Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 44


__ADS_3

Malam hari, ketika hendak tidur, Zaidan sempatkan mengobrol dengan istrinya.


"Besok jalan yuk," ajak Zaidan ketika Delmira menarik selimut menutupi sebagian tubuhnya.


"Jalan kemana?"


"Enaknya kemana?" tawar Zaidan.


Delmira diam. Sebenarnya dia sangat malas untuk keluar tapi entah kenapa dia merasa tidak enak kalau menolak tawaran Zaidan.


"Wahana bermain?"


"XX Difan?" tebak Zaidan karena memang otaknya hanya tahu kalau wahana permainan ya ada di di situ.


Delmira mengangguk cepat.


"Apanya yang bagus di wahana itu?"


"Pastinya banyak wahana yang menantang adrenalin," sahut Delmira.


"Ok," jawab Zaidan dengan datar.


"Kamu tidak suka?" lontar Delmira melihat ekspresi muka Zaidan.


"Su... suka, pokoknya asalkan kamu suka aku akan suka."


"Ok, besok ingatkan aku," ucap Delmira memposisikan tidur dengan membelakangi Zaidan.


Berbeda dengan Zaidan dia malah memposisikan diri menghadap ke punggung Delmira.


"Jangan lupa berdoa dulu Miss."


"Hmmm," dengung Delmira.


"Kita baca bersama," ajak Zaidan.


"Aku tidak hafal," jawab Delmira dengan sungkan.


"Tidak harus kamu hafal, hanya baca tiap kali kamu akan tidur, insyaallah hafal dengan sendirinya."


"Itu sama saja suruh menghafal Zaid," keluh Delmira.


Zaidan tersenyum menampakkan barisan gigi putihnya.


"Kamu ikuti ya."


"Hmmm."


"Bismillahirrahmanirrahim, Bismika- allahumma- ahyaa -wa -bismika -amuut," BCA Zaidan mengeja tiap kata agar Delmira dapat mengikutinya.


"Amin," ucap Delmira dan Zaidan bersamaan.


"Oya, besok ajak Ummi juga ya," pinta Delmira.


"Jangan!" cekat Zaidan.


"Kenapa? Kalau ramai kan lebih asik?"


"Ummi yang menyuruh kita kencan berdua, masak kamu mau ajak Ummi," gumam Zaidan.


"Apa?" lontar Delmira penasaran karena volume suara Zaidan terllau kecil.


"Lupakanlah. Intinya besok aku ngajak kamu kencan."


"Kencan, kencan pala peang! Aku tidak akan termakan tipu muslihat kamu!" gerutu Delmira membuat barisan gigi Zaidan terlihat kembali.


"Lagian..." Ucapan Delmira terhenti entah kenapa dia berat untuk melanjutkan kalimatnya.


"Lagian kenapa?" penasaran Zaidan.


"Aku ngantuk mau tidur," sahut Delmira dan hatinya yang menjawab jujur apa yang ditanyakan Zaidan.


'Lagian, aku bukanlah wanita seperti dulu lagi, aku wanita kotor yang tidak pantas kamu pertahankan Zaid," jawab batin Delmira yang entah kenapa tidak dapat dia lontarkan secara langsung pada Zaidan.

__ADS_1


...****************...


Delmira dan Zaidan sudah ada di pintu masuk. Setelah satu tangan mereka di beri stempel oleh petugas mereka pun masuk ke wahana XX Difan.


Wahana ini menyediakan berbagai permainan dari yang aman untuk anak dan keluarga hingga wahana menantang adrenalin. Delmira melangkah lebih cepat, sudah tidak sabar ingin mencoba wahana yang belum dia coba. Terakhir dia ke wahana ini, dua minggu sebelum tragedi yang menimpa keluarganya.


"Ayo cepat Zaid," titah Delmira tangannya reflek menarik tangan Zaidan agar cepat ke wahana jamur apung.


Zaidan sengaja melambatkan jalannya, agar tangan yang dipegang Delmira tidak cepat dilepas.


"Ayo Zaid. Nanti semakin banyak yang antri," Delmira memundurkan langkah mengimbangi langkah Zaidan bahkan tangan kirinya kini melingkar di lengan Zaidan karena banyaknya orang yang berdesakan menurun ke lokasi wahana yang memang di perairan.


