Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 110


__ADS_3

Kaffah dan Kahfi terlihat bahagia, dia bersorak sorai dengan teman sebaya maupun teman yang usianya lebih tua dari mereka.


Ada kejadian yang membuat tamu undangan terkekeh, yaitu saat Kaffah memberi kue ulang tahun pada salah satu anak panti asuhan, seorang bocah perempuan berumur kisaran 4 tahun. Kaffah terus mengejarnya padahal bocah itu tidak mau menerima kue yang diberikan Kaffah. Terlebih Kaffah memaksa kemudian menangis karena kue itu tak kunjung diterima sang bocah perempuan.


"Sini biar Ibu panti yang menerimanya Nak soleh," ujar Ibu panti tangannya menengadah.


Tapi kue-nya malah disimpan di belakang tubuh Kaffah, kepalanya menggeleng. Hal tersebut membuat yang melihat kejadian itu semakin terkekeh.


"Sini kue-nya, biar Momyang yang bantu kasih ya," pinta Delmira.


Kaffah terdiam, matanya menatap tajam ke arah Delmira.


"Boleh ya, Momyang yang kasih," rayu Delmira sekali lagi dengan nada lembut.


Baru Kaffah menganggukkan kepala lalu memberikan kue itu pada Delmira.


Delmira pun mendekat ke bocah cantik itu dan memberikan kue yang dipegangnya.


Semuanya kembali tertawa tapi kali ini, diiringi sebuah tawa.


"Kalau Kahfi mau kasih kue nya pada siapa?" lontar Yasmin.


Kahfi langsung memberikan kue itu pada Yasmin.


"Buat aunty?" retoris Yasmin.


Kahfi mengangguk.


"Terima kasih anak pintar," sahut Yasmin mengecup pipi kanan kiri Kahfi tapi Kahfi langsung mengusap bekas ciuman dari Yasmin.


Kembali, semuanya dibuat tertawa karena tingkah dua bocah itu.


Rangkaian acara demi acara, telah berlalu. Tiba waktunya untuk menyantap hidangan.


"Maaf," ucap Yasmin, reflek karena menabrak seseorang dan minuman yang dia bawa sebagian tumpah ke bajunya.


"Aku bersihkan dulu," sambung Yasmin, yang kebetulan ada tisu di atas meja dekat dia berdiri.


Yasmin dengan cepat mengusap bekas minuman yang membasahi baju seseorang.


"Sekali lagi, aku_"


Yasmin diam mematung saat wajahnya menengadah dan melihat sosok yang sangat tidak asing baginya.


"Fernando," lirih Yasmin.


Walau kaku, tapi kenyataannya bibir Fernando dia tarik membentuk sebuah senyum. Singkat , bahkan senyum itu seperti terlihat bukan senyum.


"Maaf," lanjut Yasmin.


"Mau berapa kali minta maaf?" lontar Fernando, kali ini senyumannya sedikit melebar.


Yasmin pun membalas senyum itu.


Fernando mengambil dua minuman yang sama seperti minuman yang tadi Yasmin ambil.


"Sebagai permintaan maaf, kamu harus temani aku duduk dan menikmati minuman ini," pinta Fernando tanpa mendengar persetujuan Yasmin, kakinya melangkah pergi terlebih dahulu.


Mau tidak mau, Yasmin mengejar langkah Fernando. Kemudian duduk di kursi yang satu meja dengan Fernando.


"Bagaimana kabar kamu?" lontar Fernando sebagai basa-basi.

__ADS_1


"Sehat," jawab Yasmin singkat.


"Mama Wulan?"


"Juga sehat."


Yasmin meneguk minuman yang dia pegang untuk mengurangi kegugupan.


"Kamu?" lirih Yasmin, merasa canggung melontarkan tanya.


"Sepertinya kurang baik," sahut Fernando diiringi sebuah senyum membuat Yasmin pun ikut tersenyum.


"Selama enam bulan tanpa sapa dan tanya kabar, apa kamu tidak kehilangan aku?" canda Fernando.


"Kehilangan sih," sahut Yasmin dengan spontan.


Fernando langsung terdiam mendengar jawaban Yasmin, ada getar yang tidak biasa. Bahkan jantungnya pun terpompa tidak normal.


"Tapi kamu jangan berpikir yang tidak-tidak, aku hanya _"


"Hanya kehilangan seorang pelanggan?" cekat Fernando.


Yasmin tersenyum mendengar jawaban Fernando, mulutnya dia bungkam sendiri untuk menahan tawa.


"Kamu bisa aja bercandanya Fer," ujar Yasmin masih menahan tawa.


"Susah sekali menaklukkan hati kamu Yas."


Kini giliran Yasmin yang sontak terdiam mendengar penuturan Fernando.


"Perkataanku sangat serius, tidak ada sedikit pun roman bercanda. Kalau kamu menerima cintaku detik ini juga akan sekalian aku umumkan pada semua tamu undangan yang datang," ungkap Fernando.


Mata Fernando terbelalak, "Se... serius?"


"Aku batalkan kalau kamu meragukan ucapanku," sungut Yasmin.


Dengan wajah berbinar, Fernando gegas berlari ke panggung kecil, mengambil pengeras suara.


"Mohon perhatian, mohon perhatian."


Mata dan telinga tamu undangan hanya tertuju pada Fernando.


"Hari ini, siang ini, tepat pukul 11.20. Aku, Fernando Soler Jaya Sakti melamar perempuan cantik bernama Yasmin Bening Geffrey," ujar Fernando tangannya melambai ke arah Yasmin dan sontak mendapat tepuk sorak Sorai dari tamu undangan.


