
"Anda kemanakan uangnya!" ulang Delmira dengan suara meninggi.
Keduanya tersentak, bahkan Zaidan yang sedang duduk di kursi kerja Delmira juga merasa kaget.
"Ini uang negara! Jangan sampai buat main-main!" seru Delmira.
"Bu Hilda, tolong beri penjelasan!" pinta Delmira.
Hilda masih menundukkan pandangannya.
"Pak jagad, ini juga tanggung jawab Bapak yang sudah memanipulasi data!" sambung Delmira berganti tanya.
"Maaf Bu, kami terpaksa," lirih Hilda, setelah lama bungkam.
"Terpaksa bagaimana Bu?" tekan Delmira.
Hilda kembali diam.
"Saya butuh uang Bu," sahut Hilda.
Delmira melempar map lain ke meja depan Hilda, "Gaji anda lebih dari cukup untuk kebutuhan ibu dan keluarga, yang terpenting Anda tidak neko-neko," sahut Delmira map tersebut berisi laporan hutang Hilda, karena semua pegawai yang bekerja di rumah sakit Medika Internasional data keuangan, baik harta kekayaan maupun hutang piutang, tercatat dalam data pribadi pegawai.
Kini Hilda tertunduk.
"Pak Jagad, beri penjelasan!"
Lelaki paruh baya itu diam malah menundukkan kepalanya.
"Bapak juga butuh uang?!" tekan Delmira.
"I... iya Bu," sahut Jagad.
Delmira mengempaskan napas kasar.
"Aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menyerahkan bukti ini ke kepolisian!" ancam Delmira.
"Jangan Bu, saya mohon, ada anak saya yang butuh biaya untuk sekolah," pinta Hilda, menangkupkan dua tangan sejajar dada.
"Anak saya juga masih kecil-kecil Bu, bagaimana nasib mereka kalau saya masuk penjara," sambung Jagad.
"Kalian harusnya mikir jauh sampai arah ini. Bukan asal bertindak baru menyesal dikemudian hari. Ingat Pak, Bu, yang kalian ambil itu uang negara!" Sangat resiko berurusan dengan hukum!" kesal Delmira, lagi mengempaskan napas kasar.
"Kalau kalian tidak ingin berurusan dengan hukum. Katakanlah, siapa yang mendalangi kalian?" lontar Delmira setelah lama berdiam diri.
"Itu... itu... semua ide kami Bu," jawab Hilda gugup.
"Benar begitu Pak?" pancing Delmira.
__ADS_1
"I...iya Bu," jawab gelagap Jagad.
"Kalian yakin, ini murni perbuatan kalian?" sela Zaidan, sudah saatnya ikut membantu Delmira. Sedari tadi memang sengaja membiarkan Delmira menyelesaikan semuanya sendiri.
"Mungkin istriku memberikan kalian toleransi begitu banyak sehingga kalian menyepelekannya. Bagaimana dengan aku? Ingat, rumah sakit ini setengah sahamnya milik aku, jadi aku bisa saja menuntut hal yang lain!" ancam Zaidan.
Jagad menggelengkan kepala cepat, "Demi Tuhan, itu murni ide kami Pak, karena... karena kami butuh uang banyak," jawab Jagad dengan menundukkan kepalanya.
Zaidan diam menatap lekat ke arah lelaki paruh baya itu, juga sesekali mengarahkan pandangan ke arah Hilda.
"Ya, Pak ini murni ide kami," imbuh Hilda.
"Dengan laporan yang begitu rapi? Hanya dua orang yang mengerjakan semuanya?" cecar Zaidan.
"Kami..., kami dibantu dua staf bawahan kami," jawab Hilda.
"Panggil mereka," pinta Zaidan.
"Ba...baik Pak," sahut Hilda gegas keluar ruangan.
Tidak ada yang mengeluarkan suara saat menunggu kedatangan Hilda beserta bawahannya.
Tidak lama kemudian mereka datang.
"Duduklah," tawar Delmira.
Dua pegawai muda itu duduk di sofa, sebelah Jagad.
Mereka menganggukkan kepala.
"Kalian berdua bagian keuangan?"
"Satu bagian keuangan, satu yang membantu bagian data pasien Bu," jawab Hilda.
"Aku tanya pada mereka berdua," protes Delmira, mengharapkan agar dua orang yang baru masuk itu menjawab lontar tanyanya.
"Sa...saya bagian keuangan Bu," jawab seorang wanita muda.
"Kamu?" lontar Delmira mengarah pada orang satunya.
