Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 133


__ADS_3

Mungkin terkesan biasa, dari pertemuan PMR, kegiatan OSIS, baca buku bersama di perpustakaan tapi semua adalah momen yang pastinya memberi kesan keduanya hingga Kahfi dan Icha tidak bosan melakukan itu semua.


"Apa rencana kamu setelah lulus dari sini?" lontar Kahfi.


"Aku ingin meneruskan studi di fakultas ke dokteran," jawab Icha.


"Ada motivasi tertentu sehingga kamu mengambil jurusan kedokteran?" telisik Kahfi.


Icha tersenyum, "Aku merasa senang saja dengan dunia medis, menolong mereka yang membutuhkan."


"Insyaallah suatu saat aku perkenalkan dengan orang yang juga sudah terjun di dunia medis," ucap Kahfi.


"Apa dia seorang dokter?"


Kahfi menggeleng, "Dia orang spesial," jawabnya diiringi sebuah senyum.


Icha menarik senyum yang sempat menghias wajahnya. Entah kenapa jawaban Kahfi membuat hatinya tidak rela, ketika lelaki yang ada di depannya menyebutkan ada orang lain yang istimewa.


Cemburu kah? Benarkah begitu hai Icha?


"Kalau kamu? Rencananya setelah lulus dari sini, mau melanjutkan kemana?" tanya Icha untuk mengalihkan hatinya yang semakin tidak karuan kalau hanya didiamkan.


"Lulusku masih lama, belum juga satu tahun duduk di bangku SMA," sahut Kahfi.


"Barangkali kamu sudah punya cita-cita."


Kahfi terlihat melempar sebuah senyum, matanya menerawang jauh ke langit lepas, "Aku ingin mendampingi orang yang spesial dalam hidupku. Bersama berdampingan melanjutkan cita-citanya."


Pikiran Kahfi melayang memutar memori kenangan bersama mommy-nya. Saat ikut menjadi donatur di sebuah panti asuhan, saat terjun langsung memberikan bantuan ke lokasi bencana, saat bersama mendampingi para medis mengobati korban bencana. Sungguh semuanya, memikat hati Kahfi hingga dirinya bersiteguh ingin menjadi seorang dokter kelak suatu saat nanti.


"Hei, mengapa hanya diam. Apa kamu tidak punya cita-cita?" telisik Icha.


"Ada," balas singkat Kahfi.


"Apa?" cecar Icha merasa penasaran tingkat tinggi.


Kahfi mengarahkan pandangan ke arah Icha, "Nanti kamu juga tahu," sahutnya kemudian.


"Ih, nggak asik! Giliran kamu tanya aku jawab, giliran aku tanya kamu main rahasia!" sungut Icha menggelembungkan dua pipinya.

__ADS_1


Dua sudut bibir Kahfi ditarik mencetak sebuah senyum, "Aku ke kelas dulu, insyaallah istirahat kedua aku ke perpustakaan. Assalamualaikum," pamit Kahfi kakinya melangkah pergi tanpa mendengar jawaban Icha.


"Waalaikum salam," lirih Icha, matanya lekat menatap punggung yang semakin jauh dari jangkauan matanya.


"Sudah tidak terlihat, masih saja kamu pandang," ledek Sasi yang tiba-tiba datang berada di samping Icha.


"Issst! Apaan kamu sih Sas. Ke kelas yuk," ajak Icha gegas melangkahkan kaki.


"Dia cakep, baik, cerdas, tajir. Jangan sampai kehilangan dia, bisa keduluan orang lain, banyak tuh yang ngantri jadi pacarnya. Ada yang terang-terangan nyatakan cinta, ada yang hanya terpendam dalam jiwa. Tapi... yang bikin para cewek ngiri, ternyata si doi lebih dekat dengan kamu," ucap panjang lebar Sasi di tengah jalannya.


"Kalau si doi tidak bisa nyatakan cinta pada kamu, kamu dulu yang nyatain juga tidak apa-apa," sambung Sasi, berjalan cepat agar jalan sejajar dengan Icha.


"Kamu ngomong apa sih Sas!" elak Icha pura-pura tidak tahu apa yang dibicarakan Sasi. Padahal jelas Icha paham apa yang dimaksud sahabatnya juga paham siapa yang dimaksud dalam pembicaraan itu.


"Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Ke tanah abang beli kain, Kainnya dipotong jadi lima. Giliran doi diembat orang lain, kamunya yang nggak terima," ledek Sasi dengan berpantun ria.


