
"Ngomong-ngomong... Mbak Del sudah terima lamaran dari mas ganteng? Segera mau nikah Mbak? Kapan Mbak? Apa dalam bulan ini atau... minggu ini?" oceh Safira memberondong dengan seribu pertanyaan setelah mereka masuk warung.
"Jangan ikut nglantur!" sahut Delmira, meletakkan kunci mobil di laci meja.
Sa'diyah yang mendengar percakapan mereka langsung menolehkan pandangan pada Delmira.
"Mbok jangan ikut-ikutan intimidasiku seperti Sapi" ujar Delmira hanya dengan melihat tatapan Sa'diyah sudah mengerti maksud tatapan itu.
Sa'diyah pun tersenyum, tangannya bergerak mengelus punggung Delmira, "Mbok tidak akan mengintimidasi kamu. Mbok cukup berdoa untuk kebahagiaan kamu."
Delmira tersenyum mengangguk.
"Kalian salat dulu, nanti gantian sama Simbok," titah Sa'diyah dan diiyakan mereka berdua.
Seusai salat, giliran Delmira dan Safira menjaga warung. Letak masjid memang tidak terlalu jauh dari warung milik Sa'diyah sehingga mereka tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke tempat peribadatan.
Delmira dan Safira terlihat cekatan melayani pembeli. Mereka sudah terbiasa melakukan itu. Di sela-sela tidak ada pembeli mereka mengobrol kembali.
"Mbak," panggil Safira, "dih, jawab kenapa, ada hal penting yang mau aku tanyakan," tangannya menggoyangkan lengan Delmira agar Delmira menoleh.
"Ya, ada apa?" Delmira yang sedang fokus melihat notif masuk yang ada di ponsel akhirnya menolehkan pandangan ke arah Safira, "apa? Ada hal sepenting apa?"
Safira melepas tangan yang tadi sempat menggoyangkan lengan Delmira.
"Kalau Mbak Del menikah dengan mas ganteng Zaidan, apa nantinya om Verel selamanya tidak akan ke sini?
Delmira diam sejenak, matanya kini menatap wajah sendu yang tergambar di wajah Safira, "Kamu sedih tidak bisa melihat Raka?"
Safira menundukkan pandangan lalu mengangguk pelan.
Delmira melempar sebuah senyum, "Bukankah kamu akan dilamar dia? Jadi apa yang disedihkan?"
"Mbak Del, aku kan cuma bercanda. Mana mungkin lelaki kaku model om ganteng ngelamar aku!" balas Safira, "Mbak Del lihat sendiri kan, selama ini yang ngejar dia itu aku," sambung Safira, mengakui semuanya.
Delmira terkekeh mendengar pengakuan Safira.
"Mbak Del! Harusnya Mbak Del ikut prihatin apa yang menimpaku bukan malah menertawakanku!" sungut Safira.
Delmira masih menahan tawa, "Maaf, aku tidak bermaksud menertawakan nasib kamu, tapi lihat wajah kamu selucu ini kenapa Mbak Del jadi pengen tertawa," ucap Delmira.
"Bener-bener model Mbak tiada akhlak!" umpat Safira.
"Ya iya, maaf deh," balas Delmira menangkup dua tangan.
"Mbak tanya nih, kamu jawab jujur dari lubuk hati kamu terdalam."
Safira mengangguk membalas tatapan Delmira.
"Kamu sungguh-sungguh mencinta Raka?"
"Apa selama ini tampangku selalu bercanda Mbak?"
"Makanya Mbak tanya, benar kamu mencintai Raka?"
"Tahu ah! Ngomong sama Mbak Del bikin capek hati!" sungut Safira melangkah pergi.
"Hei! Mau kemana?" cegat Delmira.
"Pulang!" sahutnya tetap melangkah pergi tanpa menolehkan pandangan. Safira gegas menaiki motor metiknya lalu melajukan motor itu meninggalkan warung milik mbok Sa'diyah.
Delmira hanya bisa menggelengkan kepalanya, "Dia malu," Delmira mengembangkan sebuah senyum, "percayalah Sap, walaupun kamu tidak bertemu dengan dia kali ini. Kalau kamu berjodoh dengannya. Pasti Allah mempertemukan kalian," lanjut Delmira kemudian.
...****************...
Delmira masih sibuk mempersiapkan catering pesanan pondok untuk acara peresmian komplek salah satu pondok.
"Cinta Verel begitu besar untukmu. Dia rela melakukan segalanya demi kebahagiaan kamu. Aku merasa iri padanya," ucap Zaidan setelah usai peresmian salah satu komplek pondok pesantren yang ternyata donatur utama komplek berlantai 3 itu dari Zaidan dan Verel.
Dulu Verel mengatasnamakan anaknya yang masih ada dalam kandungan Delmira sebagai nama donatur, sedangkan Zaidan menyumbang itu atas nama alumnus pondok pesantren Raudhatul Athfal.
Selama 3 tahun, Zaidan pernah mengenyam pendidikan di pondok tersebut. SMA sekaligus mondok.
