Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 109


__ADS_3

Fernando melajukan mobil sedikit cepat, melihat ekspresi bosnya panik.


Akhirnya mobil pun terparkir di halaman rumah, Zaidan dan Delmira gegas masuk ke dalam rumah. Namun, sebelum menemui dua anaknya, mereka sempatkan dulu untuk cuci tangan dan kaki, baru mereka masuk ke kamar si kembar.


"Assalamualaikum anak-anak Momyang," sapa Delmira.


"Waalaikum salam," sahut suster Fina dan Dila mewakili dua anak.


"Ya Allah, anak Momyang kenapa nih nangis begini? Kangen sama Momyang? Cuma ditinggal sebentar kok," ujar Delmira, tangannya bergerak untuk menggendong Kahfi, juga Kaffah karena dia langsung meminta digendong pula.


"Kaffah sama Papyang ya," tawar Zaidan tapi Kaffah menolaknya.


"Sudah digendong sama Momyang kok masih menangis?" ujar Delmira karena keduanya belum juga berhenti menangis.


"Anak pintar, sini sama Papyang," rayu Zaidan berganti pada Kahfi, karena tetap saja menangis, Zaidan merebut dari tangan Delmira. Dia merasa tidak tega pada Delmira, yang harus menggendong dua bocah.


"Kita ke taman yuk, main di taman," tawar Zaidan pada Kahfi yang masih juga menangis.


Hal yang sama pun ditunjukkan Kaffah.


"Dari bangun tidur seperti ini Nya," lapor suster Fina.


"Mereka bangun jam berapa Sus?"


"Tidak lama setelah Nyonya pamit pergi," jawab Dila.


"Berarti sudah satu jam lebih mereka menangis," gumam Delmira.


Kemudian Delmira menimang-nimang Kaffah dengan menyenandungkan sebuah salawat. Namun, bocah itu tetap saja menangis.


"Astaghfirullah haladhim, kenapa tetap saja menangis?" bingung Delmira, kakinya kini melangkah keluar kamar, mencari keberadaan Zaidan yang ada di taman.


Delmira tersenyum tatkala melihat Kahfi sudah tertawa bermain dengan Zaidan.


"Alhamdulillah, Kahfi sudah tidak menangis," ujar Delmira.


"Mas Kaffah, lihat... Kahfi sudah tidak menangis, main bareng sama Kahfi yuk," ajak Zaidan memindahkan gendongan bocah itu dari tangan Delmira ke tangannya.


Kaffah terlihat menghentikan tangisnya, matanya tidak lekat pandang dari Kahfi yang sedang bermain pasir di masukkan dalam wadah.


"Mas Kaffah pakai sendok dan wadah yang ini ya," ujar Zaidan memberikan wadah dan sendok yang berbeda dari Kahfi.


Namun, apa yang terjadi, beberapa detik kemudian. Setelah Kaffah menurut untuk turun dari gendongan dan mulai bermain pasir, dia malah merebut sendok dan wadah yang dipegang Kahfi.


Keduanya terlibat saling rebut. Baik Delmira maupun Zaidan sudah melerai tapi tetap saja keduanya bersikekeh meminta barang yang sama.


"Astaghfirullah haladhim, Kaffah tidak boleh begitu, Kaffah kan sudah dikasih sendok dan wadah sendiri, kenapa mengambil punyanya Kahfi?" lontar Delmira pada si kecil.


"Itu... itu...," ucap Kaffah menunjuk pada sendok dan wadah yang dipegang Kahfi.

__ADS_1


Isyarat kalau Kaffah tetap menginginkan barang yang dipegang Kahfi.


"Kita mandikan saja mereka Momyang, insyaallah mereka akan berhenti mandi kalau sudah diguyur air," saran Zaidan yang diiyakan Delmira.


"Suster Fina dan Dila gegas mempersiapkan perlengkapan untuk mandi si kembar.


Benar saja setelah mereka mandi, mereka lebih tenang.


Mereka bermain kembali bersama, Delmira merasa lega melihat keduanya sudah akut kembali.


Sebuah senyum tercetak di wajah Delmira, "Baru saja mereka berebut mainan, sekarang mereka sudah baikkan," ujar Delmira.


"Karena marahnya mereka tidak pakai formalin," sahut Zaidan, "berbeda dengan_" sengaja Zaidan menggantung kalimatnya.


Delmira sontak menghadapkan wajahnya ke Zaidan, "Maksudnya berbeda dengan Momyang?!" hardik Delmira.


Zaidan hanya membalas dengan sebuah senyum, "Papyang juga mau mandi ah," sahut Zaidan langsung melangkah pergi.


"Papyang, tunggu! Jangan main kabur! Awas ya!" seru Delmira mengejar Zaidan.


