Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 30


__ADS_3

Sementara di tempat lain, Aisyah duduk di ruang tengah sedang berbicara serius dengan Fernando.


"Kemarin pas Khanza takziah dia sempat bilang kalau dia kebetulan beli mobilnya Delmira. Benar itu Fer?"


"Oh, kalau mobil non Delmira dijual, saya tahu Bu tapi kalau soal yang beli non Khanza saya kurang tahu," jawab Fernando.


"Kenapa dijual? Apa Zaidan tidak memberi nafkah?"


"Setahuku non Delmira menjadi donatur rutin di salah satu panti asuhan. Padahal kondisi keuangan non Delmira memburuk karena suaminya terjerat banyak hutang bahkan rumah yang dia tempati juga ikut kesita. Harta yang tersisa hanya mobil, dan mungkin mobil itu dijual untuk donasi ke panti asuhan," terang Fernando.


"Kamu tahu banyak tentang Delmira?"


"Dulu almarhum bos Fatah meminta saya untuk menyelidiki kehidupan non Delmira."


"Apa ini yang menyebabkan almarhum suamiku kekeh menikahkan Zaidan dengan Delmira? Dia selalu menghargai setiap kebaikan yang orang lakukan," gumam Aisyah.


"Mungkin itu Bu," sahut Fernando.


"Zaidan tahu mengenai semua ini?"


"Den Zaidan tidak pernah bertanya mengenai kehidupan non Delmira. Jadi, saya tidak pernah menceritakan apapun padanya."


"Lalu, mobil baru yang dipakai Delmira, itu pemberian Zaidan?"


"Betul Bu."


Aisyah tersenyum mendengar jawaban Fernando, "so sweet sekali sikap anak ummi," puji Aisyah pada orang yang tidak ada di hadapannya.


"Bu Aisyah tidak lihat kondisi den Zaidan?" tanya Fernando mengalihkan pembicaraan.


"Tidak usah, biar saja dia diurus kekasihnya," jawab Aisyah menahan senyum.


"Kekasih yang Ibu maksud itu_"


"Tentu saja Delmira," cekat Aisyah dengan senyum yang semakin mengembang.


"Ada kemajuan tidak dari hubungan mereka?"


"E... sepertinya begitu? jawab Fernando dengan ragu.


"Begitu bagaimana?!" cecar Aisyah.


"Begitu baik Bu."


"Anak Ummi yang satu itu, pasti bisa menjalankan semuanya dengan baik. Duh... aku sudah tidak sabar menimang cucu," ujar Aisyah dengan wajah berbinar-binar.


"Menimang cucu?" gumam Delmira ketika melewati ruang tengah akan menuju meja makan dan sekilas mendengar pembicaraan ummi Aisyah dan Fernando.


"Eh... Nak Del," sapa Aisyah melihat Delmira berjalan dari arah tangga dan sedikit melambat.


"Ummi," balasnya.


"Zaidan sudah mending?"


"Sudah kelihatannya Mi," jawab Delmira.


"Syukur Alhamdulillah."


"Permisi Mi, aku mau makan dulu."


"Oh ya Nak, silahkan. Ummi temani boleh?"


"Boleh Ummi," jawab Delmira.


Setelah duduk di meja makan, Delmira menatap banyak menu hidangkan. Tanpa sungkan dia mengambil menu yang disuka. Baginya malu itu hanya membuat perut tersiksa.


Aisyah menatap Delmira dengan wajah penuh senyum bahkan kedua tangannya menopang rahang untuk melihat nikmatnya Delmira ketika makan.


"Enak Nak" retoris Aisyah.

__ADS_1


Delmira mengangguk, tangannya tetap bergerak memasukkan makanan ke mulut.


"Kamu memang harus banyak makan yang bergizi. Zinc, vitamin b kompleks, kalsium, zat besi, dan vitamin lain yang menunjang kesuburan rahim kamu," ucap Aisyah tanpa beban. Padahal, wanita yang diajak ngobrol langsung tersedak mendengar rentetan kata dari Aisyah.


Ugh ugh ugh.


"Hati-hati Nak, semuanya buat kamu kok Ummi tidak minta," canda Aisyah, tangannya terus menepuk punggung Delmira.


"Sudah tidak apa-apa Ummi," ucap Delmira, meminta agar mertuanya berhenti menepuk punggungnya.


