Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 21


__ADS_3

Zaidan terlihat bingung dengan ucapan Delmira dan langkah Delmira yang kembali masuk ke ruang kerjanya. Namun, senyum langsung tergambar di wajah Zaidan mengartikan tindakan Delmira.


Zaidan mengekor langkah Delmira, niatnya akan mengambil berkas yang ada di meja, tapi setelah sampai di meja berkas itu tidak ada.


'Mungkin sudah diambil Fernando,' batin Zaidan.


"Aku rapat dulu," pamit Zaidan lalu melangkahkan kaki.


"Hmmmm," dengung Delmira sebagi respon tanpa menoleh ke arah Zaidan, matanya fokus pada ponsel yang ada di tangan.


Zaidan menghentikan langkahnya menoleh ke belakang, "Kalau kamu ingin istirakhat, bisa tidur di kamar," ucap Zaidan menunjuk ke arah ruang belakang buku yang tertata rapi di rak.


"Hmmm," sahut Delmira.


Suara gecitan pintu yang tertutup membuat Delmira menolehkan pandangannya.


"Dasar lelaki manapun sama! Dikasih yang bening langsung tuh jadi linglung! Jalan berhenti, jalan berhenti!" geram Delmira.


Mata Delmira membulat mengingat tawaran Zaidan untuk beristirahat di kamar, "Ada kamar tidur di ruang ini? Jangan-jangan Zaidan sering bawa wanita ke dalam?!" gumam Delmira kakinya sontak beranjak dari tempat duduk dan menuju ruangan yang dimaksud Zaidan.


"Ingat! Seperti yang ada di drama-drama televisi! Lelaki menyembunyikan wanitanya di belakang sang istri, lelaki sering membawa wanita ke ranjang di ruang kerjanya! Hah!" rutuk Delmira menyusur setiap sudut ruangan.


Tangan, mata, kaki dia gerakkan dengan jeli, setiap inci ruangan tidak luput dari pengamatan.


Delmira membuka nakas di samping tidur, mengorek isi nakas, namun tidak menemukan hal yang menurutnya mencurigakan.


"Pasti di laci!" seru Delmira membuka hingga laci itu terbuka penuh. Namun, isi laci itu hanya berisi barang yang tidak penting.


"Tidak ada pengaman! Awas saja kalau karet pengaman ada di kamar ini!"


"Kolong ranjang! Ya pasti kolong ranjang!"


Delmira gegas menundukkan kepala melihat isi kolong tapi tetap saja melompong tidak ada apapun. Bahkan untuk lebih meyakinkan tidak ada apapun di sana, Delmira merangsek masuk bawah kolong.


"Tetap saja tidak kutemukan!" dumel Delmira. Tubuhnya dia geser untuk ke luar dari kolong. Delmira merasakan tangannya menyenggol sesuatu, sebuah kotak kecil. Gegas Delmira ambil kotak itu keluar dari kolong.


Tanpa membersihkan debu yang menempel di pakaian yang dia kenakan, Delmira membuka kotak kecil yang dipastikan kotak perhiasan.


"Cincin nikah," lirih Delmira melihat seksama cincin bertuliskan nama, Khanza.


Delmira terduduk lemas. Otaknya yang lemot kalau memikirkan nama dan rupa seseorang masih memutar keras untuk membuka memori.


"Oh, Mbok Muna pernah menyebut Khanza, calon istri Zaidan," lirih Delmira tapi jantungnya bergemuruh. Beberapa kali Delmira mengempaskan napas agar perasaannya lebih tenang, namun, tetap saja gemuruh jantungnya semakin kencang.


"Apa maksudnya dia masih menyimpan cincin ini?! Di kolong ranjang lagi!" geram Delmira.


Ceklek.

__ADS_1


Pintu terbuka, Delmira yang sedari tadi menunggu kedatangan Zaidan langsung menghentikan jalan mondar-mandirnya.


"Aku kira kamu tidur," ujar Zaidan mendekat ke arah Delmira.


Delmira menyerahkan cincin yang dipegangnya.


"Jelaskan!" titah Delmira.


"Kamu dapatkan ini dimana?"


"Kamu tidak perlu tahu aku dapat dari mana! Yang aku minta jelaskan kenapa kamu masih menyimpannya!" Suara Delmira lantang.


"Aku, aku tidak menyimpannya hanya saja_"


"Kamu bilang tidak menyimpannya?! Lalu kenapa masih ada di kamar ini hah!" desak Delmira suaranya masih meninggi, jelas sekali guratan kemarahan tergambar di wajahnya.


"Dengarkan aku_"


"Aku paling benci pengkhianatan!" cekat Delmira dengan menekankan kata pengkhianatan.


"Apa kamu cemburu kalau aku punya kekasih?" lontar Zaidan melihat Delmira seperti terbakar api cemburu.


Delmira mendengus kesal, "Sama sekali tidak! Asal kamu tahu! Aku menikah denganmu karena balas dendam! Aku akan buat kamu jatuh cinta padaku lalu aku akan campakkan kamu, agar kamu tahu, agar keluarga Fatah tahu! Seberapa perih rasa sakit ditinggalkan orang yang dia cintai!" ucap Delmira dengan bibir yang bergetar, mata tajam.


