Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 12


__ADS_3

"Dijual?" ulang Zaidan merasa tidak percaya.


"Ya! Aku jual! Besok belikan yang baru!" cerocos Delmira dan mulutnya refleks meminta pada Zaidan.


"Baru?"


"Ya! Aku minta yang baru!" sahut Delmira, matanya melirik ke arah Zaidan yang tak bereaksi apapun bahkan menjawab ya saja terasa sungkan.


"Ah, tapi kan kamu pelit. Sudahlah lupakan yang aku minta!" seloroh Delmira.


"Buruan pulang!" titah Delmira kemudian masuk ke dalam mobil yang sudah dibuka kuncinya.


Zaidan ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Delmira.


'Del! Kenapa kamu minta mobil. Nanti apa yang ada dalam pikiran Zaidan? Pasti dia mengecap kamu sebagai wanita murahan!' gerutu batin Delmira, tangannya menggaruk rambut yang tidak gatal.


'Lalu, kalau kamu dikasih beneran dan nanti Zaidan meminta jatah haem haem?' lanjut batin Delmira matanya mengarah ke arah Zaidan tepat pada bagian sensitif yang tertutupi celana.


"Tidaaaak!" teriak Delmira.


"Kenapa Mrs?" tanya Zaidan bingung dengan tingkah Delmira.


Delmira gelagap, tangan Zaidan yang memegang bahunya langsung dia tampik.


"Tidak apa-apa, kamu geser jangan terlalu dekat," pinta Delmira dengan mengatur napas dan pantat nya juga ikut geser agar tidak terlalu menempel dengan Zaidan.


Ponsel Zaidan bergetar. Tangannya bergerak menyambungkan panggilan itu. Setelah tersambung dengan kontak atas nama Fernando, Zaidan mendapat rentetan pertanyaan yang dilontarkan Fernando.


"Ya, aku baik-baik saja Fer. Kita langsung pulang, aku sudah di mobil," jawab Zaidan lalu menutup ponselnya.


Sejak siang, Zaidan dan Fernando sudah ada di Mega mall raya dalam rangka pengecekan jalannya promosi dari tim marketing dealer yang dia kelola. Seharusnya pengecekan itu dia lakukan tadi pagi. Namun, dia urungkan karena dia harus ke rumah sakit untuk menjenguk abah Fatah.


Saat sudah memasuki waktu salat ashar, Zaidan gegas untuk menunaikan salat. Kebetulan tempat ibadah ada di lantai bawah. Sekalian dia akan mengambil charger ponsel yang ada di dalam mobil.


Setelah menunaikan salat asar, kakinya berjalan akan ke tempat parkir. Saat itulah kejadian dimana dia ditabrak Delmira.


Tidak selang berapa lama sosok Fernando datang dan masuk ke dalam mobil, duduk di kursi pengemudi.


"Maaf Den, aku tidak tahu apa yang menimpa Aden kalau tidak melihat postingan salah satu teman. Tadi_"


Fernando menghentikan kalimatnya. Dia yang sedari tadi bicara sambil sibuk memasang sabuk pengaman dan menata duduknya agar nyaman mengemudi tidak melihat kalau di samping Zaidan ada Delmira kalau saja Fernando tidak melihat ke belakang jok pengemudi.


"Non Delmira di sini?"


"Kenapa? Itu salah?" sahut Delmira dengan ketus.


"Tidak Non," jawab Fernando cepat.


'Itu bukan editan dan benar kejadiannya? Jadi, den Zaidan kalah tanding dengan non Delmira?' batin Fernando.

__ADS_1


'Ini tidak bisa dibiarkan! Mau tidak mau den Zaidan harus belajar ilmu bela diri!' lanjut batin Fernando, pikirannya fokus pada video yang menampilkan Zaidan tersungkur saat dinaiki Delmira.


...****************...


Zaidan ikut duduk menyandar di kepala ranjang, Delmira melirik ketika lelaki itu duduk di sampingnya.


"Kamu tidak gunakan ATM yang aku kasih?" tanya Zaidan membuka pembicaraan.


"Aku belum butuh."


"Kalau belum butuh, kenapa mobilnya kamu jual?"


Seketika Delmira terkejut mendengar lontar tanya dari Zaidan. Namun, bukan Delmira kalau dia tidak dapat berkilah.


"Aku kan sudah bilang ingin punya mobil baru," jawab Delmira.


"Tapi... tidak jadi. Dua hari ini, saat aku keluar memakai ojek on line, ternyata lebih nyaman," lanjut Delmira.


"Pakailah, itu uang yang memang wajib aku berikan sama kamu."


