Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 142


__ADS_3

Kaffah menyodorkan satu buah permen pada siswi yang juga ikut terjebak hujan bersamanya.


"Terima kasih," ucapnya mengambil permen itu.


Padahal semua bentuk fisiknya hampir 100% mirip tapi kenapa perasaan siswi itu risih berhadapan dengan Kaffah?


"Mungkin hujannya akan lama, lihat saja langit sangat gelap," ujar Kaffah setelah melihat kondisi alam.


Siswi itu hanya tersenyum kecil sebagai balasan akan prediksi yang terucap oleh Kaffah.


Kaffah melirik tangan siswi itu yang kosong tanpa barang apapun.


"Ke gudang mau apa?" lontar Kaffah.


"Oh, mau buat laporan jumlah barang di ekskul PMR yang telah rusak ," jawabnya.


"Aku Kaffah saudara kembar Kahfi," ucapnya memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangan, merasa kurang afdol karena belum saling kenal.


"Icha," Siswi itu menyebut namanya dan membalas uluran tangan Kahfi.


'Wajah boleh sama, tapi... dari hal ini saja langsung berbeda, Kahfi tidak akan menyodorkan tangan ataupun menyentuh kulit wanita tapi dia...,' monolog batin Icha.


"Baru dipertemukan sekarang dalam situasi yang tidak sengaja. Tapi, kalau pun hari ini kita tidak dipertemukan, aku tetap akan menemui kamu."


"Menemui aku? Untuk?"


"Aku perlu tahu gadis yang dekat dengan Kahfi itu siapa? Jangan sampai dia dimanfaatkan oleh seorang," seloroh Kaffah membuat bibir Icha menyungging.


Jeder!!!


Tiba-tiba saja suara guntur menggelegar.


Icha dengan reflek menutup telinga dan memejamkan mata.


Kaffah gegas masuk ruang menyalakan lampu gudang.


"Masuklah, kita tidak aman di luar, takutnya ada petir lagi," pinta Kaffah, keluar mempersilahkan Icha.


Icha membuka matanya, terlihat ragu untuk masuk bersama di satu ruangan dengan orang asing.


"Sebentar lagi akan reda hujannya," balas Icha, dengan ujung kata yang dia ucapkan dengan keras karena sangat kaget ada petir lagi.


Icha terlihat memejamkan mata, tubuh sedikit membungkuk dan tangan menutup dua telinga.


Kaffah tersenyum menggeleng, mendengar penolakan Icha tapi kenyataan, wajahnya terlihat sangat takut.


"Ya sudah kamu tunggu di luar saja," balas Kaffah kakinya berjalan melewati ambang pintu untuk masuk ke ruang gudang, tapi berharap Icha juga akan menyusulnya.


Icha ternyata perlahan mengekor langkah Kaffah.


Bugh.


Tubuh Icha mental seketika saat Kaffah berhenti secara mendadak padahal Icha tengah mengekor, tangan masih membekap dua telinga, pandangan ditundukkan ke bawah.


"Ma... maaf," gagap Icha.


Kaffah mendecih melihat kelakuan Icha.


"Yang begini kok kamu taksir Fi," gumam Kaffah.


Icha langsung membulatkan mata, menengadahkan pandangannya, menatap lelaki yang bergumam tersebut.

__ADS_1


"Apa maksud kamu?" lontar Icha karena merasa gumaman yang dia dengar dari mulut lelaki di depannya adalah sebuah ejekan untuk dirinya.


"Ada cicak di pundak kamu," sahut Kaffah.


"Kamu jangan mengalihkan pembicaraan, bilang saja yang keras!" kesal Icha menaikkan nada suara.


Lagi Kaffah mendecih, "Kalau tidak percaya lihat saja," selorohnya lalu melangkah keluar ruangan melihat langit yang mulai cerah dan hujan tinggal rintik-rintik.


"Auw!" jerit Icha.


Kaffah hanya tersenyum menimpalinya. Dia tetap saja berjalan hingga jauh meninggalkan gudang yang memang letaknya terpisah dari bangunan-bangunan yang lain.


"Kahfi, lihat Icha tidak?" lontar seseorang yang kebetulan melewati Kaffah yang sedang berjalan.


"Dia di gudang," jawab Kaffah tanpa mengklarifikasi identitas yang disematkan pada dirinya salah.


Siswi itu berlari ke arah gudang. Sedangkan Kaffah tetap berjalan untuk ke musala sekolah karena waktu istirahat kedua hampir habis.


"Kenapa juga tadi aku langsung ke gudang. Jadinya ya begini, waktu istirahat hampir habis," gerutu Kaffah.


Icha lari dari dalam gudang dan menabrak seseorang yang akan masuk ke gudang.


"Astaghfirullah haladhim, kenapa sih Cha pakai lari-lari segala!" protes Sasi.


"Ya Allah, kamu Sas? Alhamdulillah akhirnya datang manusia sungguhan," ujar Icha, mengelus dadanya.


"Memang ada yang datang ke sini? dan bukan manusia sungguhan?"


"Dia monster!" sahut Icha dengan sengit.


"Oh, jadi dia baru ke sini?" ledek Sasi dan mengartikan ucapan Icha, kalau yang datang ke gudang adalah Kahfi.


"Kamu melihatnya? Menyebalkan tidak, orang sedang ketakutan karena cicak yang nemplok di bahuku malah ngeloyor pergi tanpa membantu membuang cicak itu," gerutu Icha naik turun napasnya.


"Sudah ngocehnya?!" cekat Icha yang akhirnya bisa menyela bicara Sasi.


