Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 55


__ADS_3

"Cantik," ucap Verel, tangannya bergerak mengelus pipi Delmira lalu membenarkan selimut yang dipakai Delmira.


Kakinya berjalan ke sofa kamar. Kembali, asap rokok membumbung di kamar setelah satu rokok dibakar. Pantatnya yang sudah duduk di sofa, mengambil posisi nyaman dengan menyandarkan bahunya. Matanya, tanpa terlewatkan sedikitpun memindai wajah Delmira.


Hingga 2 jam lamanya Verel tetap di posisi yang sama.


Delmira terlihat menggeliatkan tubuhnya, pelan matanya terbuka. Namun, saat menyadari dirinya tidak berada di kamar miliknya, Delmira terperanjat bangun. Seketika kepalanya tengok kanan, kiri, depan, dan matanya berhenti tatap pada laki-laki yang sedang duduk di sofa dengan senyum seringai.


Napas Delmira seketika seakan tersekat. Ya, dia menyadari sekarang berada di kandang macan. Bisa-bisanya tertidur dengan lelapnya.


Masih dengan senyum seringai, Verel melangkah ke arah ranjang mendekat Delmira.


"Sudah bangun manis? Kamu tidur begitu nyenyak," retoris Verel, "sedari tadi aku menunggu kamu bangun," sambung Verel mendekat ke telinga Delmira.


"Kamu jangan macam-macam!" sahut Delmira dengan suara parau. Ada rasa takut tapi dirinya harus benar-benar memberanikan diri untuk melawan semuanya.


Verel terkekeh dan menepuk dua telapak tangan.


"Kamu tahu, lama-lama aku bosan dengan gaya kamu yang sok jual mahal ini!" Suara Verel meninggi, tangannya mencengkeram rahang Delmira.


"Lepas!" sanggah Delmira menampik tangan Verel, tapi, lagi-lagi tenaganya tidak sebanding dengan Verel.


Verel terkekeh, langsung mendorong tubuh Delmira hingga terkapar di kasur. Matanya kini terlihat nyala sebuah kemarahan besar. Dia tidak peduli atas penolakan dan teriakan Delmira. Tubuhnya sudah mengekang tubuh Delmira.


Kemudian, dengan paksa merasakan kembali ranum bi*bir Delmira. Delmira semakin terisak, masih dengan sisa tenaga melawan Verel.


"Aku mohon," lirih Delmira ketika Verel menjeda aktifitas menyapu paksa pada bib*birnya.


Deg.


Verel berhenti seketika kemudian bangkit dari tubuh Delmira.


Mendengus kesal dan merapikan kemeja yang dia pakai. Entah kenapa, lagi-lagi melihat Delmira dengan wajah sendu dan suara yang menyayat hati Verel tidak tega melanjutkan kembali aktifitasnya.


"Kamu kembalikan uang yang sudah kamu terima! Ingat! Jangan pernah muncul kembali di hadapanku!" ancam Verel karena terlalu kecewa, sampai uang yang digelontorkan hingga ratusan juta untuk mengencani Delmira dia minta padahal dirinya tidak pernah perhitungan soal uang kalau sudah urusan dengan memanjakan diri.


Delmira membelalakkan mata. Tidak menyangka, Meilin berbuat kejam lebih dari kejam. Dia kira hanya dimanfaatkan oleh sahabatnya itu, ternyata dirinya juga dijual pada Verel.


"Kamu bilang uang?" tanya Delmira dengan suara bergetar.


Verel menatap seksama ekspresi wajah Delmira, sedikit anggukan dia tunjukkan.


Delmira mendengus, "Bagaimana bisa kamu yang terbiasa membeli wanita sampai tertipu Meilin?" cibir Delmira.


"Aku bersumpah atas nama Tuhan! Aku tidak pernah menjual diri. Kita sama-sama ditipu wanita licik itu!"


"Aku memang tidak punya bukti untuk menyangkal apa yang kamu tuduhkan. Hanya, ada kejujuran yang dapat aku utarakan," sambung Delmira.


"Meilin sahabatku tapi itu dulu, sebelum dia melakukan hal kejam padaku. Dia berselingkuh dengan suamiku hingga hamil. Perselingkuhan itu aku ketahui satu hari menjelang kematian suamiku, tapi saat itu aku belum tahu siapa selingkuhan suamiku," Delmira menjeda ucapan, mengambil napas lalu membuangnya. Matanya menatap Verel yang masih diam tanpa reaksi.

__ADS_1


"Suamiku meninggal karena kecelakaan. Akhirnya bertambah dendam Meilin padaku, dia mendorongku untuk menerima lamaran dari anak penabrak mobil suamiku. Singkat cerita, kami menikah. Aku juga punya misi yang sama dengan Meilin, menikah karena balas dendam. Namun, aku malah jatuh cinta pada lelaki itu," suara Delmira terdengar parau karena ingatannya langsung tertuju pada Zaidan. Tangannya bergerak cepat menyeka bendungan cairan yang tertampung di pelupuk mata.


"Sampai akhirnya, Meilin menjalankan rencana cadangan. Dia sengaja membuat aku kotor karena tidur dengan lelaki lain," sambung Delmira.


"Aku... aku kira kamu bagian dari rencana Meilin, apa ternyata kamu juga ditipu oleh dia?" lontar Delmira memastikan argumennya benar.


"Lalu kenapa kamu tetap mengajukan cerai dengan suami kamu yang sekarang?" tanya Verel tanpa menyahuti tanya Delmira, baginya lebih menarik mempertanyakan hal itu.


"Dia pantas mendapatkan wanita baik," jawab Delmira.


