
Kaffah gegas mencium punggung tangan kedua orang tuanya dengan takdhim.
"Anak Momyang, ckckck ... ternyata sudah remaja. Sudah kenal cinta lagi," ledek Delmira.
"Kita sudah SMA Mommy, jangan lupa itu. Bukan lagi bocah yang baru masuk TK," sahut Kaffah. Kakinya kemudian bergerak meletakkan tas ke dalam lemari lalu mengambil baju ganti untuk dia pakai setelah mandi.
"Sudah salat?" lontar Delmira kemudian.
"Alhamdulillah sudah Mom, salat di sekolah."
Mata Kaffah menatap lekat ke arah Delmira, "Mata Mommy kenapa? Kok bengkak?"
"Oh, tidak apa-apa," sahut Delmira langsung menundukkan pandangan dan menutup mata dengan tangan kanannya.
"Tidak apa-apa bagaimana. Bengkak seperti ini kok," selidik Kaffah, mendekat ke arah mommy nya lalu menarik tangan Delmira.
Zaidan menahan senyum melihat dua orang di depannya.
Yang satu penasaran, yang satunya lagi menutupi apa yang telah menimpanya.
Karena Delmira tidak kunjung bicara jujur tentang apa yang menimpa dirinya, matanya kini berpindah tatap pada Zaidan.
Seketika mulut yang sempat membentuk sebuah senyum kecil langsung Zaidan tarik melihat tatapan anaknya memburu.
"Pappy yang buat mommy begini?" hardik Kaffah membalikkan tubuh ke arah Zaidan.
Tangan Zaidan melambai mengisyaratkan sebuah penyangkalan apa yang dituduhkan anaknya.
"Papyang mana tega buat momyang begitu," ucapannya kemudian.
"Lalu_?"
"Sudah sana mandi, itu Kahfi sudah selesai mandi," potong Zaidan memutar bahu Kaffah agar menghadap ke kamar mandi dan gegas masuk ke dalam.
"Pap, pertanyaanku tadi belum Pappy jawab," protes Kaffah tapi tubuhnya kini didorong Zaidan untuk masuk ke dalam.
"Kalau Popyang bilang bukan berarti ya bukan," ujar Zaidan, lalu tangannya bergerak menutup pintu kamar mandi setelah Kaffah dia paksa untuk masuk.
"Mandi yang cepat, setelah ini kita keluar untuk makan!" seru Zaidan.
"Mom, Pap," sapa Kahfi lalu mencium takdhim kedua orang tuanya.
"Tambah ganteng saja sih anak Momyang," puji Delmira belum melepas tangan Kahfi. Kemudian tangan kiri Delmira mengelus pucuk kepala anaknya.
"Ada kegiatan apa di sekolah Sayang?"
"Kegiatan seperti biasanya Mom," jawab Kahfi kemudian memilih duduk di depan meja belajarnya.
"Bukunya sebanyak ini. Apa kamu baca semua?" lontar Delmira, jemarinya menyapu tiap judul buku yang tertata rapi di rak belajar anaknya.
Kahfi membalas dengan sebuah senyum.
Delmira mengambil satu buku lalu mengeja judul buku tersebut, "Etika Kedokteran." Dua sudut bibir Delmira ditarik membentuk sebuah senyum, "anak ibu beneran ingin jadi dokter?" lontar Delmira kemudian.
"Seusai studi, aku ingin menemani Mommy kerja," balas Kahfi.
"Tidak ada yang ingin menemani Pappy?" protes Zaidan menunjukkan rasa irinya.
"Jangan khawatir Pap, nanti Kaffah yang menemani Pappy kerja," sela Kaffah keluar dari kamar mandi.
"Kamu nggak asik, sudah tahu ingin menemani Pappy kerja. Suka dengan otomotif, mengapa sekolahnya malah di SMA tidak masuk ke SMK teknik mesin?" balas Zaidan.
Kaffah tersenyum, dia menjadi teringat masa di mana dirinya mengambil keputusan untuk mengikuti jejak adiknya untuk sekolah di SMA bukan SMK.
Flashback on.
"Sayang, kenapa pilih SMA?" lontar Delmira saat membersihkan rumput taman rumah.
