jawab Zaidan setelah dirinya di antar ke ruang tersebut, tentunya dia masuk bersama Fernando.
Tidak selang beberapa lama, Putri sudah masuk ke dalam ruangan.
"Selamat datang mas Zaidan, aku sampai buru-buru mempercepat meeting mendapat telepon dari resepsionis ada tamu spesial," ujar Putri, lalu pantatnya dia dudukkan di sofa single.
"Maaf sudah mengganggu waktu kerja anda," jawab Zaidan.
Putri tersenyum mendengar jawaban Zaidan, "Itu yang membuat aku susah move non dari kamu mas. Kamu selalu memperlakukan semua orang dengan lembut dan baik," ucapnya kemudian.
"Maaf kalau kelembutan aku disalahartikan oleh anda," sahut Zaidan.
Kembali Putri melebarkan senyumnya, "Mas harus tanggung jawab loh," ujar Putri mencoba mengarah pada pembicaraan yang lebih santai dengan disertai canda.
"Aku langsung pada intinya. Tentunya anda tahu, apa maksud kedatanganku."
"Mungkin saja," sahut Putri, sengaja mengulur pembicaraan.
"Tolong jangan ganggu istriku," ucap Zaidan secara gamblang.
Putri menyunggingkan senyum, "Apa istri mas merasa terganggu dengan kedatanganku kemarin? Apa yang dia katakan sampai mas menyimpulkan kalau aku datang mengganggunya?"
"Wanita manapun dan siapapun, kalau tiba-tiba didatangi seorang wanita dan meminta untuk merestui suaminya menikah lagi dengannya, pasti akan merasa terganggu dengan kedatangan wanita itu," terang Zaidan.
Putri terkekeh.
"Justru, tipe wanita seperti itu, bukanlah wanita yang bermain dari belakang. Aku tipe yang lebih jujur apa adanya, dibandingkan harus munafik menutupi sesuatu. Itu kenapa aku bicara langsung pada istri Anda, mengatakan apa yang sebenarnya aku inginkan."
"Tidak semua yang kita inginkan, pantas kita utarakan secara langsung. Contoh saja kasus kamu, itu sangat tidak pantas kamu utarakan pada istriku. Jagalah marwah kamu sebagai seorang wanita."
Lagi, Putri menyungging senyum.
"Untuk apa kehormatan dan harga diri dijaga kalau pada akhirnya, suara kita seperti dibungkam sebuah keadaan," sanggah Putri.
"Misal saja kak Del, punya roti, aku minta bagi roti itu. Apakah salah?" sambung Putri.
"Salah besar! Karena aku bukanlah roti yang bisa dibagi-bagi. Aku hanya roti terbatas yang akan habis sekali gigit," celetuk Zaidan merasa jengah.
Putri terkekeh mendengar jawaban Zaidan.
"Mas Zaid itu sukanya ngelucu!" timpal Putri.
"Aku serius nona Putri! Maaf aku tidak punya kekuasaan yang dapat aku jadikan tameng untuk melawan anda. Namun, aku masih punya cinta yang kuat untuk melawan semuanya! Ingat sekeras apapun kamu memaksa, tetaplah dia yang aku cinta. Jadi, sekali lagi aku mohon jangan pernah ganggu rumah tangga kami, khususnya istriku," pinta Zaidan panjang lebar.
__ADS_1
"Fer, kita pulang," ajak Zaidan mengangkat pantatnya.
"Assalamualaikum," pamit Zaidan gegas keluar ruangan.
"Justru orang seperti kamu yang sulit dicari mas Zaidan," gumam Putri, matanya lekat menatap punggung lelaki yang dia cintai dan kagumi hingga punggung itu tertelan di balik tembok.
"Bisakah di akhir sisa hidupku ada di pelukan mu mas?" lanjut Putri, dengan cekat tangannya bergerak menyeka embun yang menumpuk di pelupuk mata.
Pantatnya kini dia angkat, kakinya berpindah langkah ke kursi kerjanya.
Mata Putri menerawang menembus langit-langit plafon. Menerawang menembus angan, Matanya kembali berkaca.
Kini tatapannya berpindah pada laci kerja. Tangannya bergerak membuka laci itu, lalu mengambil map cokelat yang ada di antara tumpukan map penting.
"Tuhan, kalau aku tidak bisa bersamanya di kehidupan sekarang, maka biarkan kita bertemu di kehidupan setelah ini," lirih Putri, kembali matanya berkaca.
