Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 146


__ADS_3

"Kahfi, sudah biarkan saja, yang penting aku tidak kenapa-napa," pinta Icha melihat Kahfi naik pitam, tangannya menarik tubuh Kahfi agar menjauh dari mobil tersebut.


Pip


pip


pip.


Sementara suara klakson saling bersautan karena mobil itu tidak kunjung jalan.


Aksi yang heroik juga ditunjukkan Kaffah, dia yang tahu kejadian itu ikut turun tangan dengan mengumumkan lewat pengeras suara kalau temannya dilecehkan oleh pengendara mobil berwarna merah.


Sebagian pengendara lain, turun. Memaksa agar pelaku turun dari mobil dan meminta maaf pada yang bersangkutan.


Mobil itu berhasil dikepung dan si pelaku terpaksa turun.


"Minta maaf!" titah Kahfi.


"Ya, ya, aku minta Dek," ujarnya dengan sungkan.


"Itu bukan minta maaf, tapi keterpaksaan! Ucapkan dengan ikhlas," ancam Kaffah yang juga ikut menghakimi lelaki tersebut. Tangan Kaffah mengunci dua tangan si pelaku dan mengeratkan kuncirnya.


"Auw! Auw!" jerit lelaki itu merasa tangannya sakit.


"Tolong lepaskan," pintanya.


"Aku akan lepaskan setelah kamu berkata dengan sopan!" tekan Kaffah.


"Baik baik," jawabnya dan Kaffah mulai meregangkan kuncinya.


"Aku... aku minta maaf Dek," ucapnya terbata merasa ancaman dari Kaffah tidak main-main.


"Lebih jelas! Minta maaf karena apa!" tekan Kaffah lalu kuncinya dia lepas.


"Aku... aku minta maaf karena sudah bersikap kurang ajar" ucapnya.


"Berjanji untuk tidak mengulanginya!" sambung Kahfi.


"Ya, ya. Maaf aku sudah bersikap kurang ajar pada adek ini. Aku berjanji tidak akan mengulang perbuatan tersebut," ulangnya, tangan ditangkupkan sejajar dada.


Icha mengangguk, "Ingat Mas, tidak semua wanita suka diperlakukan seperti itu! Ingat pula karma itu berlaku, mungkin hari ini kami yang membalas perlakuan Mas. Bagaimana orang yang tidak membalas perbuatan Mas, tapi Tuhan yang langsung membalasnya? Bukankah itu lebih menakutkan?" ujar Icha panjang lebar.


"Ya sudah aku maafkan. Cepat pergi!" sambung Icha tapi kakinya memilih pergi terlebih dahulu dari hadapan orang itu.


"Terima kasih Dek," serunya.


"Huh huh huh!" sorak sebagian pengendara yang tadi sempat menyaksikan terlebih dahulu kejadian itu.


Mobil lelaki itu kemudian melaju pergi.


Satu persatu mereka membubarkan diri.


"Kita hentikan sementara kegiatan ini!" titah Kahfi.

__ADS_1


"Semuanya berkemas, nanti kalau situasi sudah kondusif dilanjutkan sesi ke-4," sambungnya.


Waktu semakin sore, semua kegiatan sudah dilaksanakan. Dana yang berhasil terkumpul dari iuran seluruh siswa, guru, dan TU SMA Merdeka Berbudi ditambah penggalangan dana yang dilakukan di jalan raya juga penarikan secar ikhlas pada wali murid. Terkumpul lah sejumlah uang yang lumayan banyak, Tujuh puluh juta.


Terlihat peluh membasahi semua siswi yang ikut kegiatan tersebut. Kerja keras mereka sungguh luar biasa. Rasa kepedulian mereka patut diacungi jempol.


Uang langsung diserahkan pada guru pembimbing, kemudian langsung dibelanjakan untuk membeli mi instan dan berbagai keperluan mandi maupun bayi.


Pengepakan dilanjut esok hari sekaligus pengiriman langsung ke titik lokasi bencana.


...****************...


