Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 122


__ADS_3

Gerombolan siswi yang sejak awal sudah duduk di sudut kursi kantin langsung terdiam. Mereka tahu, siapa yang mereka hadapi.


"Lebih baik kita pergi," usul salah satu dari mereka dan gegas pergi dari kantin.


"Dasar orang susah! Berani-beraninya mau bersaing denganku!" umpat salah satu siswi yang mengaku si kembar adalah miliknya.


"Tenang saja Sheila, dia bukan apa-apa di depan kamu. Mereka bukan saingan! Hanya sebatas upil yang harus disingkirkan!" kelekar Novia.


Tawa pun keluar dari mulut mereka bertiga.


"Kamu bisa lihat, dari jauh pun pesona Kaffah terpancar terang," ucap Ariyana.


"Pesona Kahfi lebih memancar dibandingkan Kaffah," sanggah Sheilla.


"Terserah kalian mau Kaffah atau Kahfi. Yang jelas, aku ingin lihat. Siapa yang terlebih dulu memiliki mereka!" tantang Novia.


"Kalau sampai aku tidak dapetin Kahfi, aku bakal kasih member klinik kecantikan buat kalian!" ujar Sheilla penuh antusias, "aku pastikan tidak butuh waktu lama, Kahfi bertekuk lutut di kakiku!" imbuhnya.


Sheilla terkekeh.


"Jangan remehkan aku! Kaffah juga bakal aku miliki dalam waktu dekat ini!" balas Sheilla.


"Maaf!" ucap Kahfi saat bangkit dari kursi duduk, lalu hendak jalan, secara tidak sengaja menabrak seorang siswi.


"Oh my God! Lihat-lihat dong kalau jalan! Basahkan bajuku!" serunya, mengerucutkan bibir, tangan bergerak membersihkan bajunya.


Kahfi langsung mengambilkan tisu dan disodorkan pada siswi tersebut, "Maaf," ulangnya, merasa sangat bersalah.


"Maaf! Maaf! Enak bener ngomong maaf! Punya mata makanya dipakai! Jangan mata melebar kalau lihat yang bening!" sungut siswi itu, kemudian beranjak dari hadapan Kaffah dan Kahfi.


"Hei! My brother sudah minta maaf, mengapa masih ngomel?!" bela Kaffah.


Siswi itu menghentikan langkahnya, membalikkan tubuh, lalu mendekat ke arah Kaffah, "Emang benerkan! Sekedar maaf apa bisa membuat bajuku jadi kering!" lawan sang gadis.


Kaffah mendengus, "Kamu_"


"Kaffah, kita pergi saja," potong Kahfi menarik tubuh saudara kembarnya agar pergi dari siswi itu.


Sheilla meremat jemarinya menyaksikan kekurangajaran siswi baru itu pada Kahfi. Matanya menatap tajam, bak elang siap menerkam mangsanya.


"Novia, cari tahu siapa cewek itu!" titah Ariyana, kemudian ngeloyor pergi dari kantin.


"Siap!" jawab Novia dengan cekatan, kakinya menyusul langkah Sheilla.


Kahfi melepas tangannya ketika merasa sudah jauh dari sisiwi tersebut.


"Sok banget tuh cewek! Emangnya kita tidak bisa ganti tuh baju! Sepuluh kali pun kita bisa ganti!" greget Kaffah.


"Kamu punya duit?" lontar Kahfi.


Kaffah terlihat nyeringis, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Ya aku pinjam duitnya kamu dulu," ujarnya.


Kahfi menyunggingkan senyum, "Kalau tidak punya duit jangan sok belagu," seru Kahfi, melanjutkan jalannya menuju kelas.

__ADS_1


Kaffah pun melangkah mengekor.


Begitu mereka masuk kelas, bel masuk berbunyi nyaring.


Satu, dua tiga, jam pelajaran telah terlewati. Waktu menunjukkan pukul 12.25 WIB. Tandanya memasuki istirahat ke-2. Gegas siswa SMA Mandiri Berbudi, berhamburan keluar kelas. Ada yang langsung makan siang, ada yang memilih ngobrol dengan teman, ada pula yang gegas untuk ikut jamaah di masjid sekolah.


Kaffah dan Kahfi termasuk anak yang memilih jamaah di masjid. Mereka sudah ada di barisan shaf, menunggu seorang imam untuk memimpin salat jamaah.


Setelah iqamah dikumandangkan. Serentak jamaah berdiri dan meluruskan shaf, siap untuk menjalankan ibadah, menghadap Sang Penguasa.


Selesai mengerjakan salat, Kaffah dan Kahfi memilih ke ruang kelas untuk mengambil bekal makanan.


Jadi, di SMA Merdeka Berbudi, setiap anak diwajibkan membawa bekal untuk makan siang. Kemudian sekolah memfasilitasi semua siswa yang makan siang agar makan satu ruang.


"Tertukar," ujar Kaffah ketika membuka tepak makan dan menunya berisi sayur.


"Menu sama?" sambung Kaffah merasa bingung.


Kahfi terlihat menampilkan sebuah senyum, "Coba saja, pasti enak kok," ujar Kahfi.


"Tidak!" kekeh Kaffah dengan wajah masam.


"Boleh gabung?" sela seorang siswi tangannya, membawa tepak makan.


Kaffah menengadahkan wajahnya, sedangkan Kahfi lebih memilih mengalihkan pandangan ke isi tepak makan, lalu menyendok dan memasukkan ke dalam mulut.


"Gabunglah," sahut Kaffah dengan sungkan.


