Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 29


__ADS_3

Zaidan menepikan mobilnya karena bukan jawaban yang didapatnya melainkan tangisan dari Delmira. Ya, walaupun Delmira secara sembunyi menyeka air matanya tapi jelas Zaidan yang sedari tadi melirik ke arah Delmira tahu kalau wanitanya sedang tidak baik-baik saja.


"Berbagilah denganku kalau itu bisa membuat beban yang kamu panggul bisa berkurang," ucap Zaidan dengan lembut.


"Aku harus cepat sampai di rumah sakit, kamu lajukan mobilnya," protes Delmira tanpa membalas permintaan dari Zaidan.


Zaidan menangkupkan dua tangannya di rahang Delmira lalu mendongakkan wajah Delmira agar menatap wajahnya.


"Kalau ada air mata seperti ini, takutnya jadi fitnah untuk teman kantor kamu. Dikira aku ngapain kamu," ucap Zaidan menyapu sisa air mata yang terlanjur mengalir dari mata Delmira.


"Bila ingin menangis, menangis lah, jangan ditahan karena akan menyesakkan dada. Anggap aku tidak di sini, aku akan menatap ke sembarang arah," ujar Zaidan lalu memalingkan wajahnya menghadap ke sisi sebelah, luar jendela.


Delmira tidak dapat membendung rasa sakitnya lagi, sekuat-kuatnya manusia, tetap saja ada titik dimana kekuatannya tiba-tiba lebur begitu saja dengan tangisan.


Ada rasa sesak yang menyeruak di dada Zaidan mendengar tangis wanitanya, ingin sekali meraih tubuh kecilnya dalam pelukan tapi hati lain mengatakan untuk memberi kesempatan agar Delmira tenang dengan sendirinya.


'Aku ikut sedih ketika kau sedih, aku ikut bahagia ketika wajah kamu memancarkan kebahagiaan. Apakah aku sudah mencintai kamu? Mrs. Delmira, aku sudah berucap akan membuat kamu mencintaiku terlebih dulu. Namun, aku takut hal yang kulakukan karena ambisi agar kamu mencintaiku, setelah kamu benar-benar mencintaiku aku melepasmu karena tantanganku sudah berhasil. Astaghfirullah haladhim, sungguh niat karena Allah itu lebih utama dadi segalanya. Beri jalan petunjuk-Mu ya Allah. Aku memang harus mencintainya karena aku sudah berjanji di depan-Mu dalam ikatan suci sebuah pernikahan,' monolog batin Zaidan.


Tidak dipungkiri, Zaidan belum lama menikah dengan Delmira dan sebelumnya sudah ada wanita yang singgah di hatinya, meskipun Khanza sudah benar-benar dia lepas dari angan asanya. Maka tidak mudah Zaidan menerka apa hatinya sudah pindah lain hati pada kekasih halalnya ataukah belum.


Setelah melihat Delmira tenang Zaidan melajukan mobilnya kembali.


Zaidan gegas membuka pintu mobil Delmira setelah mobilnya terparkir di rumah sakit.


"Terima kasih," ucap Delmira membuat dua sudut bibir Zaidan mengembang, pasalnya baru kali ini Delmira mengucapkan itu padanya.


Zaidan memberanikan diri menyodorkan tangan.


Secara bergantian Delmira menatap tangan dan wajah Zaidan, dengan ragu Delmira meraih tangan itu untuk bersalaman. Namun, tanpa cium punggung tangan.


Zaidan tersenyum kembali, dengan sigap dirinya menarik tubuh Delmira dan...


cup.


Satu kecupan mendarat di dahi Delmira.


"Zaid!" pekik Delmira melorotkan mata.


"Karena kamu tidak mau mencium tangan suami kamu maka suamimu yang mencium dahi kamu," ujar Zaidan berargumen.


"Issst!" Tangan Delmira mengusap dahinya, bukan marah malah Zaidan tersenyum hingga barisan giginya terlihat.


Delmira ngeloyor pergi.


"Jangan lupa nanti sore jemput aku!" teriak Delmira karena posisinya sudah jauh dari Zaidan dan tubuhnya tanpa berbalik memandang ke arah Zaidan.


"Insyaallah istriku," sahut Zaidan tapi dengan suara lirih dan senyumnya masih mengembang.


...****************...


Sore hari telah menyapa. Pegawai rumah sakit bagian administrasi sudah mulai kemas-kemas untuk pulang.


"Ummi," panggil Delmira melihat Aisyah berjalan dari arah gedung rumah sakit.

__ADS_1


Dia baru saja mendapat balasan pesan kalau Zaidan tidak bisa jemput karena kurang enak badan. Sebab itu dia menunggu Aisyah untuk pulang ke rumah.


Aisyah menyodorkan tangannya, Delmira meraih lalu mencium punggung tangan mertuanya.


"Sudah lama Nak?" tanya Aisyah membuka kunci mobil lalu kakinya melangkah masuk.


"Sekitar 5 menit Ummi," jawab Delmira yang ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang samping pengemudi.


"Zaidan sakit apa? Malah Ummi baru dikasih kabar dan ini buru-buru turun karena kamu tidak ada yang jemput," ujar Aisyah.


"Mungkin kecapean Mi," jawab Delmira.


"Mungkin," sahut Aisyah lalu melajukan mobilnya.


Sesampai di rumah, gegas Delmira dan Aisyah masuk kamar. Di sana terlihat Zaidan yang sedang berbaring di ranjang.


Aisyah menempelkan punggung tangannya di kening Zaidan.


"Sudah menghubungi dokter Fer?" tanya Aisyah pada Fernando yang duduk di sofa kamar.


