
"Kembalilah pada dia setelah anak kita lahir," ujar Verel matanya belum berpindah memindai wajah Delmira, "kamu berhak bahagia," sambungnya.
Delmira hanya membalas dengan senyum, dia tidak tahu harus menjawab apa. Jangankan memikirkan untuk kembali pada Zaidan, bertemu dengannya saja hanyalah ada dalam mimpi.
"Non, sudah semakin sore. Semua sudah bersih. Kita pulang," ajak Sa'diyah.
"Aku bawakan yang perlu dibawa Mbok," tawar Verel.
"Tidak usah, bawaannya sedikit kok," tolaknya, "Ayo Non, Non Delmira perlu istirahat," ajak Sa'diyah.
Verel tersenyum masam, dia tahu, dari cara bicara, melihat dan sikap mbok Sa'diyah selama ini, wanita itu tidak menyukainya.
"Jangan lupa, besok jam 9 kita ke dokter Gunawan," pesan Verel.
Delmira mengangguk.
Setiap bulan Verel memang rutin mengantarkannya periksa ke dokter kandungan. Dia tidak mungkin absen untuk selalu mengantar Delmira. Bahkan dia rela membatalkan atau mungkin diwakilkan untuk mengikuti rapat-rapat penting asal dapat pulang ke Indonesia dan mengantar Delmira periksa kehamilannya.
"Assalamualaikum om cakep," sapa Safira yang tiba-tiba datang, matanya berkedip-kedip menatap Raka.
"Waalaikum salam," jawab Raka jengah.
"Yang ikhlas dong Om jawabnya," protes Safira.
"Safira, kenapa malah ke sini?" sela Sa'diyah.
"Simbah pikun ya, biasanya juga Safira begini. Selepas sekolah pasti mampir dulu ke warung," gerutu Safira.
"Pi, bawa keranjang itu pulang," pinta Delmira.
"Fi Mbak, pakai F bukan P," protes Safira tangannya mengambil keranjang yang ada di atas meja.
"Biasanya juga aku panggil Sapi kamu tidak keberatan, kenapa kali ini keberatan?"
"Issst! Mbak Del, siapa bilang aku tidak keberatan! Lagian Mbak Del tidak lihat, di sini ada Om ganteng!" Safira melirik ke arah Raka yang sedari tadi menahan senyum, "reputasi cantikku turun gara-gara Mbak Del!" sambungnya mengerucutkan bibirnya.
"Jangan khawatir, kamu tetap cantik dan imut," sela Raka mengambil keranjang yang dipegang Safira.
"Wah... benarkah Om?" Mata Safira membulat, hatinya langsung berbunga-bunga.
Raka mengangguk, kakinya tetap melangkah masuk ke mobil dan memasukkan keranjang itu.
"Yuk Mbak Del pulang," ajak Safira.
"Kamu boncengin mbok Sa'diyah, biar aku naik ojek yang ada di depan," sahut Delmira.
"Ikutlah ke mobilku," tawar Verel.
"Kamu yang bonceng Safira, biar Mbok yang ikut mobilnya Verel," cekat Sa'diyah tanpa mendengar persetujuan Delmira langsung masuk ke mobil mewah milik Verel.
__ADS_1
"Aku tidak percaya laki-laki seperti kamu tidak akan menyakiti Delmira," ucap Sa'diyah ketika mobil itu mulai melaju.
Verel tersenyum mendengar ucapan Sa'diyah yang jelas ditujukan padanya.
"Aku memang bukan lelaki baik Mbok, makanya aku tidak berani mendekati Delmira lebih jauh. Aku hanya ingin dia dan bayi yang ada di dalam kandungannya baik-baik saja," jawab Verel.
"Bohong! Munafik! Pasti bohong kalau kamu tidak mengharapkan lebih!"
Verel mengempaskan napasnya, sebuah senyum kecut nampak tergambar di wajah Verel, "Simbok pintar meraba apa yang ada dalam otak orang lain."
"Aku sudah makan asam garam berlebih. Jadi, cukup lihat ekspresi wajah kamu saja aku sudah tahu apa yang sebenarnya dalam otak kamu," ujar Sa'diyah, "Mbok tidak ingin dia terluka lagi. Dia butuh sandaran yang tepat agar dia bahagia. Perlu digarisbawahi, kebahagiaan yang hakiki adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Mbok rasa, cinta kamu memang tidak diragukan, tapi... bisakah cinta yang kamu punya juga dapat menuntunnya hingga ke surga?"
Verel terdiam, apa yang dikatakan Sa'diyah benar adanya. Bagaimana bisa orang semacam dirinya bisa membahagiakan Delmira, ya kebahagiaan hingga ke surga. Sedangkan dirinya? Sama sekali tidak tahu soal agama.
"Kamu pahamkan apa yang Mbok sampaikan?"
Verel tersenyum membalas.
