Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 125


__ADS_3

"Ada apa Papyang?" lontar Delmira dan seketika kaki Zaidan terhenti, bahkan dengan posisi kaki yang masih mengangkat satu.


Zaidan menggeleng pelan sambil nyeringis.


"Momyang kira ada apa!" imbuh Delmira.


"Papyang, mau... mau mandi dulu," ujar Zaidan terbata, merasa gugup padahal niatan awal mau menanyakan soal tes kehamilan.


"Ya sudah tinggal mandi, kenapa wajahnya pucat begitu," balas Delmira melangkah dari ambang pintu kamar mandi agar suaminya gantian masuk, lalu berjalan ke meja rias.


Berdandan ala kadarnya dan memakai daster adalah penampilan ternyaman sewaktu di rumah menurut Delmira. Dia kemudian melangkah keluar dari kamar menuju kamar si kembar.


Tok tok tok.


"Kaffah, Kahfi," panggil Delmira.


"Duh mommy, aku belum mandi lagi!" seru Kaffah, tubuhnya gegas masuk kamar mandi dalam kamar.


"Kalau mommy tanya, bilang saja, tadi airnya sempat macet makanya aku mandinya lama," ujar Kaffah, tubuhnya sudah masuk ke kamar mandi, kepala mendongak di ambang pintu.


"Kaffah, Kahfi," suara itu kembali menggema.


Kahfi melihat saudara kembarnya sudah masuk ke kamar mandi, kakinya segera berjalan mendekat pintu untuk dia buka.


"Lama amat, sedang ngapain Sayang?" lontar Delmira begitu pintu terbuka.


Tubuhnya langsung masuk ke kamar melewati tubuh Kahfi.


"Pulang jam berapa Sayang?"


"Belum lama, sekitar satu jam yang lalu," jawab Kahfi.


"Loh, Kaffah masih mandi?" tanya Delmira tidak melihat keberadaan anak satunya.


Kahfi mengangguk.


"Kahfi jadinya ikut ekskul apa Nak?" tanya Delmira.


"PMR dan Pramuka Mom."


"Kok tidak ikut bela diri?


Kahfi menggeleng.


"Ingat loh, selepas ekskul langsung pulang, magribnya ada ngaji dengan ustadz Hasbi."


Kahfi mengangguk.


"Pokoknya, Momyang target, dalam kurun waktu satu tahun harus khatam 2 kali."


Kahfi tersenyum menanggapi permintaan Delmira.


Pantat Delmira di dudukkan di tepi ranjang, matanya memutar pada kamar yang terlihat rapi.


"Yang merapikan kamar kamu Kahfi?" lontar Delmira melihat kamar tertata dengan rapi, bersih, dan wangi.


Dan lagi, hanya senyum kecil yang ditunjukkan Kahfi.


"Anak ini, memang tidak bisa memasang wajah ekspresif. Ya begitu saja, hanya senyum, mengangguk, atau pun kalau mau membuka suara ya cukup yang singkat, ya atau tidak!" korek Delmira.


Kembali Kahfi menanggapi dengan sebuah senyum.


Delmira pun melempar senyum.


"Kaffah lama sekali? Dia pasti baru masuk kamar mandi sewaktu Momyang ngetuk pintu!" lontar dan gerutu Delmira.

__ADS_1


Kahfi memilih diam tidak menyahuti.


"Emmm, Kamu sudah kenal dengan siapa saja Nak?"


"Kami banyak yang kenal Mom. Jangan khawatir, dua anak mommy ini kan tampannya melewati batas ambang. Jadi cukup lirik, langsung deh mereka kenal kita," sela Kaffah yang tiba-tiba muncul dari kamar mandi.


Delmira menoleh ke sumber suara.


"Issst! Anak yang satu ini, dari kecil sampai gede, sukanya membanggakan diri!" protes Delmira.


"Itu salah satu wujud syukur pada Allah Mommy. Coba Mommy resapi, memuji ciptaan Allah itu kan hal yang dianjurkan agama Islam, maka nggak salah kan Kaffah memuji ciptaan Allah melalui ketampanan paripurna yang Allah turunkan pada wajah ini," terang Kaffah.


"Terserah kamu Kaffah!" pasrah Delmira.


"Ya sudah Mommy tunggu kalian di bawah untuk siap-siap ke masjid ya Sayang," ujar Delmira tubuhnya turun dari tepi ranjang dan hendak keluar kamar.


"Tunggu Mom!" cekat Kaffah.


"Apalagi?"


Kaffah berdecak, pandangan matanya tak lepas dari wajah Delmira.


"Subhanallah, ternyata selama ini Kaffah salah duga."


"Salah duga kenapa Kaffah?" telisik Delmira merasa penasaran.


"Salah duga, benar-benar salah duga," ulang Kaffah.


"To the poin saja!" titah Delmira, karena rasa penasarannya sudah mencapai puncak Himalaya.


"Ternyata Kaffah salah selama ini,"


"Issst bocah tinggal ngomong kenapa pakai putar-putar omongan!" kesal Delmira.


"Kaffah salah, karena Kaffah hanya memuji apa yang melekat pada Kaffah. Coba lihat saja, Mommy juga sangat cantik bak artis Timur Tengah tahu!" ujar Kaffah.


