Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 54


__ADS_3

Gumaman Verel tercekat begitu saja tatkala melihat Delmira hanya duduk dengan tatapan kosong dan kemeja yang dia kenakan masih dalam keadaan terbuka.


Tangan Verel bergerak menutup tubuh Delmira dengan selimut. Lalu kakinya melangkah keluar dari kamar.


"Bi Lipah, buatkan teh hangat untuk wanita yang ada di kamar ku. Suruh dia istirahat," titah Verel ketika di dasar anakan tangga kebetulan bertemu dengan bi Lipah, kakinya kemudian melangkah ke taman samping rumah.


"Ya, Den," jawab bi Lipah tanpa penolakan.


Pantatnya lalu didudukkan di bangku taman. Satu batang rokok diselipkan di antara jari telunjuk dan tengah. Asap mulai mengepul ketika api sudah membakar batang rokok itu.


"Aku bisa gila karena dia!" umpat kembali Verel dengan mengempaskan asap rokok ke udara.


"Bisa-bisanya dia menolakku! Kalau aku paksa dia, itu sangat tidak lucu! Kesannya aku memer*kosa dia! Dia aku bayar, bukannya aku punya hak untuk dilayaninya? Sungguh tidak masuk akal!" Asap membubung disela-sela umpatan yang keluar dari mulut Verel.


Sementara, bi Lipah sudah membawa secangkir teh, masuk ke kamar Verel.


'Wanita ini lagi?' gumam batin bi Lipah, ketika matanya melirik ke arah Delmira.


"Diminum Non," tawarnya menaruh teh itu di atas nakas dekat ranjang.


Melihat Delmira hanya diam dengan tatapan kosong dan tanpa sedikitpun respon, bi Lipah mengurungkan niat untuk melangkah pergi.


"Apa perlu aku minumkan?" ketus bi Lipah.


Lagi, Delmira terdiam tanpa respon.


"Mengapa wajahnya seperti orang yang terguncang? Apa yang dilakukan Tuan muda Verel sampai wanita ini begini?" gumam bi Lipah, "panggilnya, tangan bergerak menyentuh bahu Delmira.

__ADS_1


"Aku harus lapor dengan tuan muda," sambung bi Lipah gegas keluar kamar.


"Tuan... Tuan..., wanita itu ...wanita itu_"


Bi Lipah terlihat ngos-ngosan dan gagap, telunjuknya menunjuk ke arah dalam rumah.


"Ada apa dengan dia?"


"Di...dia hanya diam saja."


"Biarkan saja," jawab Verel, mulutnya tanpa henti membumbungkan asap rokok.


"Tapi Tuan _"


"Temui dia barang kali kenapa-napa. Mungkin dia terlalu lelah mendapat bombardir kamu," sela Raka lalu duduk di samping Verel.


Verel hanya mendengus. Dia tidak ingin Raka tahu apa yang terjadi sesungguhnya. Bisa-bisa reputasi sebagai penakluk wanita langsung tercoreng gara-gara seorang Delmira.


"Bagaimana pertemuan Wilson dengan mitra dari Jepang?" tanya Verel mengalihkan pembicaraan untuk menghilangkan suntuk di otaknya.


"Kenapa tiba-tiba tanya itu? Bukankah membahas wanita yang ada di dalam kamar Tuan lebih menarik?" sahut Raka sambil terkekeh.


"Aku butuh jawaban bukan malah kamu lontarkan tanya!" geram Verel membuat Raka semakin terkekeh.


"Apa wanita itu tidak sesuai dengan ekspektasi Tuan sampai wajah Tuan semarah ini untuk membahasnya?"


Plak.

__ADS_1


Raka mengelus kepala yang terkena sambaran tangan Verel mulutnya terlihat nyeringis.


"Ini kekerasan," sungut Raka.


"Urusan pekerjaan sudah ditangani Wilson dan laporannya sudah aku terima. Jadi tidak usah khawatir, semuanya beres. Tuan tinggal urus saja masalah ranjang biar tidak uring-uringan terus," lontar Raka.


"Issst! Tahu apa kamu tentang itu!" geram Verel.


"Tuan."


"Hmmm," dengung Verel sebagai jawaban, tangannya kembali mematik korek api membakar rokok kembali.


"Sebaiknya Tuan menikah, Tuan sudah cukup umur untuk menikah," ucap Raka dengan nada serius.


"Jangan pernah mengukur rumah tangga itu dari kegagalan rumah tangga orang tua


Tuan. Semua tergantung dari dua insan yang menjalaninya," sambung Raka.


"Kamu pantas jadi motivator pernikahan. Sayangnya aku tidak akan tertarik apa yang kamu omongkan," jawab Verel lalu melangkah pergi dari taman.


"Pertimbangkan ucapanku tadi!" teriak Raka setelah Verel berada di ambang pintu masuk.


Verel hanya mendengus sebagi jawaban. Kakinya tetap berjalan menuju kamarnya.


Langkahnya terhenti ketika dirinya sudah di dekat ranjang.


Sebuah senyum tercetak di wajah Verel tatkala menatap Delmira tertidur di kasur.

__ADS_1


Tangan Verel bergerak menaikkan kaki Delmira yang masih menjuntai dari ranjang.


"Cantik," ucap Verel.


__ADS_2