"Bukan Mbok menganggap remeh kereligiusan yang kamu miliki, hanya... melihat kenyataan yang sekarang seperti ini. Maaf, Mbok juga bukan manusia yang taat dan sempurna."
"Delmira butuh imam yang dapat membimbing dan menuntunnya. Tapi, mbok juga tidak memungkiri, hidayah Allah itu bisa datang pada siapapun, dan semoga Allah memberikan itu pada kita semua," lanjut mbok Sa'diyah kakinya kemudian turun dari mobil setelah mobil itu terparkir di pekarangan rumah dan Raka membukakan pintu mobil untuknya.
"Tidak duduk dulu Om?" tawar Safira.
"Delmira perlu istirahat dan kami belum salat asar," sela Sa'diyah.
"Simbah... judes sekali, bagaimana cucunya cepet laku kalau simbahnya saja begitu!" gerutu Safira.
Raka yang mencuri pandang ke arah Safira hanya menahan senyum.
"Sampai jumpa besok," ucap Verel pada Delmira dan diangguki Delmira.
"Assalamualaikum," ucap Raka.
"Waalaikum salam," jawab Delmira dan Safira bersama karena mbok Sa'diyah sudah masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.
Sepanjang perjalanan ke hotel Verel hanya terdiam, tentu saja pikirannya dipenuhi kata demi kata yang terlontar dari Sa'diyah.
Raka sempat melirik ke arah kaca spion dalam mobil, dia juga tidak dapat berkata-kata kalau sudah seperti ini masalahnya.
...****************...
Verel duduk di ruang tunggu, matanya fokus pada gambar yang ditampilkan pada sambungan video call ponsel Delmira.
"Bayiku," lirih Verel matanya berkaca-kaca melihat bayi dalam kandungan itu bergerak dan mulai terlihat sempurna bentuk tubuhnya.
Raka melirik ke arah tuannya. Setiap Verel mengantar Delmira periksa dan melihat secara langsung layar monitor USG pasti Verel menampakkan ekspresi wajah yang seperti itu.
Verel memasukkan ponsel ke saku jas.
__ADS_1
"Tuan begitu sayang pada bayi itu," ujar Raka.
Verel hanya tersenyum menanggapinya.
Delmira keluar dari ruang pemeriksaan. Kakinya berjalan mengarah ke arah diman Verel dan Raka duduk.
"Duduk dulu," pinta Verel menyodorkan botol minum berisi air mineral yang sudah dia buka.
"Terima kasih," ucap Delmira.
"Bismillahirrahmanirrahim," lirih Delmira dan sontak membuat Verel menoleh ke arah wanita yang duduk berjarak satu kursi darinya.
Mata Verel memindai wajah dan badan Delmira yang sudah mulai berubah bentuk. Kandungan Delmira sudah memasuki 24 minggu, maka perutnya yang tadinya rata mulai terlihat buncitnya.
"Alhamdulillah," lirih Delmira setelah meneguk setengah dari botol itu. Tangan Delmira mengisyaratkan agar Verel memberikan tutup botol yang dia pegang tapi Verel malah mengambil botol di tangan Delmira, bukan ditutup botol itu malah sisa air mineral itu diteguk habis Verel.
"Itu sisa ku, mengapa kamu minum?" protes Delmira.
"Aku haus," jawab Verel.
"So sweet begitu masih menyangkal isi hatinya," gumam Raka.
"Maksud kamu?" lontar Delmira yang jelas mendengar gumaman Raka.
"Auw!" Raka menahan sakit karena sepatunya diinjak Verel.
"Maksud aku... mari kita pulang," jawab Raka asal.
"Kalian berdua biasa tidak jelas begini ya?" sahut Delmira sambil terkekeh.
"Bagaimana, apakah ada masalah pada bayi kita?"
Deg.
Entah mengapa setiap Verel menyebut bayi yang ada di dalam kandungannya dengan sebutan bayi kita Delmira merasa risih dan ada perasaan bersalah.
"Alhamdulillah, bayinya baik-baik saja," jawab Delmira, tangannya mengelus perutnya yang sudah buncit.
Mata Verel tanpa kedip menatap perut Delmira, relung hati yang paling dalam ingin sekali ikut mengelus perut itu dan menyapa bayinya yang ada di dalam sana.
"Sampaikan salamku padanya," pinta Verel.
Delmira tersenyum, sontak dia mengajak bicara baby-nya sambil terus mengelus perut
"Dapat salam tuh dari_"
Delmira berhenti seketika mulutnya keluh untuk melanjutkan bicara, dia tidak tahu harus menggunakan sapaan apa untuk menyebutkan Verel pada bayi yang ada dalam kandungannya.
"Ayah Verel," sambung Verel.
__ADS_1
sore menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏 lope lope buat kalian yang masih setia dengan cerita ini 🥰😍😘 dukungan kalian sangat berarti buatku 🙏 mode sabar nunggu mas Zaidan ya... dia bakal comeback kok...tapi entah masuk bab berapa 🤭🙏