
"Syal kamu bagus Mei, beli dimana?" tanya Delmira.
"Oh... banyak kok seperti ini di toko online," jawab Meilin.
"Ya, di toko on line kan banyak syal," sahut Delmira membenarkan ucapan Meilin dengan lemah.
"Kalau kamu mau nanti aku belikan yang sejenis ini," tawar Meilin.
"Tidak, terima kasih," balas Delmira otaknya masih memutar tentang syal yang dikenakan Meilin.
"Sudah makin sore nih Del, kita pulang,"
"Kamu duluan, nanti aku telepon Fernando untuk jemput aku," jawab Delmira dengan wajah yang masih terlihat bingung.
"Aku antar ke rumah kamu."
"Tidak usah Mei, nanti kalau kamu antar aku malah kamu harus putar balik."
"Ya sudah, aku pulang duluan, kabari aku kalau kamu sudah sampai rumah."
Delmira mengangguk, saling ci*um pipi kanan kiri, tangannya melambai mengiringi kepergian Meilin. Lalu, pantatnya dia dudukkan kembali. Otaknya masih memutar tentang syal yang dikenakan Meilin.
"Aku lihat dimana ya?" gumam Delmira
"Issst! Otakku dodol banget kalau mengingat sesuatu!" Delmira menepuk-nepuk dahinya.
Mengempaskan napas dengan kasar adalah jalan terbaik agar dirinya tenang dan pikirannya jernih.
"Ya ampun, aku sampai lupa belum telepon Fernando." Delmira bergegas menyentuh ponsel dan menghubungi Fernando.
"Jemput aku di kafe Senja," pinta Delmira tanpa mendengar jawaban Fernando langsung memutus sambungan itu.
"Kenapa malah telepon Fernando? Aku kan bisa naik ojek on line? Kamu bego banget sih Del! Itu namanya ngrepoti orang! Kamu tidak mandiri!" umpat Delmira pada diri sendiri.
Mata Delmira membelalak, memori otaknya tiba-tiba memutar pada saat dirinya melihat ponsel suaminya, di situ ada foto setengah badan tapi tanpa kepala dan syal yang dipakai di dalam foto itu sama persis dengan yang dikenakan Meilin.
"Iya itu Syal yang sama!" seru Delmira masih berbicara sendiri hingga dia dipandang aneh oleh orang kanan kirinya.
'Tapi apa ya? Mungkin saja aku yang salah lihat!' tepis Delmira tapi matanya langsung mengembun.
Delmira menarik napas dan mengeluarkannya perlahan. Dia lakukan itu berulang kali hingga merasa tenang.
Sesak dadanya kalau mengingat peristiwa itu dan Delmira sudah berkomitmen untuk melupakan semua.
Empat tahun menjalin rumah tangga dengan almarhum Raffat adalah perjalanan cintanya yang manis. Delmira melepas gelar wanita karir demi menjadi istri yang sempurna di mata Raffat dan menjadi ibu yang sempurna untuk anaknya.
__ADS_1
Pertikaian dan perbedaan pendapat adalah hal lumrah dialami boleh rumah tangga siapapun. Begitu juga rumah tangganya. Namun, ujung dari semua itu adalah saling memaafkan hingga membuat keluarga kecil Delmira diselimuti dengan aura yang positif yang membahagiakan.
Menyangka kalau Raffat akan selingkuh? Tidak sedikitpun terbesit dalam benak Delmira. Dia selalu pulang kantor tepat waktu, weekend dengan keluarga. Sesekali dia dinas luar kota itu rasa wajarlah. Delmira merasakan cinta luar biasa dari sang suami.
Lalu, tentang pesan sebelum meninggalnya Raffat, apakah mungkin salah kirim atau Delmira yang salah menilai? Tidak itu memang tertuju untuk Raffat dan Delmira sudah cek seluruh chat nomor tanpa nama itu dengan Raffat tapi chat itu berakhir di satu bulan terhitung mundur dari chat terakhir dimana terjadi kecelakaan yang menimpa Raffat dan dapat disimpulkan chat itu mengandung hal intim antara dua manusia tersebut. Tidak sekedar sahabat atau rekan atau apalah tapi antara dua manusia lawan jenis yang dimabuk asmara gila.
Galeri foto di ponsel Raffat yang paling banyak adalah foto Delmira dan anaknya, hanya satu foto yang dirasa Delmira mencurigakan yaitu foto setengah badan tanpa kepala dan memakai syal.
Apakah itu benar syal yang sama? Mungkin. Sayangnya Delmira tidak dapat mencocokkan kebenarannya karena memori ponsel itu sudah Delmira bersihkan dan ponselnya dia berikan pada orang jalanan yang sedang meminta-minta di traffic light.
Itu bentuk komitmen Delmira, tidak akan mengungkit masalah perselingkuhan sang suami. Bahkan tidak ada seorang pun yang Delmira beritahu tentang perselingkuhan Raffat. Perselingkuhan yang diketahui Delmira di akhir hidup Raffat itu sendiri. Dia tidak ingin mengungkit kesalahan orang yang sudah tiada, apalagi dia suaminya. Bagi Delmira, aib suami adalah aib dirinya pula. Merelakan dan melupakan adalah jalan terbaik.
