
"Fernando," lirih Delmira.
"Non kok di sini?"
"Oh... tadi... tadi aku... aku ada janji dengan Livia, teman waktu kerja di rumah sakit ini," jawab Delmira sebagai alasan. "Dia sakit apa?" sambung Delmira dengan wajah yang cemas.
"Mungkin terlalu capek, den Zaidan jatuh pingsan."
"Tapi bagaimana keadaannya sekarang?"
"Sudah ditangani medis," jawab Fernando tapi tetap saja wajah Delmira masih kalut.
"Apa Non ingin menjenguknya?" lontar Fernando sekedar menguji kemantapan Delmira untuk pergi meninggalkan Zaidan tanpa jejak.
Delmira terdiam lalu menggeleng pelan.
'Bohong! Bohong sekali kalau aku tidak ingin menjenguk dia. Kenyataannya aku begitu khawatir dan ingin sekali memandang wajahnya, memastikan keadaannya, menjaganya dan mendampinginya hingga sehat kembali,' monolog batin Delmira.
"Aku pergi dulu," pamit Delmira kakinya kemudian memutar dan melangkah keluar rumah sakit.
'Maaf Non, terpaksa aku lakukan semua ini. Semoga ini terbaik untuk kalian,' batin Fernando yang juga ikut merasakan keluh. Matanya tetap memandang pada Delmira hingga tubuh itu hilang tidak kasat mata karena terhalang pintu masuk rumah sakit.
...****************...
"Tuan tidak ingin keluar?"
"Hmmm," dengung Verel.
"Masih lemas Tuan?"
Kali ini Verel diam tanpa menyahuti tanya asistennya karena terasa sangat sungkan membuka mulut.
"Apa perlu periksa dokter lain?"
Verel juga diam.
"Tuan?"
"Apa?!" sahut Verel dengan sungkan.
"Sebaiknya Tuan cari dokter spesialis saraf barangkali saraf Tuan ada yang terganggu," saran Raka.
"Cuma masuk angin, besok juga sembuh!" kekeh Verel yang malas saja berdebat soal sakit yang diderita.
"Sayang sekali Tuan, satu minggu ini bukan malah senang-senang di Bali, Tuan malah rebahan di kamar hotel dalam keadaan seperti ini."
Verel diam tidak bernafsu untuk menyahuti ucapan Raka, kakinya bergerak cepat turun dari ranjang menuju kamar mandi.
Oek
oek
oek.
Kembali Verel memuntahkan isi dalam perut padahal dia tidak makan apapun selain minum air mineral hingga yang keluar pun cairan.
"Dokter tidak menemukan penyakit apapun dalam diri Tuan, lalu ada apa dengan Tuan muda?" gumam Raka penuh rasa curiga.
Verel hanya diam berjalan gontai ke ranjang. Tubuhnya merasa lemas teramat.
__ADS_1
"Tunggu, setelah bermain cinta dengan Delmira Tuan tidak pernah bermain dengan siapa pun dan Tuan bilang saat itu Tuan lupa memakai pengamanan," ucap Raka penuh selidik.
"Apa jangan-jangan_" terka Raka.
"Kamu tidak usah berpikir terlalu jauh," cekat Verel tahu maksud dari perkataan Raka.
"Tuan tahu tentang sindrom couvade?"
Verel tidak menyahuti, tubuhnya malah dibenamkan dalam selimut malas saja mendengar lanturan Raka.
"Issst aku serius Tuan!" gerutu Raka merasa dicueki, "sindrom couvade ini menimpa pada seorang pria jika istrinya sedang hamil, mungkinkah Delmira saat ini sedang hamil?" papar Raka.
Verel nyatanya terhenyak mendengar ucapan Raka, matanya yang sudah dikatupkan terbuka penuh tapi ekspresi wajahnya dibuat setenang mungkin.
"Aku mau tidur, jangan berisik!" seru Verel.
Raka menurut tapi dia tidak tinggal diam. Untuk perkara seperti ini bukanlah perkara biasa. Dia harus bergerak cepat untuk mencari kebenaran apa yang yang telah dia curigai.
Tangan Raka mengambil ponsel yang ada di meja kamar hotel, menyentuh layar itu dan langsung menitahkan orang kepercayaannya untuk bergerak meneliti semuanya.
...****************...
"Cepat katakan apa yang kamu tahu!" ancam seorang lelaki bertubuh kekar di rumah milik Meilin. Tangannya mencengkram kuat leher gadis yang sedari tadi tidak memberikan informasi yang diminta lelaki bertubuh kekar itu.
"Aku tidak tahu keberadaannya sekarang dimanae cengkeraman tangannya.
Meilin menggeleng pelan. Mulutnya ingin menjawab tapi bernapas pun terasa sulit.
Lelaki kekar itu mengendorkan cengkeramannya lalu mengempaskan tubuh Meilin hingga Meilin jatuh tersungkur.
Darah segar keluar dari dahinya karena Meilin terbentur sudut meja.
"Kalian jangan gila! Aku bisa lapor polisi!" sentak Meilin memberanikan diri.
Meilin mengambil ponsel yang jatuh di bawah meja dan segera mengusap layar ponsel.
"Tuan kami juga punya banyak bukti tindakan kamu yang bertentangan dengan hukum. Misal saja, bukti transaksi menjual orang."
Deg.
