Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 137


__ADS_3

"Bu, jangan begini, bangunlah," pinta Zaidan menggeser posisi duduknya agar Hilda tidak tepat di kakinya.


"Ibu, bangunlah, suamiku malah tidak akan memaafkan Bu Hilda kalau caranya seperti ini," sela Delmira membantu Hilda untuk bangkit.


"Saya mohon Bu, jangan laporkan ke pihak kepolisian."


Kembali Hilda memohon, dia bangkit dari sujudnya dibantu Delmira lalu menduduki sofanya kembali. Lelehan air mata nampak membasahi dua pipinya, bahkan cairan bening juga terlihat mengalir dari hidung.


Delmira memandang iba, ya sekali lagi. Delmira paling tidak tahan melihat wanita menangis, entah mengapa dirinya yang sudah hidup lama dalam kubangan air mata selalu saja terenyuh hatinya melihat tangisan orang.


Mata Delmira menatap ke arah Zaidan, dengan pandangan memelas, seperti mengatakan agar Zaidan memaafkan dua penjahat di depannya.


Zaidan mengempaskan napas, terlihat pasrah karena seperti biasanya. Kalau istrinya sudah berkata menurut hati nurani, dia sudah tidak dapat berbuat apa-apa.


"Papyang," panggil Delmira dengan nada lirih tentunya masih menampakkan wajah memelas.


"Kalian kemas-kemaslah. Saya anggap ini setimpal dengan apa yang sudah kalian lakukan. Bahkan, seharusnya kami melakukan hal lebih untuk membuat kalian jera! Berterima kasihlah pada istriku karena dia yang meminta saya untuk memberikan hukuman yang ringan untuk kalian," ujar Zaidan, pantatnya dia angkat lalu memilih pergi dari ruangan.


Zaidan tetap tidak peduli walaupun Hilda dan Jagad memanggilnya, masih meminta nego untuk diringankan hukuman.


Karena tidak dihiraukan Zaidan, akhirnya mereka merengek pada Delmira.


"Saya mohon Bu, kami harus kerja apa kalau dikeluarkan dari rumah sakit ini? Bu, kami sudah mengabdi di rumah sakit ini selama puluhan tahun Bu. Apa tidak ada sedikit penghargaan untuk kami? Beri kami kesempatan untuk memperbaiki diri," mohon Hilda panjang lebar.


"Setidaknya tetap pekerjakan kami Bu. Kami butuh uang untuk kebutuhan sehari-hari, untuk sekolah anak, untuk biaya kontrak. Saya mohon Bu, belas kasihanilah kami," mohon pula Jagad.


"Bu Hilda, Pak Jagad, saya mohon maaf, sekali lagi mohon maaf. Keputusan suami saya sudah tidak bisa diganggu gugat. Benar apa kata suami saya, harusnya kalian diberi hukuman berat, berurusan langsung dengan hukum, bukan lagi dengan kami. Namun, suami saya sangat bijaksana, dia tahu, manusia itu tempat khilaf. Hari ini Bu Hilda dan Pak Jagad melakukan kesalahan, tapi jadikanlah kesalahan yang sudah terlanjur kalian buat sebagai pelajaran dalam hidup," sahut Delmira juga tidak kalah panjang.


"Bu... Bu...," pinta Hilda masih dengan air mata.


"Maaf Bu, maaf..., saya benar-benar minta maaf. Saya tidak punya hak untuk membantah keputusan suami. Insyaallah Allah ini jalan terbaik untuk kita. Silahkan Bu Hilda, Pak Jagad, dan juga kalian keluar dari ruangan saya untuk mengemasi barang kalian," pinta Delmira sedikit mendorong tubuh Hilda agar semuanya juga ikut keluar.


Selang beberapa menit, setelah mereka keluar. Delmira baru bisa bernapas lega. Walau sekali lagi, jiwanya yang mudah terbawa perasaan, masih terngiang-ngiang ucapan Hilda maupun Jagad, mereka punya anak yang butuh makan dan biaya sekolah.


Hiks


hiks

__ADS_1


hiks.


Tiba-tiba Delmira mewek mengingat hal itu, "Ya Allah, anak-anak mereka nanti makan apa?" gumam Delmira, tangannya gerak menyapu air mata yang sudah tumpah ruah di dua pipi.


"Tapi mereka harus menerima pelajaran agar jera, dan menjadikan kejadian ini sebagai pembelajaran agar mereka hidup lebih baik lagi. Agar mereka juga hati-hati ketika bertindak," sambung Delmira masih dengan air matanya, lalu kepalanya dia benamkan dalam tangan yang dia taruh di atas meja kerja.


Hiks


hiks


hiks.


Dalam benaman, suara tangis itu masih bisa didengar.


"Mata Momyang nanti bengkak loh kalau nangis terus," ujar Zaidan yang tiba-tiba masuk, melihat istrinya menangis dia berjalan mendekat ke arah kursi yang diduduki sang istri. Tangannya bergerak mengelus kepala yang terbungkus jilbab.