"Terlebih dahulu aku akan buat kamu jatuh cinta padaku," sahut Zaidan.


Zaidan mengempaskan napas dengan kasar. "Kenapa aku malah membuat suasana semakin memanas?!" monolog Zaidan.


"Malah menanyakan apa dia cemburu kalau aku punya kekasih, kalimat itu bisa diartikan kalau aku benar-benar punya kekasih. Bodoh kamu Zaid!" umpat Zaidan pada diri sendiri, kakinya dengan cepat melangkah keluar akan mengejar Delmira. Namun jejaknya sudah tidak terlihat.


"Fernando, cepat ke parkir mobil!" titah Zaidan melalui sambungan telepon.


Fernando muncul dengan cemas karena dari titah nada bicara bos mudanya itu perintah yang tidak biasa.


"Ada apa Den?"


"Kunci mobil," pinta Zaidan tanpa menjawab tanya Fernando.


Fernando semakin curiga dengan gelagat Zaidan, ada hal yang tidak beres tentunya.


"Biar aku yang nyetir, bahaya kalau nyetir dalam emosi masih labil," sahut Fernando langsung masuk ke kursi kemudi. Zaidan tanpa penolakan akhirnya duduk di samping kemudi.


"Ikuti mobil istriku," titahnya.


"Ke arah?"


"Ambil jalur ke rumah sakit Medika Internasional," jawab Zaidan.

__ADS_1


Gegas Zaidan turun dan mencari ruang kerja Delmira setelah sampai rumah sakit. Namun, wanita itu tidak kembali ke kantor.


"Ada masalah dengan non Delmira?" tanya Fernando.


"Sedikit masalah."


"Sedikit kok sampai dia pergi tanpa pamit," protes Fernando.


"Kita ke rumah saja, barangkali non Delmira langsung pulang," saran Fernando.


Zaidan menurut.


Lima belas menit mereka sampai di rumah, tapi disana pun keberadaan Delmira tidak ditemukan.


"Mungkin non Delmira ingin menyendiri dulu. Den Zaidan istirahat saja. Aku dan orang-orang kepercayaan Aden akan mencari non Delmira."


"Secepatnya kasih kasih baik," sahut Zaidan dan Fernando keluar dari kamar bos mudanya.


...****************...


Zaidan masih mondar-mandir gelisah di kamar, sudah beberapa kali panggilan ke nomor Delmira namun panggilan itu tidak terhubung, bahkan sekarang nomor itu sudah di luar jangkauan.


'Semoga Allah jaga kamu Del,' lontar batin Zaidan dengan perasaan yang cemas matanya melihat jam yang terpampang di ponsel sudah menunjukkan pukul 11 malam.


"Bagaiman Fer, sudah ada kabar? Apa kamu sudah menghubungi sahabatnya?!" cecar Zaidan ketika panggilan masuk dari Fernando tersambung.


"Yasmin tidak bisa menghubungi Delmira," jawab Fernando.


"Kerahkan lebih banyak lagi orang kepercayaan kita untuk mencarinya," titah Zaidan kemudian memutus sambungnya.


Zaidan terpaku, ketika melihat pintu terbuka dan sosok orang yang dia cemaskan berjalan tanpa suara.


Mata Delmira sekilas menatap pada lelaki yang berdiri di dekat jendela kamar dengan cepat dia buang pandang, tangannya menggeser pintu lemari lalu menaruh tas yang dia jinjing ke tempat kosong. Kemudian kakinya melangkah ke toilet dalam kamar.


Masih dengan diam, tapi posisi yang sudah berpindah di atas ranjang, Zaidan menatap Delmira yang sudah keluar dari toilet kamar. Ditatap lekat wajah wanita yang dia cemaskan berjam-jam lalu.


Ingin segera dia jelaskan fakta tentang cincin nikah itu, tapi Zaidan merasa akan percuma dalam keadaan seperti sekarang. Jadi, diam menjadi pilihan Zaidan. Lagi pula hari sudah hampir tengah malam.


Mata Zaidan kini berpindah pandang pada manik mata Delmira yang terlihat sembam.


'Berapa banyak air mata yang kamu tumpahkan Mrs. Delmira?' tanya batin Zaidan.


Delmira masih diam, kakinya kini dia naikkan ke atas ranjang, karena memang dirinya terlalu lelah. Lelah karena tangisan. Bukan atas nama cemburu. Ya Delmira yakin itu bukan cemburu tapi yang paling dominan menerpa perasaannya adalah teringat akan pengkhianatan sang suami. Kesetiaan yang dia bangun selama bertahun-tahun, dikhianati begitu saja oleh sang mantan suami. Lalu, apakah pernikahan yang hanya berlandaskan balas dendam akan berakhir sama? Tubuh Delmira kini dia rebahkan dengan posisi memunggungi Zaidan.


Zaidan tetap diam menatap wanitanya, hatinya benar-benar terkoyak melihat kesedihan yang terpancar di wajah Delmira. Namun, dia tidak bisa menjangkau wanita yang raganya tepat berada di depan mata.


'Boleh aku memelukmu Mrs. Delmira,' pinta Zaidan yang tentunya hanya mampu terlontar dalam batin.

__ADS_1


Siang menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏 lope lope buat kalian 😍😘


__ADS_2