"Gempa susulan masih bisa terjadi, juga titik lokasi sulit dijangkau. Kalian perlu hati-hati," pesan Delmira saat mempersiapkan keperluan dua anaknya yang akan mengikuti kegiatan pemberian sumbangan tersebut secara langsung ke daerah bencana.


"Pokoknya, kalau kegiatan itu sudah selesai, kalian segera pulang," sambung Zaidan.


Bagi Delmira maupun Zaidan, memberikan izin dua anaknya untuk mengikuti kegiatan sosial menjadi hal yang biasa. Bukan mereka tidak mengkhawatirkan keselamatan si kembar. Namun, mereka sedari dini sudah menanamkan rasa peduli terhadap sesama manusia dan mahluk hidup yang lainnya. Contoh kecil, mereka selalu mengajak si kembar ketika bertandang ke panti asuhan.


"Apa aku bisa mendaftarkan diri sebagai relawan rumah sakit Mom?" lontar Kahfi, dia yang paling antusias kalau berbicara soal relawan kesehatan, makanya cita-cita jika besar nanti, menjadi seorang dokter.


Delmira mengempaskan napasnya, menundukkan pandangan.


"Rumah sakit memberikan bantuan ke korban gempa kan Mom?" lontar Kaffah.


"Tidak, untuk sementara rumah sakit belum bisa memberikan bantuan," sahut Zaidan.


"Ada masalah di rumah sakit Pap?"


Zaidan mengangguk, "Rumah sakit masih krisis keuangan. Dana sosial yang seharusnya digelontorkan untuk kegiatan sosial, terpaksa dipakai untuk menunjang urusan yang lain."


"Kalian tidak ingin berbagi dengan kami?" cecar Kaffah.


Zaidan melempar senyum kecil, "Bukan kami tidak ingin berbagi masalah dengan kalian, hanya saja. Kalian terlihat masih sibuk untuk penyesuaian diri di sekolah. Belum lagi, kegiatan kalian yang terlihat tidak ada habisnya." Zaidan menjeda kalimatnya.


"Urusan pekerjaan itu urusan Momyang Papyang. Nanti kalau sudah waktunya, kalian malah Momyang dan Papyang tuntut untuk membantu," imbuh Zaidan diiringi sebuah senyum lebar.


"Tidak ada pengiriman tim medis Mom?" lontar Kahfi.


"Insyaallah kalau untuk tim medis Momyang kirim. Tapi soal pendanaan itu bukan dari rumah sakit tapi dari uang pribadi Momyang sama Papyang," jawab Delmira.


"Apa begitu parahnya keuangan rumah sakit?" selidik Kaffah.


Delmira menarik dua sudut bibirnya, "Doakan saja Momyang dan Papyang bisa mengatasi semua itu," balas Delmira memegang tangan si kembar.


Kaffah dan Kahfi menganggukkan kepala. Delmira langsung memeluk dua anaknya.


"Momyang sangat beruntung punya kalian yang sangat penurut dan pengertian. Semoga Allah kelak membalas bakti kalian dengan surga," lirih Delmira, tak terasa air matanya sudah membasahi dua pipi.


"Amin ya Allah. Kami juga sangat beruntung memiliki Mommy dan pappy," ujar Kaffah.


Delmira melepas pelukannya.


"Ingat Kaffah, kamu jangan menyusup ke tempat yang berbahaya," pesan Delmira mengingatkan karena biasanya Kaffah terlalu aktif, rasa penasarannya begitu tinggi. Sehingga ingin tahu ini itu yang belum pernah dia lihat.

__ADS_1


"Ok, kalian istirakhatlah. Kondisi tubuh kalian harus sehat," ucap Zaidan meraih pundak istrinya agar beranjak dari ranjang si kembar.


"Siap Pap, uang saku jangan lupa kami tunggu," canda Kaffah walaupun dia mau banget kalau diberi uang lebih.


"Nanti Momyang yang kasih," sela Delmira berdiri mengangkat pantatnya.


