
Putri diam, sedikit menampilkan sebuah senyum. Pertanyaan yang dilontarkan Delmira sungguh membuatnya tidak tahu harus berkata apa.
"Hanya mengatakan kalau kamu mencintai suamiku?" cecar Delmira.
Kembali Putri menyunggingkan sebuah senyum.
Kali ini Delmira juga tersenyum, tapi bukan senyum bahagia melainkan senyum mengejek pada sosok Putri.
"Ataukah, kedatangan kamu ke sini untuk mengutarakan kekecewaan karena ditolak suamiku? Saranku mending pergi saja. Aku tidak ingin tahu dan tak mau tahu mengenai hal seperti itu. Kami sudah komitmen untuk saling percaya satu dengan yang lain," sambung Delmira.
"Itu lah yang membuat aku semakin mengagumi mas Zaidan. Dia pegang komitmen seperti apa yang Kak Del katakan," balas Putri.
Delmira mendengus, mengempaskan napasnya kasar, dua tangan meraup wajahnya.
"Terima kasih kamu sudah mengaggumi suamiku dan terima kasih juga kamu mengerti kalau cinta kami terpatri atas nama illahi Robbi."
"Justru kedatangan ku ini, secara pribadi ingin meminta izin secara baik-baik pada Kak Del. Bolehkah..., bolehkah aku menjadi istri kedua dari mas Zaidan?"
Delmira tersenyum kecut mendengar permintaan Putri, degup jantungnya terpompa tidak normal, darahnya yang belum mendingin kini harus mendidih kembali. Namun, sekali lagi, Delmira harus bermain cantik. Tidak perlu pakai adegan suara keras, tidak perlu pakai adegan jambak rambut, atau gampar orang. Cukup dengan ketenangan dan bicara sebaik mungkin agar terlihat melawan dengan elegan.
"Aku tidak pernah melarang suamiku untuk melakukan apapun asalkan itu sesuai koridor agama."
"Apa itu berarti kak Del menyetujui permintaanku? Bukankah dalam agama kita memperbolehkan seorang lelaki memiliki istri lebih dari satu."
"Dengan catatan, mampukah suami berlaku adil."
"Untuk bisa mengukur bisa berlaku adil atau tidak, bukankah harus dijalankan terlebih dahulu pernikahan itu," sanggah Putri.
Delmira tersenyum kecut, "Anda benar Nona Putri, harus dijalankan dulu. Tapi pertanyaanku, maukah dia menjalankan itu?"
"Seandainya mas Zaidan mau?"
"Mungkin Nona Putri sedang bermimpi," sahut Delmira dengan cepat.
Putri terkekeh mendengar jawaban Delmira, "Anda terlihat sangat takut jika itu terjadi," ejeknya kemudian.
"Aku bukan takut suamiku mau menerima tawaran anda. Yang lebih aku takutkan, anda tidak terbangun dari mimpi yang sudah terlampaui batas ini."
Putri seketika menghentikan tawanya. Dia terdiam, matanya menatap kosong ke depan, "Tolong bangunkan aku agar tidak terlampau masuk dalam mimpi, tolong bantu aku, agar memijakkan kaki pada bumi, bukan pada labirin yang dapat hilang dalam sekejap," ucap Putri.
"Yang bisa menolong anda, itu diri anda sendiri Nona Putri. Percuma aku membantu atau orang lain membantu, tapi anda sendiri tidak ingin bangun dari mimpi,"
Putri menepuk dua tangan, "Ternyata, pasangan mas Zaidan lebih mengagumkan," ujarnya kemudian.
"Pantas saja, dia begitu mencintai anda," sambung Putri kakinya kini melangkah ke arah Kaffah dan Kahfi.
Delmira mematung menyaksikan apa yang dilakukan Putri.
"Hai...," sapa putri pada si kembar.
Kaffah langsung mendekat ke arah Putri dan menerima sebuah miniatur mobil. Sedangkan Kahfi lebih memilih melanjutkan mainnya tanpa menghiraukan panggilan dan juga apa yang diiming-imingi Putri.
"Makasih aunty," ucap Kaffah dengan gaya bahasanya.