"Sudah Ummi, tadi dokter sudah memeriksa den Zaidan. Ini obatnya, kata dokter gejala typus," terang Fernando.


"Asupan makan dijaga Nak, jangan forsir otak, kasihan dia juga butuh istirahat. Akhirnya gini kan diistirahatkan," celoteh Aisyah.


"Ummi, mau mandi dulu. Del, titip Zaidan. Dia suka rewel kalau sedang sakit," ujar Aisyah yang diangguki Delmira.


Fernando mengekor langkah Aisyah keluar kamar.


"Hmmm," sahut Zaidan hanya mengiyakan ucapan Delmira karena kepalanya terasa berat dan badannya terasa tidak enak.


Delmira melangkah masuk ke toilet kamar untuk bebersih.


Magrib telah menyapa ketika Delmira sudah duduk di tepi ranjang sambil memegang ponselnya.


"Mau kemana?" tanya Delmira melihat Zaidan bergerak.


"Biar aku bantu," tawar Delmira melihat Zaidan yang bangkit dari rebahannya.


Zaidan masuk ke toilet kamar dengan posisi dipapah Delmira. Setelah Zaidan masuk Delmira berdiri mematung di pintu toilet kamar.


Tidak lama setelah itu, pintu toilet terbuka.


"Aku bantu," ujar Delmira yang langsung memegang lengan Zaidan.


Zaidan mendengus sambil tersenyum dan nampak barisan gigi putihnya.


"Sempat-sempatnya senyum padahal sedang sakit," gerutu Delmira melihat lelaki di sampingnya melebarkan senyum.


"Sayang, wudu aku batal karena kulit kamu menempel kulitku," ujar Zaidan masih dengan senyum.


"Oh, batal?" bingung Delmira langsung melepas tangannya dari lengan Zaidan.


Kaki Zaidan kembali masuk ke toilet kamar.

__ADS_1


Ketika Zaidan keluar toilet dia menatap Delmira yang duduk di sofa kamar, pandangannya beralih pada sajadah yang sudah digelar rapi.


"Mau ikut salat?" tawar Zaidan pada wanitanya. Bukan basa-basi tapi itu murni dari hati, dengan satu harapan suatu saat Delmira mau menjadi makmum dalam jamaah tiap rakaat salat.


Delmira pura-pura tidak mendengar tawaran Zaidan, matanya tetap fokus pada ponsel yang dia pegang.


'Dia taat sekali, masih sakitpun sempatnya mau salat. Harusnya istirahat dulu kan bisa,' batin Delmira berkata melihat Zaidan sedang khusyuk menjalankan salat.


Kaki Delmira melangkah untuk membuka pintu kamar yang diketuk.


"Makan malamnya Non."


"Bawa masuk saja Mbok, taruh di meja," jawab Delmira memberi akses jalan agar mbok Muna dan mbak Ipeh menaruh nampan berisi nasi dan lauk tidak ketinggalan air putih.


Seusai Zaidan salat dan menata sajadah, Delmira menawarkan Zaidan untuk makan.


"Kamu dulu yang makan, perut aku masih penuh," tolak Zaidan.


"Penuh apa? Penuh angin!" greget Delmira langsung mengambil piring diisi nasi dan sayur sop daging.


Kakinya melangkah dan pantatnya dia dudukkan di tepi ranjang, "Makanlah," tawar Delmira sudah menyodorkan satu sendok isi nasi dan sayur ke mulut Zaidan.


"Belum berdoa Sayang," ucap Zaidan.


"Hmmm," dengung Delmira menarik satu sudut bibir, bukan kesal karena penolakan dari Zaidan tapi kesal karena lelaki yang sedang duduk menyandar di kepala ranjang, memanggilnya dengan sapaan sayang.


Satu suap masuk mulut setelah Zaidan berdoa.


"Ikhlas tidak nyuapi aku?" lontar Zaidan melihat sedari tadi raut muka Delmira ditekuk, tentunya setelah makanan yang ada di mulut Zaidan sudah ditelan.


"Ikhlas sekali! Asal tidak usah panggil sayang, sayang, sayang," jawab Delmira dengan mulut dimain-mainkan karena kesal.


cup.


Dengan cepat Zaidan menyambar bi*bir wanitanya. Mata Delmira membulat karena serangan mendadak dari Zaidan.


"Terima kasih mau menyuapi suamimu. Makannya cukup, Alhamdulillah sudah kenyang," ucap Zaidan dengan wajah tanpa salah.


Sedangkan Delmira hanya menelan salivanya dengan susah, dan entah kenapa dirinya yang malah salah tingkah, sampai memilih keluar kamar.


Zaidan tersenyum melihat Delmira yang salah tingkah, "Sepertinya saran dari Ummi ada benarnya," gumam Zaidan mengingat Ummi Aisyah menyarankan agar dirinya sedikit agresif.


Zaidan memegang dadanya, tangannya merasakan detak jantung yang berdetak tidak normal, 'Aku juga sangat gugup Mrs. Delmira,' batin Zaidan.


Jangan tanya apakah itu ciuman pertama bagi Zaidan? Jelas itu ciuman pertama, karena selama ini Zaidan menjaga nafsunya hanya untuk wanita yang sudah berlebel halal.


Zaidan mengembangkan dua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyum, "Apa ini yang dinamakan jatuh cinta pada istri sendiri?" tanya Zaidan pada diri sendiri.


"Sedang sakit sampai tidak terasa sakit," monolog Zaidan terus melebarkan senyum.


"Masyaallah...apa hati aku terlihat mengeluarkan bunga-bunga karena ini?" lanjut monolog Zaidan.


sore menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏

__ADS_1


__ADS_2