Fernando turun panggung, mendekat ke arah Yasmin, tangannya menyodorkan sebuah balon yang Fernando ambil di sudut dekorasi ulang tahun.


"Trima! Trima!" sorak para tamu.


Yasmin tersenyum dan tanpa ragu mengambil balon tersebut.


Delmira dan Zaidan yang menyaksikan itu ikut tersenyum bahagia.


"Alhamdulillah," seru Delmira, "mereka serius kan Papyang? Mereka tidak sedang bercanda?" lontar Delmira memastikan kejadian yang menimpa sahabatnya.


"Sepertinya begitu Momyang," jawab Zaidan masih dengan sebuah senyum.


Merek berdua kemudian mendekat ke arah Fernando dan Yasmin yang sedang dikerubuti teman-teman mereka atau pun tamu undangan lain yang sekedar mengucapkan selamat pada keduanya.


"Wih wih wih, jadi aktor dadakan nih," ledek Zaidan.


"Selamat Fer, akhirnya cintamu diterima juga oleh sang pujaan hati," sambung Zaidan.

__ADS_1


Fernando membalas uluran tangan Zaidan dan langsung memeluk tubuh bos sekaligus sahabatnya, "Terima kasih Den, ini juga berkat doa Aden," balas Fernando.


"Ummi juga mau kasih selamat untuk anak Ummi," sela Aisyah yang tiba-tiba datang di antara mereka.


"Ya Allah, Ummi juga lihat aksi Fernando?" lontar Zaidan.


Aisyah mengangguk, "Bener-bener gentle! Keren Fer!" sahut Aisyah mengacungkan dua jempolnya.


"Ummi," sapa Yasmin mencium takdhim punggung tangan Aisyah begitu juga Delmira.


Aisyah memang baru bisa datang, karena ada rapat mendadak dengan seorang mitra kerja. Walaupun itu hari Minggu, mau tidak mau Aisyah harus menemui mitra kerja tersebut karena sang mitra kerja akan segera terbang ke luar negeri.


"Pak Imran, kadonya taruh di antara kado yang lain ya," ujar Aisyah saat Imran membawa kado berukuran besar masuk ke dalam.


"Ya Allah Ummi kan biasa kasih hadiah untuk mereka. Jadi buat apa dikasih hadiah?" protes Delmira.


"Hari ini kan hari istimewa mereka. Tidak salah dong Ummi kasih yang istimewa untuk mereka," sahut Aisyah.


"Hari ini juga hari istimewa kami loh Ummi," sela Fernando.


"Kalau Ummi tahu ada double istimewa di acara ini, insyaallah ummi akan bawa hadiah lain pula," sahut Aisyah diiringi sebuah tawa.


"Cepat nikahi Yasmin, insyaallah hadiah istimewa dari Ummi akan segera Ummi kasih," sambung Aisyah.


"Tuh dengar Fer," imbuh Delmira.


"Ya Nya, aku dengar. Tergantung Yasmin saja. Kalau dalam bulan ini mau menikah denganku, ayo segerakan saja. Aku nunggu apalagi," ujar Fernando penuh kemantapan.


"Cie cie, iyakan Yas," ledek Delmira.


"Issst! Ini ulang tahun anak kamu loh Del, kenapa malah bahas pernikahan kita," protes Yasmin dengan wajah tersipu malu, "aku lapar, mau makan dulu," ucapnya kemudian untuk mengurangi rasa gugupnya, berlalu dari hadapan Delmira Zaidan dan Aisyah. Sedangkan Fernando lebih memilih mengekor langkah kekasihnya.


Delmira dan yang lainnya juga mengambil makanan karena perut sudah mulai terasa keroncongan.


Sedangkan si kembar dijaga suster Fina dan Dila masih asik bermain dengan teman-teman panti asuhan.


Aisyah memilih menemui mitra kerja maupun sahabatnya yang juga hadir di acara.


Sedangkan Delmira dan Zaidan memilih duduk berdua di salah satu sudut tempat duduk.


"Maaf Pak Zaidan, ini dari Nona Putri. Beliau tidak dapat hadir di acara ini dan menitipkan kado ini untuk anak Bapak," ucap seorang yang tidak asing di mata Zaidan.


"Ya, terima kasih," jawab Zaidan, agak ragu menerima kado yang diserahkan lelaki di depannya.


"Nona Putri juga memberi salam untuk istri Bapak," ucapnya mengarahkan pandangan ke Delmira


"Oh, terima kasih, salam balik untuk Nona Putri," jawab Delmira.


"Beliau ingin sekali bertatap langsung pada Anda," ujarnya.


"Bo...boleh," jawab Delmira sedikit terbata.


"Maaf, istri saya setiap harinya sibuk dengan anak-anak jadi untuk keluar saja terkadang repot," sela Zaidan sebagai bentuk penolakan permintaan lelaki tersebut.


Delmira menatap sekilas ke arah Zaidan kemudian langsung dia tundukkan pandangannya.


"Saya hanya menyampaikan keinginan nona Putri. Keputusan ada di tangan istri anda. Maaf, saya permisi dulu," pamitnya, kemudian berlalu dari hadapan Delmira dan Zaidan setelah keduanya mempersilahkan lelaki itu pergi.


Seperginya lelaki itu, kini Delmira menatap suaminya penuh dengan telisik, "Siapa nona Putri?" lontarnya.


malam menyapa πŸ₯± like dong πŸ™ komen dongπŸ™

__ADS_1


__ADS_2