
Setelah cuci tangan, gegas Delmira membuka bungkusan plastik dari Zaidan. Namun, apa yang terjadi, Delmira malah merasa mual karena bau sosis kentang goreng itu.
"Kenapa sosis kentang gorengnya bau seperti itu?" protes Delmira setelah keluar dari toilet kamar.
Zaidan mengambil sosisnya lalu mencium aromanya, "Harusnya bau sosis kentang goreng itu seperti apa?"
"Ya ... tidak menyengat seperti itu," sahut Delmira, "kamu bawa keluar Ziad, kasihkan ke mbok Muna saja," sambung Delmira.
Zaidan mengangguk lalu mengambil bungkusan plastik berisi sosis kentang goreng dan kakinya melangkah keluar dari kamar.
"Mengapa bau sosis itu menyengat sekali ya?" monolog Delmira.
"Maafkan aku Sayang, sosisnya tidak sesuai yang kamu minta," ucap Zaidan ketika masuk ke kamar.
"Oh... tidak apa-apa Zaid, mungkin penjualnya ganti, makanya jadi beda baunya," jawab Delmira.
Zaidan berjalan mendekat ke arah Delmira, lalu mengusap pucuk kepalanya, "Lain kali kita cari bersama biar sesuai selera kamu," ucapnya.
Entah kenapa Delmira tidak dapat menolak perlakuan manis Zaidan malah kepalanya mengangguk pelan mengiyakan ucapan Zaidan.
Sebuah senyum tercetak di wajah Zaidan, 'Aku cinta kamu Mrs. Delmira,' ucap Zaidan yang hanya mampu terlontar lewat batinnya.
...****************...
"Dek, sudah Mbak transfer ya... uangnya harus kamu atur dengan baik biar nyampe sebulan," ucap Meilin melalui sambungan seluler lalu memutus sambungan itu.
Satu pesan masuk dari nomor yang tidak asing bagi Meilin.
Sewaktu-waktu aku pulang ke Indo siapkan dia.
"Aku harus balas apa? Tidak mungkin kan Delmira aku jebak untuk kedua kalinya? Aku harus beralasan apa?" monolog Meilin merasa frustasi kakinya jalan mondar-mandir di ruang kerja.
"Aku iyakan saja lah, urusan lainnya belakangan," sambung Meilin, gegas tangannya berseluncur di layar ponsel.
Siap Bos!
Balas Meilin.
Aku akan siapkan hadiah yang lebih banyak untuk kamu karena wanita itu sangat memua*akan.
Dalam hati Meilin bersorak sorai membaca balasan dari Verel karena akan mendapat bonus lebih tapi batin lainnya berasa kecut karena tidak tahu nanti apa yang akan dia perbuat.
'Uang kemarin saja lebih dari cukup, bahkan aku dikasih bonus besar ketika dia sudah terbang ke Maurice. Lalu ini, dia menawarkan bonus yang lebih besar dari kemarin? Wow sehebat itukah Delmira di ranj*ang sampai Verel rela merogoh kocek dengan jumlah fantastis?' monolog batin Meilin.
"Bukankah ini menguntungkan ku? Aku dapat balas dendam sekaligus dapat uang," masih bermonolog Meilin kali ini dengan tawanya yang lepas.
Satu pesan kembali masuk ke ponsel.
Aku transfer, uangnya kamu berikan sama wanita itu. Bilang sama dia jangan mencari lelaki lain di luar. Satu bulan lagi aku segera pulang Indonesia. Aku rasa uang yang aku transfer lebih dari cukup.
__ADS_1
Setelah baca pesan itu gegas Meilin membuka mobile banking.
Meilin terperanjat tidak percaya membaca nominal yang tertera di layar ponselnya.
"Luar biasa! Apa ini salah satu alasan seorang germo itu jadi kaya raya?" gumam Meilin diiringi tawa lepas.
"Aku harus balas apa?" pikir Meilin, "aku tinggal iyakan saja. Nanti aku buat alasan soal penolakan Delmira, atau... aku bisa ganti wanita lain?" sambung Meilin berpikir keras, bukan karena masalah balas dendam lagi, tapi kali ini masalah uang yang diberikan Verel jumlahnya sangat menggiurkan, belum lagi janji hadiah yang tentunya tidak akan kalah menggiurkan.
"Ternyata, keputusanku untuk menjadikan Verel alat balas dendam sangatlah tepat." Meilin tersenyum menang.
...****************...
"Ada apa denganku?" Apa jangan-jangan_?" gumam Delmira dan kalimatnya dia potong sendiri.
Delmira mengelap mulut bekas sisa basuhan air karena barusan dia mual kembali. Dia bertekad untuk membeli barang yang seharusnya dia beli agar apa yang menimpa dirinya semakin jelas.
Jam istirahat siang Delmira keluar ke apotek.
Setelah barang itu di tangannya, Delmira gegas kembali ke rumah sakit.
Rasa lapar yang mendera seakan hilang semua semenjak pagi. Pikirannya kini penuh dengan bayang-bayang yang begitu menakutkan.
"Del," sapa Aisyah membuat Delmira tersentak dari lamunan sampai plastik yang dia tenteng jatuh.