"Saya bagian pendataan pasien Bu," jawabnya.
"Untuk apa kalian membantu Bu Hilda dan Pak Jagad membuat laporan palsu?"
"Kami hanya diperintah Bu, kami hanya menurut."
"Tapi itu perintah salah! Kalau kamu di suruh terjun ke jurang mau?!"
__ADS_1
"Tidak Bu!" sahut mereka berdua dengan cepat.
Delmira kembali mengempaskan napas.
"Ok, kalian hanya diperintah oleh atasan. Ingat kode etik kalian sebagai pegawai rumah sakit ini, mengingatkan dan melaporkan pada pimpinan tertinggi jika ada penyelewengan kerja yang tidak sesuai dengan prosedur kerja! Bukan malah menurut saja!" tenang Delmira dengan wajah yang begitu kesal.
"Berapa uang yang kamu terima dari atasan kalian?!"
"Kami tidak terima sepersen pun Bu," jawabnya.
"Tapi Bu Hilda dan Pak Jagad sudah menjanjikan uang untuk kalian?!"
Merek berdua menggeleng.
"Kami pekerja baru Bu, hanya mengikuti apa yang pak Jagad dan Bu Hilda perintahkan."
"Kalian memperkejakan mereka di luar jam kerja, tanpa bayaran lebih?"
Hilda dan Jagad terdiam, menundukkan pandangan.
"Atau jangan-jangan ada yang ditutup-tutupi dari bawahan kalian karena mendapat ancaman dari kalian?" selidik Delmira.
"Tidak Bu, sungguh tidak ada yang kami tutupi," sangkal Hilda, "rencananya, kami akan beri mereka uang tambahan kalau semua ini berhasil," sambung Hilda.
Zaidan diam karena dilihat dari berkas yang dia selidik memang, perbedaan klaim itu terjadi hanya dalam satu bulan.
Tapi tidak menutup kemungkinan, kalau bulan ini berhasil pasti bulan berikutnya mereka melakukan hal yang sama. Kejahatan kalau tidak dibongkar pastinya akan dilakukan kembali oleh si pelaku, entah itu dilakukan karena mendesak atau memang dilakukan secara sadar.
'Berarti mereka tahu, kalau dalam dua bulan terakhir Delmira tidak mengecek langsung keuangan rumah sakit, tapi semua dia serahkan pada Dini,' monolog batin Zaidan menerka.
'Apa jangan-jangan justru Dini lah yang ada di balik ini, dia membocorkan semua rahasia ini. Mengatakan kalau Delmira tidak mengecek laporan keuangan dan menyuruh kepala bidang keuangan untuk memanipulasi data?' sambung Zaidan.
Zaidan menatap tajam ke arah Hilda dan Jagad, "Kalian mengetahui kalau istriku selama beberapa bulan ini tidak langsung mengecek laporan keuangan?"
Mereka menggeleng cepat.
"Jangan bohong!" suara Zaidan meninggi.
"Demi Tuhan Pak, aku tidak tahu. Kami... kami hanya pernah lihat sekretaris bu Delmira beberapa kali memeriksa keuangan rumah sakit, lalu kami menyimpulkan sendiri, mungkin ibu Delmira tidak mengecek secara langsung. Jadi, kami merencanakan untuk... untuk memanipulasi klaim asuransi," terang Hilda dengan pasrah.
Zaidan menajamkan tatapannya.
"Ada dua kemungkinan yang akan diterima rumah sakit dan juga pimpinan rumah sakit atas perbuatan kalian. Pertama, pihak asuransi kesehatan pemerintah mungkin akan me-report kerja sama yang sudah dijalankan puluhan tahun. Kemungkinan kedua, pihak kepolisian yang akan menindaklanjuti semuanya," terang Zaidan.
"Pak, saya mohon Pak. Maafkan kami, kami juga belum menerima sepersen pun uang dari itu semua," ujar Hilda memohon.
Dari asuransi kesehatan pemerintah memang belum mencairkan dananya untuk rumah sakit, pihak asuransi merasa ada yang janggal dari laporan yang dibuat rumah sakit, sehingga laporan itu dikembalikan untuk diperbaiki.
__ADS_1
Dari situlah Delmira melaporkan adanya kemungkinan manipulasi data yang dilakukan staf keuangan dan data pasien berasuransi kesehatan pemerintah.
"Pak, Bu, saya mohon, maafkan kami," Hilda beringsut dari sofa lalu bersujud di kaki Zaidan.