Delmira hanya bisa diam. Kenyataannya, Verel memang sudah berbuat banyak untuk dirinya. Hanya saja, hatinya tidak dapat dipaksa untuk berlabuh pada sosok Verel.
"Kamu menyerah?" lontar Delmira kemudian, entah kenapa dia tidak suka dengan pernyataan Zaidan.
"Mana mungkin aku menyerah," sahut Zaidan, netranya menatap tajam ke arah Delmira.
Sejenak Delmira menengadahkan pandangan ke arah Zaidan lalu kembali dia tundukkan pandangannya.
"Aku suka jawaban kamu," ujar Delmira kemudian.
Zaidan tersenyum, "Maukah kamu ikut aku ke Jakarta?"
__ADS_1
"Untuk?"
"Meminta restu ummi Aisyah," jawab Zaidan.
"Restu?" retoris Delmira masih tidak percaya apa yang disampaikan Zaidan.
"Aku ingin segera halalkan hubungan ini," ujar Zaidan.
"Maaf, aku harus bantu beresin alat catering," ujar Delmira, kakinya melangkah lebih cepat bahkan terkesan agak berlari.
'Duh Del! Kamu kenapa? Issst! Kenapa kamu malah lari? Malah bikin malu tahu! Kamu seperti bocah saja! Duh Del! Apa susahnya jawab iya/tidak?' umpat diri Delmira merasa bersikap kekanak-kanakan.
Delmira menghirup napas dalam-dalam, sambil memejamkan mata lalu mengeluarkan perlahan.
Badannya dia balikkan, matanya berputar mencari sosok Zaidan.
"Alhamdulillah, dia sudah tidak di sini," lirih Delmira.
Delmira kembali membalikkan badannya.
"Assalamualaikum Mbak Delmira," sapa Bu nyai pondok pesantren.
Delmira sempat terkejut mendengar sapaan dari Bu nyai, bahkan ucapan pertama kali yang terlontar adalah kalimat istighfar karena begitu terkejutnya.
"Waalaikum salam," jawab Delmira dengan terbata.
Mata Delmira berpindah pandang pada sosok lelaki yang baru saja dia tinggal. Lelaki itu melempar senyum.
"Ibu cuma mau kenalkan kamu dengan Mas Zaidan. Dia kebetulan alumnus pondok ini. Dulu kan Mbak Del tanya ketika ibu kasih daftar nama donatur komplek pondok. Mr. Z itu siapa. Dialah Mr. Z," terang bu nyai.
"Oh...a... assalamualaikum," Delmira mengucap salam pada Zaidan dengan suara terbata. Tangannya dia tangkupkan sejajar dada.
"Waalaikum salam Mrs. Delmira Cinta Kusuma," balas Zaidan.
Bu nyai melihat ekspresi wajah keduanya.
"Kalian sepertinya saling kenal?"
"Tidak. Iya," keduanya menjawab bersamaan. Zaidan mengiyakan sedangkan Delmira berkata tidak.
Sebuah senyum tergambar di wajah Bu nyai melihat keduanya kompak menjawab namun dengan jawaban yang berbeda.
"Jadi, tidak kenal?" lempar tanya bu nyai pada Delmira.
Bu nyai tersenyum, "Tidak apa-apa. Mungkin kamu punya alasan mengapa lebih memilih berbohong."
"Dia mungkin malu mengakui hubungan kita Bu Nyai," sela Zaidan.
"Hubungan? Ada hubungan istimewa di antara kalian?" tanya bu nyai tanpa basa-basi.
"Dia mantan istri saya Bu dan insya Allah kami akan segera rujuk kembali," jawab Zaidan.
"Subhanallah... jadi, dulu yang kamu nikahi itu mbak Delmira?"
Zaidan mengangguk, "Ya Bu Nyai."
"Ya Allah... maaf Ibu tidak tahu menahu."
"Tidak apa-apa Bu Nyai."
Sebenarnya dulu sewaktu Zaidan menikah, telah memberi undangan ke pengasuh pondok pesantren, tapi karena ada acara lain. Mereka tidak dapat hadir ke acara pernikahan itu.
"Ibu merasa senang mendengarnya. Cepat halalkan hubungan kalian. lebih cepat lebih baik."
"Alhamdulillah, Ya Bu Nyai doakan semoga itu segera terwujud. Tapi... untuk sekarang, saya boleh minta tolong sama Bu nyai?"
"Kalau Ibu bisa, pasti akan Ibu tolong. Katakan saja apa yang perlu ibu bantu."
"Tolong yakinkan dia untuk segera mengiyakan niatan baikku," jawab Zaidan.
Bu nyai tersenyum mendengar permintaan Zaidan.
"Mbak Del, belum yakin?" lontar bu nyai pada Delmira.
Delmira hanya dapat membalas dengan sebuah senyum dan menundukkan pandangannya.
"Kalau wanita diam, berarti mengiyakan permintaan mas Zaidan, hanya saja mbak Delmira masih malu," ujar bu nyai.
"Alhamdulillah kalau begitu Bu," seru Zaidan.
"Ibu tinggal dulu ya," pamit Bu nyai.
