Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 51


__ADS_3

POV Delmira.


Sebenarnya, aku sudah memikirkan jauh hari sejak aku ditiduri pria asing. Pria yang ternyata sudah disiapkan Meilin untuk memuluskan balas dendamnya.


Balas dendam? Apakah ini juga karma yang harus aku terima karena menyia-nyiakan sesosok Zaidan yang baik luar biasa padaku? Ya padaku, istri yang tidak pernah menganggap dia sebagai suami sungguhan. Istri yang tidak pernah memberi dia nafkah batin padahal itu hal fitrah sebuah keluarga. Istri yang tidak pernah melayani dengan baik apa yang menjadi kebutuhannya.


Aku ingin sekali marah pada keadaanku yang begitu mengenaskan ini, tapi... apalah dayaku? Aku hanya wanita lemah dan bodoh. Bahkan untuk mengatakan hal jujur pada Zaidan rasanya itu sangat tidak pantas.


Bagaimana bisa aku mengatakan padanya kalau aku hamil dan kehamilanku karena dijebak oleh Meilin. Apa yang aku harapkan atas kejujuranku? Aku ingin agar Zaidan memaafkan aku lalu menerimaku dan bayiku?


Itu sangat tidak mungkin! Kalau sampai aku mengatakan itu pada Zaidan bukankah aku egois? Zaidan menerima seorang janda sepertiku saja harusnya sejak awal aku merasa sangat beruntung. Hanya saja aku baru menyadari setelah semua kejadian malam kelam itu menimpaku. Lalu, apa aku pantas bersanding dengannya? Bekas orang asing. Aku saja merasa jijik dengan tubuh ku bagaimana dengan Zaidan?


Aku merasa benar-benar akan kehilangan dia. Mungkin hari inilah waktu yang tepat untuk mengatakan semua padamu Zaidan.


Kamu orang baik Zaidan, pantas mendapatkan wanita baik pula. Sedangkan aku? Aku hanya janda, bekas orang dan lebih naas lagi, aku sudah hamil dengan orang lain. Aku sudah dijam*ah orang lain sebelum kamu melakukan itu padaku.


Maafkan aku Zaidan. Aku rasa inilah jalan terbaik yang harus aku ambil. Semoga kamu mendapat gantiku, seorang wanita yang solekha yang dapat membahagiakan kamu.


POV 3


"Mari kita bercerai," ucap Delmira.


Zaidan terkejut namun mencoba setenang mungkin dengan melontarkan tanya, "kenapa?" Suara Zaidan terdengar berat.


Delmira terdiam.


"Ka... kalau kamu sedang tidak enak badan, lebih baik istirahat saja," ucap Zaidan berjalan mendekat ke arah Delmira akan menuntutnya ke ranjang.


"Stop!" seru Delmira memundurkan langkah.


"Jangan mendekat! Bukankah aku sudah pernah katakan padamu, aku akan meninggalkan kamu di saat kamu sudah mencintaiku. Jadi, aku rasa inilah waktunya," sambung Delmira.


"Tapi kapan aku mengatakan kalau aku cinta kamu?" sanggah Zaidan walaupun itu sangat berbanding terbalik dari hatinya yang memang sudah terpaut pada sang istri.


"Kamu tidak pernah menyatakan itu Zaid, tapi aku bisa merasakan cinta yang kamu tunjukkan padaku," lirih Delmira dengan menahan bongkahan air mata yang sudah terbendung di pelupuk mata.

__ADS_1


"Kalau memang benar kamu bisa merasakan cinta yang aku tunjukkan. Apa tidak bisa kamu membalasnya?"


'Zaid please jangan katakan apapun lagi, itu semakin membuatku merasa bersalah padamu,' gumam batin Delmira.


"Maaf Zaid, seperti yang aku katakan pada kamu sejak awal. Aku hanya menjalankan pernikahan ini karena dendam. Aku hanya ingin melihat kamu hancur dan sakit seperti apa yang aku rasa saat aku kehilangan keluargaku."


"Beri aku kesempatan untuk mengubah dendammu menjadi cinta," mohon Zaidan.


Delmira menggeleng, dagunya dia tegakkan ke atas menopang air mata biar tidak terjun bebas tanpa kontrol.