"Ya sudah lanjutkan lagi." Kembali Aisyah duduk dan memperhatikan Delmira makan.


'Persis sekali seperti anaknya, sukanya senyam-senyum sendiri, aku kan risih dilihat seperti ini!' gerutu batin Delmira, gerakan makan melambat karenanya.


"Makanan ini sengaja Ummi request pada mbok Muna. Biar kamu cepat isi," ujar Aisyah sambil elus perut Delmira.


Ugh ugh ugh.


Lagi, Delmira tersedak karena tahu maksud dari perkataan ummi Aisyah adalah biar dirinya cepat hamil.


"Ya Allah Nak, kok tersedak lagi."


Delmira menyodorkan tegak telapak tangannya isyarat agar Aisyah berhenti tidak menyentuh lagi punggungnya.


"Baik-baik saja?"


Delmira mengangguk walau dalam hatinya bergumam, 'Bagaimana baik-baik saja kalau ummi berharap aku hamil, ya jelas aku langsung tersedak!'


"Ummi sudah tidak sabar menimang cucu," lanjut Aisyah.


Delmira hanya menelan salivanya dengan susah, apa yang dia dengar dengan samar ternyata benar.


"Aku sudahan Ummi," pamit Delmira daripada harus mendengar ocehan dari mertuanya, dia lebih memilih pergi walau makannya belum habis.


"Loh kok tidak dihabiskan Nak?"


"Sudah kenyang Ummi," Delmira berjalan cepat.


Delmira menghentikan langkahnya, sedikit menolehkan tubuhnya.


"Zaidan sulit minum obat, kamu bantu dia minum. Satu hal lagi, Zaidan suka manja kalau sakit mintanya dielus, dipijat, dinina boboin hingga tertidur," pesan Aisyah.


Anggukan pelan dengan muka malas Delmira tunjukkan sebagai jawaban.


Delmira melangkahkan kakinya kembali, gegas ke kamar. Saat masuk kamar, dilihatlah Zaidan merebahkan tubuh dengan mata yang masih terbuka.


'Duh, di kamar ada dia, di luar ada umminya! Ih! Kenapa aku seperti dibayang-bayangi hantu?' gerutu Delmira, melangkah ke ranjang dengan sungkan.


Delmira menatap kembali Zaidan yang terlihat gusar.


"Belum tidur?"


Zaidan mengangguk pelan.


Tangan Delmira refleks menempel di dahi Zaidan.


"Obatnya sudah diminum kan?" tanya Delmira melirik atas nakas yang ada plastik dan dipastikan isinya obat dari dokter pribadi keluarga Fatah.


"Sudah," jawab Zaidan dengan lemas.


Mata Delmira menatap curiga mengingat pesan dari Aisyah.


"Beneran sudah diminum?"


Zaidan menganggukkan kembali kepalanya dengan melayangkan sebuah senyum.


Tangan Delmira bergerak membuka plastik di atas nakas. 'Ya, sudah diminum,' batin Delmira, melihat ada dua bungkus pil yang telah terkupas.


"Ya sudah tidur saja, istirahat."

__ADS_1


"Bentar nunggu Isya. Kalau langsung tidur takutnya malah ketiduran."


Beberapa menit kemudian azan isya dari masjid yang ada di komplek perumahan berkumandang.


Zaidan gegas mengambil wudu setelah Iqamah sebagai tanda dimulai jama'ah di masjid tersebut.


Empat rakaat dengan satu salam sudah dijalankan. Zaidan melipat sajadahnya lalu dia taruh dalam nakas. Biasanya sebelum dan sesudah salat isya Zaidan akan melaksanakan salat sunnah.


Namun, kali ini berhubung dia merasa tidak enak badan. Antara panas dan dingin juga kepalanya yang terasa berat hingga matanya sulit dia buka, Zaidan memilih hanya melakukan yang wajib.


Zaidan segera merebahkan tubuhnya. Tangannya memijat pelipisnya.


Delmira yang duduk menyandar di kepala ranjang setelah mencuci muka dan ritual memberi nutrisi pada wajah, menatap Zaidan yang terlihat gusar.


"Apa kepala kamu pusing?"


Zaidan menggeleng pelan.


"Apa susahnya mengangguk? Bilang saja iya. Aku tahu dari ummi Aisyah, kamu itu kalau sakit selalu manja, maunya dipijit sampai kamu ketiduran dan susah kalau disuruh minum obat!" gerutu Delmira.


