
Mentari pagi menyambut hari. Embun terlihat hempas terbawa angin dan hilang tanpa jejak diterpa hangat sang mentari. Suasana metropolitan mulai ramai dengan seabrek aktivitas yang dijalankan penghuninya.
Sebuah mobil mewah hitam produksi Jepang, berjalan membelah jalan kota yang tidak pernah lengang ditelan sang waktu. Dua penumpang di dalam terlihat hanya diam.
Sesekali sang lelaki melirik ke arah istrinya yang masih terdiam sambil fokus menatap jalanan yang dia lewati.
Bukan karena sebuah pertengkaran yang menyebabkan mereka begitu. Hanya saja, pikiran mereka berjalan sendiri-sendiri.
Rupanya, pemandangan di luar jendela lebih menarik kala itu bagi si wanita dari pada bercengkrama dengan suaminya.
Namun, yang membuat lelaki itu terkejut, dia mendengar sang istri menahan cairan hidung yang akan keluar padahal saat itu dia tidak sedang flu.
Lelaki itu mematikan mesin setelah mobil terparkir sempurna.
"Kamu menangis Momyang?" lontar sang suami, kecurigaannya semakin mengarah tatkala melihat mata istrinya memerah.
Si istri gegas menggelengkan kepalanya.
"Soal rumah sakit, jangan terlalu Momyang pikirkan. Insyaallah, Allah akan memberi rezeki yang lebih untuk gantinya," ucap Zaidan, tangannya bergerak mengelus kepala Delmira.
Delmira mengambil tisu lagi karena cairan bening dari hidung semakin mengalir deras mengalir.
"Papyang akan selalu menemani Momyang kerja hingga krisis rumah sakit dapat kita tangani," sambung Zaidan.
Delmira kembali menggeleng. Bahkan, bendungan yang sempat tertahan di pelupuk mata kini meluncur bebas di dua pipinya.
"Kenapa Momyang lagi-lagi menggeleng, apa Papyang salah bicara?"
Delmira hanya mampu menjawab lewat isakan tangis.
"Astaghfirullah haladhim, Papyang minta maaf kalau Papyang salah," ucap Zaidan lebih baik meminta maaf terlebih dahulu walaupun jujur dari dalam hatinya, sungguh dia tidak tahu apa yang menyebabkan sang istri menangis.
"Coba katakan, ada hal apa, sampai Momyang menangis seperti ini?" lontar Zaidan setelah Delmira lebih tenang.
Delmira kembali menggeleng, "Momyang turun, assalamualaikum," ujar Delmira tanpa menjawab tanya Zaidan dan memilih diam lalu melangkahkan kakinya setelah berpamitan pada Zaidan.
Delmira terlihat kaget saat Zaidan ikut masuk ke dalam ruang kerja.
"Jangan menatap dengan heran, kan tadi Papyang sudah bilang. Bakal temani Momyang selama krisis rumah sakit belum berakhir," ucap Zaidan melihat reaksi suaminya yang terlihat penuh tanya.
Delmira memilih pasrah, tas yang sedari tadi dia tenteng, ditaruh di meja. Pantatnya dia dudukkan di kursi kerja. Delmira gegas memencet tombol panggilan agar dini masuk ke ruang bekerjanya.
Tidak lama kemudian, Dini masuk ke ruang kerja dan sekarang duduk di depan meja kerja atasannya.
"Jadwal saya hari ini?" lontar Delmira.
"Hari ini Ibu tidak terlalu sibuk, hanya mengecek berkas-berkas yang sudah saya taruh di meja kerja Ibu," jelas Dini.
"Tidak ada yang lain?" lontar Delmira, matanya melihat ke arah tumpukan berkas yang tertata rapi di meja kerja.
"Hanya itu Bu," jawab Dini.
"Ya Bu," sahutnya.
"Oke terima kasih, kamu boleh lanjutkan kerja."
"Terima kasih Bu," ucap Dini, memutar tubuhnya, lalu melangkah ke luar. Namun, sebelum tubuhnya benar-benar keluar, matanya sempat melirik ke arah orang yang duduk di sofa.
Mata Zaidan memang tertuju pada ponsel yang dia pegang, tapi dia sendiri bisa melihat gerakan Dini yang sebelumnya tengah melirik ke arah dirinya.
