
Zaidan menampilkan ekspresi yang berbeda, mulutnya seakan kaku untuk menjawab tanya yang dilontarkan istrinya.
"Siapa?" ulang Delmira begitu penasaran.
"Dia... dia mitra kerja," akhirnya sebuah kalimat lolos terucap dari mulut Zaidan.
"Oh...," Delmira mengangguk pelan, "Wajah Papyang kenapa setegang ini," imbuhnya diiringi sebuah tawa.
Zaidan mendengus, "Tatapan Momyang seperti sedang interogasi tawanan," jujur Zaidan.
Delmira terkekeh mendengar jawaban suaminya, "Papyang tahu kan, Momyang itu tidak bisa tolerir soal per-se-ling-kuhan," ujar Delmira sengaja mengeja kata terpenting dalam kalimat yang dia ucapkan.
"Nauzubillah Summa nauzubillahi, semoga keluarga kita dijauhkan dari fitnah tersebut," sahut Zaidan.
"Amin," balas Delmira lalu pindah tatap ke wajah Zaidan, "Momyang serahkan kepercayaan ini pada Papyang," sambungnya, tangannya bergerak meraih tangan suaminya.
Zaidan pun tersenyum karena itu.
"Momyang, ada apa itu ribut-ribut?" tunjuk Zaidan, mereka gegas berjalan cepat mendekat ke arah kerumunan.
Tempat itu pula, tempat dimana anak-anak bermain, oleh karena itu mereka merasa khawatir pada si kembar.
"Kenapa Sus?" lontar Delmira melihat Kaffah menangis.
"Maaf Nya, Kaffah melarang teman-temannya untuk bermain di sini," jawab suster Fina.
"Astaghfirullah haladhim, Kaffah, tidak boleh begitu dong, kalau Kaffah larang teman-teman bermain, Kaffah nanti mainnya sama siapa?"
Kaffah terlihat tidak suka dengan ucapan Delmira, pipinya dia gelembungkan, sorot matanya menatap penuh ketidaksenangan.
"Kaffah main Icha," jawab Kaffah tangannya menunjuk pada bocah perempuan yang sebelumnya dikejar-kejar untuk menerima kue pemberiannya.
Delmira menoleh ke arah yang ditunjuk Kaffah.
"Oh ... Kaffah mau bermain sama kakak ini?"
Kaffah mengangguk pelan.
"Ya Allah, nih anak masih bocil tapi kenapa bisa milih yang bening," gumam Delmira membuat suster Fina tersenyum karena mendengar gumaman itu.
"Assalamualaikum anak cantik, nama kamu Icha?" Sapa Delmira membalikkan tubuh lalu mendekat ke bocah cantik itu.
Icha mengangguk dan membalas sodoran tangan Delmira.
"Main ya dengan adek Kaffah," pinta Delmira.
Icha terlihat ragu untuk menjawab.
"Kaffah baik kok, dia hanya mau main dengan kak Icha bukan nakalin kak Icha," bujuk Delmira.
Sebuah anggukan pelan Icha tunjukkan kembali pada Delmira.
__ADS_1
"Alhamdulillah," sahut Delmira.
Tanpa aba-aba, dan basa-basi karena mungkin itu sebuah naluri hati, Kaffah langsung menggandeng Icha untuk bermain prosotan.
Delmira mengerjap-ngerjapkan mata, "Itu bukan sifat genit kan? Dia masih kecil, mana tahu soal genit menggenit," seloroh Delmira lalu pergi dari kerumunan anak. Namun, sebelumnya dia pamit pada dua suster untuk menjaga si kembar.
"Mbak Del...," suara cempreng itu membuat Delmira menutup dua telinganya, dia tahu siapa yang baru datang dan mendekapnya dari belakang.
Wanita itu melepas pelukannya, lalu menghadap ke arah Delmira yang memilih berdiri mematung.
"Maaf ya Mbak Del, Safira baru datang, Mbak Del tahu, Safira sangat sibuk dengan tugas kuliah. Safira sampai bosen dan hampir putus asa karena tugas yang menumpuk," keluhnya dengan wajah yang dibuat se-memelas mungkin.
"Sok sibuk! Sampai hari libur pun masih mengerjakan tugas!" sahut Delmira.
Safira nyengir, "Tugas kali ini tidak boleh nilainya C Mbak dan lebih sadisnya, kata teman-teman senior tidak ada pengulangan SKS untuk mata kuliah Mrs. Meri," terang Safira dengan gaya dan tingkahnya yang petakilan.
"Makanya, kamu mengundurkan diri dulu dari kerjaan kamu. Fokus tuh sama kuliah."
Terlihat Safira kembali nyeringis, "Itu sangat tidak mungkin Mbak," sahutnya kemudian.