"Kahfi sudah menentukan untuk melanjutkan di SMA Mom. So, aku juga ingin masuk SMA," jawab Kaffah.
"Astaghfirullah haladhim, Nak, jangan ikut Kahfi. Kamu ya kamu, ikuti kata hati kata terdalam, apa yang sebenarnya menjadi minat kamu," terang Delmira.
__ADS_1
"Lubuk hati terdalamku mengatakan agar satu sekolah dengan Kahfi Mom," jawab Kaffah.
Tangan Delmira berhenti bergerak, rumput liar yang dia cabut dari pot diletakkan begitu saja di dalam pot, dia terkejut mendengar jawaban anaknya.
"Kamu, kamu masih merasa bersalah soal tragedi yang pernah menimpa Kahfi?" tanya Delmira dengan suara melemah.
Kaffah terlihat diam, jujur kejadian saat kelas 6 SD dulu, sewaktu Kahfi menyelematkan dirinya dari penjambret yang hampir merenggut nyawanya, masih saja Kaffah ingat.
Kala itu Kahfi rela menjadi tameng saat penjahat akan menusukkan pisau ke tubuh Kaffah, menjadi penghalang Kaffah hingga bersimpuh darah dan masuk rumah sakit. Bahkan kala itu nyawa Kahfi hampir tidak terselamatkan.
Sejak saat itulah, Kaffah berhutang nyawa pada sosok Kahfi. Apapun yang dilakukan Kahfi, Kaffah di belakang akan mendukungnya.
Kaffah juga rela mengikuti latihan bela diri secara rutin demi menjaga diri dan Kahfi, berjaga-jaga agar kejadian tragedi penjambretan itu tidak terulang. Padahal, saat itu Kaffah sama sekali tidak menyukai bela diri.
Sekarang, saat masuk ke sekolah menengah atas, Kaffah memilih meninggalkan apa yang menjadi minatnya agar tetap bisa bersama Kahfi. Dia tidak ingin jauh dari Kaffah. Baginya, kebahagiaan, dan masa depan Kahfi menjadi prioritas hidup Kaffah.
Kaffah tidak ingin, saat masuk sekolah menjadi anak junior ada yang mengganggu Kahfi dan dirinya tidak bisa melindungi saudara kembarnya itu.
"Sayang," panggil Delmira agar Kaffah menjawab apa yang dia tanyakan.
Kaffah mengangguk, "Aku tidak mungkin meninggalkan Kahfi sendiri Mom," ucap Kaffah.
Mata Delmira sontak berembun mendengar penuturan anak sulungnya. Tubuhnya langsung memeluk Kaffah.
"Terima kasih Sayang, kamu ikut menjaga Kahfi. Subhanallah, Momyang tidak tahu harus berkata apa dengan kamu. Momyang hanya pesan. Ini keputusan kamu, bukan penyesalan yang nantinya kamu ambil, tapi kerja keras yang harus kamu tunjukkan agar apa yang sudah kamu putuskan, kedepannya mencapai sebuah kesuksesan," ujar Delmira kemudian melepas pelukannya.
"Amin Mom," balas Kaffah, tangannya bergerak menyeka dua pipi Delmira yang sudah basah.
Flashback off.
"Nantinya aku jadi direktur, tidak perlu turun tangan ke mesin. Cukup lihat dan pantau para pekerja. Nanti Pappy boleh bantu aku di perusahaanku," seloroh Kaffah yang diiringi tawa Delmira, sementara Kahfi hanya tersenyum menimpalinya.
"Amin, semoga punya dealer sendiri," sahut Zaidan.
"Yuk kita pergi, katanya mau cari makan sambil menikmati sore hari," seru Delmira mengingatkan tujuan utama ke kamar si kembar.
"Ayo..." serentak 3 lelaki itu bangkit dan melangkah mengekor langkah Delmira.
Mereka lebih memilih ke taman kota yang terlihat asri nan sejuk. Setelah mobil diparkir, segera mereka turun dan jalan santai mengitari taman lalu duduk di antara kursi taman yang ada di bawah pohon.
Delmira mengeluarkan sesuatu dari dalam tas, lalu menyerahkan benda itu ke Kahfi, tentu saja saat menyerahkan benda tersebut dilihat oleh Zaidan DNA Kaffah.
