Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 38


__ADS_3

"Aden harus baca berkasnya kalau ingin melindungi Delmira dari wanita licik itu!" ucap Fernando yang muncul dari balik pintu ruang.


Zaidan yang tadinya terlihat ragu kini membuka lembar berkas satu persatu. Dia terdiam setelah berkas yang dia pegang terbaca sudah.


"Aku hanya menjalankan amanah almarhum bos Fatah. Apa yang menyangkut Den Zaidan adalah sebagian tanggung jawabku," ujar Fernando.


"Eksekusi sepenuhnya aku serahkan pada Aden," lanjut Fernando, melangkah keluar ruangan.


Zaidan mengempaskan napasnya kasar berharap sesak dada yang dia rasakan juga terempas keluar. Kakinya gegas mengambil tas lalu melangkah keluar mencari sosok Fernando.


"Kunci mobil mana Fer?" pinta Zaidan.


Fernando merogoh saku dan menyerahkan kunci pada bos nya.


"Tidak menunggu barang datang?" lontar Fernando karena keberadaan mereka hingga jam 8 malam untuk menunggu penurunan motor dari pabri


"Ada yang lebih penting dari itu. Kamu handle semuanya!" titah Zaidan melangkah cepat masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil itu, menelusuri jalanan kota yang tidak pernah lengang oleh waktu.


Begitu sampai di rumah, segera dia menaiki anakan tangga dan masuk ke dalam kamar.


"Zaidan!" pekik Delmira menutup aset penting atas bawahnya dengan dua tangan.


Zaidan tergelagap, membalikkan tubuh merasa bersalah masuk tanpa salam maupun ketuk pintu dan ternyata ada Delmira yang hanya mengenakan pakaian dalam.


Tanpa pikir panjang Delmira mendekat ke arah ranjang dan menggulung tubuhnya dengan selimut.


"Main masuk! Ketuk pintu kek!"


"Salah kamu juga kenapa hanya mengenakan_"


"Aku kira kamu beneran pulang jam 9 malam!" potong Delmira merasa geram.


"Ya maaf. Apa sekarang boleh menoleh?"


"Belum!" seru Delmira, kakinya kini bergerak ke arah lemari pakaian, padahal untuk menuju lemari pakaian dia harus melewati dimana Zaidan berdiri.


Demi cepat mengambil pakaian Delmira lari kecil dan tanpa sengaja ujung selimut bawah nyangkut di benda runcing membuat tubuh Delmira ikut tertarik ke belakang.


Bugh.


"Auww!" jerit Delmira, jatuh dengan posisi telentang.


Zaidan menolehkan ke samping dimana Delmira jatuh. Sontak tangannya bergerak mengangkat tubuh Delmira dan menariknya masuk ke dalam pelukan.


"Zaidan apa yang kamu lakukan!" geram Delmira.


Deg.


Zaidan baru menyadari kebodohannya, mengapa bisa dirinya refleks membantu Delmira. Lalu karena tidak ingin Delmira marah karena dirinya melihat aset penting miliknya, dia mengambil sikap lebih bodoh dengan menelusupkan tubuh mungil Delmira dalam pelukan.


"Maaf," seru Zaidan melepas pelukan dan langsung memutar tubuhnya lalu keluar kamar.


Merasa panas bergejolak menggerayangi tubuh mulai berubah mendingin, Zaidan masuk ke dalam rumah. Bagaimana tidak panas, dia lelaki yang tidak pernah bersentuhan dengan wanita lain, apalagi dengan posisi yang s*einti*m tadi. Pastilah ada getar yang berbeda.


Langkah Zaidan terhenti di ruang tengah ketika melihat Delmira dan ummi Aisyah menonton drama televisi. Tangan mereka sibuk mengelap mata berikut cairan bening yang mengalir dari celah mata. Tidak lama setelah itu mereka juga terbahak-bahak bersama, bersandar bahkan saling merangkul satu dengan lain.


Zaidan tersenyum melihat keakraban keduanya. Tidak ingin mengganggu kebersamaan mereka, Zaidan hanya berdiri di belakang sofa panjang yang mereka duduki.

__ADS_1


"Si cowoknya begitu kejam! Kenapa mengkhianati istri yang baik seperti itu!" umpat Aisyah.