Apa reaksi Zaidan? Dia hanya tersenyum tanpa memberi klarifikasi kalau yang biasa manja ketika sakit, minta dipijit hingga tertidur, dan susah minum obat bukanlah dirinya melainkan ummi Aisyah.


"Kalau begitu pijit aku, biar bisa tidur," pinta Zaidan matanya masih tetap tertutup karena kepala terlalu pusing. Namun, entah kenapa ada semangat mendebu untuk meladeni ucapan Delmira dan tubuhnya langsung bergerak menyandarkan kepalanya di pangkuan Delmira.


"Zaid! Kamu apa-apaan!" ketus Delmira, tersentak dengan sikap tiba-tiba dari Zaidan.


Lelaki itu tetap tidak peduli dan dengan posisi nyaman tetap memejamkan mata walaupun Delmira menggerakkan pangkuannya agar Zaidan bangkit.


"Aku rindu ibu," lirih Zaidan.


Delmira terdiam mendengar samar apa yang digumamkan Zaidan. Dia lebih pasrah karena rasa iba yang lebih dominan.


Zaidan menarik tangan Delmira dan menjatuhkannya di pucuk rambut Zaidan, digerakkan tangan itu agar naik turun seperti orang mengelus, Delmira paham akan maksud dari Zaidan. Kini tangannya bergerak mengelus tanpa arahan Zaidan.


"Aku lakukan ini terpaksa loh! Kamu jangan kepedean! Kalau bukan karena kamu sedang sakit, tidak mungkin aku melakukannya!" gerutu Delmira.


Zaidan tersenyum, dia melepas image gensi, takut, malu, atau dingin. Yang terpenting dia merasakan nyaman. Matanya yang sedari tadi memang dipejamkan, lamat-lamat benar-benar terpejam karena raganya memasuki alam mimpi.


Delmira masih mengelus lembut kepala Zaidan. Bibirnya mengerucut manakala matanya menatap lekat wajah Zaidan.


"Kalau dilihat-lihat, kamu ganteng juga," lirih Delmira. Tangan refleks menyentuh hidung tinggi Zaidan, "berapa senti ini?" ujarnya sambil tersenyum.


Kembali Delmira mengelus rambut Zaidan. Ketika tangannya menyentuh dahi, diulang beberapa kali sentuh, "masih lumayan panas."


Leher Delmira ditekuk ke kanan-kiri, merasa pegal. Mulutnya mulai menguap karena matanya mulai berat untuk dibuka. Susah payah Delmira tahan agar terjaga tapi tetap saja alam mimpi menyapanya untuk masuk ke dalam.


Zaidan bergerak merasa ada tangan yang menindih mulutnya.


Semburat senyum nampak menghias di wajah Zaidan melihat tangan itu milik wanitanya.


"Aku ketiduran di pangkuan kamu kenapa tidak dibanguni?" seloroh Zaidan segera bangkit.


Matanya kini berpindah tatap pada jam yang melekat di dinding kamar.


"Jam 02.00 pagi," lirih Zaidan, tangannya diregangkan agar rileks. Tubuhnya merasa sudah lumayan enak.


Niat mau merebahkan tubuh Delmira yang masih menyandar di kepala ranjang, kini mata Zaidan malah lekat menatap wajah Delmira. Sebuah senyum tergambar di wajah Zaidan.


"Kamu cantik Sayang," lirih Zaidan, tangannya meraih pelan tubuh Delmira lalu meletakkan kepala Delmira di lengan kanannya. Zaidan kembali memejamkan mata. Namun, kali ini bukan tidur di pangkuan Delmira. Melainkan memeluk tubuh istrinya. Mata Zaidan yang belum terpejam, kini terlintas peristiwa kemarin pagi.


"Apa yang menyebabkan kamu sesedih itu Mrs. Delmira? Apakah kamu punya kenangan kelam dengan mantan suami kamu?"


Zaidan meraih ponsel di atas nakas. Pesan di aplikasi si hijau-nya sebelum salat isya sudah dua centang biru, dan Fernando sudah membalas pesan yang dirinya kirim.


Segera saya selidiki masa lalu non Delmira dengan suaminya.


Zaidan meletakkan kembali ponsel setelah membaca pesan kedua dari Fernando.


Besok mulai saya selidiki.

__ADS_1


malam menyapa 🥱🥱🤭 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏


__ADS_2