"Kok begitu sih," lirih Sasi pura-pura ngambek.


"Dia buka Kahfi! Mana mungkin Kahfi akan berbuat semenjengkelkan dan sekejam itu!" seru Icha, "dasar orang-orangan sawah!" umpatnya kemudian.


Sasi malah terkekeh melihat wajah Icha.


"Mengapa kamu malah tertawa? Apa ada yang lucu?!"


"Sangat lucu, selama tiga tahun kita bersama, baru pertama kalinya aku melihat kamu semarah ini, sudah gitu pakai ngumpat orang segala," ujar Sasi.


"Sudah ah, jangan bahas dia lagi! Malas aku, baru juga pertama bertemu, ya Allah kok nyebelin banget! Kembar sih kembar tapi beda sekali sifatnya!"


"Kalau di suruh milih antara Kaffah dan Kahfi, kamu pilih siapa?" tanya Sasi.


"Ya jelas Kahfi lah," sahut Icha dengan spontan memilih salah satu.


"Cie cie..., yang lebih pilih Kahfi," ledek Sasi.


"Ya... ya bukan itu maksudku, aku_"


"Tidak usah disangkal, jawaban kamu kan memang jujur dari lubuk hati terdalam," cekat Sasi dengan menaik-naikan dua alisnya.


Cepat kamu bantu hitung dan klasifikasikan barang yang rusak," ujar Icha untuk mengalihkan pembicaraan dan tentunya untuk menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba mendera karena ledekan yang terus saja dilontarkan temannya itu.


Sementara itu, Kaffah berjalan gegas keluar dari musala setelah menunaikan salat asar.

__ADS_1


"Kamu juga dari musala?" tanya Kaffah pada Nabila yang kebetulan bersamaan lewat gerbang musala.


"Tidak! Aku dari swalayan!" sahut Nabila menjawab retoris Kaffah lalu kakinya berjalan mendahului langkah Kaffah.


"Issst! Dasar cewek jadi-jadian!" umpat Kaffah berteriak, "aku sudah sopan dan baik hati menyapa kamu malah jawabannya ketus! Nyesel nyapa kamu, mending nyapa orang gila di traffic light!" imbuh Kaffah masih saja dongkol.


Nabila membalikkan tubuh, mengurungkan niat untuk melanjutkan jalan.


"Tidak apa-apa dibilang cewek jadi-jadian asal sudah laku! Dari pada kamu, yang katanya cowok keren malah nggak laku," ejek Nabila. Namun, langkah kakinya kini terhenti karena mendapat senyum dari saudara kembar Kaffah yang datang dari arah berlawanan.


Nabila terkejut, tidak sempat membalas senyum Kahfi tapi mulutnya yang menganga sebagai jawaban kalau dirinya sangat terpesona pada lelaki yang kini berdiri di depannya.


"Air liur tuh dilap biar nggak ngeces ke baju!" sindir Kaffah melihat reaksi dari Nabila yang terdiam mematung.


Nabila langsung nyeringis, menarik ujung bajunya.


"Ya sudah sana, katanya mau pergi!" usir Kaffah kemudian.


"Nggak jadi!" sahut Nabila, lalu nyeringis ke arah Kaffah.


"Jangan modus!" sindir Kaffah.


Kahfi hanya melebarkan senyum melihat tingkah dua orang di depannya.


"Sudah sana pergi!" seru Kaffah, kali ini sambil mendorong punggung Nabila.


"Biarkan saja, dia tidak ingin pergi dari kamu," ledek Kahfi.


"Tuh, Kahfi saja tidak melarang aku," protes Nabila, matanya kemudian dia kerlingkan.


"Ini tentang lelaki! Apa kamu juga mau ikut nimbrung hah?!" protes Kaffah.


Nabila menatap Kahfi, lelaki itu melebarkan senyum, "Ya sudah aku pergi saja. Aku pergi dulu Kahfi," pamit Nabila.


Hust


hust


hust.


Tangan Kaffah sontak melambai seperti mengusir ayam yang naik teras rumah.


"Makanlah," ucap Kahfi menyerahkan plastik hitam.


Kaffah menerima plastik itu dan membukanya, "Kenapa bawa kesini? Aku kan sudah kirim pesan ke kamu, taruh di kelas saja.


"Makan dulu," titah Kahfi mengajak duduk di sekitar mereka berdiri.


Kaffah mencuci tangannya sebelum mendudukkan pantatnya di samping Kahfi. Membaca doa lalu memakan bekal itu.


"Tadinya aku mau naruh di meja kelas, tapi kebetulan ada teman bela diri kamu, dia bilang kamu ada di gudang belakang. Ya sudah aku jemput kamu ke sana karena kebetulan aku juga akan ke sana," terang Kahfi.


"Kamu ke gudang?" tanya Kaffah memastikan.


Kahfi menggeleng dengan melempar sebuah senyum.


"Tidak ke sana?" ulang Kaffah memastikan.


"Saat hendak jalan ke gudang, tiba-tiba hujan turun. Terpaksa aku tidak melanjutkan jalan, hanya bisa memandang gedung bangunan itu dari ruang terakhir. Aku tidak mungkin lari menuju gudang, bisa basah kuyup nantinya," sambung Kahfi.


"Di sana ada Icha," akui Kaffah sebelum saudaranya berprasangka macam-macam.

__ADS_1


"Aku tahu," cekat Kahfi, lalu dagunya menunjuk pada makanan yang sedang dimakan Kahfi agar dia meneruskan makannya.


__ADS_2