Dua puluh menit kemudian.


Zaidan dan Delmira sudah di lantai dasar dengan tubuh yang bersih dan wangi karena sudah mandi.


"Biar saja suster yang urus Momyang," ucap Zaidan mencegat langkah Delmira yang akan menyusul si kembar di taman, "kita pantau mereka dari sini," imbuh Zaidan meminta Delmira duduk di teras samping yang tepat menghadap taman rumah.


Delmira beralih tatap ke arah suaminya, dua sudut bibirnya dia tarik membentuk sebuah senyum, "Tidak dipungkiri, terkadang juga bosan Papyang," jawab Delmira.


"Hal yang membuat kamu tidak bosan, misalnya saja?"


"Liburan lah Papyang," sahut Delmira dengan cepat.


Zaidan tersenyum mendengar jawaban istrinya, "Astaghfirullah haladhim, maaf Momyang, Papyang tidak menawari kamu untuk berlibur. Kemarin pas Papyang ajak Momyang untuk berlibur, Momyang langsung menolak alasannya karena repot masih menyusui membawa si kembar."


Delmira membalas dengan senyum, "Papyang ingat tidak sewaktu kita bawa si kembar kondangan? Itu saja rempong sekali. Momyang mikirnya apalagi kita bawa ke tempat yang jauh dan sampai menginap segala, pasti tambah repot," sanggah Delmira.


"Kita kan bisa bawa suster Momyang."


"Sama saja Papyang," kekeh Delmira.


"Kalian begitu, pergi yang dekat-dekat ruang saja."


"Malas Papyang," sahut Delmira.


Zaidan terlihat pasrah, "Nanti kalau punya niatan untuk jalan-jalan, bilang saja ke Papyang. Mau kemana pun insyaallah Papyang turuti," ujar Zaidan, mode ingin menyenangkan istri.


"Ke luar negeri Papyang?" sahut Delmira dengan wajah berbinar.


"Insyaallah."

__ADS_1


"Benar Papyang?" girang Delmira.


Zaidan tersenyum mengangguk.


"Nanti Momyang pikirkan destinasi wisata yang tepat, pas, dan tentunya mengasyikkan," ujar Delmira menaikkan dua alisnya.


"Ya, Papyang tinggal nurut."


Cup.


"Terima kasih Papyang." Begitu bahagianya Delmira langsung mendaratkan ciuman di pipi sang suami.


"Yang satunya iri Momyang," ujar Zaidan menunjukkan pipi kirinya.


Cup.


Tanpa menunggu lama, Delmira langsung mendaratkan bibirnya di pipi kiri Zaidan.


"Kalau saja tamunya tidak datang, pasti Papyang sudah membalas Momyang dengan hal yang lebih," gumam Zaidan tapi jelas terdengar oleh Delmira.


"Papyang genit!"


"Genit dengan istri itu pahala," balas Zaidan mencubit dua pipi Delmira dengan gemas.


"Astaghfirullah haladhim, Papyang jangan ditarik, nanti pipi Momyang jadi kendor," sungut Delmira mengelus dua pipinya yang secara paksa minta dilepaskan dari cubitan suaminya.


Zaidan malah terkekeh melihat ekspresi istrinya.


'Alhamdulillah, semoga Allah selalu melimpahkan kebahagiaan untuk kita Papyang,' batin Delmira, matanya kini tak lekat menatap sang suami yang masih tertawa riang. Wajah Delmira pun mencetak sebuah senyum, ya senyum kebahagiaan.


'Terima kasih ya Allah, telah menjodohkanku dengan lelaki baik semacam Zaidan. Sungguh aku beruntung bisa diperistri olehnya. Semoga kebahagiaan kami hingga surga nanti, amin ya Allah,' sambung batin Delmira.


...****************...


Enam bulan kemudian.


Panjang umurnya, panjang umurnya, panjang umurnya serta mulia, serta mulia, serta mulia...


Sebuah nyanyian khas ketika seorang berulang tahun.


Ya hari ini adalah ulang tahun Kaffah dan Kahfi. Tepat dua tahun mereka lahir ke dunia ini.


Sorak nyanyian kebahagiaan mengiringi dalam acara ulang tahun si kembar yang diadakan di rumah dengan mengundang anak panti asuhan, ibu panti, pegawai dealer, mitra kerja Zaidan, sahabat-sahabat Delmira maupun sahabat Zaidan.


Semua bergembira, terkecuali dua hati manusia yang masih terpaut hubungan tanpa arah.


Yasmin dan Fernando, dua insan yang ada dalam satu ruangan, satu acara tapi saling diam. Bahkan terlihat pura-pura tidak saling mengenal.


pagi menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏

__ADS_1


__ADS_2