"Harusnya mereka yang menangisi perbuatan mereka bukan malah Momyang yang menangis begini," imbuh Zaidan tangannya masih terus bergerak mengelus kepala istrinya.


Hiks


hiks


hiks.


Zaidan lalu menyeka banjir yang menggenangi pipi istrinya, "Ya, iya, Popyang tahu, bagaimana perasaan Momyang. Sudah sudah. Momyang juga harus ambil hikmahnya dari semua kejadian ini. Jangan belagu gegabah menandatangani berkas penting, sesibuk apapun, harus baca hingga selesai," ujarnya.


Tangan Zaidan bergerak mengambil tisu, lalu menyerahkan tisu itu pada Delmira.


Gegas Delmira mengelap cairan bening yang juga keluar dari hidungnya, sesekali sambil dikeluarkan yang masih menyumbat di hidung.


"Papyang, tolong buang, Momyang lemas sekali untuk jalan," pinta Delmira menyerahkan tisu bekas.


Zaidan menelan salivanya, mau tidak mau, rela tidak rela, suka tidak suka. Bahkan menurut sebagian banyak orang hal yang lebih menjijikkan lagi pun pernah Zaidan lakoni, yaitu menyeboki Delmira, dulu sewaktu Delmira jatuh dan tidak dapat jalan. Kala itu Zaidan lakukan tanpa merasa jijik sedikitpun.


"Terima kasih Papyang," ujar Delmira, seusai Zaidan membuang tisu itu ke tempat sampah.


"Kita pulang saja yuk," kita tunggu kepulangan si kembar," ajak Zaidan agar istrinya merasa lebih tenang.

__ADS_1


Delmira mengangguk, "Tapi kaki Momyang masih terasa lemas," ujar Delmira.


"Mau Papyang gendong?" bisik Zaidan tepat di telinga Delmira.


"Momyang sudah tidak lemas," sahut Delmira dengan cepat. pantatnya juga langsung diangkat dari kursi yang sedari tadi ia duduki.


Zaidan tersenyum melihat lucu tingkah istrinya yang takut dirinya benar-benar akan menggendongnya.


Bukan takut, tapi tepatnya trauma, pernah dijatuhkan sewaktu dibopong. Memang bukan seratus persen kesalahan Zaidan, karena saat itu, Delmira meronta dan melawan untuk diturunkan dari bopongan. Namun, yang membuat Delmira shok, kala itu Zaidan menurunkan tubuhnya tanpa aba-aba hingga dirinya jatuh tak terbantahkan.


...****************...


Kaffah dan Kahfi terkekeh sambil menaiki anakan tangga, mereka terus saja saling ledek, dan berakhir dengan tawa.


"Dia cewek unik," ujar Kahfi.


"Gimana nggak unik, orang dia cewek jadi-jadian!" timpal Kaffah, wajahnya besingut mengingat gadis yang menjadi bahan pembicaraan mereka berdua.


"Tapi cocok juga dengan kamu," sambung Kahfi.


"Gadis ceroboh, pecicilan, tidak pernah bener apa yang dia perbuat, kamu bilang cocok!" protes Kaffah, "sebenarnya aku juga males kalau kegiatan disuruh satu tim dengan dia, bukan menang malah ancur tim kita!" seloroh Kaffah yang diiringi tawa Kahfi.


"Sudah ah malas bahas dia terus! Tidak akan habis diceritakan dalam waktu satu hari satu malam," keluh Kaffah.


Wajahnya tiba-tiba menampilkan senyum, lalu bahunya menyenggol bahu Kahfi, "Emmm, aku malah tertarik nih kalau bicara soal cewek cantik, si kakak senior itu," ledek Kaffah.


"Maksud kamu?" lontar Kahfi pura-pura tidak paham arah pembicaraan saudara kembarnya.


Mereka sudah di depan pintu kamar. Tangan Kahfi gegas membuka kamar.


"Eh, jangan main ngeloyor masuk ke kamar mandi, ceritakan dulu tentang kakak senior yang cantik itu!" teriak Kaffah karena Kahfi sudah masuk ke kamar mandi.


"Cie ..cie... anak-anak Momyang Papyang rupanya sudah mulai mengenal yang namanya c-e w-e-k," ledek Delmira yang tiba-tiba muncul di belakang Kaffah, dan sengaja mengeja kata cewek untuk mempertegas apa yang sedang mereka bicarakan.


"Mommy! Astaghfirullah haladhim, ngagetin Kaffah. Aku kira hantu!" seru Kaffah, membalikkan tubuhnya menatap ada Delmira dan dibelakang Delmira ada sesosok lelaki yang tidak bisa jauh dari wanitanya.


Delmira terkekeh.

__ADS_1


Zaidan menatap dengan senyum, 'Alhamdulillah, seketika Engkau kembalikan tawa istriku ya Allah. Jaga mereka ya Allah berikan kebahagian dunia hingga akhirat untuk mereka,' monolog batin Zaidan diiringi sebuah doa.


__ADS_2