Di perjalanan waktu, saat dirinya berupaya untuk merelakan dan melupakan semua. Sosok Meilinlah yang memberikan api semangat untuk bangkit dari keterpurukkan. Namun, api semangat itu semakin berkobar, berkobar hingga membentuk gugusan sebuah pembalasan. Ya, dengan membalas kematian keluarga pada orang yang harus bertanggung jawab atas musibah yang menimpanya.
'Untuk apa otak kamu berpikir keras tentang syal itu Del? Bukankah kamu sudah janji untuk melupakannya' monolog batin Delmira.
Delmira mengempaskan napasnya sekali lagi, lalu dibiarkan matanya terpejam hingga cairan bening yang sedari tadi dia bendung mengalir. Namun, dengan cepat kedua tangan Delmira bergerak menyapunya.
Lalu, sengaja Delmira mengempaskan napas kasar. Berharap sesak yang mengungkung dadanya ikut terempas dengan napas itu. Matanya dia buka kembali.
"Ya ampun!" Delmira memegang dadanya karena kaget dengan penampakan di depan matanya.
"Zaidan!" kesal Delmira mendorong tubuh Zaidan ke bantalan kursi dan Delmira mengangkat pantatnya kemudian melenggang jalan.
"Kamu hampir saja membuat jantungku copot!" umpat Delmira ketika Zaidan duduk di sampingnya.
Zaidan kembali, hanya tersenyum.
"Tiba-tiba datang! Tanpa sapa maupun salam! Duduk tepat di depan aku dengan mendekatkan wajah lagi!" gerutu Delmira matanya melirik ke Zaidan yang biasa hanya membalas dengan senyum.
"Kamu tidak bisa bilang maaf!" greget Delmira karena yang diajak bicara tidak ada gerak untuk membuka suara.
"Maaf," ucap Zaidan.
Delmira menengokkan wajahnya ke Zaidan, "hanya maaf?" heran Delmira.
Mata Delmira membulat saat pertanyaan hanya maaf dia lontarkan lalu balasan dari Zaidan adalah senyumnya dan tangan yang mengelus pucuk kepala Delmira.
"Terserah!" pasrah Delmira karena bukan maksud meminta Zaidan mengelus pucuk rambutnya meliankan lebih dari satu kata dari kata maaf, setidaknya basa-basi apalah.
Delmira kemudian memalingkan wajahnya, melipat dua tangan diletakkan di dada, dan matanya dipejamkan.
Roda mobil terus berputar menelusuri jalan ke arah rumah keluarga Fatah.
"Depan ada masjid, nanti berhenti Fer," titah Zaidan.
__ADS_1
"Ya Den," jawab Fernando.
Fernando segera memarkirkan mobilnya.
"Kita turun," ajak Zaidan setelah mobil terparkir sempurna.
"Kamu saja yang turun," jawab Delmira tanpa membuka matanya.
Zaidan mengiyakan ucapan Delmira.
'Semoga Allah memberikan hidayah padamu, istriku dan menuntun jalan kita agar selalu di jalan-Nya, amin,' monolog batin Zaidan lalu turun dari mobil untuk menunaikan salat Magrib.
Seusai menjalankan salat, segera mobil itu melaju kembali menapaki jalanan kota dan berhenti di salah satu rumah mewah milik keluarga Fatah.
"Del, delmira..." panggil Zaidan.
Zaidan turun dari mobil membuka pintu mobil sebelah Delmira.
Sekali lagi Zaidan menepuk bahu Delmira dan mencoba membangunkannya yang sudah terlelap. Namun Delmira tetap saja diam tanpa respon.
Tanpa pikir panjang lagi, tangan Zaidan mengulur ke tengkuk Delmira dan kaki. Zaidan membopong Delmira hingga ke lantai 2 dimana kamarnya bersemayam.
Zaidan menidurkan Delmira di kasur. Kakinya kini melangkah ke toilet kamar.
Sepuluh menit berlalu, Zaidan keluar setelah bebersih diri. Namun, dirinya dikejutkan melihat Delmira yang sudah duduk menyandar di kepala ranjang.
Delmira melirik sekilas sosok Zaidan lalu dengan cepat pandangannya dia tundukkan.
"Sengaja pamer perut kotaknya!" cibir Delmira tapi cibir itu jelas terdengar oleh Zaidan hingga mulutnya yang biasa melempar senyum tanpa giginya terlihat sekarang terlihat.
Delmira menurunkan kakinya dari ranjang dan segera bebersih diri menuju toilet dalam kamar.
"Kenapa aku tidak bawa ganti? Duh apa keluar hanya memakai handuk? Mana handuknya bukan handuk kimono?" keluh Delmira setelah bebersih diri.
"Kalau tadi aku mencibir Mr. Z seperti itu, nanti apa coba yang akan dikatakan Mr. Z kalau aku keluar hanya memakai handuk melilit di atas dada? Hah, aku harus gimana?"
Delmira sedikit membuka pintu toilet, mengedarkan pandangan ke luar, menatap satu persatu sudut ruangan.
"Yes! Zaidan tidak di kamar!" seru Delmira kegirangan.
Kakinya dengan cepat keluar. Namun baru dua langka ada suara deheman dari pintu kamar yang terbuka.
Delmira melirik ke arah sumber suara, lalu dengan cepat kakinya melangkah ke lemari pakaian dengan mode cuek, pura-pura tidak tahu ada Zaidan yang tersenyum di salah satu sudut ruangan.
menyapa kalian 🤗, jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏 lope lope buat kalian 🥰😍😘
__ADS_1