"Sudah terlambat," sahut Delmira.


"Langkahku belum ke ujung, kenapa kamu katakan terlambat?"


"Karena sebaiknya kita tidak melangkah hingga ke ujung. Namun, cukup sampai di sini Zaid."


"Kenapa?"


"Aku kembali dengan kekasihku."


"Aku tidak perlu menjelaskan pada kamu siapa dia," ucap Delmira lalu berjalan ke arah almari, menyeret koper dan menata baju yang akan dibawanya.


"Kamu mau kemana Mrs. Delmira?"


"Pergi dari rumah ini," sahut Delmira dan tangannya tetap bergerak memasukkan baju.


"Kemana?"


"Kekasihku sudah menyiapkan rumah untukku," jawab Delmira semakin memupuk kebohongan karena hanya jalan ini yang dapat dia tempuh agar bisa pergi dari Zaidan.


"Kamu bohong kan Mrs. Delmira?" lontar Zaidan dan bulir air mata langsung Zaidan seka ketika baru saja membasahi pipinya.


"Aku tidak bohong padamu Zaid! Bukankah sudah aku katakan dari awal! Pernikahan ini hanya jalan untuk balas dendamku!" sahut Delmira dengan suara meninggi.


"Tidak hanya itu," Delmira mengempaskan napasnya kasar lalu mengambil hasil USG dan buku kehamilan dari klinik kandungan, "aku sedang mengandung anaknya," lanjut Delmira dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Zaidan mengambil buku itu dengan tangan bergetar, membuka halaman demi halaman. Walau sesak di dada makin dia rasa tatkala lembar itu berganti lembar dan makin menyatakan kebenaran apa yang disampaikan Delmira kalau dirinya hamil.


"Sudah jelas!" Sekarang aku harus ke rumah yang dia belikan!"


"Tunggu! Aku mau menemuinya," ujar Zaidan untuk memastikan apa yang disampaikan Delmira benar adanya.


Delmira mengempaskan napasnya kembali. "Aku tidak ingin urusan pribadiku kamu campuri! Bagiku ini sudah berakhir semua! Aku rasa... balas dendamku sungguh sempurna! Selamat tinggal Zaidan."


Delmira gegas melangkah keluar, menuruni anakan tangga meninggalkan Zaidan yang tengah mematung ditempat.


"Loh... Sayang, kok bawa koper? Mau kemana?" tanya Aisyah ketika akan naik tangga dan Delmira berpijak di anakan tangga paling akhir.


Delmira tercekat. Tidak menyangka berpapasan dengan Aisyah. Kalau tadi dia mampu berbicara sekasar dan sekejam itu pada Zaidan apakah dengan Aisyah dia juga mampu untuk melakukan hal yang sama?


"Aku, aku akan pergi untuk selamanya dari rumah ini," jawab Delmira mencoba setegar mungkin.


"Loh, kenapa Nak? Apa kamu ada masalah dengan Zaidan?" bingung Aisyah.


"Karena misiku sudah selesai!" sahut Delmira lalu melangkah pergi tanpa mendengar panggilan Aisyah.


Kaki Aisyah akan mengejar langkah Delmira. Namun, tiba-tiba dia teringat Zaidan. Pasti kondisi Zaidan sekarang sedang tidak baik-baik saja. Aisyah pun memutuskan untuk menaiki tangga dan membiarkan Delmira pergi.


Delmira gegas keluar gerbang, menyentuh layar ponsel untuk memesan taksi on line. Tidak selang berapa lama taksi itu datang membawa Delmira pergi.


Diam, dalam taksi hanya diam. Air mata menerobos begitu saja dari benteng pertahanan yang sedari tadi dibangunnya.


"Maafkan aku Zaid," lirih Delmira dan hanya kata itu yang mampu dia ucapkan.


Besok aku mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Aku minta kerja sama dari kamu.


Satu pesan Delmira kirim ke Zaidan.


'Aku harap ini yang terbaik buat kamu Zaid,' batin Delmira.


jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏 lope lope buat kalian yang masih setia dengan novel Kak Mel 😍🥰😘

__ADS_1


__ADS_2