Siswi tersebut mendudukkan pantatnya di kursi kosong disusul dua temannya.


"Perkenalkan, aku Sheilla," ujarnya menyodorkan tangan pada Kahfi.


"Percuma minta dia membalas sodoran tangan kamu," ujar Kaffah melihat saudaranya enggan membalas untuk sekedar jabat tangan.


"Tangan aku bersih, tadi baru saja cuci tangan," ucap Sheilla, membela diri.


"Bukan masalah bersih tidaknya tangan kamu. Tapi masalah keteguhan sebuah iman. Kahfi tidak akan menyentuh kulit wanita bukan muhrim," terang Kaffah.


"Oh, maaf," sahut Sheilla melempar sebuah senyum kecut.


"Kamu tidak ingin menanyakan namaku?" sela Ariyana, mengarahkan pandangan pada Kaffah.


Kaffah mendengus, "Siapa juga kamu, mengapa aku harus tahu namamu?" balas Kaffah.


"Aku cukup populer di kalangan siswa SMA Mandiri Berbudi," jawab Ariyana.


"Oya," sahut Kaffah hanya satu kata, itupun hanya sebuah sahutan yang boleh diartikan masa bodoh.


Kaffah berpindah tatap pada tepak yang ada di depannya, mau tidak mau, terpaksa dia memakan menu yang dibawakan orang tuanya. Satu dua Kaffah memasukkan sayur wortel, bunga kol ke dalam mulutnya untuk sikunyah.


'Ih, rasanya aneh,' monolog batin Kaffah, wajahnya terlihat nyengir dan rasanya ingin memuntahkan sayur itu.


"Kamu tidak suka sayur?" lontar Ariyana, melihat perubahan wajah Kaffah.

__ADS_1


Spontan Kaffah menganggukkan kepala.


Ariyana tersenyum, "Makanlah, aku bawa dua ikan tuna bumbu kuning," ucap Ariyana, tanpa mendapat persetujuan Kaffah, Ariyana menaruh satu ikannya.


Wajah Kaffah terlihat tidak suka dengan paksaan Ariyana.


"Aku tidak memaksa kamu untuk memakannya. Kalau kamu tidak mau, tinggal singkirkan saja," ujar Ariyana.


Kaffah menelan salivanya dengan susah, 'Dia tahu apa yang ada di otakku,' batin Kaffah.


Ariyana tersenyum kecil, melihat Kaffah akhirnya mau menggigit ikan yang dia berikan.


Sedangkan Sheilla. Sesekali matanya menatap ke arah Kahfi yang terlihat dingin, bahkan sedari awal dirinya bergabung makan, tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.


'Itu orang memang cool begitu apa ya? Tapi semakin dia diam, aura ketampanan dan kharismatiknya semakin sempurna,' monolog batin Sheilla.


"Eh, Sheill, lihat tuh," lirih Novia, menyenggol siku Sheilla agar memandang ke arah dimana dagu Novia menunjuk.


Sheilla tersenyum menyeringai.


Bugh.


Semua yang ada di ruangan menatap ke arah sumber suara.


Tubuh siswi itu terjatuh karena kaki Sheilla yang sengaja dia selunturkan dan mengenai kaki siswi itu.


Siswi itu gegas bangkit, "Hei! Kamu sengaja memasang kaki kamu!" teriaknya.


Sheilla tersenyum, "Punya mata makanya dipakai! Jangan hanya melebar kalau lihat cowok cakep!" balas Sheilla.


"Apa kamu bilang?! Kamu sudah salah malah berkilah!" Siswi itu terlihat kesal, memajukan tubuhnya sebagai isyarat menantang Sheilla.


Sheilla menyunggingkan senyum, menggelengkan kepalanya, lalu menyeruput minuman kotak.


"Minta maaflah," sela Kahfi meminta Sheilla agar meminta maaf.


Mata siswi itu berpindah tatap pada suara yang terdengar tidak asing.


"Oh, pantesan, ternyata lelaki yang sudah buat baju aku basah," sungut siswi itu, menatap Kahfi dengan tatapan sengit, "tapi cocok sekali kalian! Cowoknya model kek dia, ceweknya model kek gini! Sama-sama suka buat susah orang!" sambungnya.


"Aku bilang minta maaf!" titah Kahfi, wajahnya menengadah menghadap Sheilla.


Entah karena sejak awal Sheilla sudah terpesona dengan ketampanan Kahfi, atau karena mata Kahfi yang sempat beradu tatap ke arah Sheilla, membuat dirinya langsung mengiyakan titah Kahfi.


"Ya, a... aku mau minta maaf," sahut Sheilla dengan suara terbata dan wajahnya masih menatap ke arah Kahfi.


"Minta maaf dengan dia bukan dengan aku!" ujar Kahfi saat Sheilla malah menyodorkan tangan pada Kahfi karena terlalu gugup.


Sheilla memindahkan pandangan dan sodoran tangannya, "Maaf," ucap Sheilla.


"Lupakanlah! Aku tidak mau berurusan dengan orang-orang resek seperti kalian! Aku sekolah di sini mau serius belajar!" ujar siswi itu, berlalu dari hadapan Sheilla dan yang lainnya.


Sheilla kembali meremas jemarinya, 'Bahkan aku belum membalas perlakuan kamu pada Kahfi tapi kamu sudah membuat seorang Sheilla Agatha Firdaus terlihat bodoh di depan Kahfi. Awas kamu! Tunggu pembalasanku!' monolog batin Sheilla, darahnya mendidih.

__ADS_1


__ADS_2