Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 82


__ADS_3

"Delmira," ucap Zaidan dengan suara bergetar.


Merasa namanya dipanggil, Delmira menolehkan pandangan ke sumber suara.


Tidak jauh berbeda dengan Zaidan, betapa terkejutnya dia menatap lelaki yang ada di depannya.


"Subhanallah, itu benar kamu Mrs. Delmira," lirih Zaidan, kakinya bergerak mendekat ke arah Delmira yang berdiri mematung.


"Za... Zaidan," sebut Delmira, pelupuk matanya langsung berembun.


Sungguh pertemuan yang begitu mengharukan. Keduanya sama-sama menyimpan rasa rindu yang mendalam, dan dipertemukan oleh Allah dengan cara yang tidak terduga.


Delmira sedang menata catering untuk acara yang diadakan dealer motor Pekalongan. Sedangkan Zaidan, dia datang ke tempat itu karena kepasrahannya, mengalah pada keadaan, demi Ummi Aisyah yang memintanya untuk pindah tempat kerja.


Namun, apa rencana Allah, semuanya indah dalam tatanan-Nya. Tanpa rencana tapi nyatanya begitu mengasyikkan.


Zaidan menampilkan senyum, menatap Delmira. Kalau tidak ingat Delmira sudah bukan muhrimnya, pasti dirinya sudah memeluk tubuh wanita itu.


"Bagaimana kabar kamu?" lontar Zaidan, suara bergetar dan terbata.


Delmira menundukkan pandangannya, "Alhamdulillah baik," jawabnya, lalu wajahnya dia tengadahkan menatap Zaidan sekilas, "Bagiamana dengan kamu?" tanya Delmira kemudian.


Zaidan sempat terdiam, menata debar jantung dan napas yang masih tidak terkontrol dengan baik, "Sekarang, Alhamdulillah aku baik," balas Zaidan, matanya masih menatap lekat wanita yang selama ini dia rindukan. Secara fisik dia jelas berubah, Delmira memakai kerudung instan panjang menjuntai hingga dada dan balutan gamis melekat dalam tubuhnya. Sungguh perubahan yang membuat wajah cantik itu semakin cantik. Walaupun, jelas Zaidan melihat ada bekas luka di pipi kiri Delmira.


Delmira semakin menundukkan pandangannya, dia tahu Zaidan masih menatapnya dengan tatapan lekat.


"Maaf, aku permisi dulu, mau menyiapkan cateringnya," pamit Delmira, tanpa mendengar persetujuan Zaidan, kakinya melangkah pergi dari hadapan Zaidan.


'Ya Allah, ada apa dengan kamu Mrs. Delmira. Wajah kamu ada bekas luka, dan jalan kamu? Kenapa pincang seperti itu?' batin Zaidan penuh tanya, matanya masih menatap lekat ke arah Delmira. Hingga pandangan itu melayang jauh, sejauh mata memandang. Entah ada kekuatan apa. Ada rasa khawatir yang menggugah diri, Zaidan berjalan mengikuti kaki Delmira melangkah. Dia sampai tidak memedulikan beberapa pegawai yang akan mengantarnya masuk ke ruang kerja miliknya.


"Biar aku bantu," tawar Zaidan melihat Delmira menurunkan satu persatu alat catering.


"Maaf Pak Zaidan, kami akan tunjukkan ruang kerja Bapak," sela seorang pegawai dealer.


"Kamu bisa tunjukkan nanti," jawab Zaidan, tangannya bergerak akan mengangkat salah satu alat catering.

__ADS_1


"Zaid, aku sudah ada yang bantu," cegah Delmira, dagunya menunjuk ke beberapa orang yang membantu catering miliknya.


Flashback on.


Catering yang dijalankan Delmira baru berjalan 2 bulan. Saat itu Verel menawarkan Delmira untuk mengembangkan usaha warung mbok Sa'diyah agar melayani jasa catering. Delmira memang punya keinginan melayani catering. Namun, modal menjadi kendala keinginannya.