Kaffah malah terkekeh.


"Sudah ah, kalian siap-siap!" seru Delmira kakinya dilangkahkan kembali agar keluar ruangan.


Tapi, setelah memutar gagang pintu, bukan keluar malah membalikkan tubuh.


"Oya Kaffah, kamu ikut ekskul apa?"


"Pramuka," jawab Kaffah.


"Hanya Pramuka?" heran Delmira.


"Yang wajib kan cuma satu Mom, jadi ya aku cukup ikut Pramuka saja."


"Tapi itu Kahfi juga ikut PMR, kamu tidak ingin ikut?"


"Beda orang, beda pilihan Mom," sahut Kaffah.


"Ya, ya Mommy tidak memaksa. Tapi..."


"Tapi apa Mom?!" lontar Kaffah.


"Tidak ingin ikut ekskul bela diri?" sambung Delmira dengan suara melemah.


"Itu mah maunya Mommy, biar bisa adu kekuatan!"


Delmira nyeringis, "Ikut ya, ya," rayu Delmira dengan mengerdip-ngerdipkan mata.


"Ogah!" putus Kaffah.

__ADS_1


"Kalian nggak asik!" cicitnya, berlalu dari dalam kamar, dan bibir mengerucut.


"Mommy yang sering bikin nggak asik mood aku!" teriak Kaffah.


"Awas kalau minta uang jajan tambahan!" ancam Delmira yang mendengar teriakan anaknya hingga dirinya mengurungkan kembali niat untuk melanjutkan jalan malah lebih memilih mendongakkan kepala di ambang pintu dan mengancam anaknya tersebut.


Kemudian setelah mengeluarkan ancaman langsung ambil langkah seribu menuju kamarnya untuk mengambil mukena.


"Astaghfirullah haladhim, kok ada emak model kek dia," keluh Kaffah mengelus dada.


Kahfi tersenyum menyaksikan perseteruan dua manusia itu. Ada-ada saja bahan yang menjadikan mereka bersiteru. Dari hal yang kecil hingga hal yang dibesar-besarkan.


"Mau kemana Kahfi?!" cegat Kaffah.


Kahfi hanya menunjukkan sajadah yang dia bawa. Sebagai isyarat kalau dirinya akan ke masjid.


"Nunggu azan dulu," ujar Kaffah.


"Aku tunggu di bawah," sahut Kahfi lebih memilih untuk menunggu di bawah sambil memandang bunga-bunga yang ada di tanaman.


"Hmmm," dengung Kaffah menyetujui ucapan saudara kembarnya.


Seusai salat magrib berjamaah di masjid komplek, Kaffah dan Kahfi mengaji Al Qur'an dibimbing langsung oleh seorang ustadz. Kemudian dilanjut salat isya berjamaah dengan ustadz tersebut, sekalian orang tua si kembar juga ikut berjamaah. Tidak ketinggalan warga rumah, sopir juga ART pun ikut berjamaah.


Baru setelah itu mereka belajar.


Kaffah melirik ke arah Kahfi yang sedang membaca buku.


"Kamu tidak bosan Kahfi baca buku terus?" retoris Kaffah.


Tanpa menyahuti tanya saudaranya, Kahfi tetap membaca buku yang dia pegang.


"Oya, kamu ingat tidak, cewek yang dua hari lalu nembak kamu?"


Kahfi tetap diam, fokus pada buku yang dia pegang.


"Hei, aku sedang tanya kamu!" kesal Kaffah meraih buku yang dibaca Kahfi.


"Aku tidak ingat itu," sahut Kahfi kemudian.


Tangannya bergerak mengambil buku yang masih ada di tangan saudaranya.


"Issst! Kalau soal cewek, pasti kamu lupa!"


Kahfi kembali membaca setelah berhasil mengambil bukunya.


"Belajarlah, jangan sampai mommy dipanggil ke sekolah gara-gara nilai kamu di bawah kriteria ketuntasan minimal," ujar Kahfi, mengingatkan.


"Takkan terjadi!" sahut Kaffah dengan bangga diri.


"Kamu sebenarnya cerdas, hanya saja pemalas."


"Kenapa ditambahkan hanya. Bilang saja aku cerdas, cukup seperti itu," protes Kaffah.


"Cerdas pun kalau tidak diasah ya percuma."


"Ya, ya, tapi besok saja lah aku mulai belajar. Mau tidur. Ngantuk berat," jawab sekaligus lapor Kaffah.


Kahfi hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil.


Lama-lama, kantuk pun mulai mendera. Kahfi meletakkan bukunya di rak belajar.


Matanya berhenti tatap pada buku yang tadi siang dipinjam dari perpustakaan. Tangannya bergerak berganti mengambil buku tersebut.


Senyumnya melebar, dan diusaplah buku itu.

__ADS_1


"Woe! Cuma buku saja kenapa sampai senyum sebahagia itu?!" seloroh Kaffah, karena dirinya belum benar-benar tidur.


Kahfi yang terkejut, sontak menjatuhkan bukunya hingga buku itu menimpa kaki. Padahal ketebalan buku itu bisa dibilang lumayan tebal.


__ADS_2