Zaidan tersenyum mengambil kesempatan yang memang harus diambil.


"Ya Sayang sabar," sahut Zaidan melangkah bersama Delmira.


"Issst?" kesal Delmira dengan sahutan Zaidan. Namun, kekesalan itu yang sengaja ingin dilihat dari raut wajah Delmira.


" Wajah cemberut kamu ini yang semakin menggemaskan," lirih Zaidan tepat di telinga Delmira.


Delmira menggidikkan bahunya, merasa geli dengan ucapan Zaidan, lagi dan lagi Zaidan tersenyum menang.


Setelah mereka naik satu putaran. Mereka berjalan ke wahana yang lebih menantang.


"Berani kan?"


Zaidan mengangguk. "Kamu meremehkan aku, hanya duduk di dalam kurungan seperti itu siapa takut," jawab Zaidan ketika Delmira mengajak berpindah ke wahana bianglala.


"Bagus! Cepat antri," antusias Delmira masuk kedalam barisan antrian.


Setelah antriannya tiba, Zaidan dan Delmira segera naik. Bianglala pun mulai berputar setelah terisi penuh.


'Kenapa setinggi ini?' gumam Zaidan ketika posisi mereka tepat di atas.


"Wow... indah sekali pemandangan pantai dari ketinggian!" seru Delmira matanya tanpa kedip melihat keluar dari balik celah kurungan.


"Kamu lihat biru Zaid," tunjuk Delmira tetapi ketika wajahnya beralih pandang ke arah Zaidan, Delmira tidak lagi seantusias sebelumnya.


"Kamu takut Zaid?"


Delmira terkekeh mendengar jawaban Zaidan.


"Ya ampun Zaid, kenapa tidak jujur saja. Lihat wajah kamu penuh dengan keringat," seloroh Delmira tangannya mengelap keringat yang mengalir di wajah Zaidan.


"Aku tidak apa-apa hanya cuacanya yang terlalu panas saja."


Delmira semakin terkekeh. "Sudahlah pegangan saja," ucap Delmira menarik tangan Zaidan agar berpegang pada tangannya.


"Sudah ah, kita cari wahana yang tidak menantang adrenalin. Bisa-bisa kamu nanti pingsan di tempat," ujar Delmira ketika mereka sudah turun.


"Kita coba yang lain. Aku hanya sedikit nervous. Kalau coba yang lain pasti tidak kenapa-napa," pinta Zaidan.


"Bener tidak takut?"


"Iya, yakinlah sama aku."


"Kalau naik itu?" Telunjuk Delmira menunjuk wahana ontang-anting (wave swinger).


"Cuma gelantungan di ayunan gitu, siapa takut!" tantang Zaidan.


"Good boy! Ayo masuk ke antrian!" seru Delmira berlari bak anak kecil masuk ke dalam barisan antrian.


Teriakan dan teriakan menggema seiring ontang-anting yang sudah dioperasikan . Permainan ini seperti ayunan tapi berputar penuh 360°. Delmira juga tidak luput dari teriakan merasa tidak afdol saja kalau tidak berteriak.


Delmira dan Zaidan turun dari wahana itu, mereka berjalan gontai menepi ke luar wahana.


"Kenapa Zaid?" tanya Delmira melihat wajah pucat Zaidan dan mulutnya seperti menggelembung seperti menampung sesuatu.


Zaidan tidak menjawab tanya Delmira, dia jalan cepat menuju tempat yang sekiranya bisa menampung tumpahan dari mulutnya.


Woek


woek

__ADS_1


woek.


Makan siang yang tadi masuk ke dalam perut Zaidan pindah ke tempat sampah.


"Katanya tidak takut?" protes Delmira sambil memijat tengkuk Zaidan.


"Perut aku yang tidak bisa diajak kompromi," sahut Zaidan setelah merasa tidak ada yang akan dikeluarkan lagi dari perutnya.


"Minumlah," tawar Delmira menyodorkan sebotol air mineral.


"Terima kasih," sahut Zaidan meminum air itu.


