
"Zaidan," ujar Delmira ketika mata Meilin mengisyaratkan sebuah tanya siapa penelepon.
"Jangan diangkat!" titah Meilin.
Ponsel itu kembali bergetar.
"Biar aku angkat," ucap Delmira.
"Ini salah satu trik Del! Biar dia mencari kamu dan mengejar kamu! Itu akan menambah sensasi yang berbeda pada seorang lelaki!" cekat Meilin memegang dan menutup layar ponsel yang akan disentuh Delmira.
"Maksudnya?" tanya Delmira bingung.
"Lelaki lebih suka tantangan. Kalau si wanita menolak, dia akan berusaha keras untuk mendapatkan hati si wanita."
"Bener begitu Mei?"
"Tentu!" jawab singkat Meilin.
"Apakah sama dengan wanita simpanan? Dia lebih menantang dari pada istri sahnya?"
Tangan Meilin refleks dia lepas, "Maksud kamu?!" Manik mata Meilin membulat mendengar ucapan Delmira.
Delmira terkekeh melihat reaksi Meilin, "Wajah kamu kenapa tegang gitu? Seperti kamu jadi pelakor saja," ucap Delmira masih dengan tawa lalu menepuk bahu Meilin.
Meilin hanya tersenyum singkat dengan lelucon Delmira.
"Kata kamu lelaki suka yang menantang. Kalau suami lebih memilih punya simpanan bukankah wanita simpanannya pasti lebih menantang si laki?" lanjut Delmira.
"Hai Delmira... Meilin... maaf ya kita terlambat," seru Marsya dan di belakangnya ada Silvia juga Yasmin. Suara dari Marsya yang nyaring otomatis menolehkan pandangan Meilin dan Delmira.
Mereka saling cium pipi kanan kiri dan peluk.
"Lama banget?"
"Maaf Del, kita saling tunggu jadi terlambat," jawab Yasmin.
Mereka duduk dan pesan minum maupun makanan.
"Kamu tidak ajak suami Del?" tanya Silvia.
"Dia sibuk," jawab Delmira.
"Suami kamu juga tidak kamu ajak," sela Marsya.
"Dia nanti jemput ke sini," sahut Silvia dengan senyum ceria.
"Ye... yang pengantin baru," ledek Marsya.
"Makanya buruan kamu cari ganti. Ingat, kamu minta langsung nikah jangan pacaran mulu tapi nikahnya dengan orang lain," ledek Silvia.
"Itu lihat Delmira, dia hebat sekali cepat dapat ganti," lanjut Silvia.
"Mengapa aku kamu bawa-bawa Vi?" sungut Delmira.
Silvia terkekeh melihat Delmira memanyunkan bibirnya.
"Untuk memotivasi yang masih pada betah jomlo di usia yang hampir masuk kepala 3," balas Silvia.
"Jangan bahas usia, itu terlalu sensitif untuk kita," sahut Marsya diikuti tawa mereka terkecuali si cool Meilin dan Yasmin. Mereka hanya menarik dua sudut bibir tanpa gigi putih nan rapi itu terlihat.
"Kalau Marsya ditinggal nikah pacar dan sulit move on dari pacarnya, kalau kamu Yas dan kamu Mei? Ayolah sedikit kasih bocoran tentang asmara kalian," rayu Silvia.
Reaksi dua manusia itu pun sama hanya senyum sedikit tanpa mengucapkan kalimat.
"Ayo katakan," pinta Delmira.
"Aku belum menemukan yang spesial," jawab Meilin.
"Selalu seperti itu," sungut Delmira.
__ADS_1
Meilin hanya tersenyum singkat.
"Dan kamu Yas, carilah pengganti, move on Beb," ujar Silvia.
Yasmin pun hanya tersenyum sebagai balasan.
Yasmin Bening Geffrey, wanita cantik berdarah Inggris ini harus kecewa dengan pernikahannya yang hanya terhitung 2 tahun. Bercerai karena sang suami lebih memilih selingkuh membuat Yasmin semakin tertutup dengan kehidupan pribadinya. Dia lebih suka diam tanpa kata. Apalagi menyangkut persoalan cinta. Mengejar karir menjadi jembatan utama untuk menutupi rasa kecewa.
Di sela-sela mereka bincang, tiba-tiba ponsel Yasmin berdering.
"Ada perlu apa?!" tanya Yasmin pada orang yang di seberang sana.
"Ya, dia ada di sini. Di cafe Senja," jawab Yasmin.
"Nanti aku sampaikan," ucap Yasmin kemudian.
Yasmin langsung mengarahkan pandangan pada Delmira.
"Tiga puluh menit lagi akan ada yg jemput kamu," ucap Yasmin pada Delmira setelah menutup sambungan teleponnya.
"Siapa?" penasaran Delmira.
"Siapa lagi kalau bukan suami kamu."
"Jadi, tadi yang telepon Zaidan?"
"Bukan, asistennya."