"Issst! Dibela-belain banting waktu asal bisa selalu bertemu Raka!" sungut Delmira, "dari jaman es sampai jaman purba, kamu tidak bosan apa ngejar si Raka!" sambungnya dengan geram.
"Mbak Del, kayak tidak pernah jatuh cinta saja. Issst nggak asiklah ngomong sama orang purba, mending cari dua kembar yang unyu-unyu itu!" seru Safira langsung jalan pergi dari hadapan Delmira.
"Hei! Mbak belum selesai bicara! Jangan asal pergi!" greget Delmira tubuhnya memutar seiring arah Safira pergi.
"Bocah itu! Bikin aku tambah jantungan! Ditambah Raka! Kalau dia cinta kenapa tidak bilang cinta! Issst! Kalau kalian kutu sudah dari dulu aku pites!" oceh Delmira, sendiri.
...****************...
Satu persatu kado itu pun terbuka. Namun, yang menjadi perhatian Delmira saat kado bersampul sebuah kartun kegemaran anak dibuka. Delmira jelas ingat, kado itu pemberian dari seorang wanita bernama nona Putri.
Entah kenapa, walaupun Zaidan sudah menjelaskan siapa wanita itu, dari lubuk hati terdalam ada rasa yang mengganjal.
"Ye... ye... asik, motor-motoran," seru Kaffah dengan bahasanya, dia langsung menaiki motor tersebut
"Dari nona Putri," ujar Delmira pada Zaidan yang baru menuruni anak tangga paling dasar
"Oh," sahut Zaidan.
"Hanya oh?"
Zaidan tersenyum, "Papyang harus bilang apa?"
Berbeda dengan Delmira yang membalas dengan sebuah senyum kecut.
"Papyang berangkat kerja dulu," pamit Zaidan yang memang sudah menjinjing tasnya.
Delmira mengekor langkah Zaidan hingga ke parkiran mobil.
"Fer, tolong nanti ambilkan baju pesananku di butik mama Wulan," pinta Delmira.
__ADS_1
"Baik Nya," jawab Fernando.
Sebenarnya bisa saja Delmira meminta Yasmin mengantarkan barang pesanannya, tapi dia sengaja menyuruh Fernando untuk mengambil agar sahabatnya itu semakin dekat dengan calon suaminya.
"Semangat berjuang, hari ini pertama Momyang menyapih si kembar," ucap Zaidan.
"Terima kasih Papyang," jawab Delmira.
"Rasanya aneh, kasihan pada mereka. Tapi tetap harus Momyang sapih agar mereka menjadi lelaki yang pemberani dan mandiri."
"Betul Momyang, mereka harus dilatih mandiri, ya salah satunya dengan menyapih mereka ini," sahut Zaidan.
"Hati-hati Papyang," ucap Delmira setelah mencium takdhim punggung tangan suaminya.
Zaidan mengangguk, "Assalamualaikum," ucapnya.
"Waalaikum salam," jawab Delmira.
Mobil itu pun melaju pergi.
Waktu terus berputar, seiring berputarnya bumi pada porosnya lalu mengelilingi matahari pada orbitnya, hingga semesta berjalan selaras seirama.
Pagi telah menjemput siang untuk bertukar posisi.
Setelah melalui perhelatan besar karena si kembar inginnya menyusu Delmira padahal hari ini menjadi hari pertama sapih bagi dua bocah itu, mereka akhirnya tertidur tanpa menyusu Delmira.
"Alhamdulillah mereka akhirnya tertidur," ujar Delmira, tubuhnya beringsut dari ranjang, kakinya dia turunkan dan melangkah untuk keluar kamar.
"Tolong jaga mereka Sus," titahnya, kemudian keluar kamar setelah kedua suster itu mengiyakan apa yang Delmira pinta.
Baru saja dia masuk ke kamar, pintu kamar tiba-tiba diketuk.
"Ada kiriman Nya," ucap Imran setelah pintu kamar dibuka Delmira.
"Dari siapa Pak?" lontar Delmira.
"Kurang tahu Nya, hanya kasih buket dan bingkisan ini," jawab Imran.
"Terima kasih Pak."
"Sama-sama Nya, saya permisi dulu," pamit Imran.
Delmira mengangguk, lalu menutup pintunya.
Gegas dia duduk di. sofa kamar, membuka bingkisan paket.
Semangat menyapih momyang...jangan lupa makan yang banyak biar tambah sehat. Kasih sun untuk Kaffah Kahfi. I Love you...
Delmira tersenyum membaca pesan yang jelas dari sang suami.
"Romantisnya Papyang," gumam Delmira, dihiruplah wangi bunga mawar yang tertata rapi dalam sebuah ikatan.
__ADS_1
siang menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏
kakak di sini diperlakukan seromantis Zaidan tidak sewaktu menyapih anaknya?🤭🤗