"Dia tidak tahu Ummi sakitnya sang istri itu seperti apa!" sahut Delmira mengelap air mata yang tidak bisa berhenti.


"Tinggalkan saja suami kayak gitu! Cari yang lebih baik!"


"Harusnya begitu Ummi! Bodoh sekali masih berharap pada lelaki seperti dia!" sahut Delmira.


Zaidan terdiam, otaknya teringat pada berkas yang dibacanya hingga dia bergegas pulang. Walaupun dari lubuk terdalam ada alasan lain. Perasaan rindu ingin bertemu istri. Berlebihan sih karena pagi saja sudah bertemu mengapa malam menanggung rindu? Tapi itulah cinta, semenit tidak bertemu saja berasa setahun.


"Kamu Zaid," ujar Aisyah ketika pantatnya beranjak dari sofa dan tubuhnya memutar ke belakang.


"Kebetulan Ummi kebelet pup nih, tolong temenin Delmira," sambung Aisyah tanpa mendengar persetujuan Zaidan dia langsung berjalan cepat menuju toilet.


Zaidan bergerak dan duduk dimana Umminya tadi duduk.


Delmira tidak bereaksi ketika Zaidan duduk di sebelahnya. Entah karena terlalu fokus pada layar televisi atau memang masa bodoh ah, siapapun yang duduk di sampingnya.


"Miss..."


"Hmmmm," dengung Delmira.


"Aku_"


"Diam Zaid. Nikmati dramanya," cekat Delmira jari telunjuk menempel di bibir ranumnya.


Zaidan mengangguk, mata dan badannya kemudian mengarah pada layar televisi.


'Aku harus cari waktu yang tepat untuk menyampaikan semua padamu Del?' batin Zaidan.


Delmira tiba-tiba sesenggukan, "Tisunya kenapa habis?" keluh Delmira. Tangannya bergerak menarik tangan Zaidan. Tanpa merasa berdosa cairan bening yang mengalir dari mata dan hidung dilap dengan kaos panjang yang Zaidan kenakan.


"Bertambah sakitkan karena kamu bertahan," umpat Delmira matanya tetap fokus pada layar televisi. Deraian air mata terus saja mengalir membasahi pipi, eh bukan tapi membasahi lengan Zaidan.


"Lihat, anaknya yang jadi korban," tangis Delmira pecah kembali hanya karena drama yang dia tonton. Kali ini Zaidan bergerak cepat, bukan tangan yang Zaidan serahkan melainkan dada yang dia sodorkan. Benar penilaiannya, Delmira menyusup ke dada Zaidan dan menangis terisak di sana.


"Matikan saja televisinya," saran Zaidan.


"Jangan, ini lagi seru-serunya." sahut Delmira dengan suara yang parau.


Zaidan menahan tawa dengan sikap Delmira. Tidak mau melewatkan kesempatan, Tangan Zaidan bergerak melingkar bahu Delmira. Tubuh istrinya semakin dia susupkan dalam dadanya.


Delmira bukannya terusik malah merasa terlalu nyaman, sampai matanya beralih pandang ke layar televisi dan menyaksikan kembali drama yang belum usai dengan menyandarkan tubuhnya dalam dekapan Zaidan.


Aisyah menyaksikan adegan tiap adegan romantis dari anak dan menantunya. Sebuah senyum terpatri di wajah, kakinya kemudian melangkah masuk ke kamar. Membiarkan mereka bersama.


...****************...


Satu bulan berlalu, Delmira semakin dekat dengan Aisyah, bahkan selama dua minggu ini, mereka lebih asyik memakai mobil bersama. Delmira tidak segan menebeng sang mertua atau sebaliknya Aisyah terkadang yang ikut mobilnya Delmira. Tak pelak, kedekatan mereka membuat Zaidan semakin mencintai akan sesosok Delmira.


Plak.


"Auw!"


"Maaf," ucap Delmira sambil menunjukkan nyamuk yang ada di tangannya.


"Kamu harus tanggung jawab. Sakitnya hingga ubun-ubun ini," ujar Zaidan masih memegang pipi kanan yang terkena tampokan tangan Delmira.

__ADS_1


Delmira nyeringis memperlihatkan barisan giginya. "Coba aku lihat," pintanya menarik tangan Zaidan yang menutup pipi kanan karena Delmira sendiri merasa reflek menampok pipi Zaidan dengan kuat.