"Jangan! Mommy tidak usah repot-repot, cukup Pappy saja yang kirim," tolak Kaffah.


"Kenapa? Momyang juga punya uang, lagian. Semua urusan uang kalian ya Momyang yang atur," jawab Delmira.


"Tapi kali ini, please biar Pappy yang urus," pinta Kaffah.


"Ya, ya, nanti Papyang yang urus," sahut Zaidan lalu merangkul bahu istrinya agar pergi dari kamar anaknya.


"Tapi... sama saja kan Papyang dan Momyang, sama-sama kasih uang" teriak Delmira masih protes apa yang dipinta Kaffah karena merasa dibedakan. Sedangkan kaki Delmira sudah ada di ambang pintu.


"Sama apanya! Kalau sumber keuangan dari orang tua, ya jelas itu sama tapi kalau nominal kan jelas beda! Papyang pasti akan kasih jauh lebih besar dibandingkan Momyang!" gerutu Kaffah, membanting tubuhnya ke kasur.


Kahfi hanya bisa melempar senyum melihat tingkah saudara kembarnya yang senang kalau berdebat dengan kedua orang tua. Apalagi berdebat soal uang.


Kaffah memang orangnya cenderung boros. Dia hobi sekali mentraktir teman-temannya atau juga membeli barang yang tidak diperlukan. Namun, sering Kahfi yang terkena imbas karena dimintai Kaffah uang tambahan, dengan alasan uang jajannya habis. Padahal dua-duanya diberi uang saku sama.


"Issst! Papyang! Momyang masih bicara dengan anak kita, kenapa main tarik pergi sih!" kesal Delmira, melepas rangkulan suaminya, lalu gegas jalan terlebih dahulu.


"Tunggu!" Delmira membalikkan tubuh dan menghentikan langkah lalu mengacungkan jari ke arah Zaidan.


"Apa ada yang kalian sembunyikan dariku?" telisik Delmira netranya menatap tajam ke arah Zaidan.


Setiap Zaidan memberikan uang saku ataupun uang apapun pada dua anaknya, dia akan memberikan lebih dari apa yang diperintahkan Delmira. Itu mengapa Kaffah sangat antusias kalau yang mentransfer uang jajan Zaidan.


"Maksud Momyang menyembunyikan apa?" lirih Zaidan mengulang tanya Delmira.


"Ya Momyang juga tidak tahu apa yang kalian sembunyikan!" sungut Delmira, kakinya belum dia langkahkan.


"Momyang, ingat. besok jadwal kita ke panti asuhan. Momyang sudah beli sesuatu buat anak-anak panti?" lontar Zaidan yang jelas mengalihkan pembicaraan.


"Ya Allah... Momyang kok sampai lupa. Astaghfirullah haladhim, untung Papyang mengingatkan Momyang. Kita masuk ke kamar, aku mau buka ponsel, pesan sesuatu untuk di bawa ke panti," ajak Delmira kemudian.


Sementara itu, Kaffah dan Kahfi yang sedang ada di kamar.


"Icha jadi ikut tidak?" lontar Kaffah.


"Aku belum tanya lagi pada dia," jawab Kahfi.


"Orang tuanya sangat protektif," simpul Kaffah.


"Pemikiran orang tua berbeda-beda. Mungkin saja orang tua dia begitu khawatir akan keselamatan anaknya karena Icha seorang perempuan," timpal Kahfi.


Tiba-tiba Kahfi tersenyum sambil menatap layar ponselnya.


Kaffah penasaran melihat sikap saudara kembarnya.


"Ayo kenapa nih, senyam-senyum?" ledek Kaffah.

__ADS_1


"Tidak apa-apa," sahut Kahfi mematikan ponselnya lalu memosisikan diri dengan nyaman untuk menjemput sang mimpi.


"Curang kamu! Main tidur tanpa memberitahukan apa yang terjadi, sampai mulut kaku kamu bisa tersenyum lebar seperti tadi!" gerutu Kaffah yang akhirnya menyerah, ikut merebahkan tubuh.


__ADS_2