Tanpa persetujuan Delmira, Verel telah membelikan alat catering juga membelikan armada sebagai pelengkap pelayanan catering.


"Verel, apa yang kamu lakukan?" lontar Delmira saat itu, terkejut melihat alat catering ada di rumah mbok Sa'diyah.


"Aku tahu, kamu tidak mungkin mau aku berikan ini semua. Jadi, bayarlah secara cicil," sahut Verel. Walaupun dirinya ikhlas memberikan semuanya. Bahkan lebih dari itupun Verel akan melakukannya.


Delmira mengempaskan napasnya kasar, "Butuh berapa puluh tahun sampai lunas?" gumam Delmira mengerucutkan bibirnya.


Verel terkekeh, dia menatap lekat wajah Delmira. Rasanya begitu gemas melihat ekspresi pujaan hatinya seperti itu.


"Terserah kamu, bayar berapa pun. Intinya kamu tidak menolak peminjaman dariku."


"Issst! Mengapa aku merasa kamu seperti sengaja menjeratku dalam hutangmu!" sahut Delmira.


Verel kembali terkekeh, "Kamu mengajarkan aku untuk selalu berpositif thinking atau apa itu istilahnya..."


"Ya itu, kenapa malah suudhon padaku?"


Delmira tersenyum mendengar jawaban Verel karena beberapa kali Verel menggunakan kosakata dalam dunia Islam, "Kirim nomor rekening kamu," ujarnya kemudian.


Wajah Verel terlihat berseri, ucapan Delmira dapat diartikan kalau dia menyetujui apa yang Verel berikan.


Flashback off.


Zaidan mematung menatap Delmira yang sudah masuk ke dealer dengan membawa beberapa peralatan catering.


Tidak lama, Delmira muncul kembali.


"Mengapa aku tidak tahu, aku sedang mempersiapkan catering untuk menyambut kedatangan direktur utama dealer motor Pekalongan. Dan ternyata, itu kamu," lontar Delmira, setelah mendengar bincang beberapa pegawai dealer.

__ADS_1


Zaidan membalas dengan sebuah senyum, "Aku masuk ke dalam dulu. Nanti kita harus ngobrol," balas Zaidan, melangkahkan kakinya.


Acara penyambutan direktur utama dealer motor Pekalongan selesai dan ditutup dengan makan siang bersama.


Mata Zaidan mencari sesosok delmira yang tidak dia lihat dalam penyajian catering.


"Ibu Delmira tidak ke sini?" tanya Zaidan pada salah satu pegawai catering milik Delmira.


"Mbak Del mungkin ke warung mbok Sa'diyah," jawabnya.


"Warung? Dimana?"


"Bapak tahu pondok pesantren Raudhatul Athfal?"


Zaidan mengangguk.


"Nah, warung itu dekat pondok, biasa melayani anak-anak pondok ketika makan siang."


"Oh, terima kasih," ucap Zaidan, lalu melangkah pergi.


Zaidan tidak bisa pergi begitu saja dari dealer karena banyak tamu yang masih menikmati makan siang. Namun, setidaknya dia tahu dimana Delmira. Alamat lengkap, beserta nomor telepon Delmira juga sudah dia dapatkan dari kartu catering yang ditaruh di meja kecil yang sengaja agar diambil tamu undangan, sebagai bentuk promosi dari catering Delmira.


Sore menyapa.


Delmira datang dengan mobil terbuka, Dia membantu pegawai membereskan bekakas catering.


Mata Delmira sesekali melirik kanan kiri.


"Kamu mencariku?"


"Astaghfirullah haladhim," kaget Delmira memegang dadanya.


Zaidan tersenyum melihat ekspresi Delmira.


"Siapa juga yang cari kamu," sungut Delmira, kakinya melangkah ke mobil terbuka yang ada di teras dealer.

__ADS_1


'Tunggu aku nanti malam Mrs. Delmira,' monolog batin Zaidan memutar badannya, masuk ke ruang kerja.


sore menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏


__ADS_2