"Sudahlah, pikirkan baik-baik apa yang aku omongin," imbuh Sasi, pantatnya dia dudukkan di kursi di dalam kelas.


Sementara itu, saudara si kembar, Kaffah juga tidak hentinya dijodohkan dengan Nabila oleh teman-teman bela diri. Hal inilah yang memicu kemarahan seorang gadis yang sedari awal sudah naksir dengan Kaffah.


"Jangan konyol, kamu cewek jadi-jadian. Lihat tampang kamu! Jauh dari kriterianya. Jadi jangan mimpi untuk mendapatkannya!" ejek Ariyana, posisinya terus memepet tubuh Nabila.


Namun, dia Nabila, sedikit pun tidak ada rasa gentar pada gadis semacam Ariyana, gadis yang sukanya mampang kekayaan orang tua. Gadis yang berlindung di balik kekuatan orang tua, gadis manja yang serba orang tua.


Ariyana, Sheilla, dan Novia sontak tertawa mengejek mendengar ucapan Nabila.


"Aku berada di depan kamu saja sangat malu, apalagi disandingkan sebagai saingan?! Sangat tidak level!" cemooh Ariyana.


"Lalu sekarang, apa yang kamu lakukan? Menggertakku agar menjauhi Kaffah, bukankah ini yang namanya kamu takut bersaing denganku?!" balas Nabila, matanya tidak kalah tajam dengan tatapan yang Ariyana layangkan.


Nabila mengempaskan napas kasar, "Ngapain ladenin orang macam kalian!" imbuhnya, memilih meninggalkan transit toilet yang menjadi tempat mereka cekcok.


"Hei! Jangan kabur!" cegat Ariyana menarik kuncir Nabila.


"Auw auw auw!" teriak Ariyana yang tangannya langsung mendapat balasan sebuah pelintiran dari Nabila.


"Auw auw! Sakit!" Terus saja Ariyana berteriak.


Nabila tidak menghiraukan itu, dia tetap saja memilintir tangan Ariyana. Karena takut temannya kenapa-napa, Sheilla dan Novia berteriak meminta bantuan.

__ADS_1


Siswa maupun siswi yang ada di sekitar, sontak berbondong-bondong masuk ke transit toilet.


"Lepas! Lepas!" teriak Sheilla.


Nabila merasa sudah cukup memberi pelajaran pada Ariyana. Pelintiran itu dia lepas, lalu dengan santainya Nabila berjalan keluar.


"Kurang ajar! Aku pastikan kamu dapat balasan setimpal!" umpat Ariyana.


Bel masuk berbunyi, semua siswa bubar dan mulai memasuki kelas masing-masing.


Pergulatan antara Ariyana dan Nabila hanya angin lalu. Setelah terjadi sudah selesai? Jelas tidak! Mereka ada di lingkungan sekolah, ada guru yang mendengar kabar itu. Perbuatan mereka langsung ditindaklanjuti.


"Nabila," panggil guru yang mengajar di kelas 10. 2.


"Ya Bu," jawab Nabila maju ke depan.


"Kamu disuruh menemui bu Irma," ucapnya.


"Sekarang Bu?" Nabila memastikan.


"Ya sekarang."


"Kalau begitu, saya pamit Bu," ujar Nabila melangkah keluar kelas menuju ke ruang BK.


Sepanjang jalan Nabila terus berpikir, pasti karena kejadian sewaktu istirahat pertama membuat dirinya dipanggil oleh guru BK.


Takutkah Nabila? Ya pasti takutlah, walaupun dirinya merasa sudah benar dengan apa yang sudah dilakukan, tapi... sebagian besar anak selalu berpikiran, siswa yang dipanggil pastilah siswa yang bermasalah. Padahal sudah jelas terpampang slogan, BK Sahabat Siswa.


Benar perkiraan Nabila, sewaktu masuk ke ruang BK di sana sudah ada Ariyana, Sheilla, dan Novia.


"Silahkan duduk," ucap bu Irma.


Nabila sekilas menatap 3 kakak seniornya.


"Ada yang ingin kamu sampaikan Nabila, mengapa Ibu panggil kamu ke sini?" lontar bu Irma.


Nabila menggelengkan kepala.


"Ada 3 senior kamu, pasti sebenarnya kamu tahu," pancing Irma.

__ADS_1


Nabila diam, melirik ke Ariyana.


Baru dua pertanyaan yang terlontar dari guru BK tapi serasa pertanyaan itu sudah menyudutkan dirinya.


__ADS_2