Delmira secepat kilat memungut barang-barang itu.
"Biar aku saja Ummi," cegat Delmira ketika tangan Aisyah bergerak akan membantu memungut barang bawaan milik Delmira yang jatuh.
Delmira menggeleng cepat, "tidak apa-apa Ummi," sahut Delmira.
"Aku masuk lift dulu Ummi," pamit Delmira.
"Tunggu Del," panggil Aisyah tapi panggilannya kalah cepat dengan langkah Delmira yang sudah masuk lift.
'Untung tadi Ummi tidak melihatnya,' batin Delmira mendekap erat plastik yang menjadi wadah barang yang dia beli di apotek.
Waktu terus bergulir hingga pagi menyapa sang bumi. Delmira bangun di saat Zaidan sedang olah raga pagi.
Dia gegas menuju lemari dimana tas yang kemarin dia pakai ke kantor ada di antara tas yang lain. Tangannya bergerak mengambil plastik yang berisi benda yang dibeli di apotek.
Delmira masuk ke toilet kamar. Tidak seperti biasanya, dia membawa cawan kecil. Delmira gegas buang air seni dan sebagiannya dia tampung di cawan yang tadi dibawa masuk. Tangannya bergerak mengeluarkan barang yang dibeli di apotek. Sebuah alat tes kehamilan dicelupkan di masukkan dalam cawan.
Selang berapa menit Delmira melihat dengan perasaan yang tidak karuan. Matanya sampai dia pejamkan dulu sebelum melihat secara langsung hasil alat tes kehamilan.
Tiba-tiba, dunia seperti runtuh menindih tubuhnya selaras dengan tubuhnya yang memang luruh ke lantai.
"Tidak mungkin! Ini pasti salah! Alat ini pasti salah!" gumam Delmira dengan suara yang bergetar.
Air mata Delmira menetes membasahi dua pipinya. Tubuhnya terasa lemas seketika. Masa depannya seperti tertutup tembok raksasa, menjulang tinggi dan menutupnya rapat-rapat hanya sekedar untuk menengok sedikit pun tidak bisa.
__ADS_1
"Pasti alat ini salah!" Tangis Delmira masih pecah, tubuhnya bergerak melangkah memutar keran shower. Air hangat mengucur membasahi seluruh tubuh Delmira.
Tok
tok
tok.
"Kenapa aku ceroboh sekali! Bisa-bisanya aku dibodohi Meilin seperti ini?" lirih Delmira.
Tangannya bergerak melepas pakaian yang dia kenakan. Lalu beralih mengambil handuk piyama yang tergantung di dalam toilet kamar.
Alat tes kehamilan itu dia masukkan kembali ke plastik.
"Aku ketok dari tadi loh," ucap Zaidan di ambang pintu.
Delmira melangkah keluar tanpa menyahuti ucapan Zaidan.
Menghampiri lemari tas lalu memasukkan kembali alat tes kehamilan itu di dalamnya.
Zaidan keluar dari toilet kamar. Dilihatlah sang istri sudah terlihat cantik dengan pakaian kerja yang dikenakan.
"Kamu tambah cantik Sayang," seloroh Zaidan dan sekali lagi Delmira hanya diam tanpa menyahuti ucapan Zaidan.
"Kamu kenapa Sayang?" tanya Zaidan mendekat ke arah Delmira.
"Oh, aku? Memang kenapa?" lontar balik Delmira.
"Aku tanya malah balik tanya," keluh Zaidan.
"Kita berangkat," ajak Delmira masih dengan raut yang bingung.
Sepanjang jalan Delmira tidak bersuara bahkan panggilan dari Zaidan juga tidak ditanggapi Delmira karena pikirannya memang sedang tidak fokus.
Zaidan memarkirkan mobilnya di teras rumah sakit. Mengelus pucuk kepala yang tertutup jilbab kerjanya, "jangan melamun terus, pagi-pagi ngelamunin apa?" lontar Zaidan dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Delmira membalas dengan senyum singkat, matanya memutar ke sekitar. Otaknya baru bisa konek kalau dia sudah sampai di rumah sakit, "aku turun dulu," pamit Delmira.
"Waalaikum salam," sindir Zaidan agar sang istri mengucap salam.
"Oh, ya, assalamualaikum."
"Waalaikum salam Sayang," sahut Zaidan.
Delmira turun, melangkah masuk ke gedung rumah sakit. Otaknya benar-benar hanya bisa memikirkan garis dua pada tes kehamilan yang dia pakai tadi pagi.
'Mungkin alat itu rusak, aku harus check ke dokter kandungan,' monolog batin Delmira.
malam menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏 Alur yang Kak Mel rangkai adalah karya orisinil Kak Mel ya... cuma itu pesan kak Mel 🥱🥱🥱 tokoh dalam novel hanya fiktif belaka jadi kalau tokohnya tidak terlalu kalian suka ya ...ya tetap dukung saja🤭terima kasih untuk kalian yang masih dukung karya aku. lope lope deh buat kalian 🥰😍😘.
__ADS_1
mampir ya ke karya teman aku, ceritanya dijamin seru