
Delmira diam, menundukkan pandangannya.
"Tidak ada sebab yang membuat Papyang marah dengan Momyang," imbuh Zaidan.
Sontak wajah Delmira dia tengadahkan, "Momyang tidak teliti mengecek berkas klaim asuransi kesehatan pemerintah. Momyang takut, pasti dampak dari itu sangat fatal, mengingat sebagian besar pemasukan rumah sakit dari klaim asuransi tersebut," lirih Delmira.
"Nanti Papyang bantu cek semuanya. Jangan sedih. Insyaallah, yang benar akan ditampakkan, begitu juga sebaliknya, yang salah akan terlihat pula," ucap Zaidan menghibur istrinya.
"Coba saja Momyang teliti untuk mengecek semuanya. Hal ini pasti tidak akan terjadi," sesal Delmira.
"Astaghfirullah haladhim, Momyang, istighfar. Kita harus ikhtiar dulu, jangan lagi-lagi menyalahkan diri. Setelah kita sudah berusaha, selanjutnya kita pasrahkan pada Allah," ucap Zaidan memberi semangat pada istrinya.
"Sudah, joging dulu yuk sekitar komplek, biar pikiran fresh," sambung Zaidan mengajak istrinya dari pada terus memikirkan masalah rumah sakit.
Delmira tersenyum mengangguk.
...****************...
Seperti apa yang dijanjikan Zaidan, sudah dua hari dia membantu menemukan perbedaan laporan klaim asuransi kesehatan pemerintah dengan fakta lapangan.
Zaidan terdiam melihat laporan asli dan laporan siluman yang dibuat tim keuangan.
"Tersusun sangat rapi, mulai dari pendataan pasien berasuransi kesehatan pemerintah hingga klaim jenis kesehatannya dirinci sedetail mungkin. Papyang rasa, dia tidak hanya tiga, empat orang yang terlibat. Tapi pasti ada dalang dari semuanya," terka Zaidan, dahinya masih berkerut, memikirkan semuanya.
"Apa langsung aku panggil yang menangani bidang keuangan Papyang?"
"Tunggu, kita kumpulkan bukti yang lebih kuat, baru kita tangkap basah mereka," cegah Zaidan.
"Apa belum ada tanda-tanda bukti terbaru?"
"Insyaallah sedikit lagi," ujar Zaidan. Membuka beberapa file cctv yang diambil dari ruang security.
Delmira menurut, dia memeriksa beberapa file yang sekiranya dapat membantu memperkuat bukti kecurigaan yang mengarah pada kepala bidang keuangan.
Zaidan berhenti sejenak, menatap ke arah sang istri, tangannya menyentuh punggung tangan Delmira hingga mata Delmira berhenti tatap pada laptop dan beralih menatap sang suami.
Delmira tersenyum kecil, "Terima kasih," lirihnya.
Zaidan membalas senyum itu.
"Wajah Momyang kalau serius seperti ini, lucu sekali dan aura cantiknya semakin terpancar," ujar Zaidan.
"Astaghfirullah haladhim, Papyang, kita sedang serius menyelidiki kasus korupsi, sempat-sempatnya ngengombal," protes Delmira, menggelengkan kepala.
Zaidan terkekeh, "Aku tidak bisa kalau hanya diam menyaksikan wajah yang secantik ini dianggurkan," balas Zaidan, tangannya pindah gerak menyangga rahang Delmira.
__ADS_1
Wajah Zaidan mendekat, semakin mendekat, dan sangat mendekat hingga tidak ada jarak yang menyatukan bibir keduanya. Pagutan yang lembut membuat Delmira tidak kuasa untuk tidak membalasnya.
Tangan Zaidan bergerak membopong Delmira agar duduk nyaman di pangkuannya. Aksi pun berlanjut hingga menghasilkan aksi yang lebih dari sekedar pagutan.
Tok
tok
tok.
Suara ketukan pintu membuat mereka dengan terpaksa melepas pagutan yang sebelumnya sudah mulai menggoda iman untuk melancarkan aksi berikutnya.
Delmira gegas bangkit dari pangkuan Zaidan, membenarkan pakaiannya yang sudah terbuka kancing bagian atas, lalu mengenakan jilbabnya yang sempat dijatuhkan oleh Zaidan.
Kakinya melangkah ke arah meja kerja, mengambil remot dan menekan tombol pintu ruangan agar kuncinya terbuka.
"Masuk," titah Delmira kemudian.
