Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 47


__ADS_3

Sore telah menyapa.


Delmira yang sudah mandi terlihat segar dan wangi tubuhnya menyerbak seisi ruangan.


"Kamu cantik sekali Sayang," sapa Zaidan yang terpana pada kecantikan sang istri.


"Baru tahu aku cantik?!" sahut Delmira.


Zaidan tersenyum menanggapi.


"Ummi sedang rapat di luar. Jadi kita langsung pulang saja."


"Ayo lah cepetan!" ajak Delmira.


Namun, ketika kakinya akan turun dari ranjang tiba-tiba ada seseorang yang masuk.


"Selamat sore," sapa dokter Riki lalu mendekat ke arah Delmira dan Zaidan.


"Sore," balas Zaidan dan Delmira hampir bersamaan.


"Sudah kemas-kemas, sudah diizinkan pulang?"


"Sudah," jawab Delmira singkat.


"Maaf aku terlambat jenguk, akhir bulan banyak laporan yang harus aku selesaikan."


Delmira mengangguk pelan dengan wajah yang sungkan.


"Apa lukanya tidak parah?"


"Tidak, makanya sore ini boleh pulang dan Delmira sepertinya sudah tidak sabar ingin cepat melihat kasur rumah," sela Zaidan.


Delmira menahan senyum melihat Zaidan sedikit ngegas, 'Baru kali ini aku lihat kamu menyahuti orang tidak ramah,' batin Delmira.


"Oh, maaf, aku mengganggu perjalanan kamu. Soalnya tadi pagi saat teman-teman kantor jenguk kamu memang aku gag bisa ikut. Jadi ya aku sempatkan sore ini."


"Ya terima kasih sudah merepotkan kamu untuk jenguk istri saya," sahut Zaidan.


Delmira kembali menahan senyum karena lagi Zaidan yang menyela jawaban.


"Aku permisi dulu, cepat pulih Del," ucap dr. Riki mengulurkan tangan.


Bukan Delmira yang membalas uluran itu melainkan Zaidan yang membalasnya.


"Amin, terima kasih atas doanya," sahut Zaidan.


"Permisi," pamit dr. Riki kemudian berjalan keluar.


Delmira terkekeh ketika dr. Riki keluar. Tangannya sampai pegang perut.


"Adakah yang lucu sampai kamu tertawa seperti itu?"


"Baru kali ini lihat kamu sejutek tadi. Ayo... kamu cembu_."


Ucapan Delmira terhenti, tidak mungkin dia melanjutkan kalimatnya.


"Ya aku cemburu Delmira Cinta Kusuma. Cemburu ada yang perhatian dengan kamu, cemburu ada yang mengkhawatirkan kamu, dan cemburu karena dia akan menyentuh tangan kamu," jawab Zaidan tangannya bergerak menyentuh tangan Delmira. Namun, dengan cepat Delmira menarik tangannya.


Gemuruh jantungnya bertalu-talu mengiri rasa dan ingatan pada dirinya yang telah kotor, tidak hanya disentuh tangan melainkan mahkota paling berharganya juga telah direnggut.


Tubuh Delmira bergetar hebat. Ucapan Zaidan benar-benar meruntuhkan pion-pion yang susah payah dia bangun agar bisa melupakan kejadian kelam malam itu.


"Kenapa Del?" tanya Zaidan dengan raut khawatir.


Delmira tersentak menggeleng cepat.


"Kita pulang," ucap Delmira melangkah cepat tapi tiba-tiba Zaidan membopong tubuh Delmira.

__ADS_1


"Lepaskan!" teriak Delmira dengan wajah amarah yang memuncak.


"Kamu baru sembuh, aku mau dudukkan kamu di kursi roda," sahut Zaidan.


"Aku bukan orang pesakitan!" jawab Delmira lalu berjalan keluar ruangan.