Tangan Putri bergerak merogoh saku celana, diambil lah benda pipih yang ada di saku tersebut.
"Buat kerja sama dengan dealer AZM, perusahaan itu sedang butuh mitra kerja untuk semakin mengembangkan usahanya," ucap Putri pada orang yang ada diseberang sana setelah nomor yang dihubungi terhubung.
"Bukankah kerja sama yang dulu sudah dibatalkan Non?"
"Buat lagi, kita pakai perusahaan lain yang ada di kota lain," pinta Putri.
"Baik Non," jawabnya.
...****************...
Satu minggu kemudian, Zaidan kembali menemui Putri. Bukan tanpa sebab, itu karena Zaidan tahu, perusahaan yang akan kerja sama dengan dealer AZM ternyata milik Putri.
Zaidan sudah mengambil sikap, lebih menghindar baik dari wanita model Putri dari pada diladeni perseteruan darinya.
"Apa masih kurang jelas? Sebelumnya, aku sudah memutus hubungan kerja sama dengan perusahaan anda karena aku tidak ingin menjalin hubungan kerja sama dalam bentuk apapun dengan anda! Tapi, ternyata anda tidak juga jera. Astaghfirullah haladhim, istighfar Non Putri. Insyaallah kalau anda mau ingat Tuhan, hati anda pasti akan lebih tenang," terang Zaidan panjang lebar.
Putri tersenyum mendengar jawaban Zaidan.
Pandangan Zaidan menengadah sejenak menatap ke arah Putri yang tanpa suara juga dengan ekspresi yang biasa.
"Aku harap anda bisa memahami maksudku," simpul Zaidan lalu kakinya melangkah keluar disusul Fernando, setelah mereka menguluk salam.
Namun, saat Zaidan memutar gagang pintu untuk keluar ruangan. Tiba-tiba ada suara keras seperti benda jatuh ke lantai.
Bugh.
Reflek Zaidan dan Fernando menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
"Astaghfirullah haladhim, Non Putri!" seru Zaidan juga Fernando.
Mereka berlari mendekat ke arah Putri.
Fernando bergerak mengecek nadi, lalu tangannya gegas merogoh ponsel menghubungi ambulans.
Zaidan keluar ruangan, memanggil sekretaris Putri untuk membantu mengurusnya.
Tidak selang berapa lama ambulans datang.
...****************...
Delmira duduk lemas di luar ruang rawat.
Dia mendengar langsung dari orang tua Putri, dalam tiga bulan ini, Putri divonis terkena kanker otak.
Satu-satunya pengobatan yang harus dilakukan adalah operasi. Namun, Putri menolak untuk melakukannya.
Hanya satu alasan yang Putri utarakan, dia tidak ingin mati jauh dari Zaidan.
"Apa kanker yang diderita Putri sudah menyebar Bu?"
"Dokter memvonis, kankernya sudah masuk stadium 4," jawab mamanya Putri.
Delmira terdiam, tangannya bergerak menyeka pelupuk mata yang sudah penuh dengan cairan bening.
"Separah itu," lirih Delmira dan air mata pun tak terbendung jatuh mengalir ke dua pipinya.
Wanita paruh baya itu mengangguk pelan.
"Tapi kenapa dia masih bekerja"
"Putri orangnya tidak mau diem dan kami pun tidak bisa melarang dia. Apa yang dia inginkan, selagi kita masih bisa mewujudkan, pasti kami turuti," jawab mama Putri.
"Mama tahu, dia ingin menikah dengan suamiku?"
Wanita paruh baya itu terdiam, wajahnya kini menoleh ke arah Delmira.
Sebuah anggukan pelan ditunjukkan wanita itu.
Delmira mengempaskan napasnya kasar.
"Itu permintaan Putri yang tidak bisa kami turuti," lirih mama Putri.
Delmira kembali mengalirkan air mata. Jujur dari lubuk hatinya, dia sangat perih mendengar cerita dari mama Putri. Dia juga tidak menyangka, putri yang terlihat sehat, cantik, gesit, energik itu ternyata mengidap penyakit kanker bahkan dokter sudah memvonis usianya tidak akan lama.
__ADS_1
"Dan... Mama rasa, sampai Putri tiada, permintaan terakhirnya tidak mungkin kami wujudkan," sambung wanita paruh baya itu, wajahnya menengadah ke arah Delmira, seolah berharap agar Delmira menyanggah apa yang mama Putri simpulkan.
malam menyapa 🤗 like komen hadiah vote rate 🙏