
Icha nyeringis, "Ya nanti kalau aku temu dengan dia, aku akan bilang makasih," ralat Icha.
Kahfi hanya membalas dengan sebuah senyum.
Tidak lama setelah itu bel masuk pun berbunyi.
...****************...
Berita bencana gempa yang menimpa daerah XX menggemparkan seluruh Indonesia. Pasalnya, gempa yang berkekuatan 6,2 skala Richter itu telah merenggut nyawa hingga ratusan orang.
Selain gempa, selang satu hari kemudian, daerah tersebut juga terkena longsor. Akibat longsoran tersebut, korban jiwa semakin bertambah. Belum lagi, keadaan diperparah dengan adanya banjir karena hujan yang intensitasnya cukup tinggi.
Segala bentuk sumbangan dikirim oleh pihak pemerintah maupun para donatur. Basarnas maupun relawan bahu membahu membantu para korban.
Di SMA Merdeka Berbudi pun sedang sibuk kegiatan penggalangan dana untuk korban gempa di daerah XX.
Semua ekskul dilibatkan demi lancarnya acara tersebut. Hari ini kegiatannya pengumpulan pakaian layak pakai dan dilanjut hari berikutnya pengumpulan uang dari tiap kelas maupun pemakai jalan yang ada di depan sekolah.
"Kita istirahat dulu. Makan siang sudah datang," titah Kahfi sebagai ketua kegiatan, menggunakan pengeras suara.
Kegiatan sortir pakaian layak pakai pun dihentikan. Semua yang bekerja keras dari pagi hari kini mengantri untuk mengambil jatah makan siang.
Tangan Kahfi bergerak mengambil seikat nasi box yang dibawa Icha.
Icha tersenyum, menyerahkan tumpukan nasi box tersebut.
"Tidak dengan lisan perhatian yang dia berikan tapi dengan sikap yang dia tunjukkan. Sangat jelas kalau kita simpulkan, dia memang ada hati dengan kamu," bisik Sasi menggoda Icha.
"Jangan mulai deh, nanti aku bisa salah mengartikan!" protes Icha.
"Aku serius Cha, semua pun akan menilai sama sepertiku," sahut Sasi, tangannya tetap bergerak membagikan nasi box.
"Kita makan," ajak Kahfi yang tiba-tiba ada di antara mereka.
Wajah Icha sontak berubah merah, dia takut ternyata Kahfi mendengar semua pembicaraan dirinya dengan Sasi.
"Kenapa Cha?" lontar Kahfi melihat perubahan mimik Icha, bisa dibaca, Icha terkejut dengan kedatangannya.
"Emmm.... tidak, aku cek dulu yang depan sudah kebagian nasi box apa belum," sahut Icha wali sebenarnya hal itu dia lakukan untuk menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba mendera.
"Semua sudah mendapat bagian, kalian jangan khawatir," ucap seseorang yang melangkah ke arah Kahfi, Icha, dan Sasi.
"Tidak ada yang kurang Kaff?" ulang Kahfi memastikan.
__ADS_1
"Sudah beres bos!"
"Kalau sudah semua, tunggu apalagi? Cepat makan!" seru Kahfi yang lain pun mengiyakan apa yang dititahkan Kaffah.
"He Kaffah, aku panggil malah tidak nyaut!" protes seseorang, memanyunkan bibirnya. Namun dengan cepat, saat melihat kakak kelas yang dia idolakan yaitu Icha, dua sudut bibirnya dia tarik membentuk sebuah senyum, "boleh gabung kan Kak Icha?" pinta Nabila dengan antusias.
Icha membalas senyum itu, mengangguk, lalu, menawarkan tempat di sampingnya.
'Yes! Pas sekali, tempat lesehan yang ditawarkan kak Icha ada di samping si tampan Kahfi,' monolog batin Nabila bersorak suka cita.
"E...e... enak saja mau duduk di situ! Kamu geser Cha!" titah Kaffah sebagai protes agar Nabila tidak duduk di samping saudara kembarnya.
Karena Icha tidak juga geser ke Kahfi malah Nabila yang akan mendudukkan pantatnya di situ, Kaffah gegas bangun dan menarik Nabila untuk duduk di sampingnya.
"Diam di sini!" titah Kaffah tak terbantahkan, Nabila hanya mengerutkan bibirnya atas ketidaksukaan sikap Kaffah.
"Tidak diundang, main gabung ke sini!" sungut Kaffah.
"Issst! Aku juga masuk sebagai panitia! Kenapa tidak boleh gabung dengan panitia yang lain?! Ingat kata saudara kembar kamu, Kahfi si cowok tampan, kita satu tim harus jaga kekompakan agar acara penggalangan dana untuk korban gempa berjalan dengan lancar!" sahut Nabila panjang lebar dan tanpa malu menyebut Kahfi dengan sapaan si tampan.
"Kita mau makan, kalau kamu terus ngoceh, mending sana ngegelantung di pohon bareng teman-teman kamu," timpal Kaffah.
"Issst kamu!" kesal Nabila mengepalkan tangan dan mengarahkan ke Kaffah.
"Sudah, mari makan, jangan lupa baca basmallah," sela Sasi.
Mereka pun bersama-sama baca doa dan mulai memakan nasi dalam box tersebut.