Zaidan sesaat terdiam, bingung dengan sikap Delmira yang tiba-tiba berubah. Dia biasa menolak sentuhan dari dirinya tapi penolakannya tidak se sentimen sekarang.


Diam.


Dalam perjalanan hingga sampai di kediaman ummi Aisyah hanya kesunyian yang mereka ciptakan.


Zaidan mengekor langkah Delmira hingga ke kamar. Tangannya yang ingin membantu Delmira menitih tiap anakan tangga terpaksa dia urungkan karena kejadian tadi saja masih terngiang jelas di Zaidan. Dia tidak ingin Delmira marah kembali.


Pantat Delmira duduk di sofa kamar. Matanya menembus menatap keluar jendela kamar.


"Maaf," ucap Zaidan penuh dengan penyesalan.


Delmira terdiam, bukan tidak ingin membalas kata maaf yang terlontar dari bibir Zaidan. Namun, hatinya semakin sakit mendengar kata maaf dari Zaidan. Rasa bersalahnya justru semakin mendalam.


'Aku yang harusnya minta maaf Zaid,' jawab Delmira tentunya hanya mampu terlontar di dalam hati.


...****************...


"Apa tidak ada kerjaan lain selain mengunjungi butik ini?!" ketus Yasmin pada Fernando yang selepas Magrib betah di butik milik orang tua Yasmin.


"Aku itu pelanggan kamu, apa tidak boleh ke butik mami kamu?"


Yasmin terlihat mendengus kesal. Selalu saja jawaban Fernando seperti itu.


"Oya kemarin pas kamu and the gank kumpul di kafe, apa yang kalian bicarakan?" tanya Fernando penasaran tingkat tinggi.


Bukan karena apa-apa atau gimana-gimana tapi yang jelas karena perintah dari bos mudanya. Sudah dua Minggu ini, setelah tragedi penjambretan Delmira bersikap aneh. Sering melamun dan cenderung menyendiri. Dia yang tadinya aktif berbicara pun seperti ikut diet bicara.


Zaidan mencurigai ada hal yang aneh dengan Delmira dan Meilin karena sikap ketusnya Delmira pada Meilin sewaktu berkunjung di rumah sakit.


"Ngomong-ngomong, menurut kamu ada sesuatu yang disembunyikan dari non Delmira dan Meilin tidak?"


"Sepertinya tidak ada, mereka terlihat akrab bahkan Delmira juga diantar Meilin."


"Diantar? Non Delmira diantar Meilin pulang?"


Yasmin mengangguk.


"Apa terjadi sesuatu dengan mereka?"


"Aku kurang tahu," jawab Yasmin.


"Non Delmira menginap di rumah Meilin, benar begitu?"


"Kalau pun ya kenapa? Kami biasa nginap bergantian."


Fernando terdiam. Yasmin menatap sekilas wajah yang diam itu.


"Kesini karena ada maunya!" celetuk Yasmin.


"Maksud kamu?"


"Benerkan, kalau tidak ingin cari tahu tentang Delmira mana mungkin kamu ke sini!"


Fernando tersenyum, "Sebenarnya aku juga ingin selalu tiap hari ke sini tapi karena kesibukan aku tidak bisa," ujar Fernando, "tapi aku kan selalu kirim makan siang untuk kamu. Jadi setidaknya kalau kamu rindu aku, cukup pandang box nasi yang aku kirim," sambung Fernando diiringi sebuah senyum lebar.


"Pantas saja, wajah kamu memang sama dengan box nasi," cicit Yasmin.


Fernando terkekeh.


"Apa berarti kamu mengharapkanku tiap hari ke butik ini?"

__ADS_1


"Aku hanya tidak suka dimanfaatin!" ketus Yasmin.


"Aku tidak memanfaatkan kamu, aku kan sudah jujur kalau aku cinta kamu dari lubuk hatiku yang terdalam."


"Hmmm," dengung Yasmin sebagai jawaban.


"Aku tinggal nunggu jawaban kamu, mau tidak menerima cintaku?"