Delmira membersihkan sisa-sisa muntahan yang ada di mulut atau pun tangan Zaidan dengan tisu, "setelah ini, cucilah tangan dan bersihkan mulut kamu," titahnya.


Zaidan tersenyum merasa tersanjung dengan perhatian Delmira.


"Ya, Sayang," jawab Zaidan sengaja memancing agar Delmira mengerucutkan bibirnya menyapa istrinya dengan sapaan sayang.


Zaidan semakin tersenyum karena tebakannya benar, Delmira mengerucutkan bibir. Entah kenapa pose itu sangat menggemaskan bagi Zaidan.


"Cepat cari toilet," titah Delmira dan diangguki Zaidan.


"Kalau tidak berani jangan sok berani, begini nih jadinya," ucap Delmira setelah Zaidan keluar dari toilet umum.


Zaidan tersenyum malu.


"Kita pulang saja," ajak Delmira.


"Baru juga naik 3 permainan."


"Kalau naik yang lain tidak hanya muntah, bisa-bisa kamu pingsan di tempat!" seloroh Delmira membuat Zaidan terkekeh.


"Tidak ada yang lucu Zaid yang ada harusnya kamu malu karena ketahuan muntah gara-gara naik ontang-anting," sambung Delmira.


"Ini sih namanya aji mumpung, gara-gara aku muntah akhirnya tahu kalau kamu sebenarnya perhatian denganku."


Sontak ucapan Zaidan membuat Delmira membelalakkan mata menatap ke arah Zaidan.


"Kamu terlalu baper," cicit Delmira melangkah lebih dahulu meninggalkan Zaidan.


Zaidan berjalan cepat mengejar langkah Delmira.


"Tunggu Miss," cegah Zaidan menarik tangan Delmira agar berhenti melangkah.


"Selfi dulu," pinta Zaidan, tanpa mendengar persetujuan langsung mengarahkan kamera ponsel ke wajah Delmira dan dirinya.


"Apaan sih, aku belum siap main ambil foto!" gerutu Delmira.


"Ya sudah siap belum?"


"Siap," ujar Delmira dengan pose wajahnya dijelek-jelekkan.


Zaidan tersenyum melihat foto yang barusan diambil.


"Nanti buat foto profil semua medsosku," seloroh Zaidan berjalan lebih dahulu.


"Awas kalau kamu berani! Itu fotoku yang paling jelek!" dengus Delmira mengejar langkah Zaidan.


Dari masuk mobil hingga perjalanan pulang mereka masih saja terlibat perdebatan foto yang paling mengesankan menurut Zaidan.


"Pokoknya, kalau sampai foto itu beredar di medsos, awas saja, tidak ada kata maaf untuk kamu!" ancam Delmira, turun dari mobil dan kalimat itu berulang kali didengungkan oleh Delmira sewaktu perjalanan pulang.


"Ya Sayang, paling aku pajang di kamar tidur kita. Itung-itung buat nakutin tikus biar gag masuk kamar," sahut Zaidan.


"Issst!" kesal Delmira menghentikan langkahnya dan menimpuk lengan Zaidan.


Tiba-tiba ada dua orang masuk ke rumah mewah itu dan langsung mengambil paksa ponsel milik Delmira.


"Hei! Kembalikan ponsel itu!" teriak Delmira mengejar orang itu.


Delmira langsung menendangnya hingga orang itu tersungkur. Namun, karena kurang siaga Delmira tiba-tiba diserang jambret satunya. Delmira pun jatuh tersungkur. Zaidan yang mencoba membantu juga ikut tersungkur oleh pukulan dari jambret itu.


Gerak demi gerak yang begitu cepat. Jampret satunya mengambil botol minuman kosong yang kebetulan ada di sudut pelataran rumah. Tanpa ampun dia langsung memukulkan botol itu ke arah Zaidan. Delmira yang masih dalam posisi sama belum berdiri segera beringsut menutup tubuh Zaidan dengan tubuhnya.

__ADS_1


"Miss ...Mrs. Delmira...," teriak Zaidan menggoyangkan tubuh Delmira yang ambruk dalam dekapannya karena botol itu mengenai kepala istrinya.


malam menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏


__ADS_2