Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 71


__ADS_3

Siang ini, Safira ikut mengantar Delmira periksa kehamilan. Selesai itu mereka memilih makan siang di salah satu pusat perbelanjaan.


"Kita salat dulu, Sap," ajak Delmira melihat jam di ponsel sudah menunjukkan waktu Zuhur.


"Tidak di rumah saja Mbak?"


"Kalau sekarang bisa kenapa nunggu nanti?" sanggah Delmira.


Safira pun mengekor langkah Delmira. Namun, sebelum dia melangkah pergi, netra Safira menatap pandang pada Raka.


"Issst! Pura-pura tidak peka!" gerutu Safira melihat Raka langsung memalingkan wajah darinya, "sudah gede tidak salat!" sambungnya kemudian menyindir Raka juga tatapan Safira berpindah ke Verel.


Delmira hanya tersenyum mendengar sindiran Safira tapi kakinya tetap melangkah ke tempat ibadah yang disediakan pihak pusat perbelanjaan.


Selesai salat, Delmira menghampiri Verel dan Raka yang duduk di kursi depan sebuah anchor tas dan pakaian.


"Kenapa masih di sini?" lontar Verel.


"Kamu mintanya aku berada di mana?"


"Aku kira kamu ada di anchor makanan," balas Delmira.


"Barangkali ada yang ingin membelikan sesuatu pada seseorang," ujar Verel.


"Om ganteng mau belikan aku tas?" cerocos Safira.


"Siapa juga yang mau belikan kamu tas, yuk kita makan," sela Delmira.


"Kalian pesan makanan dulu, nanti kita menyusul," ujar Raka menarik tas Safira agar dia ikut masuk ke dalam anchor tas, sepatu, dan pakaian.


"Eh... eh...aku mau dibawa kemana!?" seru Safira.


Delmira hanya menggelengkan kepala dan tersenyum lalu berjalan ke anchor makanan.


"Mau pilih makanan apa?" tanya Delmira.


"Sudah pernah makan nasi rendang bakar belum?" tanya balik Verel, dia berhenti di salah satu stand makanan tradisional.


Deg.


Sontak Delmira teringat pada Zaidan. Makanan itu pernah dicicipi pertama kali waktu Zaidan mengajaknya makan.


"Di sini ada juga nasi rendang bakar?" lontar balik Delmira.


"Ini," tunjuk Verel ke menu yang tersedia di stand tersebut, "kita duduk," ajak Verel kemudian.


Tangannya menarik kursi untuk dia duduki dan Delmira.


Verel menatap lekat ke arah Delmira, sejak dirinya menyebut salah satu menu yang menjadi favorit saat di Indonesia, wajah Delmira berubah sendu.


Tidak butuh lama, sekitar 10 menit kemudian, teh hangat dan nasi rendang bakar diantar pelayan.


"Hati-hati panas loh," ucap Verel mengingatkan.


Delmira terlihat menggigit jarinya yang kepanasan karena barusan menyentuh bungkusan nasi itu


"Aku bilang apa Del," omel Verel, tangannya bergerak membuka bakaran nasi rendang yang berbalut daun pisang.


Delmira hanya nyeringis.


"Apa perlu aku tiupin biar tidak panas?" tawar Verel.


"Makanan dan minuman itu tidak boleh ditiup?" sanggah Delmira.


"Dulu pengasuhku biasa melakukan itu," jawab Verel, "dan sampai sekarang aku juga begitu," sambungnya kemudian.


"Secara medis dan dari pandangan Islam itu tidak boleh."


"Coba jelaskan secara medis,"


"Ada lendir, yang dimungkinkan mengandung kuman, nanti jatuh dimakanan yang tadi kita tiup."


"Kalau dipandang secara Islam?"


"Rasullullah melarangnya dalam sebuah hadis, karena meniup makanan dipandang tidak beretika, membuat jijik orang yang akan memakan makanan itu."


"Sekeren itukah Islam mengatur semuanya?"


"Aku rasa begitu, aku juga baru belajar tentang Islam."


Verel tersenyum, rasa kagum dan cinta semakin besar pada wanita yang ada di depannya.


"Jangan lupa berdoa dulu Rel." Delmira mengingatkan saat melihat Verel akan menyuapkan makanan ke mulutnya.


Mulut Verel yang sudah membuka lebar-lebar, dia katupkan, memilih mengikuti instruksi Delmira.


Delmira seketika melupakan kesedihannya karena teringat Zaidan. Namun, ketika dia mengingatkan Verel untuk berdoa terlebih dahulu sebelum makanan, dirinya teringat kembali akan mantan suaminya itu. Dulu dia sering mengingatkan hal itu padanya.


Sementara itu, Raka dan Safira masih di dalam anchor.


"Mau berapa kali muter-muter seperti ini? Apa tidak ada yang cocok buat kamu?"


Safira nyeringis. Tidak dipungkiri, memang kakinya sudah mengitari deretan tas yang dipajang di rak. Namun, ketika tangan Safira mengambil tas itu dia letakkan kembali ke rak.