__ADS_1
Kini di ruangan itu hanya ada Delmira dan Zaidan.
Mata Delmira mengarah tatap ke arah Delmira yang masih saja fokus dengan pekerjaannya.
'Dia serius sekali,' gumam hati Zaidan.
Hingga dua jam lebih, keduanya tanpa suara, sama-sama bekerja.
"Ya Bu, insyaallah siang ini saya usahakan untuk datang," ucap Zaidan dengan seseorang yang meneleponnya.
"Wassalamu'alaikum," sambung Zaidan untuk mengakhiri pembicaraan.
Delmira melirik ke arah suaminya, pantatnya dia angkat, bukan mendekat ke arah Zaidan, melainkan ke tempat dispenser yang ada di ruang tersebut.
Satu seduh kopi susu, Delmira letakkan di meja depan sofa yang diduduki Zaidan.
"Siapa yang telepon Papyang?"
"Oh ... mitra kerja, siang nanti ada pertemuan dengannya," jawab Zaidan.
"Dia masih muda? Atau_"
"Muda," cekat Zaidan, diiringi sebuah senyum.
"Kalau begitu Momyang ikut," balas Delmira dengan cepat.
Zaidan semakin melebarkan senyumnya, entah mengapa, melihat istrinya cemburu semacam itu menjadi pemandangan menariknya
"Kamu di rumah sakit saja, barangkali ada tamu atau ada hal penting yang harus segera ditangani," tolak Zaidan.
"Hal yang segera perlu ditangani itu... jika suami lebih memilih menemui mitra kerjanya yang masih muda, cantik, seksi, enerjik!" sahut Delmira dengan nada ketus.
"Momyang cemburu?" pancing Zaidan mendekatkan wajahnya ke Delmira.
"Asal apa?" tanya Zaidan dengan lembut, melihat pelupuk mata Delmira sudah penuh dengan cairan bening.
"Papyang jangan berpikiran untuk menikah lagi!" seru Delmira, pecah sudah tangisannya.
Zaidan terlihat bingung, dia sempat bilang mitra kerjanya masih muda hanya untuk bercanda dengan istrinya. Namun, sungguh diluar dugaan, reaksi Delmira.
"Ma...maaf Momyang, Papyang cuma bercanda," sesal Zaidan mengelus punggung Delmira.
"Papyang tahu! Semalam suntuk, Momyang tidak dapat tidur memikirkan nasib kita!"
"Nasib kita bagaimana Momyang?" lontar Zaidan yang bertambah bingung.
"Papyang pura-pura tidak tahu?! Papyang berhubungan intim dengan Momyang dalam satu minggu berapa kali?!"
"Mengapa mendadak disuruh menghitungnya?" gumam Zaidan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Berapa kali Papyang?" desak Delmira
"Bukankah kita tidak pernah menghitung berapa kali."
"Tidak pernah Papyang absen kecuali Momyang sedang halangan atau sakit. Bisa tiga hingga empat kali," ujar Delmira menjelaskan diri pertanyaan yang dia lontarkan pada suaminya.
Zaidan tersenyum, "Mungkin jumlahnya begitu. Maaf Papyang tidak pernah menghitung. Papyang kalau ingin, lihat kondisi kamu dan meminta padamu, wanita halalku," jawab Zaidan, tangannya bergerak akan mengelus pipi Delmira tapi wajah istrinya malah mundur agar tidak terjangkau tangan Zaidan.
"Bagiamana kalau Momyang sudah tidak seenergik sekarang? Mulai loyo karena usia dan sudah masuk masa menopause? Sedangkan... sedangkan Papyang masih bugar, muda dan masih ingin intensitas hubungan suami istri kita tidak berkurang sedikitpun?"
__ADS_1
"Apa... apa Papyang akan meninggalkan Momyang? Memilih yang lebih muda dan energik?" sambung Delmira suaranya merendah dan diiringi sebuah isakan tangis.
Zaidan menahan senyum, mendapat sederet pertanyaan dari istrinya.
"Mengapa Papyang malah senyum?!"
Pantat Zaidan beringsut mendekat ke istrinya, lalu dengan cepat meraih tubuh kecil itu masuk dalam pelukannya.