Delmira menengadahkan wajahnya, menatap sekilas ke arah Zaidan, tanpa sepatah kata. Kakinya melangkah pergi meninggalkan sendiri sesosok Zaidan.
__ADS_1
Sedangkan Zaidan hanya bisa tersenyum menatap Delmira yang semakin jauh dari pandangan matanya.
...****************...
Siang ini, seperti biasanya. Delmira mengirim kotak nasi ke dealer motor Pekalongan.
"Mbak Sari, apa tidak Mbak Sari saja yang antar ini ke ruang kerja bos Zaidan?" pinta Delmira.
"Itu sudah jadi amanah dari pak bos. Saya tidak bisa membantah Mbak," jawab Sari.
Delmira mengempaskan napasnya kasar.
"Ayo kita masuk," ajak Delmira terlihat pasrah.
Delmira memang tidak pernah satu ruang hanya berdua dengan Zaidan. Zaidan pun memang dari awal selalu memerintahkan salah satu pegawainya agar menemani Delmira ketika masuk ruangan.
"Pesan dari pak bos. Kalau Mbak Del mengantar makanan, suruh datang sendiri ke ruangan beliau."
Deg.
'Ada apa dia memintaku datang sendiri? Dia tidak malu dan takut apa, kalau wanita dan laki-laki dalam satu ruangan, itu bisa menimbulkan fitnah!' batin Delmira bergejolak.
"Mbak Del jangan khawatir, di dalam ada temannya pak bos kok," sambung Sari.
Wajah Delmira terlihat lega. Walaupun juga penuh tanya, siapa yang dimaksud teman Zaidan.
"Kalau begitu, aku antar ke dalam nasi kotak ini," izin Delmira.
Sari mengangguk.
"Uh... dua pasangan itu kenapa bikin gemes sih," ujar Sari. "Kapan punya pasangan model bos Zaidan? Saleh, ganteng, tajir, romantis, duh... bikin meleleh nih hati," gumam Sari.
"Ya Allah, semoga Allah sisakan yang model kek bos Zaidan. Satu saja cukup ya Allah untukku," sela Wida teman pegawai dealer yang juga tahu hubungan istimewa antara Delmira dengan Zaidan.
"Ya Allah, Mbak Wida main comot minta sama Allah model yang kayak bos Zaidan. Terus aku bagaimana? Stok begitu makin menipis dong," canda Sari.
Mereka terkekeh bersama menghayal pasangan impian.
Bukan hal yang ditutup-tutupi lagi. Hubungan Zaidan dan Delmira sudah banyak diketahui orang.
Delmira membuka pintu ruang setelah memberi salam dan dari dalam ruang menjawab salam lalu mempersilahkan masuk.
Tatapan Delmira mengarah pada Zaidan yang duduk di kursi kerjanya, lalu berpindah tatap pada sosok yang duduk di depan meja kerja Zaidan.
Delmira begitu terkejut ketika sosok itu membalikkan tubuhnya.
"Fernando," lirih Delmira.
"Assalamualaikum Non," sapa Fernando, bangkit dari duduknya.
"Wa... waalaikum salam," jawab Delmira.
Zaidan meminta agar Delmira duduk terlebih dahulu. Lalu mempersilahkan Fernando berbicara tentang semua hal yang terjadi dulu.
"Semuanya sudah terjadi. Kamu tidak salah, karena letak kesalahan sebenarnya ada pada diriku. Coba saja dulu aku jadi istri yang salehah. Pasti semuanya tidak akan terjadi. Namun, semuanya memang suratan dari Allah. Pasti ada hikmah di balik semuanya," sahut Delmira mendengar permintaan maaf dari Fernando.
Fernando tersenyum, "Terima kasih Non telah memaafkan saya."
Delmira mengangguk.
"Lalu, Non menunggu apa lagi, cepatlah terima pinangan dari den Zaidan. Temui ummi Aisyah."
Delmira menolehkan pandangan pada Zaidan.
"Mengapa ujung-ujungnya sama, memintaku segera rujuk dengan Zaidan?" gumam Delmira.
Zaidan terkekeh mendengar gumaman Delmira yang jelas terdengar telinganya.
"Besok kita ke Jakarta?"
"Jangan memaksa aku," sungut Delmira.
"Aku tidak memaksa kamu Mrs. Delmira. Bahkan kalau aku di suruh menunggu kamu hingga ujung usiaku_"
"Kamu mau?" cekat Delmira.
"Ya tidaklah," sahut Zaidan.
Delmira yang sedari tadi menundukkan pandangan sampai menengadahkan pandangan ke Zaidan.
"Tidaklah, aku tetap merayu kamu agar segera menerima ku," sambung Zaidan membuat barisan gigi Delmira terlihat.
"Dengan satu syarat. Aku akan katakan pada ummi Aisyah kalau aku pernah hamil dengan...," Delmira menghentikan ucapannya, merasa ada yang menyesakkan dada untuk melanjutkan kalimatnya, "aku pernah hamil dengan laki-laki lain," sambung Delmira menundukkan pandangannya kembali.
__ADS_1
sore menyapa 🤗 komen ya 🙏