Tangannya bergerak mengancing baju yang dia kenakan lalu kakinya beringsut turun dari ranjang.


"Terserah kamu percaya aku atau tidak!" sambung Delmira dan gegas keluar dari kamar.


Verel diam mematung mencerna semua ucapan Delmira. Dia bisa merasakan dari ucapan dan mimik wajah Delmira, tidak ada sedikitpun kebohongan yang terpancar.


...****************...


Meilin sontak kaget tatkala pulang rumah dan masuk kamar ada Verel di dalam.


"Kenapa kamu kaget seperti itu?" lontar Verel.


Meilin sedikit terbatuk karena bau rokok yang sangat menyengat di kamar.


"Ma... mau apa kamu?" lontar Meilin gagu.


"Jangan tegang seperti itu wajah kamu. Aku ke sini mau memberikan kejutan istimewa," pancing Verel kakinya mendekat ke arah Meilin.


"Kalau wanita yang ditawarkan kamu sangat memuaskan, apalagi_" Verel sengaja memutus ucapannya tapi matanya mengisyaratkan nyala hasrat pada Meilin.


"Syukurlah kalau kamu puas, na... nanti aku bisa minta dia untuk memua*skan kamu lagi," sahut Meilin dengan terbata.


"Kalau aku mau kamu?" Jempol Verel meraba bibir Meilin dan dengan gerakan cepat menyambar bibir itu.


Napas Meilin terlihat tidak normal, beberapa kali dia menarik napas setelah pagut*an paksa ditunjukkan Verel.


Kaki Meilin mundur teratur tapi Verel semakin mendekat ke arah Meilin.


"Kamu mabuk?" lontar Meilin setelah terpentok dinding, wajahnya terlihat ketakutan.


"Kamu bisa merasakan sendiri, ada tidak aroma alkohol di mulutku?" Dua alis Verel terangkat.


"Delmira sungguh membuatku mabuk kepayang, sampai aku ketagihan. Itu sewaktu baru mencicipi dia. Namun kedua kalinya aku bertambah puas."


"Oh... ba... bagus itu, aku pastikan dia mau lagi dengan kamu," jawab Meilin masih dengan wajah ketakutan.


Meilin hanya bernyali teri, ketika dihadapkan pada Verel dia langsung takut karena merasa dirinya bersalah. Dia juga tahu bagaimana kekuasaan seorang Verel. Keputusan menjual Delmira pada Verel dari segi keuangan memang sangat menguntungkan tapi di sisi lain, resiko besar menghantuinya. Bahkan sekarang benar mengancam keselamatannya.


"Kamu santai saja," ujar Verel diiringi tawa, "Boleh aku tanya sesuatu?" sambung Verel penuh penekanan dan tatapan tajam.

__ADS_1


Meilin mengangguk cepat.


"Dimana uang yang aku transfer untuk Delmira?"


"A... aku_"


"Dimana!" suar Verel meninggi dan tangannya memukul keras dinding kamar.


Meilin semakin ketakutan di bawah kungkungan tubuh Verel.


"Aku pakai untuk sekolah adikku," jawab Meilin jujur.


Verel mendengus dan terkekeh.


"Kamu permainkan aku? Hah! Kamu tipu aku?!"


Meilin menggeleng cepat.


"A... aku bisa carikan pengganti yang tentunya lebih dari Delmira," sahut Meilin.


"Siapa? Apakah itu kamu?"


Meilin menggeleng cepat.


Verel kembali terkekeh, "kalau aku maunya kamu?" Tanpa mendengar jawaban Meilin Verel membuka paksa kemeja yang dikenakan Meilin lalu menyambar bib*Ir Meilin kembali.


"Wow... pasti kamu lebih dari Delmira," ucap Verel langsung mendorong tubuh Meilin ke ranjang. Bibi*rnya menjelajah setiap inci wajah Meilin. Keterpaksaan yang ditunjukkan Meilin berubah menjadi kemauan yang seketika terpancing aksi-aksi yang dilancarkan Verel.


Tidak dipungkiri, bagi wanita seperti Meilin yang pernah merasakan surga duniawi, sungguh perlakuan Verel walaupun ada paksaan tapi ditengah perlakuan Verel justru Meilin merasakan hal lain. Bela*ian yang sejauh ini belum pernah dia rasakan setelah sekian lama ditinggalkan Raffat kini dia dapatkan dari Verel.


Tiba-tiba Verel berhenti ketika Meilin membalas paguta*nnya.


Verel tersenyum menang, melihat wajah Meilin berharap lebih. Tubuhnya bangkit, tangannya bergerak merapikan kemejanya.


"Cuih!" dengan sengaja Verel meludah di lantai dan mengusap bibirnya.


"Lanjutkan permainannya!" titah Verel pada dua lelaki kekar agar masuk ke kamar Meilin.


"Kalian mau apa?!" teriak Meilin ketika didekati dua lelaki asing.


Verel berdiri di luar pintu kamar. Dua sudut bibirnya dia tarik membentuk sebuah senyum tatkala umpatan, tangis, dan jerit melengking dari dalam kamar.


"Balasan karena kamu berani menipu aku!" gumam Verel, kakinya kemudian beranjak pergi dari rumah milik Meilin.


"Brengsek kamu Rel!" jerit Meilin menangis tersedu di dalam kamar mandi. Dua lelaki suruhan Verel pergi setelah menikmati surgawi miliknya.


"Aku kotor!" jerit kembali Meilin, menggosokkan sabun ke kulitnya.


"Aku benar-benar kotor!" rintih Meilin menahan sakit fisik dan batinnya.

__ADS_1


malam menyapa🤗jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏. Pembalasan mulai Meilin rasakan.


__ADS_2