Meilin langsung mengurungkan niat menghubungi polisi. Dia tahu apa maksud perkataan lelaki kekar itu.
"Besok aku datang kembali. Pastikan informasi mengenai keberadaan nona Delmira sudah kamu tahu. Kalau tidak, kamu akan mendapatkan yang lebih dari ini," ancam orang itu menunjuk luka di dahi Meilin. Kakinya lalu melangkah keluar beserta dua lelaki yang lainnya.
"Brengsek!" umpat Meilin setelah lelaki yang diperkirakn suruhan dari Verel itu keluar.
"Apa istimewanya Delmira! Sampai Verel pun masih mencarinya!" geram Meilin giginya gemeretak.
"Aku harus cari tahu, ada apa Verel masih mencari Delmira!"
Kakinya gegas keluar dari rumah.
Sementara itu, Verel yang sudah tiba di Jakarta setelah melakukan perjalanan udara, lebih memilih berbaring di ranjang tidur.
"Delmira! Kenapa kamu juga ikut ke sini?! Kamu sudah aku suruh pergi! Kenapa tetap saja datang!" kesal Verel melempar guling ke arah bayang Delmira.
"Bener-bener psikis Tuan harus diperiksa," lirih Raka. Tangannya mengambil guling yang menimpuk wajahnya.
Verel gelagap, orang yang dikira Delmira ternyata Raka sang asisten.
__ADS_1
"Akhir-akhir ini ternyata stres mikirin Delmira? Kenapa tidak jujur saja? Lagian dia sudah resmi bercerai dengan suaminya. Jadi, Tuan lebih leluasa untuk menemuinya."
"Resmi bercerai?" tanya Verel Dangan ekspresi wajah yang berubah.
Raka mengangguk.
"Kapan dia resmi cerai?"
"Dua hari yang lalu, ya sewaktu Tuan masih di Bali.
"Delmira pernah bilang padaku, dia mencintai suaminya tapi terpaksa berpisah karena merasa dirinya kotor sudah tidur denganku."
"Apa itu alasan yang tepat?" lontar Raka penuh telisik.
"Mungkin saja. Bukankah mantan suami Delmira orang taat agama? Jadi, aku rasa dia minder bersanding dengan lelaki itu."
"Tuan tidak pernah sekalipun ingin menemui Delmira? Sekedar minta maaf karena menjadi pemicu perpisahan mereka?"
"Aku juga korban, kenapa harus meminta maaf. Seharusnya Meilin, si wanita licik itu yang meminta maaf pada Delmira! Dia yang sengaja menjadikan semua kekacauan ini!" sahut Verel.
"Brengsek! Andai saja waktu itu aku tidak coba-coba untuk mencicipi wanita selain dari mami Fifi, semua ini tidak akan terjadi!" sambungnya.
"Tuan menyesali semuanya?"
"Jelaslah!"
"Termasuk pertemuan dengan Delmira?"
Verel diam seketika, mulutnya lalu membuka suara, "ya itu juga termasuk."
Raka terkekeh mendengar jawaban Verel, "Sangat terlihat kebohongan di wajah Tuan. Apa susahnya jujur kalau satu bulan ini wajah Delmira selalu mengusik hati Tuan, janganlah tolak ketika cinta datang menyapa. Nikmati masa-masa itu Tuan."
"Kamu mulai ngelantur lagi, sudah sana keluar dari kamarku! Aku mau istirahat!" ujar Verel mengibaskan tangannya, isyarat agar Raka keluar.
"Aku ke sini mau memberi laporan penting."
"Besok saja! Aku masih lelah!"
"Delmira tidak ada di Jakarta."
"Tidak di Jakarta?! Maksud kamu dia pergi? Pergi kemana? Kenapa kamu tidak melaporkan itu padaku? Hah! Kenapa harus pergi dari Jakarta?!" cecar Verel.
"Sok-sokan tidak peduli, nyatanya dengar dia pergi langsung sekhawatir ini!" sindir Raka.
Verel terdiam. Nyatanya memang dia langsung khawatir.
"Yang ada dalam pikiranku sekarang, mungkinkah dia hamil Tuan?"
"A...aku rasa tidak mungkin," elak Verel entah kenapa hatinya menolak hal itu terjadi tapi sisi hati lainnya penuh tanya kemungkinan itu juga terjadi mengingat teori yang pernah disampaikan Raka bahwa bercinta satu kali pun dapat mengakibatkan seorang wanita hamil, faktor kesuburan dan kualitas cebong dari si pria menentukan kehamilan seorang wanita.
"Benar atau tidaknya, Tuan harus memastikan semuanya. Jangan sampai penyesalan itu datang terlambat," saran Raka.
Verel terdiam.
"Ingat Tuan, kalau dirunut kejadiannya. Dimulai dari Delmira yang menginginkan cerai walaupun dia mencintai sang suami, seharusnya dia ambil jalan lain selain cerai. Kedua, dilihat dari kaca mata medis, Tuan sedang mengalami sindrom couvade, bukan mitos tapi kemungkinan besar Delmira benar-benar hamil."
"Sekarang terserah Tuan, apa yang menjadi keputusan Tuan akan aku bantu jalankan."
Verel kembali diam, otaknya mencerna apa yang disampaikan sang asisten.
__ADS_1
"Cepat cari Delmira!" titah Verel bangkit dari ranjang.
siang menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