Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 116


__ADS_3

Delmira melemparkan sebuah senyum, melihat suaminya berjalan dari lorong, tangannya menenteng sebuah plastik kresek.


Zaidan memberikan satu botol minuman pada mama Putri, lalu satu botol lagi pada Delmira.


"Terima kasih," ucap Delmira menerima botol air mineral yang sudah dibukakan tutup botolnya itu, "Papyang sudah minum?" lontar Delmira kemudian.


"Sudah," sahut Zaidan.


Setelah mengucap basmallah, minuman itu Delmira teguk.


Sebelumnya, Zaidan memang menelepon Delmira untuk datang ke rumah sakit, dia bercerita kejadian yang menimpa Putri.


Delmira gegas ke rumah sakit membawa mobil. Sedangkan Fernando, terpaksa dia pergi karena ada hal yang perlu diurus untuk persiapan pernikahannya.


"Dokter belum keluar ruangan Bu?" lontar Zaidan pada mama Putri.


Dia menggelengkan kepalanya.


"Ma, bagaimana keadaan anak kita?" lontar Pak Hidayat, begitu sampai di rumah sakit.


Wanita paruh baya itu langsung menghambur ke tubuh suaminya, air mata yang sudah berhenti mengalir kini terlihat kembali di dua pipinya.


Pak Hidayat nampak membalas pelukan, menenangkan keadaan istrinya.


"Sudah satu jam ini dokter belum keluar dari ruangan," ujar mama Putri.


Hidayat terlihat mengempaskan napasnya, tangannya masih bergerak menepuk pelan punggung istrinya. Dia baru sampai rumah sakit, karena posisinya saat itu masih di luar kota.


"Dokter pasti keluar membawa kabar baik," ujar Hidayat mencoba menenangkan istrinya.


"Dok, bagaimana keadaan anak saya?" lontar mama Putri mendengar pintu dibuka dia sontak melepas pelukan dan melangkah mendekat ke dokter.


"Alhamdulillah, dia sudah siuman, sekarang sedang istirahat. Silahkan kalau Bapak Ibu mau melihat kondisinya," jawab dokter.


"Terima kasih Dok," sahut Hidayat, sedangkan mama Putri lebih memilih jalan masuk ke ruang perawatan.


Delmira dan Zaidan juga ikut masuk.


Kurang lebih sepuluh menit mereka ada di dalam.


"Zaidan, saya bisa kita bicara?" tanya Hidayat.


"Baik Pak" jawab Zaidan tapi sebelum keluar ruangan, Zaidan pamit terlebih dahulu pada Delmira.


Hidayat dan Zaidan duduk di kursi yang ada di luar ruangan.


"Kamu lihat kondisi anakku?" retoris Hidayat yang dijawab sebuah anggukan kecil oleh Zaidan, "entah berapa lama dia dapat bertahan hidup," sambungnya, membuang napas kasar.

__ADS_1


"Aku benar-benar tidak tega melihat kondisi Putri," lirih Hidayat, dia yang orang yang kuat, sampai melinangkan air mata.


Zaidan masih diam dengan seksama mendengar keluh kesah lelaki baya itu.


"Dia sangat mencintai kamu Zaid, bahkan sejak pandangan pertama. Putri pernah bicara padaku. Satu hal yang bisa membuat dirinya bahagia adalah ketika melihat wajahmu. Sel kanker tidak tumbuh pesat kalau si penderita merasa bahagia," papar Hidayat, dia berhenti bicara mengambil napas lalu melanjutkan ucapannya.


"Bisakah, kamu menikahinya?"


Deg.


Zaidan sudah dapat memperkirakan apa yanga akan dikatakan Hidayat, tapi tetap saja dirinya merasa terkejut saat kalimat itu terlontar dari mantan mitra kerjanya.


"Aku mohon, hanya mendampingi Putri selama sisa hidupnya," pinta Hidayat beringsut dari kursi duduk dan sekarang dalam posisi bersujud di kaki Zaidan.


"Astaghfirullah haladhim, Pak jangan lakukan ini," seru Zaidan memapah tubuh Hidayat agar duduk dengan benar di kursi.


"Istighfar Pak, serahkan semua sama Allah. Apa yang ada di dunia ini semata milik Allah," lanjut Zaidan, menepuk punggung Hidayat.


Hidayat membungkukkan tubuhnya, menenggelamkan wajahnya ke dalam dua tangkupkan tangannya sendiri.


"Aku sudah tidak bisa berbuat apapun untuk anakku," gumam Hidayat dengan suara parau.


"Terlebih kata dokter, kanker yang diderita Putri sudah menjalar dan tidak bisa dioperasi," sambung Hidayat.


Zaidan masih diam menepuk punggung Hidayat, mencoba menenangkan lelaki yang pernah menjadi mitra kerjanya itu.