"Momyang menemukan jatuh ke lantai saat baca-baca buku kamu," ucap Delmira diiringi sebuah senyum.
"Cie, apa itu?" penasaran Kaffah memiringkan kepala ke bahu Kahfi agar lebih jelas melihat benda yang berupa kertas pembatas, panjang sekitar 7 cm, ujung berbentuk hati, dan ada sebuah tulisan tangan. Itu yang membuat Kaffah begitu penasaran.
"Coba aku lihat," pinta Kaffah menyodorkan tangan tepat di hadapan saudara kembarnya.
"Bukan apa-apa," jawab singkat Kahfi, langsung memasukkan kertas tersebut ke dalam saku kaos kemejanya.
"Bukan apa-apa tapi takut aku lihat," ledek Kaffah mencibirkan bibirnya.
Wajah Kaffah berubah ekspresi, jarinya menunjuk ke arah Kahfi, "Pasti dari si cantik kakak senior kan?" tebak Kaffah melebarkan senyumnya.
"Jangan main pacar-pacaran, sekolah dengan serius," sela Zaidan.
Delmira malah menahan senyum mendengar mereka saling berdebat.
"Pappy nggak gaul. Pacaran kok dilarang," seloroh Kaffah.
Sedangkan Kaffah memilih diam.
"Emang dulu Pappy sewaktu SMA tidak punya pacaran?"
"Pappy kamu tidak laku Kaffah, makanya dia tidak kenal pacaran," canda Delmira.
Kaffah melempar tatapan ke arah Zaidan, "Benar begitu Pap?"
"Menurut kamu?" Zaidan mengembalikan tanya pada Kaffah.
Kaffah menggelengkan kepala pelan, "Orang setampan dan secerdas Pappy mana mungkin tidak laku," sahut Kaffah masih dengan pandangan kagum pada sosok orang tuanya yang masih memancarkan aura ketampanan di usia yang sudah lebih dari kepala empat.
__ADS_1
Zaidan tersenyum puas mendengar pujian anaknya, "Dengar kan Momyang," ucap Zaidan sebagai bantahan dari ucapan istrinya.
Delmira hanya menyunggingkan senyum sebagai balasan.
"Intinya gini Anak-anak Popyang dan Momyang. Mulai merasa tertarik dengan lawan jenis di usia kalian sekarang itu sangat wajar, bahkan akan terbilang tidak normal kalau tidak punya rasa tertarik. Apalagi tertariknya dengan sesama jenis, itu masuknya sesat," terang Zaidan membuat Delmira dan Kaffah terkekeh dengan kalimat terakhir yang terucap oleh Zaidan.
"Nikmati anugerah rasa cinta yang Allah beri pada kita. Hanya, ada batasan ketika kita mencintai seseorang."
"Batasannya apa Pap?" penasaran Kaffah karena Zaidan mengehentikan kalimatnya.
"Batasan untuk mencintai. Contoh, di usia kalian, saling mencintai tapi tidak berstatus itu memang dilarang oleh agama."
"Ya sudah buat status Pap. Resmi berpacaran, gitu aja kok repot!" sahut Kaffah.
"Justru itu yang menyesatkan Kaff. Pacaran itu hanya mendekatkan diri pada syetan. Tangan kamu memegang tangan lawa jenis, buka itu saja kalau sudah pegang tangan nanti geser pegang lainnya. Bahkan bisa lebih menyesatkan untu berbuat yang mengarah pada dosa besar dan sangat Allah laknat dosa itu. Apa coba tebak Kaffah dan Kahfi, dosa besar yang Popyang maksud?"
"Berbuat zina?" jawab Kaffah.
"Betul sekali. Papyang tidak melarang perasaan yang kalian miliki pada lawan jenis, tapi yang Papyang ingatkan pada kalian, jaga hati jangan sampai mendekati hal yang dilarang Allah," ujar Zaidan.
"Berarti kita boleh pacaran kan asal bisa jaga diri Pap?" simpul dan tanya Kaffah.