"Soal harga tidak usah kamu pikirkan, pilih saja yang kamu mau."


Safira menatap ke arah Raka yang terlihat frustasi. Tiba-tiba ada ide jahil yang menggelayut otaknya.

__ADS_1


'Banyak orang kaya yang berduit tapi dia pelit. Aku coba ah... kamu masuk kategori itu apa tidak,' batin Safira.


Tangan Safira bergerak cepat mengambil tas yang dia lihat suka, tapi harga yang tertera menurut bilangan Safira itu mahal, dia juga tidak lupa mengambil sepatu dan juga pakaian dengan cepat.


"Hanya ini?" lontar Raka.


Safira mengangguk tersenyum, "Emmm apa boleh nambah lagi Om?"


"Pilihlah sesuka kamu," jawab Raka.


Safira menelisik wajah Raka yang terlihat santai dengan sikapnya.


"Tidak jadi Om."


"Kenapa?" heran Raka.


"Sepertinya Om bukan tipe perhitungan jadi aku uji dengan hal lain saja."


Raka mendengus dan tersenyum lebar.


"Om jangan banyak senyum seperti itu," larang Safira.


"Dikira nanti aku gila, begitu?" sahut Raka.


Safira menggelengkan kepalanya.


"Terus apa?" Raka mengangkat dua alisnya dan menatap lekat netra Safira. Saat itu pula Safira sedang menatap Verel.


Dua netra saling beradu temu, Safira gegas menundukkan pandangannya.


Deg deg deg.


'Astaghfirullah haladhim..., apa yg kamu lakukan Safira. Ingat, ingat, jaga pandangan dan sikap,' batin Safira mengingatkan diri.


'Ya Allah... tapi sumpah, dia tampan memesona saat senyum, jantung aku saja tidak normal seperti ini,' lanjut batin Safira.


"Hei, belum jawab pertanyaanku, kenapa dengan senyumanku ini?" desak Raka.


"Aku tidak jadi beli tas dan lainnya Om, kita susul Mbak Del saja!" seru Safira langsung lari dari anchor.


"Hei_"


Baru saja Raka akan mengejar Safira tapi dicekat salah satu pelayan.


"Jadi ambil yang mana Kak?" lontarnya.


Terpaksa Raka mengurungkan niatnya, dia berjalan ke tempat kasir.


"Loh, mana Raka?"


"Baunya wangi sekali makanannya Mbak,"


"Mau?"


Safira mengangguk cepat.


"Tinggal pesan," sahut Delmira.


Dengan cekat Verel memesankan menu yang sama sebelum Safira beranjak dari duduknya.


Verel tiba-tiba tersenyum, melihat seseorang berjalan, tangan kiri dan kanannya menenteng banyak paper bag.


Delmira dan Safira pun ikut memandang ke arah dimana Verel memandang.


"Banyak sekali Ka, kamu borong ini semua?" lontar Delmira.


"Tanya bocah itu!" sahut Raka, meletakkan paper bag ke lantai, pantatnya kemudian dia dudukkan di dekat Verel.


"Kamu beli ini semua?" lontar Delmira, matanya melotot ke arah Safira.


Safira menggeleng cepat, "Aku tadi sudah bilang, tidak jadi beli," sanggah Safira.


"Ini tagihannya," seru Raka menyerahkan struk pembelian pada Safira.


Safira gegas melihat jumlah nominal dari sekian banyak barang yang dibeli. Matanya membelalak saat mengeja nominal yang tertulis, "Sembilan juta sembilan ratus?"


"Ya, kamu bisa bayar cicil padaku."


"Aku bayar?"


Raka mengangguk.


"Tapi... waktu kamu suruh aku masuk ke toko itu, aku disuruh milih kenapa sekarang suruh bayar?"


"Aku hanya menyuruhmu pilih. Beli ya bayar sendiri!"


'Issst! Kok ada lelaki model kayak dia!' greget batin Safira, matanya menatap tajam ke arah Raka.


"Ya sudah aku kembalikan ke toko," balas Safira dengan kesal.


"Barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan!" cekat Raka, "sudah kamu diam, aku mau makan. Cacing-cacing sudah protes dari tadi!" lanjutnya kemudian.


"Ini perlu diluruskan!" seru Safira, "mana aku punya uang segitu banyak!" sungutnya.


"Aku bilang itu urusan nanti, kita makanlah dulu," ujar Raka.


Dengan terpaksa Safira ikut makan. Namun, lapar melanda yang sudah tidak dapat Safira bendung, akhirnya dia melahap habis makanannya dalam waktu singkat.

__ADS_1


"Yuk Mbak Del, kita keluar duluan," ajak Safira menggandeng Delmira.


Mereka berjalan keluar dan Verel mengekornya.


"Issst! itu bocah! Tidak punya etika, aku sedang makan main tinggal, non Delmira dan tuan Verel kan jadi ikut ninggalin aku!" greget Raka.


