Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 37


__ADS_3

"Hai Del," sapanya setelah mendekat Delmira dan Zaidan.


"Hai Mei," balas Delmira saling mencium pipi kanan-kiri.


"Hai Zaid," sapa pula Meilin pada Zaidan.


"Hai," balas Zaidan.


"Kamu di sini?" tanya Delmira.


"Ya, hanya ingin jalan, sedikit menghilangkan penat."


"Sendiri?"


"Bukannya tadi aku ajak kamu, ternyata kamu kencan dengan suamimu," ledek Meilin sambil melempar senyum.


"Ya maaf, sebelumnya aku sudah janji dengan suamiku," jawab Delmira sebagai alasan.


"Aku lihat kalian semakin lengket? Tidak menyangka secepat ini Delmira move on. Aku turut berbahagia," ucap Meilin.


Entah kenapa Delmira sedikit tersindir dengan ucapan Meilin. 'Apa dia menyindirku atau hanya akting di depan Zaidan?' tanya batin Delmira.


"Terima kasih, Delmira lucu dan sangat baik dengan Ummi. Bagaimana aku bisa biarkan dia tidak bahagia denganku?" sahut Zaidan merasa harus membalas ucapan Meilin.


Meilin tersenyum kaku, "Oh, Delmira memang orang yang sangat baik dia memang patut bahagia," ujar Meilin.


"Hampir Magrib Del, apa sebaiknya kita pulang?" tawar Zaidan mengalihkan pembicaraan.


"Kamu salat saja di masjid, aku nunggu kamu di sini."


"Tidak ke masjid bersama?"


Wajah Delmira nampak ragu, dia selalu risih ketika Zaidan menawarkan untuk salat.


"E ... aku dengan Meilin di sini. Itu masjidnya dekat," jawab Delmira, telunjuknya menunjuk ke arah masjid yang tidak jauh dari taman.


Zaidan mengangguk pelan, "Assalamualaikum," pamit Zaidan walaupun Zaidan kecewa dengan penolakan Delmira. Namun, hatinya pantang tidak menyelipkan doa untuk istrinya.


"Waalaikum salam," lirih Delmira.


"Banyak sekali perubahan kamu," ucap Meilin setelah tubuh Zaidan sudah tak terlihat sejauh mata memandang.


"Perubahan apa?" tanya Delmira dengan ragu.


"Cara pandang kamu terhadap musuh kamu," ketus Meilin.


Delmira menggigit sedotan yang akan dia pakai untuk meminum sisa lemon tea.


"Aku_"


"Jangan sampai kamu baper, jatuh cinta dengan dia dan kamu melupakan dendam kamu!" cekat Meilin penuh penekanan.


"Apa perlu aku ingatkan kembali? orang tuanya telah membunuh orang tua kamu, anak, dan suamimu!" Satu empasan napas menjeda kalimat.


"Aku hanya mengingatkan. Aku merasa tidak rela saja, ada orang baik yang menjadi korban dari kecerobohan orang tua Zaidan!" sambung Meilin masih dengan nada yang sama dan tangan kanannya bergerak menepuk bahu Delmira.


"Aku cabut, by...," pamit Meilin, tanpa mendengar sahutan Delmira kakinya gegas melangkah pergi.

__ADS_1


Selang beberapa menit kemudian, Zaidan mendekat ke arah Delmira yang duduk mematung.


"Astaghfirullah haladhim magrib-magrib begini mengapa melamun?" ujar Zaidan. Namun, Delmira yang tetap tak bergeming dengan ucapan Zaidan.


"Kamu cantik kalau diam seperti ini Del," lirih Zaidan matanya kini lekat menatap istrinya. Dua lutut dijadikan alas untuk dia jongkok, lalu dengan berani Zaidan meraih tangan Delmira dan menciumnya pelan.


(Beranilah orang yang dicium sedang melamun, coba kalau sadar?)


"Kamu sedang apa?" terkejut Delmira merasa tangannya dalam genggaman Zaidan.