Delmira melirik ke lelaki sampingnya, mendengar kata wajib seakan menyindir dirinya soal hal wajib yang sampai sekarang belum dia tunaikan sebagai seorang istri. Padahal sudah 7 malam status dia sah menjadi istri dari Alfian Zaidan Mukhtar.


"Aku bilang aku belum butuh!" ulang Delmira.


Zaidan malah tersenyum melihat Delmira kesal.


"Kalau begitu, pakailah kalau kamu butuh," sahut Zaidan dan refleks tangannya mengusap pucuk kepala Delmira.


!" geram Delmira, menatap tajam ke arah lelaki yang sudah merebahkan tubuh dengan posisi memunggungi dirinya.


"Dan perlu kamu ingat! Aku mau menyetujui pernikahan ini karena... karena...,"


"Karena apa?" cekat Zaidan sekaligus lontar tanya, membalikkan posisi tubuhnya hingga menghadap ke arah Delmira.


Delmira terdiam seketika. Hampir saja dia keceplosan untuk mengatakan alasan dia menerima lamaran Zaidan untuk menikah.


"Karena aku butuh uang!" jawab Delmira asal.


Zaidan terkekeh mendengar jawaban Delmira, dia bangkit dan mendudukkan kembali pantatnya.


"Kalau karena uang, ATM itu pasti sudah kamu pakai," sahut Zaidan wajahnya mendekat ke arah Delmira, lebih mendekat, dan sangat mendekat hingga dahi Zaidan menempel pada dahi Delmira, hembusan napas Zaidan menerpa wajah Delmira. Seketika jantung Delmira seperti berhenti berdetak.


"Selamat malam, tidurlah," lirih Zaidan


Delmira masih mematung. Jantungnya masih tertompa tidak normal. Sesekali dirinya menghempaskan napas pelan agar ritme jantungnya kembali normal.


...****************...


"Tadi malam hampir saja aku keceplosan mengenai alasan aku mau menikah dengan Zaidan," ucap Delmira mengawali pembicaraan ketika dirinya bertemu dengan Meilin dan sedang menunggu sahabat-sahabat yang lainnya datang.

__ADS_1


Meilin berhenti menyedot es lemon tehnya karena terlalu terkejut.


"Untung aku dapat berkilah," lanjut Delmira dengan bangganya.


"Kamu harus hati-hati," sahut Meilin.


Delmira mengangguk. Satu kopi capuccino yang dia pesan sudah setengah masuk dalam lambung.


"Mereka kenapa belum juga datang?" keluh Delmira.


"Dari cerita kamu, sepertinya kamu mulai akrab dengan lelaki itu?" telisik Meilin tanpa menyahuti keluhan Delmira sebelumnya.


"Benarkah?"


"Aku tanya kamu, kenapa kamu balik pertanyaan itu?!"


"Mungkin itu sekedar penilaian kamu," sambung Delmira.


Meilin tersenyum singkat, satu suap coklat brownies dia masukkan ke dalam mulut.


"Itu bagus! Tinggal lancarkan aksi, buat dia jatuh cinta dengan kamu dan tinggalkan dia dengan cara yang menyakitkan."


Delmira menarik dua sudut bibirnya membentuk sebuah senyum. Namun, senyum itu berbeda arti bagi Meilin.


"Kamu terlihat ragu membalaskan dendam kamu?" lontar Meilin.


"Itu hanya penilaian kamu."


"Kamu tidak ada jawaban lain selain itu?" kesal Meilin.


Lagi Delmira tersenyum, "entahlah. Aku... aku hanya_"


"Arwah anak, suami kamu, dan kedua orang tua kamu belum sempurna tenang sebelum kamu membalas kematian mereka yang begitu tragis!" sambung Meilin.


Delmira terdiam. Setiap membahas itu hatinya mendidih.


"Benar apa kata kamu Mei! Aku harus buat arwah orang-orang yang aku cintai tenang di sana!" ujar Delmira tangannya menyapu dua mata yang tiba-tiba mengalirkan air bening.


"Itulah Delmira yang aku kenal," puji Meilin menepuk pelan bahu Delmira.


Drt.


drt


drt


Mata Delmira berpindah tatap ke arah ponsel yang dia taruh di atas meja. Satu panggilan masuk ke ponsel.


"Zaidan," ujar Delmira ketika mata Meilin mengisyaratkan sebuah tanya siapa penelepon.

__ADS_1


"Jangan diangkat!" titah Meilin.


sore menyapa 🤗 jangan lupa like, komen, hadiah, vote, rate, tips hadiah dari iklan juga mau🤲😍😘🙏


__ADS_2