
Sa'diyah tercengang, bukan karena keberatan akan permintaan dari Delmira tapi penasaran apa yang sebenarnya menimpa padanya.
"Apa boleh Mbok?" ulang Delmira karena belum juga mendapat jawaban dari Sa'diyah.
Wanita tua itu tersenyum membelai pipi Delmira lalu mengangguk, "Boleh Non, silahkan saja mau tinggal berapa lama pun tidak apa-apa. Tapi... ya rumah Mbok begini, tidak mewah seperti rumah Non."
"Yang penting ada buatku untuk berteduh Mbok."
"Kebetulan ada satu kamar kosong, biar Mbok bersihkan dulu," ucap Sa'diyah, beranjak dari duduk.
Sepuluh menit kemudian Sa'diyah mengajak Delmira masuk ke kamar yang sudah dia rapikan. Sa'diyah lebih memilih membiarkan Delmira istirahat terlebih dahulu dan membiarkan rasa penasaran mengenai sebab musabab Delmira bisa sampai ke rumahnya, menumpuk di otaknya terlebih dahulu.
"Mandi dulu Non, setelah itu makanlah bareng Simbok,"
Delmira mengangguk karena nyatanya dia memang sangat lapar dan juga tubuhnya merasa gerah dan lengket.
...****************...
Darah segar terlihat di sudut bibir Meilin, tamparan keras mendarat di pipinya karena dia tidak berhasil mencari keberadaan Delmira.
"Aku sudah beri waktu lebih kenapa juga belum kamu temukan non Delmira hah?!" bentak lelaki kekar yang pernah mendatanginya.
"Sudah aku bilang, aku tidak tahu!" jawab Meilin giginya gemeretak menahan amarah.
Lelaki itu mendengus kesal.
"Kenapa tidak bos kamu saja yang datang langsung menemuiku?!" sambung Meilin
"Dia tidak sudi menemui wanita macam kamu!"
"Cih!" sahut Meilin, muak mendengar jawaban lelaki tegar itu.
"Ben bawa dia ke sini!" titah lelaki kekar pada yang lainnya.
"Kamu mau apakan adikku?!" teriak Meilin melihat adiknya yang tuna wicara dan cacat mental dibawa keluar oleh salah satu dari mereka.
"Wau... tidak inginkan dia kenapa-napa?"
"Aku akan segera mencari tahu keberadaan Delmira!" ujar Meilin dengan cepat.
"Bagus! Aku pegang janji kamu!"
"Kita cabut!" titah lelaki kekar pada teman yang lainnya.
Sementara itu, Raka dan Verel dalam perjalanan menuju alamat yang tertera di sebuah paket yang dikirim oleh pengacara Delmira.
Satu hari yang lalu, pengacara itu didesak Raka agar memberitahu keberadaan Delmira. Namun, pengacara itu kekeh tidak mengatakan sepatah katapun.
"Akta cerai Delmira dengan suaminya pasti nanti Delmira minta Tuan. Itu kesempatan kita untuk mencari keberadaan Delmira," ujar Raka saat itu.
"Kemungkinan Delmira tidak akan menemui pengacaranya," sahut Verel.
"Kalau tidak menemuinya, pasti dikirim lewat jasa paket," ucap Raka.
"Terus awasi rumah pengacara itu, jangan sampai lengah. perhatikan gerak-geriknya!" titah Verel.
Saat sore hari, terbukti kebenarannya. Seorang kurir mengambil paket pengacara itu yang akan dikirim ke Delmira. Dengan berbagai cara, alamat itu akhirnya didapat oleh anak buah Verel.
"Ini rumahnya Tuan," ucap Raka mengehentikan mobilnya.
Rumah yang tidak terlalu sulit dari jangkauan. Karena dekat dengan jalan raya hanya melewati sebuah sekolah dasar atau tepatnya di belakang sekolah dasar tersebut.
"Kamu yakin?" tanya Verel.
__ADS_1
"Yakin sekali Tuan."
"Untuk apa dia pindah ke sini?" gumam Verel melihat rumah sederhana dan jauh dari hiruk-pikuk metropolitan.
"Itu yang harus Tuan tanyakan ke Delmira."
Verel turun dari mobilnya. Kakinya melangkah menaiki anakan tangga untuk menunju teras rumah itu.
Tok
tok
tok.
Keluarlah Safira dari dalam rumah. Setelah pintu dia buka, gadis itu menatap heran pada Verel.
"Kamu siapa!?" tanya Verel, terkejut karena dirinya sudah yakin kalau rumah itu disinggahi Delmira tapi yang keluar justru orang lain.
Gadis itu terkekeh, "Om ini lucu sekali, yang harusnya tanya itu aku, Siapa Om, mau apa kemari!?" sungut Safira.
Raka yang berdiri di belakang Verel juga ikut tertawa karena sikap tuannya yang terlalu bodoh gara-gara seorang wanita.