"Mengajak kami pulang," sahut Zaidan berdiri dari jongkok dan menggandeng tangan Delmira.


"Aku bisa jalan sendiri," tolak Delmira, mengempaskan tangan Zaidan dan berjalan mundur satu langkah dari Zaidan.


"Takutnya kamu nyasar karena lamunan kamu."


"Siapa juga yang melamun!" elak Delmira.


Zaidan hanya membalas dengan sebuah senyum. Langkahnya dipelankan agar jalan sejajar dengan Delmira.


"Cepat kamu duluan!" titah Delmira mendorong tubuh Zaidan.


Zaidan terkekeh, memberatkan kakinya agar tidak mudah didorong Delmira.


"Zaid!" teriak Delmira, Zaidan semakin terkekeh, dan ...


Bugh.


Tanpa sengaja ketika Zaidan membalikkan tubuh dan Delmira yang siap akan mendorong tubuh Zaidan kini masuk dalam tubuh kekar Zaidan.


Mata Delmira tepat memandang dada bidang Zaidan, walaupun tertutup kain tapi Delmira dapat merasakan perut dan dada yang atletis milik Zaidan.


Delmira terkesiap, menyadari akan kebodohannya yang hampir saja meraba dada atletis milik Zaidan.


"Siapa juga yang mau raba! Aku itu mau dorong kamu!" seru Delmira dengan kuat mendorong tubuh Zaidan hingga terdorong ke belakang. Delmira kemudian melangkahkan kakinya kembali menuju mobil.


'Del! Bodoh sekali kamu! Apa sih yang ada dalam otakmu!' batin Delmira mengumpat diri.


...****************...


"Mengapa dia kepo sekali! Sampai ambil undangan dari panti segala!" gerutu Delmira, mengambil undangan yang ada di nakas sebelah tempat tidur Zaidan.


Mata Delmira terbelalak ketika undangan itu sudah di tangannya, bukan namanya yang tertera di undangan tersebut melainkan nama Zaidan.


"Ada apa Miss?" tanya Zaidan memandang Delmira yang terlihat terkejut.


"Ka... kamu juga dapat undangan dari panti asuhan Raudhatul Jannah?" tanya Delmira masih dengan raut yang terkejut.


Zaidan mengangguk pelan, "Kamu juga dapat?"


Delmira mengangguk tapi seketika menggeleng. Zaidan yang mengerti Delmira berbohong segera gegas memutar kaki melangkah ke nakas samping tidur Delmira karena di situ juga terlihat ada sebuah undangan yang sama persis punyanya.


Dua sudut bibir Zaidan ditarik membentuk sebuah senyum ketika melihat nama yang tertera di undangan.


"Kita berangkat bersama," titah Zaidan, tangannya merangkul bahu Delmira agar keluar beriringan.


"Aku bisa jalan sendiri!" tolak Delmira mengibas tangan Zaidan.

__ADS_1


Setelah sampai di garasi mobil, Zaidan yang sudah membuka pintu merasa terkejut karena Delmira malah masuk ke dalam mobilnya.


"Mrs. Delmira...," gemas Zaidan berjalan cepat menuju mobil Delmira dan tanpa aba-aba mengangkat tubuh Delmira keluar dari kursi pengemudi.


"Turunin aku!" teriak Delmira meronta-ronta sekuat tenaga. Namun tetap saja tubuh besar Zaidan telah menguasainya hingga dia didudukkan di kursi penumpang di samping kursi pengemudi.


Bibir Delmira mengerucut kesal, tangannya berpangku, dan tatapannya menatap keluar jendela. Mobil itu mulai melaju memasuki jalanan kota saling berkejaran dengan kendaraan lain. Sepanjang jalan tidak ada suara di antara mereka hingga mobil itu terparkir sempurna di panti asuhan Raudhatul Jannah.


"Bagaimana bisa ternyata kita dapat undangan di tempat yang sama!" keluh Delmira tapi masih jelas terdengar oleh telinga Zaidan.