"Jangan! Kalau lihat nanti kamu nyesel," tolak Zaidan tetap mengeratkan tangan.


"Aku lihat," paksa Delmira.


"Jangan," kekeh Zaidan mengangkat pantatnya, melangkah ke nakas niatan akan mengambil minyak balur.


Delmira begitu penasan dengan jejak tangan yang mungkin terekam di pipi kanan Zaidan. Kakinya kemudian mengekor langkah Zaidan dan tanpa aba-aba langsung menarik tangan Zaidan. Namun, karena posisi tubuh Delmira yang hanya sebatas bahu Zaidan, dia akhirnya lompat untuk meraih tangan yang menempel di pipi.


Bugh.


Tubuh Zaidan yang tidak berdiri tegap akhirnya terjatuh di kasur, otomatis Delmira pun ikut terjatuh di atas tubuh Zaidan.


Sekejap mereka terdiam larut dalam suasana romantis yang tidak sengaja mereka ciptakan.


Zaidan reflek meraba pipi Delmira, turun hingga bibir merah milik sang istri.


Delmira baru tersadar, langsung bangkit dari tubuh Zaidan dan segera keluar dari kamar untuk menghilangkan degup jantung yang tidak karuan.


Tidak lama kemudian Zaidan menuruni anak tangga menuju ruang makan.


Pantatnya lalu didudukkan di salah satu kursi membersamai Ummi Aisyah dan Delmira.


"Ummi, besok sore sepulang kerja aku ada temu dengan sahabat-sahabatku. Sudah lama kami tidak kumpul," ujar Delmira ketika mereka sedang makan malam.


Zaidan membelalakkan mata, hampir satu bulan ini Delmira memang tidak menemui sahabat-sahabatnya karena lebih sering pergi dengan Aisyah.


"Ya, tidak apa-apa. Nanti Ummi biar dijemput Zaidan," jawab Aisyah.


"Mobil Ummi bermasalah lagi?" tanya Delmira.


"Tidak sih, Ummi hanya pengen dekat dengan kalian saja," sahut Aisyah. "Ummi tidak akan menyia-nyiakan waktu untuk tidak dekat dengan kalian. Ummi tidak tahu hari esok atau lusa masih bisa dengan kalian atau tidak," lanjut Aisyah.


"Ummi," sebut Delmira langsung memeluk bahu Aisyah merasa ucapan Aisyah seperti esok adalah hari terakhir untuk mereka bertemu.


Aisyah tersenyum dengan perlakuan Delmira.


"Sudah ah, Ummi masuk ke kamar dulu ya," pamit Aisyah, melepas gelayutan Delmira. Padahal itu hanya sebuah alasan karena Aisyah tidak ingin menjatuhkan bulir air mata di depan anak dan menantunya.


"Aku juga ke kamar," ucap Delmira kemudian melangkahkan kakinya.


Selang beberapa menit Zaidan juga beranjak dari ruang makan menuju kamar. Mata Zaidan memutar mencari sosok Delmira. Kakinya lalu melangkah mendekat ke sofa kamar yang diduduki sang istri.


"Besok bertemu dengan siapa saja?"


"Biasalah dengan Marsya, Silvia, Meilin, dan Yasmin," jawab Delmira matanya tetap fokus memandang gawai yang ada di tangan.


"Jangan terlalu dekat dengan Meilin."


"Kenapa?"


Zaidan terdiam tapi kakinya melangkah ke lemari dimana tas kerjanya berada. Tangannya membuka tas itu lalu mengambil berkas yang sebulan ini dia simpan.


'Mungkin ini waktu yang tepat Delmira tahu semuanya,' monolog batin Zaidan karena satu bulan ini Zaidan memang sengaja memilih waktu yang tepat. Bukan mengulur waktu, hanya saja mengahadapi Delmira butuh kesabaran agar tidak terjadi salah paham kembali.


"Bacalah," ujar Zaidan menyerahkan sebuah berkas.

__ADS_1


Delmira sedikit ragu menerima berkas itu tapi rasa penasaran yang tinggi membuatnya membuka lembar demi lembar berkas yang diberikan Zaidan.


Malam menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏


__ADS_2