Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 9


__ADS_3

Kalut karena takut wanita yang selama ini setia dengannya mengetahui rahasia besar yang dia tutup rapat.


Perjalanan ke rumah seakan menjadi tanda tanya besar untuk Raffat, dia benar-benar tidak konsentrasi menyetir bahkan beberapa kali akan menabrak.


"Hati-hati Raffat," ucap Baren mengingatkan.


"Ya Ayah," jawab Baren.


Raffat melajukan mobilnya kembali. Kakinya menekan pedal dengan kecepatan melebihi rata-rata. Hal itu biasa dia lakukan kalau pikirannya kalut, konsentrasinya nanti akan tertuju hanya pada jalan.


"Awas Raffat!" seru Baren.


Raffat tidak melihat mobil depannya menyalakan lampu sein kanan. Raffat yang hendak menyalip lepas kendali. Mobilnya menabrak bumper belakang mobil tersebut. Karena kecepatan yang tinggi mobil Raffat terlempar jauh hingga menabrak dinding pembatas. Seketika mobil itu remuk. Darah segar mengalir dari bagian mobil yang terlihat remuk tersebut.


Kabar duka langsung diterima oleh Delmira. Pengemudi dan penumpang mobil seketika tewas dalam kecelakaan tersebut.


Flashback off.


"Kamu tidak boleh nangis lagi Del!" seru Delmira mencoba menguatkan diri tapi tangisnya malah tak bisa dia hentikan.


Entah berapa lama Delmira menangis hingga tidak terasa mata yang sedari tadi mengalirkan air mulai terpejam.


Suara salam dari balik pintu dan langkah jejak kaki tidak juga membangunkan sesosok Delmira.


Tangan kokoh menutup tubuh Delmira dengan selimut. Lalu kakinya melangkah ke toilet dalam kamar.


Sepuluh menit sosok lelaki tampan nyaris tanpa cela keluar dengan aroma lemon fresh. Dia mengambil baju ganti yang ada di lemari. Setelah terpakai sempurna kakinya melangkah mengambil sajadah untuk salat Maghrib.


Tiga rakaat dia jalankan. Ayat-ayat suci Al Qur'an telah dilantunkan. Zaidan lalu menatap lekat ke arah Delmira setelah meletakkan mushaf ke dalam nakas.


Pantatnya kini dia dudukkan di tepi ranjang. Ada senyum di wajah Zaidan tatkala menatap wanita yang tengah tertidur begitu pulas.Tangan Zaidan terulur meraba dengan hati-hati bulu mata yang lentik milik Delmira lalu turun ke hidung yang tinggi.


Zaidan kembali tersenyum, "Cantik tapi galak," gumam Zaidan. Tangannya kini pindah ke pucuk kepala. Dielus dengan hati-hati dan satu kecupan berhasil mendarat.


Tiba-tiba ada getar yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Getar yang yang sulit diartikan oleh Zaidan hingga bibirnya secara refleks akan mengecup bi bir Delmira.


"Astaghfirullah haladhim," gumam Zaidan mengempaskan napas kasar lalu mengusap wajahnya.


'Aku tidak boleh melakukan itu tanpa seizinnya,' batin Zaidan dan kakinya segera melangkah ke toilet kamar untuk mengambil air wudhu.


Zaidan keluar dari toilet, matanya sengaja tidak memandang ke arah Delmira. Takut kekhilafan datang menghampirinya kembali. Namun, saat Delmira menggeliatkan tubuh dan segera bangkit dari ranjang, Zaidan kembali mengarahkan pandangannya.


"Jam berapa ini?! Duh kenapa kamu tidak membangunkan aku!" omel Delmira tanpa mendengar jawaban dari Zaidan dia lari ke toilet.


Zaidan duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Ada beberapa email masuk yang harus dia cek. Matanya kini beralih ketika sosok wanita keluar dari toilet. Namun, dengan segera Zaidan mengalihkan pandangan ke ponselnya kembali. Wanita itu tanpa risih hanya mengenakan handuk mengambil baju ganti yang ada di lemari.


Getar aneh Kemabli menjalar ke seluruh tubuh Zaidan.


'Astaghfirullah haladhim'. Kalimat zikir itu terucap dalam batin Zaidan.

__ADS_1


Mata Zaidan kini melirik ke arah wanita yang telah mengenakan pakaian, dia sudah duduk di depan meja rias.


"Kenapa tidak bangunkan dari tadi! Aku kan jadi gugup!" gerutu Delmira, tangannya bergerak lincah memoles wajah.


Zaidan hanya diam, bingung harus menjawab apa.


"Kamu mau pergi?" retoris Zaidan melihat Delmira memakai baju rapi dan tas yang sudah dia jinjing dan siap pergi.


"Tidak! Aku mau bobo cantik! Sudah lihat aku dandan cantik seperti ini ya mau pergi!" sahut Delmira.


Delmira membenarkan posisi jam tangan yang dia kenakan. Matanya kini menatap heran. Dia berpindah pandang ke jam dinding.


"Sama," gumamnya.


Zaidan mengamati lekat gerak Delmira yang terlihat bingung.


"Ini bener jam setengah 7 malam?" tanya Delmira.


Satu anggukan pelan Zaidan tunjukkan.


