
"Innalilahi wa innailaihi rojiun, maaf Bu, kami sudah berusaha sebisa kami tapi Allah lebih sayang pada bapak Fatah," ucap salah satu dokter menghampiri Aisyah yang menahan tangis mengecup kening dan tangan suaminya bertubi-tubi.
Zaidan mengelus punggung umminya, agar wanita yang selama ini merawatnya tenang dan sabar.
Aisyah menghela napas panjang, memundurkan tubuhnya ketika para perawat melepas alat medis dan menata Fatah. Tangannya bergerak menyeka air mata yang masih menggenang di pelupuk mata.
Delmira hanya terdiam. Menyaksikan semua, abah Fatah yang telah meninggal meninggal dunia dan dua manusia yang telah ditinggalkan. Ada rasa nyeri menyaksikan semua, bukan karena kesedihan karena mertuanya telah tiada. Namun, Delmira teringat akan kedua orangtuanya dan juga anaknya yang telah tiada.
Kaki Delmira melangkah mundur, berjalan pelan keluar ruangan. Zaidan menatap punggung wanitanya yang sudah hilang terhalang pintu. Ada rasa ingin mengejar Delmira, tapi saat ini, dia juga harus menemani ummi Aisyah.
Sebelum Delmira keluar dari ruangan, Zaidan sempat melihat raut muka Delmira penuh dengan kesedihan. Zaidan dapat menebak, pasti Delmira teringat akan mendiang kedua orang tuanya, suami, dan anaknya.
Berita duka meninggalnya Fatah tersebar di medsos. Banyak keluarga, kolega maupun kerabat datang ke rumah duka.
Waktu sudah masuk sore, matahari semakin condong ke arah Barat.
"Teman-teman kamu ada di bawah," ucap Zaidan setelah masuk kamar berdiri di depan Delmira yang sedang memandang keluar jendela.
Delmira hanya mengangguk. Sepulang dari rumah sakit, Dia lebih memilih berdiam diri di dalam kamar. Bahkan, makan siang juga terlewatkan. Zaidan beberapa kali memintanya untuk turun dan makan siang tapi dia diam tanpa jawaban. Zaidan juga tidak dapat membujuk karena dirinya juga disibukkan dengan tamu takziah.
Delmira mengempaskan napasnya, kemudian berjalan keluar kamar, Zaidan mengekor langkah Delmira untuk menemui teman-temannya.
"Turut berduka cita Beb," ucap Marsya mencium pipi kanan kiri Delmira.
"Terima kasih," balas Delmira.
"Yang tabah Del," ujar Silvia.
Delmira mengangguk.
"Ikut bela sungkawa Del," ucap Yasmin.
"Thanks Yas," jawab Delmira.
Meilin tidak bisa ikut bersama kita, dia sedikit terlambat karena ada hal mendesak.
Delmira sekali lagi mengangguk.
Ketiga teman Delmira juga ikut mengucap bela sungkawa pada Zaidan yang berdiri menemani Delmira.
"Aku tinggal dulu, mau menemui tamu yang lain," bisik Zaidan di telinga Delmira.
"Maaf, aku tinggal dulu, mau menemui tamu yang lain," ucap Zaidan pada teman-teman Delmira.
"Ya, silahkan."
"Dia semakin ganteng Del," greget Silvia menggerakkan bahu Delmira.
__ADS_1
"Ambil kalau kamu mau," sahut Delmira.
Silvia menahan tawa, "Aku mau banget kalau kamu beneran tidak mau," goda Silvia.
"Silahkan ambil," sahut Delmira.
"Del, kita sapa ibu mertua kamu dulu," pinta Marsya.
"Hmmm," dengung Delmira melangkah ke arah mertuanya yang sedang duduk lesehan di salah satu sudut ruang.
"Ummi," panggil Delmira.
"Eh, ya Nak," jawab Delmira.
Delmira memberi jalan pada teman-temannya untuk mengucap bela sungkawa pada ummi Aisyah.
"Duduk di sini saja Nak," pinta Aisyah menepuk tempat tepat di sampingnya.
Delmira menurut sedangkan teman-temannya memilih tempat lain karena di situ sudah penuh.
"Ummi," panggil seseorang setelah mencium punggung tangan Aisyah kemudian memeluk tubuh Aisyah.
"Khanza turut berduka cita Ummi," ucap gadis itu dan sontak membuat mata Delmira menoleh ke arah wanita cantik berjilbab hitam mendengar wanita itu menyebut dirinya dengan nama Khanza.
"Terima kasih Nak sudah berkenan datang. Maafkan segala salah almarhum abah Fatah ya," ucap Aisyah.