Delmira menahan senyum, saat melirik ke arah suaminya yang terlihat tidak senang karena dirinya memilih untuk menghentikan paksa berbagai aksi yang sedang mereka berdua nikmati.
"Maaf, mengganggu Bu," ucap Dini setelah masuk ruangan.
"Ya tidak apa-apa. Ada Mbak Din?"
Zaidan menatap tajam gerak, ekspresi asisten istrinya, hal yang sama juga Delmira lakukan.
"Oh, tidak usah kamu pedulikan, semuanya memang berantakan. Nanti aku benahi," ujar Delmira yang merasa pandangan Dini penuh intimidasi kenapa ruangan atasannya bak kapal pecah.
Dini tersenyum, "Iya Bu, maaf, seingat aku tadi pagi rapi. Maaf Bu sekali lagi minta maaf," ujar Dini.
"Tidak apa-apa Din, tidak ada yang perlu diminta maafkan. Oya, nanti kamu balas saja, atur pertemuan dalam waktu tiga hari ini, insyaallah aku sudah tidak ada kesibukan," terang Delmira.
"Ya Bu, saya akan sampaikan pada PT Bangun Usaha. Saya permisi dulu," ucap dini mengiyakan apa yang diminta Delmira kemudian pamit meninggalkan ruangan.
Sepeninggal Dini, Zaidan bangkit, mengambil remot pintu lalu menekan tombol kunci.
Matanya kini berpindah tatap pada istrinya.
"Kita harus menyelesaikan semuanya, Papyang," ujar Delmira ngeloyor melewati tubuh Zaidan.
"Aku tidak bisa membiarkan kamu lepas lagi," ucap Zaidan menarik tangan Delmira hingga tubuhnya berbalik menghadap ke arahnya.
"Tapi Papyang, kita...kita_"
Ucapan Delmira terhenti seketika tatkala bibirnya terbungkam oleh bi*bir lelakinya.
__ADS_1
Zaidan seketika membopong tubuh kecil Delmira.
"Papyang!" terkejut Delmira melepas pagutan.
"Kamu harus diamankan ke tempat khusus," ucap Zaidan berjalan masuk ke ruang tersembunyi dari ruang kerja milik Delmira.
Apa yang mereka lakukan? Kepo nih kak Mel, sayangnya ruangan itu dikunci, he he he he. Tidak perlu kita intip, tunggu saja sampai selesai ya.
Nah, mereka sudah selesai kayaknya. Tuh Mbak Del keluar dari ruangan tersembunyi setelah mandi keramas di siang bolong. Eits...tapi kok Mas Zaidan tidak ikut keluar?
"Ini namanya menang di kamu Papyang," gerutu Delmira, tapi nyatanya bibirnya tersenyum merasa suaminya selalu memperlakukan dirinya dengan lembut dan penuh penghargaan.
Delmira kembali memeriksa keuangan dan runtutan klaim data pengajuan asuransi kesehatan pemerintah.
Kruyuk kruyuk...
Delmira menatap jam dinding yang ada di ruang kerjanya, "Pantesan bunyi, sudah hampir jam satu siang," monolog Delmira. Tangannya bergerak mengambil ponsel dan memesan beberapa menu untuk dia dan Zaidan makan.
Setengah jam kemudian, pesanan itu diantar Dini ke ruangan.
"Terima kasih Mbak Dini," ucap Delmira saat Dini menaruh pesanan yang diantar ojek on line.
Mata Dini kembali memutar penuh telisik ke seluruh penjuru meja dan lantai yang dipenuhi berkas.
"Ya Bu," jawab Dini.
"Papyang," ujar Delmira terkejut melihat suaminya tiba-tiba datang mendekat, "tadinya mau Momyang bangunin, ternyata sudah bangun sendiri," imbuhnya.
Zaidan tersenyum.
"Saya permisi dulu," izin Dini.
"Ya, terima kasih Mbak," ucap Delmira sekali lagi.
Dini pun keluar.
Zaidan dan Delmira makan siang terlebih dahulu. Kemudian mereka kembali meneruskan penyelidikan.
"Kamu pernah menugaskan Dini untuk mengecek laporan ini?" lontar Zaidan, setelah selesai makan.
"Tiga bulan ini memang aku lebih percayakan pada dia untuk mengecek semuanya," jawab Delmira.
Zaidan diam, "Itu mengapa Papyang tidak mengizinkan kamu memberitahukan penyelidikan ini padanya," sahut Zaidan.
"Apa itu berarti..., Papyang mencurigainya?"
__ADS_1