"Pernikahan tidak hanya berbicara mengenai kebutuhan biologis pasangan suami istri. Tapi lebih dari itu. Momyang ingin mendengar jawaban Papyang?"
Delmira menarik diri dari pelukan suaminya.
"Kalau sampai Papyang memilih untuk mencari madu, lebih baik... lebih baik_"
Cup.
Sengaja Zaidan mendaratkan kecupan agar Delmira tidak mengatakan hal yang aneh.
"Semoga Allah menjadikan kita sepasang suami istri baik di dunia maupun di akhirat. Atas nama Allah yang membolak-balikan hati manusia, semoga Allah tetap menetapkan hati Papyang hanya untuk kamu Momyang," ujar Zaidan, "itu bukan sekedar ucapan tapi doa dan janji seorang suami dan seorang Pappy yang memiliki dua anak," sambung Zaidan.
"Itu janji Papyang!" pertegas Delmira.
Zaidan tersenyum lalu mengangguk.
Delmira menghambur memeluk suaminya.
"Jadi ini yang membuat Momyang tidak bisa tidur? Jadi ini pula yang membuat Momyang pagi-pagi terisak?" sindir Zaidan.
Delmira mengerucutkan bibirnya sebagai balasan.
...****************...
Satu setengah bulan berlalu.
Berat untuk Delmira menerima kenyataan kalau rumah sakit yang dia kelolah masih dalam keadaan krisis. Namun, Zaidan sebagai seorang suami sekaligus pemilik rumah sakit, selalu memberi support untuk sang istri.
"Papyang, belum ada kabar dari pihak asuransi kesehatan pemerintah. Rumah sakit kita juga semakin sepi pasien. Sedangkan biaya operasional tetap berjalan seperti bulan sebelumnya padahal pemasukan jauh berkurang. Apa... kita akan tetap diam?" lontar Delmira bertukar pikir.
Zaidan terdiam. Dia memang harus bertindak, kalau tidak, rumah sakit bisa gulung tikar jika diteruskan seperti itu.
Sebuah empasan kadar terdengar dari mulut Zaidan.
"Ini pilihan berat Momyang. Tapi benar apa kata Momyang, kita harus ambil langkah yang bijak."
Zaidan diam menjeda kalimatnya, menarik napas dalam-dalam agar setiap ruas tubuhnya teraliri oksigen.
"Kita, beri pilihan pada pegawai. mengundurkan diri lalu beri pesangon atau tetap bekerja di rumah sakit tapi tidak full satu bulan kerja, dan terpaksanya hitungan bayaran mereka kita sesuai dengan jumlah kerja. Bagaimana kalau seperti itu Momyang?" tanya Zaidan.
"Apa itu tidak melanggar rasa kemanusiaan Papyang?"
"Terpaksa kita ambil keputusan seperti itu. Jumlah biaya operasional rumah sakit melambung tinggi sangat jauh dari prediksi awal."
Delmira mengempaskan napasnya.
"Kasihan mereka Papyang, sudah biaya hidup semakin tinggi, penghasilan mereka malah berkurang," sahut Delmira.
"Tapi kalau kita tetap sikekeh memperkerjakan mereka, sementara pasien dan pemasukan jauh berkurang, itu sama saja kita membunuh rumah sakit ini secara perlahan," terang Zaidan menjeda kalimatnya.
"Maaf Momyang, kita tidak tahu, kapan pihak asuransi kesehatan pemerintah mau menjalin kerja sama kembali dengan rumah sakit. Dua bulan prediksi Papyang, tapi takutnya itu tidak tepat. Jadi menurut Papyang usulan Papyang sudah tepat, kita pekerjaan mereka secara normal setelah rumah sakit kembali menjalan kerja sama dengan rumah sakit," sambungnya .
__ADS_1
"Momyang perlu berpikir untuk menyetujui tidaknya usulan Papyang," sahut Delmira.
"Resiko terbesar, rumah sakit ini bisa tutup operasional Momyang," ucap Zaidan agar Delmira lebih mantap menerima usulan darinya. Walaupun Zaidan sendiri tahu, usulan itu mungkin dipandang tidak manusiawi, hanya saja. Bisnis tetaplah bisnis. Yang butuh uang untuk kelangsungan bisnis tersebut.