"Itu namanya jodoh Sayang," sahut Zaidan tangannya refleks menyentuh pucuk kepala Delmira.


"Aduh, aduh," ringis Zaidan karena tangan yang baru mendarat di pucuk kepala sang istri, dengan kuat dia plintir.


"Awas berani macam-macam! Ini asetku!" gerutu Delmira, melepas tangan Zaidan. Lalu kakinya segera turun dari mobil.


Zaidan hanya dapat menggelengkan kepalanya, "galak tapi cantik, terlanjur cinta walau sangar," gumamnya dan satu senyum tergambar di wajah.


Delmira jalan terlebih dahulu baru Zaidan menyusul. Mereka duduk lesehan di dalam masjid yang akan di resmikan.


"Loh, Ummi juga datang?" terkejut Delmira.


Aisyah tersenyum, lalu mencium pipi kanan kiri menantunya.


"Kamu cantik sekali, pakai jilbab ini Nak," puji Aisyah berharap Delmira bisa Istiqomah mengenakan penutup kepala itu.


Delmira hanya membalas dengan seutas senyum.


"Romantisnya, yang datang bareng suami," ledek Aisyah berbisik di telinga Delmira.


"Ummi dan Zaidan sudah tahu ya, Minggu ini aku menghadiri undangan dari panti asuhan Raudhatul Jannah?" sahut Delmira.


"Kemarin OB rumah sakit mau kasih undangan itu ke ruang kerja kamu. Ummi minta undangan itu ternyata undangan sama yang juga diterima Zaidan. Kalau Zaidan tentu belum tahu karena sengaja Ummi tidak beritahu dia."


Acara sudah dimulai, Delmira dan Aisyah duduk berdampingan. Sedangkan Zaidan terpisah sekat yang memisahkan antara barisan laki-laki dan perempuan.


'Masyaallah Del, ternyata kamu wanita yang dermawan. Donatur bulanan sekaligus menyumbang uang jualan mobil untuk pembangunan masjid,' gumam batin Aisyah matanya melirik pada menantunya yang masih seksama mendengar seorang ustadz kondang yang sedang berdakwa.


Aisyah mengirim satu gambar ke nomor anaknya.


Zaidan yang merasa ponselnya bergetar gegas merogoh ponselnya.


'Masyaallah Delmira, ternyata sumbangan atas nama Mrs. Del itu kamu,' batin Zaidan.


'Semoga sifat dermawan kamu menjadi salah satu pembuka pintu hidayah untukmu istriku,' lanjut batin Zaidan bermonolog.


...****************...


Zaidan menyandarkan punggung di kursi. Tangannya bergerak meraup wajah yang terlihat gusar. Matanya menatap tajam ke arah tumpukan berkas yang ada di atas meja kerja.


'Haruskah aku buka berkas dari Fernando?' monolog batin Zaidan, mengingat kejadian tempo sore itu ketika jalan bersama Delmira dan bertemu secara tidak sengaja dengan Meilin.


Tiga hari lalu, tanpa sepengetahuannya, Fernando menyelidiki tentang Meilin.


Saat itu Zaidan hanya menyuruh Fernando menaruh berkas tersebut di atas meja kerja. Dia sudah meminta maaf pada Delmira untuk tidak ikut campur lebih jauh urusan rumah tangga Delmira yang dulu. Otomatis dirinya pun harus menghentikan niatnya untuk menyelidiki kemungkinan Meilin yang menjadi selingkuhan almarhum suami Delmira.


Tangan Zaidan bergerak mengambil berkas itu. Namun, tiba-tiba keraguan menyeruak dan menyerukan agar tidak membuka berkas itu.

__ADS_1


"Aden harus baca berkasnya kalau ingin melindungi Delmira dari wanita licik itu!" ucap Fernando yang muncul dari balik pintu ruang.


malam menyapa πŸ€— jangan lupa like komen hadiah vote rate πŸ™ lope lope buat kalian yang masih setia membaca novel ini😍πŸ₯°πŸ˜˜


__ADS_2