Sudah menjadi kebiasaan Kaffah, setiap ada sayur pasti dia berikan sayur itu pada Kahfi.
Tanpa penolakan Kahfi pun menerimanya.
Icha melirik pemandangan si kembar yang begitu akrab. Dua sudut bibir Icha ditarik membentuk sebuah senyum.
"Makan sayur itu, kalau tidak dipaksa tidak akan masuk, dari situ kita belajar sedikit demi sedikit untuk menyukainya. Sayur sangat bermanfaat untuk tubuh kita, jangan sampai asupan gizi kita kurang gara-gara tidak doyan sayur," ujar Icha, mengingatkan Kaffah.
"Hmmm," dengung Kaffah sebagai jawaban.
Sedangkan Kahfi tersenyum kecil melirik mimik Kaffah. Sedari kecil, Kaffah memang tidak menyukai sayur. Mulai dari mommy, pappy hingga dokter pribadi sudah memperingatinya tapi tetap saja, hobinya menyingkirkan sayur dari piring.
'Aku berdoa, suatu saat ada yang selalu cerewet mengingatkan kamu untuk makan makanan yang sehat,' batin Kahfi bermonolog.
Mereka melanjutkan sortir pakaian setelah makan siang sudah selesai.
__ADS_1
"Jangan angkat berat, apa di sini tidak ada cowok?!" ujar Kahfi melihat Icha mengangkat kardus berisi pakaian yang sudah disortir. Kardus itu berpindah tangan dari Icha ke Kahfi.
Icha tersenyum menatap punggung Kahfi yang berlalu dari dirinya.
'Apa benar yang Sasi katakan? Bentuk perhatian kamu karena cinta? Lihat saja, yang mengangkat kardus berisi pakaian tidak hanya aku, beberapa dari siswi juga angkat tapi tidak kamu stop Kahfi,' batin Icha berkata namun itu yang membuat Icha semakin melebarkan senyumnya.
...****************...
Topi yang dikenakan Kahfi berpindah ke kepala Icha, "Sudah tahu hari ini kegiatannya meminta sumbangan penggunaan jalan di depan sekolah kita. Kenapa tidak memakai pelindung kepala," protes Kahfi.
Icha tidak menjawab protes dari kahfi tapi senyumnya yang memberi tanda kalau dia suka diperhatikan oleh Kahfi, dengan caranya yang terkadang sulit ditebak.
Kebetulan mereka mendapat giliran untuk meminta sumbangan untuk korban bencana gempa bumi yang dilakukan di jalan depan sekolah di sesi ketiga. Sesi itu dimulai dari pukul 13.30 - 14.30 WIB. Satu sesi dipilih 7 orang. Lima anak membawa kardus dan dua anak bernyanyi mengiringi alunan musik yang diputar lewat speaker portabel.
"Saudara kembar kamu bisa nyanyi?" retoris Icha mendengar Kaffah bernyanyi dengan suara merdu.
"Apalagi kalau qiraati Al Qur'an, bagus sekali," imbuh Kahfi diiringi sebuah senyum lebar, mengingat setiap hari dia selalu membaca qiraati Al Qur'an yang dibimbing langsung oleh ustadz Hasbi.
"Serius, dia bisa ngaji?" lontar Icha dengan nada terkejut.
Kahfi mengangguk.
Lampu berwarna merah, mereka kembali beraksi menyambangi para pengguna jalan.
"Dek," panggil seorang pengendara mobil pada Icha. Dia menunjukkan satu lembar uang dengan nominal tertinggi untuk uang tunai Indonesia.
Icha maju mendekat penuh semangat. Kardusnya dia sodorkan.
"Terima pakai tangan kamu, aku tidak ingin memasukkan uang ini ke dalam kardus," protes orang tersebut.
Icha tersenyum kecil, lalu tangannya menengadah untuk menerima uang itu. Orang tersebut memberikan uangnya tapi dengan tidak etis, karena setelah uang di tangan Icha dia malah menggenggam tangan Icha lama. Bahkan, tangan Icha baru dilepas orang itu setelah Icha menarik paksa tangannya.
"Jangan macam-macam ya Mas! Aku bisa laporkan kamu atas tindakan yang tidak menyenangkan!" ancam Icha, dengan suara lantang.
Bukan meminta maaf, lelaki itu malah mencium tangannya sendiri yang tadi sempat memegang tangan Icha.
"Turun!"
Tiba-tiba ada suara keras yang menitahkan lelaki tersebut untuk turun dari mobilnya. Suara keras itu sontak membuat Icha menolehkan pandangan. Betapa terkejut, ternyata dia Kahfi, lelaki yang selama ini dia kenal pendiam, begitu gagah berani melawan seorang yang sudah berbuat tidak etis.
Tak pelak keributan tersebut membuat pengguna jalan yang lain memandang ke arah mereka.
Lelaki tersebut bukannya turun, malah akan menutup kaca jendela. Karena tidak ada niatan baik. Kahfi sampai nekat menggedor body mobil.
__ADS_1
"Aku sudah merekam aksi kamu! Kalau kamu tidak turun dan meminta maaf pada temanku, aku pastikan polisi yang akan menindaklanjuti kejadian ini!" ancam Kahfi dengan berani.