"Satunya buat kamu ganteng," ujar Putri menyodorkan mainan ke Kahfi.
Bocah itu menggelengkan kepala sebagai bentuk penolakan.
"Biar saya terima Mbak," pinta suster Dila.
Putri terpaksa menyerahkan miniatur mobil pada pengasuh Kahfi.
Bocah itu cenderung tidak mudah menerima pemberian orang lain, lebih tertutup dan tidak gampang bergaul dengan orang asing. Hal itu berkebalikan dengan Kaffah.
Putri kemudian berjalan ke arah Delmira.
"Aku permisi dulu Kak. Maaf saya mengganggu waktu Kakak."
__ADS_1
"Hati-hati di jalan. Percayalah, Allah akan mendatangkan orang yang tepat untuk kamu. Pesanku, Jangan masuk ke kandang harimau, kalau kamu bukan pawangnya," ujar Delmira mengingatkan Putri.
Dua sudut bibir Putri ditarik membentuk sebuah senyum, "Terima kasih, akan aku ingat selalu pesan Kakak," sahutnya, "Jaga suami Kakak, karena tidak memutus kemungkinan, ada wanita-wanita lain yang juga punya rasa kagum dan ingin memiliki mas Zaidan. Aku salah satu wanita yang mengutarakan secara langsung. Bagaimana dengan yang lainnya yang tidak berani mengungkapkan secara langsung, mungkin satu, dua atau lebih," sambung Putri panjang lebar.
"Jangan khawatir, karena itu bukan masalah kamu. Aku dan juga suamiku insyaallah akan baik-baik saja," jawab Delmira.
"Assalamualaikum Kak Delmira," pamit Putri memilih pergi.
"Waalaikum salam," jawab Delmira singkat tanpa basa-basi.
"Assalamualaikum Mamyang," sapa Zaidan yang datang selang lima belas menit setelah kepergian Putri.
"Waalaikum salam," sahut Delmira, salam takdhim dan Zaidan membalas dengan mencium pucuk kepala istrinya.
"Kenapa Mamyang?" lontar Zaidan melihat wajah istrinya ditekuk.
"Tidak apa, aku bawakan tasnya," jawab Delmira.
Namun, Zaidan tidak begitu saja percaya apa yang dilontarkan istrinya.
Tangan Zaidan dia lingkarkan di bahu Delmira, dia rengkuh tubuh kecil sang istri. Beberapa kali sambil jalan, Zaidan mengecup pelipis Delmira dengan singkat.
Mereka berjalan seperti truk beriringan hingga masuk kamar.
"Aku mandi dulu. Tidak sabar mau gendong si kembar," pamit Zaidan.
"Hmmmm," sahut Delmira.
Sepuluh menit Zaidan sudah tampil rapi, bersih dan wangi.
"Momyang, aku kok ngerasa sabun di kamar mandi baunya aneh," ujar Zaidan.
"Aneh bagaimana," sanggah Delmira.
"Coba saja kamu cium aromanya," ucap Zaidan menyodorkan dadanya.
Spontan Delmira mengendus dada suaminya, "Wangi kok Papyang," jawab Delmira.
Tanpa rasa curiga, Delmira menurut pinta suaminya, lagi dia pun mengatakan hal yang sama. Namun, Zaidan malah menahan senyum mendengar jawaban Delmira.
"Kenapa Papyang?" bingung Delmira.
Zaidan menggeleng, "Aku juga suka mengendus aroma wangi tubuh kamu," bisik Zaidan tepat di telinga Delmira.
"Issst! Ternyata dari tadi modus ya!" sungut Delmira memukul lemah dada suaminya.
Zaidan terkekeh mendapat balasan perlakuan istri.
"Habisnya dari tadi kami cemberut Momyang," ujar Zaidan membela diri.
"Ada sesuatu yang membuat aku neg!" sungut Delmira, "yuk ah turun ke bawah, katanya mau menemui si kembar," sambung Delmira melangkah terlebih dahulu keluar kamar.
"Tunggu suami gantengmu ini Momyang," seru Zaidan mengejar langkah Delmira.
Sore, Magrib, Isya, waktu bergulir begitu cepat. Setelah si kembar tidur pulas, Delmira dan Zaidan menuju kamar.