Yasmin terdiam. Rasa trauma akan rumah tangganya yang kandas padahal baru seumur jagung membuatnya tidak begitu saja membuka hati untuk orang lain.


"Aku serius dengan perasaanku Yas," lanjut Fernando netranya lekat menatap wanita yang duduk di depannya.


"Terima Yas," sela mama Yasmin yang muncul dari balik pintu.


"Tuh, Mama saja yang terima cintanya Fernando," tukas Yasmin, berdiri dari duduknya dan masuk ke dalam ruang kerja.


"Itu anak, bener-bener deh pengen Mama gejek sekalian," greget mama Wulan.


...****************...


Delmira berdiri di samping jendela kamar. Tangannya bergerak memijit dua pelipis. Kepalanya akhir-akhir ini merasa pusing dan tubuhnya cepat lelah.


"Apa karena pukulan jambret itu kepala jadi sering pusing seperti ini?" gumam Delmira.


Tangannya merogoh ponsel yang dia taruh di saku karena beberapa kali bergetar.


Dilihatlah nama penelepon.


Sebenarnya Delmira tahu kalau penelpon itu pasti Zaidan karena selain dia siapa lagi? Ponsel dan nomor ponsel Delmira baru. Dia tidak mau mengurus nomor yang telah hilang di tangan jambret dan memilih untuk mengganti dengan nomor baru. Jadi jelas saja ponselnya masih diisi beberapa nomor kontak. Nomor siapa yang paling aktif menghubunginya, ya siapa lagi kalau bukan Zaidan.


"Assalamualaikum Sayang," suara Zaidan menggema di ponsel yang Delmira pegang.


"Waalaikum salam, ada apa?"


"Mau pesan jajan apa? Nanti aku lewat jalan Gatot kaca (jalan yang sering dipenuhi pedagang kaki lima, menjual berbagai macam aneka makanan), insyaallah satu jam lagi sampai rumah."


"Belikan sosis kentang goreng yang pedas dengan sedikit mayonaise jangan dikasih kecap," ujar Delmira karena dalam otaknya tiba-tiba terlintas makanan itu dan ingin sekali memakannya, kebetulan Zaidan menawarkan makanan, Delmira langsung utarakan apa yang dia inginkan.


"Di sana ada yang jualan menu itu?"


"Ada, dia mangkal di sekitar deretan ruko,"


"Oh... ya, insyaallah aku carikan. Ada lagi yang kamu mau?"


"Cukup itu saja. Beli 3 ya."


"Ya Sayang," jawab Zaidan yang sudah tidak sungkan menyapa dengan sapaan sayang dan Delmira pun sepertinya sudah tidak terganggu dengan sapaan itu.


"Assalamualaikum," lanjut Zaidan menutup pembicaraan.


"Waalaikum salam," sahut Delmira lalu memasukkan ponselnya ke saku piyama yang dia pakai.


"Kepalaku mengapa semakin pusing?" keluh Delmira.


Satu jam setelahnya, Delmira duduk di sofa. Kepalanya yang terasa sakit sudah mendingan setelah diolesi minyak kayu putih.


"Assalamualaikum, sudah lama menunggu Sayang?" sapa Zaidan ketika masuk ke kamar.


"Waalaikum salam, tidak juga sih," jawab Delmira menerima bungkusan dari Zaidan.


"Terima kasih, aku cuci tangan dulu," seru Delmira dengan antusias karena sejak tadi juga membayangkan akan nikmatnya sosis kentang goreng.


Setelah cuci tangan, gegas Delmira membuka bungkusan plastik dari Zaidan. Namun, apa yang terjadi, Delmira malah merasa mual karena bau sosis kentang goreng itu.


malam menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏 ikuti alur yang sudah kak Mel rangkai ya... insyaallah tidak akan mengecewakan kalian. lope lope buat kalian semua 😍😘🥰


"

__ADS_1


__ADS_2