Khanza menoleh samping ummi Aisyah melihat wanita yang tidak asing bagi Khanza.
"Loh Mbak Del?"
Mata Delmira penuh telisik pada wanita yang bernama Khanza, bagaimana bisa dia mengenal dirinya.
Delmira menunjuk jari telunjuk ke arah diri, "Aku?" ucap Delmira merasa sapaannya tertuju pada dirinya.
Khanza mengangguk.
"Mbak lupa, aku yang beli mobilnya Mbak loh, Khanza," terangnya.
Delmira membuka mulut merasa tidak percaya, "mengapa dunia begitu sempit?' rutuk batinnya kemudian.
"Maaf, aku tidak mudah mengingat wajah seseorang," balas Delmira.
"Dia istrinya Zaidan," sela Aisyah.
Senyum yang tadi mengembang dari dua sudut bibir Khanza tertarik pelan begitu mendengar ucapan Aisyah.
"Oh, Mbak Del. Maaf, dulu sewaktu Mas Zaidan menikah aku tidak dapat hadir karena ada urusan penting. Jadi aku sampai tidak tahu kalau mbak Del itu suami mas Zaidan," ucap Khanza sebagi alasan.
__ADS_1
'Ya, jelas tidak datang. Bagaimana bisa kamu datang di pernikahan calon suami kamu,' batin Delmira menyindir Khanza.
"Aku duduk di sebelah sana ya Ummi," izin Khanza menunjuk tempat kosong.
"Ya, silahkan," jawab Aisyah.
"Permisi Mbak Del," ujar Khanza melangkah sambil membungkukkan punggungnya untuk mencapai tempat yang dia maksud.
'Kenapa sih Del, cuma mengingat wajah satu atau dua orang saja kok susahnya minta ampun!' umpat batinnya.
Mata Delmira kini tertuju pada Zaidan yang lewat di depan Khanza duduk, mereka saling bertegur sapa dan keduanya mengatupkan kedua tangan, sejajar dengan dada sebagai ganti jabat tangan.
'Enak sekali yang sedang sapa dengan sang mantan!' gerutu batin Delmira.
Tidak lama setelah itu, acara tahlil di mulai dan serangkaian acara demi acara telah dilewati hingga terakhir di pemakaman.
Delmira berjalan di samping ummi Aisyah selesai dari tempat pemakaman menuju mobil yang terparkir di luar area pemakaman.
Zaidan tiba-tiba datang berjalan menggandeng tangan Aisyah.
"Ummi kuat?" tanya Zaidan dengan lembut.
"Insyaallah kuat Nak," sahut Aisyah mengelus tangan Zaidan yang melingkar di lengannya.
"Ummi jalan sendiri, kamu jalan dengan Delmira hingga tempat parkir," ujar Aisyah pindah posisi hingga keduanya berdampingan dan dengan sengaja Aisyah meletakkan tangan Zaidan di bahu Delmira.
"Nanti sepulang dari makam, dan turun hendak masuk rumah, juga harus seperti ini," bisik Aisyah di antara mereka.
Perjalanan yang di tempuh selama 25 menit terasa begitu lama. Senja di ujung Barat terlihat merona pancarkan sinarnya. Fernando sengaja melambatkan laju mobil karena akan masuk ke pelataran rumah.
"Ingat kata Ummi yang tadi," ujar Aisyah, Zaidan segera meraih bahu Delmira dan dengan santainya dia berjalan.
"Aku ikut bela sungkawa, maaf baru bisa datang Del," ucap seorang wanita menghampiri Delmira dan Zaidan yang sudah masuk ruang tengah, dimana tamu masih banyak di situ.
"Oh, terima kasih Mei kamu sudah menyempatkan datang," sahut Delmira langsung melepas tangan Zaidan yang merangkul bahunya.
Meilin menatap dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu beralih tatap pada Delmira.
"Aku turut berduka cita tuan Zaidan," ujar Meilin dan tidak terasa tutur katanya menekan pada saat menyebut nama Zaidan.
Zaidan tersenyum membalas, "Terima kasih," ucapnya.
"Maaf aku tinggal dulu, mau menemui tamu yang lain," pamit Zaidan.
Meilin membalas dengan anggukan dan sebuah senyum. Melihat Zaidan pergi, tangan Meilin merangkul tubuh Delmira, "Kematian pak tua bukan akhir segalanya! Justru sasaran selanjutnya dan puncak dari balas dendam kamu ada pada Zaidan!" tekan Meilin.
malam menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏
__ADS_1
aduh Meilin siapa sih kamu itu, bener musuh dalam selimut atau apa?