Zaidan terlihat duduk di sofa dengan membuka laptopnya.
Delmira lebih memilih duduk di ranjang menyandar di kepala ranjang sambil membuka ponsel.
"Ada kerjaan kantor Papyang?"
"Hmmm," sahut Zaidan.
Jawaban dengungan menandakan kalau Zaidan sedang serius dengan kerjaannya.
Delmira mengerucutkan bibirnya, pandangannya kembali fokus pada layar ponsel.
__ADS_1
Zaidan langsung menghentikan kerjanya. Dia merasa ada yang tidak beres dengan tingkah istrinya.
Laptop itu gegas dia matikan, lalu kakinya melangkah ke ranjang.
Tangan Zaidan bergerak mengelus pucuk kepala Delmira, "Lihat apa?" lontar Zaidan kemudian, tubuhnya beringsut menempel di lengan Delmira.
"Papyang lanjutkan saja kerjaannya," ujar Delmira tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
Cup.
Satu kecupan mendarat di pipi Delmira.
"Issst! Tidak usah cium-cium Momyang!" sungut Delmira mengelap bekas pagutan suaminya.
Zaidan tersenyum mendapat balasan dari istrinya, "Ada apa dengan Momyang? Sejak Papyang pulang, wajahnya cemberut terus?" tanya Zaidan dengan lembut.
"Tidak apa-apa!" jawab Delmira.
Cup cup cup cup.
"Papyang!" teriak Delmira mendapat berondongan kecupan dari Zaidan mulai dua pipi, dahi, hidung, hingga bibir tak terlewatkan. Tangan Delmira reflek menepuk paha Zaidan, membuatnya terkekeh.
"Papyang akan terus kecup bagian yang lain, kalau Momyang tidak mau katakan apa yang menggangu pikiran Momyang sampai wajahnya cemberut begini," ujar Zaidan.
Delmira terlihat mendengus, "Nona Putri datang menemui Momyang!" ucap Delmira, mau tidak mau memang harus jujur mengatakan apa yang sebenarnya menimpa dirinya.
"Dia, datang?" retoris Zaidan.
Delmira mengangguk.
"Mau ngapain?" penasaran Zaidan.
"Meminta Momyang untuk menyetujui Papyang menikahi dia," jawab Delmira.
Sontak Zaidan terkekeh mendengar jawaban Delmira.
"Kenapa malah tertawa? Apa ada yang lucu?!" sungut Delmira.
Zaidan tidak langsung menjawab, karena dia masih saja tertawa.
"Issst! Papyang!" greget Delmira.
"Kamu mengiyakan permintaan nona Putri?" ucap Zaidan diiringi tawa.
"Zaidan!" kesal Delmira sampai menyebut suaminya menggunakan nama bukan sapaan Papyang.
Zaidan menghentikan tawanya kemudian, mengelus pucuk kepala Delmira lalu mengecupnya.
"Papyang bersyukur, karena Momyang cemburu, itu artinya Momyang cinta dan tidak rela suaminya memadu."
"Jelaslah, Momyang tidak rela dan... ."
"Dan apa?" cekat Zaidan, netranya mengunci mata Delmira.
"Dan Momyang memang sangat mencintai Papyang," ucap Delmira.
Zaidan tersenyum mendengar jawaban istrinya, tangannya bergerak menyusup rambut yang menutup sebagian wajahnya, menyangga rahang Delmira dengan dua tangannya, "Papyang juga sangat mencintai Momyang," lirih Zaidan.
Wajahnya mendekat wajah Delmira, hingga tiada berjarak, hidung Zaidan menempel hidung Delmira. Kemudian Zaidan memiringkan posisi wajahnya agar mudah mengekspos benda kenyal yang tepat ada di depannya.
"Kita buat malam ini menjadi indah Momyang," bisik Zaidan.
Delmira tersipu mendengar bisikan suaminya, membalas tiap perlakuan lembut Zaidan dengan balasan yang sama.
"Si kembar sudah sapih, kita buat adik untuk mereka?" lontar Zaidan.
Delmira langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
__ADS_1
"Ayo dong Momyang," bujuk Zaidan.
siang menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