Malam hari menyapa, seperti biasanya. Delmira membonceng Safira untuk mengikuti kajian Islam di pondok Raudhatul Athfal.


Namun, ketika baru keluar dari gang dekat sekolah dasar, ada motor yang melaju kencang dan menyenggol motor yang Safira kendarai.


"Eh eh eh, Mbak Del."


Gegas Safira membantu Delmira yang ikut jatuh.


"Innalilahi, Mbak Del tidak apa-apa?" lontar Safira terlihat wajahnya begitu cemas.


"Tidak, cuma sedikit kaget saja. Tapi Alhamdulillah kok, tidak ada yang luka," sahut Delmira, tangannya bergerak membersihkan gamisnya.


"Perut Mbak Del? Tidak kenapa-napa?"


"Ya Alhamdulillah, baik-baik saja."


"Duh, maaf ya Mbak, tadi aku buru-buru," ucap lelaki yang menyenggol setang motor Safira.


"Ya Allah Mas, makanya kalau naik motor hati-hati! Bagaimana kalau terjadi hal fatal?!" gerutu Safira.


"Apa perlu periksa ke rumah sakit, takutnya kenapa-napa?"


"Tidak perlu Mas, Alhamdulillah aku baik-baik saja," tolak Delmira.


"Kita pulang saja Mbak Del," pinta Safira.


"Loh...tidak jadi ngaji?"


"Kalaupun Mbak tidak kenapa-napa tapi wajah Mbak Del langsung pucat seperti ini," lontar Safira menyalahkan mesin motornya lalu putar balik pulang ke rumah bersama Delmira.


Dua jam kemudian, setelah salat isya, mbok Sa'diyah membalut kaki Delmira dengan beras kencur.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," sahut mereka serentak yang ada di ruang tengah.


Safira beranjak dari duduknya, berjalan melangkah ke ruang depan dimana ada tamu menguluk salam.


"Om ganteng, Om Verel. Kok di sini? Katanya dalam perjalanan pulang?"


"Dimana Delmira?" lontar Verel tanpa menyahuti tanya Safira.


"Duduklah dulu om, biar aku panggilkan Mbak Del," sahur Safira, kakinya masuk ke dalam.


Verel menatap nanar pada wanita yang berjalan ke arahnya, "Kamu baik-baik saja?" lontar Verel, matanya mengiring langkah Delmira duduk.


Delmira mengangguk, "Tidak jadi pulang ke Jakarta?"


"Aku putar balik," sahut Verel.


"Mendengar aku jatuh dari motor?" tebak Delmira. Dia tahu, orang-orang kepercayaan Verel mengawasinya selama 24 jam.


"Mendengar Sapi kamu menjatuhkan kamu dari motor."


Delmira terkekeh mendengar jawaban Verel.


"Alhamdulillah aku baik-baik saja. Hanya tadi awal kejadian memang lumayan shock."


"Apa hobi kamu membuat orang jantungan?"


Delmira masih menampakkan sebuah senyum. Sedangkan mata Verel tanpa alih memandang ke arah Delmira.


"Sudah ah, jangan buat lelocon terus. Intinya, Alhamdulillah aku baik-baik saja. Bilang sama mata-mata kamu jangan buat laporan yang lebay."


"Kamu tahu aku_" Verel menghentikan ucapannya yang dirasa keceplosan.


Delmira terkekeh kembali, "Aku jelas tahu kamu punya mata-mata. Mana mungkin kamu putar balik tanpa ada orang yang memberi tahu kamu mengenai kecelakaan yang menimpa aku dan Safira."


"Semudah itu kamu menebaknya!" sungut Verel.


"Sudah malam Non Delmira, Non harus istirahat," sela mbok Sa'diyah jalan mendekat ke arah mereka di ruang tamu.


"Benar apa kata mbok Sa'diyah, kamu harus istirahat Del," ujar Verel. "Titip Delmira Mbok," sambung Verel beralih ke Sa'diyah.


"Menjaga non Delmira memang tanggung jawabku," sahut Sa'diyah.


Verel tersenyum mendengar balasan dari Sa'diyah. Dia tahu dari awal hingga sekarang, wanita tua itu belum menerimanya.


"Assalamualaikum," pamit Verel dan Raka.


"Waalaikum salam," jawab mereka.


Namun, sebelum Raka membalikkan tubuhnya, dia sempat curi pandang pada gadis yang menyandar pada lengan Sa'diyah.


'Bocah itu, kenapa kalem sekali, tidak buka suara,' batin Raka, bibirnya menampilkan sebuah senyum.


Setelah kepergian Raka dan Verel, tanpa disadari ada dua pasang mata yang menatap tajam ke arah rumah mbok Sa'diyah. Salah satu dari mereka menatap foto Delmira.


"Akhirnya kita menemukan mereka," ucap salah satu darinya.


pagi menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏

__ADS_1


__ADS_2