"Oh...," seru Delmira entah kenapa ada rasa lega.
"Santai saja, aku tidak mungkin main serong dengan suami sahabat," sahut Yasmin.
"Uhuk uhuk."
"Hati-hati kenapa Mei." Delmira menepuk punggung Meilin agar tidak batuk lagi karena tersedak.
Yasmin tersenyum singkat melihat reaksi Meilin.
"Oh ya Yas, kamu kok bisa kenal dengan Fernando?"
"Dia pelanggan butik mommy."
"Hanya itu?" tanya Delmira.
"Begitulah."
Delmira tersenyum singkat, lalu menatap wajah Yasmin penuh selidik.
"Kenapa?" bingung Yasmin dengan tatapan Delmira.
"Dilihat-lihat kamu cocok juga dengan Fernando."
"Tidak sama sekali!" ketus Yasmin membuat yang lainnya terkekeh.
"Jadi penasaran deh dengan sosok Fernando," sela Silvia.
"Memang kalian tidak lihat saat pernikahanku?"
"Tidak begitu merhatiin sih," sahut Marsya.
"Tampan, ya... kebule-bulenan deh kayak Yasmin."
Mereka pun terlibat canda tawa, saling ledek bahkan menjodohkan untuk teman yang belum memiliki pasangan. Tanpa terasa waktu sudah beranjak hingga 18.30.
Satu persatu pulang, tersisa Delmira dan Meilin.
"Sore Non," sapa seseorang membuat Meilin dan Delmira menolehkan pandangannya.
"Kenapa tidak langsung menghubungi nomorku? Malah menghubungi Yasmin?!" ketus Delmira begitu Fernando datang.
__ADS_1
"Maaf Non, karena ponsel Non sulit dihubungi," jawab Fernando.
"Dimana dia?!"
"Siapa Non?"
"Ya siapa lagi kalau bukan... ." ucapan Delmira terhenti, entah kenapa terasa berat menyebut nama suaminya.
"Siapa Non?" pancing Fernando.
"Sudahlah, ayo cepat pulang," ajak Delmira.
"Teman Non?"
"Dia ada janji dengan teman kerjanya," jawab Delmira lalu pandangannya berpindah ke arah Meilin, "Aku pulang dulu Mei, dadah," pamit Delmira.
Mereka berjalan ke tempat parkir, masuk ke dalam mobil dan mobil itupun melaju.
"Ini bukan rute jalan pulang, kita akan kemana Fer?"
"Ke dealer Non."
"Untuk apa?"
"Jemput den Zaidan."
Sampailah mereka di lokasi.
"Non tunggu di sini saja," pinta Fernando mempersilahkan Delmira masuk di ruangan yang dipastikan tempat kerja Zaidan.
Fernando kemudian melangkah keluar dari ruangan.
Mata Delmira menyapu seisi ruangan. Satu persatu tidak luput dari pandangan mata. Ada satu bingkai dengan foto menarik yang membuat kaki Delmira beranjak dari kursi tempatnya duduk.
"Cantik sekali," gumam Delmira melihat foto Zaidan dengan seorang wanita berjilbab dan difoto tersebut bertuliskan. Anniversary ke-2 tahun, kerjasama dengan koperasi syariah LUB.
Delmira melepas bingkai itu dari dinding, dia tatap dengan seksama sekali lagi foto itu.
"Kamu sudah datang."
Prak.
Karena terlalu terkejut bingkai foto itu jatuh dan pecahan kaca menghambur di lantai.
"Maaf," kalut Delmira langsung akan mengambil pecahan itu.
"Jangan di sentuh!" seru Zaidan mendekat ke arah Delmira, menuntunnya untuk duduk kembali.
"Biar nanti OB yang bersihkan," lanjutnya
Delmira tertunduk. Zaidan berjalan mengambil foto dibawah pecahan kaca. Lalu kakinya melangkah ke kursi kerjanya.
Dilihat foto itu olehnya lalu dia letakkan di atas tumpukan kertas yang ada di meja.
"Wanita itu cantik sekali," tanya Delmira karena penasaran yang begitu tinggi.
Bukan menjawab Zaidan malah tersenyum merekah. Kakinya mendekat ke arah Delmira duduk.
"Jadi karena ini sampai bingkai foto jadi jatuh?" tanya Zaidan masih dengan senyum yang mengembang di wajah.
Zaidan semikn mendekat bahkan terlalu dekat, "Kamu masih mengamati wanita yang ada di foto?" bisik Zaidan di telinga Delmira.
Bulu halus berdiri ketika suara itu menjalar ke daun telinga. Delmira menoleh untuk menjawab ucap Zaidan namun karena terlalu dekat jarak antara keduanya. Satu kejadian yang tidak seharusnya terjadi bagi Delmira namun seharusnya terjadi pada pasangan pada umumnya.
Cup.
"Zai...," lirih Delmira karena tercekat oleh benda kenyal yang menempel di bibirnya.
menyapa kalian 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏🥰😘
__ADS_1