Delmira memegang kepalanya, mengempaskan napas kasar, " Kenapa kamu tidak bilang kalau ini masih malam!" protes Delmira.


Zaidan hanya tersenyum kecil mendengar protes Delmira yang menyalahkan dirinya.


"Mana aku lapar lagi!" keluh Delmira, wajahnya terlihat berubah karena malu.


"Aku juga lapar, kita makan di luar saja," ajak Zaidan mengambil kunci mobil dan tanpa pamit menggandeng tangan Delmira keluar dari kamar.


"Takutnya kamu linglung lagi kalau tidak digandeng," ujar Zaidan setelah duduk di kursi pengemudi.


"Jangan senyum-senyum terus! Gigi kamu nanti kering!" seloroh Delmira melihat Zaidan menahan senyum.


"Ingat kata orang tua. Jangan pernah tidur setelah waktu asar karena ketika kamu bangun nanti akan lingung bahkan terparahnya kalau dilakukan rutin akan mengakibatkan gangguan kejiwaan."


"Itu kata orang tua!" sahut Delmira.


Zaidan tersenyum mendengar sahutan Delmira. Mobilnya kini dia lajukan.


"Perkataan orang tua zaman dahulu itu mengandung arti, hanya cara mereka mengungkapkan dan mengemukakan alasan yang terkadang tidak dapat diterima oleh akal pikir anak zaman sekarang."


"Ya orang tua!" jawab Delmira asal.


Zaidan kembali tersenyum.


"Secara medis, tidur menjelang Maghrib bisa menyebabkan terganggunya sistem metabolisme dan menurunkan daya tahan tubuh. Hal inilah yang memicu penurunan produksi insulin pada tubuh sehingga mengganggu siklus alami tubuh yang bisa mempengaruhi produksi insulin. akibatnya nanti gampang jatuh sakit. Selian itu dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat, mempengaruhi kadar darah, memicu kebingungan dan daya ingat, satu lagi mengakibatkan badan terasa lemas dan pegal."


"Sudah ceramahnya? Sekali ngomong tidak berhenti. Giliran ditanya hanya senyum atau dua tiga kata yang kamu ucapkan!" greget Delmira dengan kebiasaan Zaidan.


Zaidan kembali tersenyum.

__ADS_1


"Aku bilang jangan senyam-senyum!" seru Delmira mengarahkan pandangan ke Zaidan, membuat Zaidan yang masih mengembangkan senyum langsung dia tarik.


Mobil berhenti di salah satu warung langganan Zaidan.


"Di sini tidak apa-apa?"


Delmira mengangguk. Sebenarnya dia juga tidak pilah-pilih soal makanan dan tempat makan, asal enak di lidah itu yang menjadi incaran Delmira. Apalagi harganya murah, itu yang utama dan yang paling utama, tempatnya harus bersih.


"Pak, Nasi bakar rendangnya 2."


"Siap bos muda," jawab penjual yang terlihat akrab dengan Zaidan.


"Rendang?!"


"Kamu tidak suka?" tanya Zaidan melihat ekspresi Delmira.


"Suka," jawab Delmira lirih.


"Kalau kamu tidak suka aku pesankan yang lain."


"Aku bilang aku suka!" suara Delmira sedikit meninggi.


"Ok."


Tidak lama Dua nasi bakar rendang terhidang di meja mereka.


Delmira membuka daun pisang yang membungkus nasi bakar rendang itu. Terlihat asap mengepul dari balik nasi. Dia menyesap aroma wangi dari nasi yang dibakar dengan isian rendang dan lodeh daun singkong.


Dengan cepat Delmira memakannya. Namun sebenarnya dia langsung teringat saat momen terkahir dengan sang bunda. Makanan itu yang membuat dirinya tidak bertemu untuk terakhir kali dengan bunda dan ayahnya. Namun, makanan itu pula yang menyelamatkan dirinya dari kecelakaan maut yang menimpa keluarganya.


"Aku ke mobil," ucap Delmira tanpa mendengar jawaban Zaidan dia melangkah pergi.


Zaidan menatap heran pasalnya tidak butuh lama nasi dan teh hangat lahap habis oleh Delmira padahal Zaidan baru memakan setengah dari porsi makannya itu.


Setelah Zaidan memakan habis dia menyusul Delmira yang sudah duduk di kursi samping kemudi.


"Kenapa?"


"Kalau tanya yang jelas, kenapa apa maksudnya?!" sahut Delmira dengan ketus.


"Kamu memakan nasi rendang tadi dengan wajah yang sendu."


"Penilaian kamu saja! Buktinya aku memakan dengan cepat dan tanpa sisa."


"Cepat jalan! Aku mau lanjutin tidur!" pinta Delmira.


Tanpa menjawab pinta Delmira, Zaidan melajukan mobilnya.


'Aku tahu, ada yang kamu tutupi Mrs. Delmira. Tidak tahu kenapa, aku ikut sedih melihat rona kesedihan terpancar dari raut wajah kamu,' batin Zaidan.

__ADS_1


jangan lupa like komen hadiah vote rate, kasih tips hadiah lewat video yang ada di kolom hadiah juga mau pake banget๐Ÿ˜๐Ÿฅฐ๐Ÿ™


__ADS_2