"Maaf Pak, aku_" ucap Zaidan terbata dan lemah tapi dengan cepat dipotong Hidayat.


Zaidan membuang napasnya, tangannya berhenti menepuk punggung Hidayat, lalu bergerak menggaruk tengkuknya walaupun nyatanya tidak gatal. Kepala bergerak menoleh ke samping, matanya langsung berhenti tatap tatkala di pintu tidak jauh dari tempat dirinya dan Hidayat duduk, ada Delmira yang berdiri mematung.


"Delmira," gumam Zaidan.


Zaidan gegas beranjak bangun mendekat istrinya.


"Aku mau pulang," ujar Delmira dengan suara lemah.


"Ok, kita pulang," sahut Zaidan.


"Maaf, Pak Hidayat, kami pulang dulu," pamit Zaidan, "assalamualaikum," ucapnya kemudian.


"Waalaikum salam," jawab Hidayat.


"Tunggu Nak Zaidan," cekat Hidayat setelah Zaidan melewati tubuhnya.


"Zaidan dan Delmira terpaksa menghentikan langkahnya, Zaidan menolehkan tubuhnya, sedangkan Delmira tetap berdiri mematung tanpa menoleh.


"Tolong pikirkan kembali permohonanku," ujar Hidayat, "kamu... hati-hatilah di jalan," sambungnya.

__ADS_1


Zaidan hanya diam tidak menjawab ucap Hidayat malah kembali mengucap salam untuk undur diri.


Sepanjang jalan, Delmira lebih memilih diam, kalau pun membuka suara dia hanya berkata satu patah dua kata.


...****************...


Malam telah menyapa.


"Ada kerjaan yang belum aku selesaikan, aku selesaikan dulu," ucap Zaidan ketika Delmira menaiki ranjang bersiap diri untuk tidur.


Sebuah senyum dan anggukkan Delmira tunjukkan sebagai balasan ucapan Zaidan.


Dengan cepat Zaidan menyelesaikan pekerjaannya, karena Fernando juga masih sibuk untuk mengurus persiapan pernikahan. Jadi mau tidak mau dirinya harus lembur untuk pekerjaan yang memang harus dikerjakan dalam minggu ini.


Butuh dua puluh menit, Zaidan menyelesaikan tugasnya. Terkesan terburu-buru tapi memang itu harus Zaidan lakukan. Dia akan berbicara suatu hal penting pada sang istri.


Zaidan merangkak naik ke ranjang setelah mengambil air wudu.


"Sudah tidur Momyang?" lontar Zaidan mengelus lengan Delmira.


"Hmmmm," dengung Delmira, matanya memang sedari tadi dia pejamkan tapi sebenarnya dia belum benar-benar tertidur.


"Momyang... tadi siang mendengar pembicaraan pak Hidayat denganku?" lontar Zaidan.


Delmira terdiam, bukan karena tertidur tapi tidak tahu harus menjawab apa dan lebih baik memilih pura-pura tidur.


Namun, jujur saja, sepulang dari rumah sakit, pikiran Delmira penuh beban. Apalagi sewaktu akan pulang, secara tidak sengaja mendengar percakapan antara suaminya dengan pak Hidayat.


"Menurut Momyang?" lontar Zaidan.


Delmira masih dengan mode yang sama, pura-pura tidur.


Zaidan menyangga tubuhnya agar posisinya lebih tinggi lalu mendongakkan wajahnya melihat wajah Delmira, karena posisi Delmira yang membelakangi Zaidan membuat dirinya tidak dapat menatap langsung wajah istrinya.


"Momyang," sebut Zaidan merebahkan tubuh dan langsung memeluk tubuh Delmira mendekap erat.


"Kamu akan menikahi Putri?" lontar Delmira.


Zaidan tersenyum, seakan tidak mengindahkan ucapan Delmira, dia semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku sedang tanya, kenapa tidak kamu jawab?! Kamu akan menikahinya?!" cecar Delmira menaikkan nada suara, napasnya terdengar naik turun, jantung terpompa tidak normal, hatinya terasa diremas karena menahan amarah.


"Zaid!" sungut Delmira terpaksa membalikkan tubuhnya, dan seperti biasanya, kalau dia sudah memanggil dengan menyebut nama, bukan sapaan kesayangan berarti suasana hati Delmira sedang tidak baik-baik.


Zaidan tersenyum melihat Delmira mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa kamu senyum seperti itu? Apa artinya ya, kamu akan menikahinya?" desak Delmira.

__ADS_1


Bukan jawaban yang didapat Delmira melainkan pelukan erat dan kecupan yang mendarat di pucuk kepala dari Zaidan.


siang menyapa 🤗 mau dong kak Mel dikasih bonus tonton iklan🙏🥰


__ADS_2