Zaidan menggelengkan kepala dengan senyum kecil, "Mendekati hal yang dilarang Allah itu ya pacaran. Karena manusia yang diliputi rasa saling suka biasanya lupa daratan, lupa kalau dunia ini tidak hanya milik mereka berdua. Hati yang sudah saling mencintai biasanya akan cenderung memberi perhatian pada orang yang terkasihi dengan menyentuhnya secara fisik, ini poin yang sangat dilarang dalam Islam."
"Islam terlalu banyak larangan!" celetuk Kaffah, "tidak gaul! Terlalu ikut campur, segala sampai pacaran saja dilarang," sambungnya kemudian.
"Islam membuat banyak poin pelarangan karena memang manusia hidup itu harus dengan hukum, mana yang baik mana yang tidak. Contoh kecil saja, dalam Islam ada tata ketika kita cebok, dari depan ke belakang, agar kotoran pup yang mengandung banyak kuman tidak menyebar ke area depan. Mengapa hal kecil saja ada dalam Islam? Karena Islam agama penuh rahmat, agar umat Islam selamat dunia juga akhirat," terang Zaidan.
"Bukan tidak gaul karena tidak membolehkan pacaran, tapi seperti yang sebelumnya Papyang jelaskan, hal itu untuk menghindari perbuatan zina, padahal Allah sangat mengharamkan perbuatan tersebut. Agar Marwah kalian sebagai manusia itu terhormat, tidak disamakan dengan hewan. Memegang, menyentuh yang memang sudah halal bukan yang berstempel coba-coba," sambung Zaidan.
"Paham Kahfi?" lontar Zaidan mengarah ke anak satunya yang lebih memilih diam ketika dirinya berbicara.
Kahfi tersenyum lalu mengangguk.
"Paham Kaffah?" Berganti lontar pada anak satunya yang lebih aktif bertanya.
"Mungkin," jawab Kaffah, "kalau tidak diikat dengan status pacaran bisa kabur tuh cewek," sambung Kaffah.
"Jodoh tidak akan kemana, dari pada njagain jodoh orang mending jaga diri masing-masing," sahut Zaidan diiringi sebuah senyum.
"Pertanyaan Momyang, cewek mana sih yang kamu taksir?!"
"Cewek jadi-jadian Mom yang dia taksir," sela Kahfi.
"Jadi-jadian gimana? Kuntilanak maksudnya?" penasaran Delmira.
"Tanya sendiri pada orangnya," sahut Kahfi.
"Mommy tidak usah percaya omongan Kahfi," ujar Kaffah.
"Penasaran nih Momyang," goda Delmira menyenggol bahu Kaffah.
Zaidan tersenyum melihat pertengkaran kecil yang berakhir dengan semakin dekatnya hubungan antara satu dengan yang lain.
"Semoga Allah melindungi keluarga kita dari perkara yang buruk," ujar Delmira menutup bincang sore.
"Amin ya Allah," ucap mereka serentak.
...****************...
"Astaghfirullah haladhim, Delmira membaca ulang email yang dikirim oleh asuransi kesehatan pemerintah." Tangan Delmira bergerak memijit pelipisnya.
Tubuhnya kemudian menyandar di bantalan kursi.
"Mereka memutus kerja sama secara sepihak, bagaimana pasien yang sudah terlanjur berobat menggunakan asuransi?" gumam Delmira, otaknya masih bekerja keras memikirkan jalan keluar.
Memang sudah beruntung pihak asuransi tidak menuntut hal lebih, mereka hanya secara sementara memutus kerja sama dengan rumah sakit Medika Internasional Kedepannya, kalau sudah benar-benar baik, untuk pendataan pasien berasuransinya. Mereka akan kembali menjalin kerjasama dengan rumah sakit.
"Tidak mungkin kan kemudian rumah sakit meminta biaya secara tunai pada pasien," sambung Delmira.
Kepalanya terasa pecah, padahal rekap minggu ini, pasien yang memakai asuransi kesehatan pemerintah meningkat pesat.
__ADS_1
"Kalau memakai dana cadangan rumah sakit, pasti tidak cukup," bingung Delmira.
Padahal, kondisi keuangan rumah sakit masih krisis karena klaim asuransi kesehatan pemerintah belum bisa dicairkan. Sementara dana operasional rumah sakit terus berjalan dan membutuhkan uang dalam jumlah yang tidak sedikit.