Verel berdehem, lalu menekan sepatu Raka dengan sepatu yang dikenakannya.
"Tidak ada yang lucu," greget Verel lirih menoleh ke Raka.
Raka langsung terdiam.
"Mau apa?!" ketus Safira.
"Aku tidak mau bertemu dengan kamu!" jawab Verel, "aku mau bertemu Delmira! Cepat panggilkan dia!" titahnya kemudian.
"Siapa juga yang mau bertemu dengan kamu Om!" gerutu Safira, "main bentak, tidak uluk salam lagi!"
Safira memutar kakinya, masuk ke dalam tanpa mempersilahkan Verel dan Raka masuk malah menutup pintunya.
"Tuan, sebaiknya Tuan duduk saja, biar aku yang urus," pinta Raka mempersilahkan Verel agar duduk di kursi teras.
Dengan raut wajah yang kesal Verel mengikuti arahan Raka.
Tok
tok
tok.
"Assalamualaikum... ."
"Siapa Saf?" tanya mbok Sa'diyah.
"Orang gila!" jawab Safira.
"Astaghfirullah haladhim, cucuku...," ujar Sa'diyah mengelus dadanya kemudian kakinya beranjak ke pintu depan dimana ada suara ketukan.
"Waalaikum salam."
"Bu," sapa Raka mengulurkan tangan.
Sa'diyah membalas uluran tangan itu dan dengan takdhim mencium punggung tangan mbok Sa'diyah.
"Ada perlu apa ya Nak?"
"Saya mau bertemu dengan non Delmira, apa... dia tinggal di sini?"
__ADS_1
Sa'diyah tidak langsung menjawab, matanya kini menelisik pada Raka dan juga memandang ke arah Verel.
"Ada apa Pi?" tanya Delmira keluar dari kamar merasa ada suara asing.
"Tuh, orang nyariin Mbak," tunjuk Safira keluar.
Delmira yang penasaran akhirnya melangkah ke ruang tamu.
"kamu," spontan Delmira bersuara, mengerutkan kening mengingat lelaki yang ada di ambang pintu itu.
"Non... Delmira," Sama halnya, Raka juga spontan menyebut nama Delmira.
Kaki Delmira melangkah pelan mendekat ke ambang pintu. Walaupun ragu namun dia harus memastikan apa yang ingin lelaki itu mau, dan otaknya juga memutar ingat lelaki yang sepertinya pernah dia jumpai.
Deg.
Delmira mematung, shock menatap lelaki yang ada di kursi teras rumah. Lelaki itu juga mematung menatap Delmira.
'Kamu harus tenang, Del. Bukankah pengacaramu itu sudah pernah bilang kamu. Ada yang mencari keberadaan kamu. Pasti yang dimaksud pengacara kamu itu dia, Verel."
"Hai," sapa Verel mengulurkan tangan mendekat ke ambang pintu.
"Hai," balas Delmira tapi tanpa membalas uluran tangan Verel. Dia melangkahkan kaki ke kursi dan mempersilahkan Verel duduk.
'Tenang Del, tenang..., dia tidak mungkin tahu soal kehamilan kamu. Jadi, kamu tenang saja,' batin Delmira kembali bermonolog.
Delmira sesekali mengempaskan napasnya. Agar dirinya dapat tenang.
"Mbok buatkan minum Non," ucap Sa'diyah masuk ke dalam.
Padahal Delmira sudah melarang Sa'diyah untuk memanggil Non tapi tetap saja Sa'diyah menolaknya.
"Ada perlu apa?" lontar Delmira.
Deg.
Verel tiba-tiba merasa bleng ketika Delmira menanyakan itu.
Dia tidak mungkin langsung menanyakan apakah Delmira hamil. Itu sangat tidak mungkin.
"Eh... aku...," mata Verel melirik ke arah Raka mengisyaratkan agar Raka memberinya jawaban. Namun, Raka sengaja berdiam diri agar tuannya menjawab sesuai apa yang ada dalam hatinya.
Delmira menaikkan dua alisnya.
"Aku... aku mau mencari kamu," jawab Verel asal.
Delmira mendengus mendengar jawaban Verel, "Sekarang sudah kamu temukan, lalu kamu mau apa?" sungut Delmira.
Verel terdiam, dia terlihat mengempaskan napasnya perlahan.
"Apa benar kamu hamil?" lontar Verel tanpa basa-basi.
Delmira membelalakkan mata tapi seketika dia menundukkan pandangannya.
"Pertanyaan macam apa?" sahut Delmira, mendengus.
"Iya atau tidak?"
"Kalau kamu mencariku hanya untuk menanyakan ini, silahkan pergi."
"Apa susahnya jawab? Tinggal jawab ya atau tidak, apa susah?"
"Kehidupanku, tidak ada urusannya dengan kamu! Jadi, aku minta, apa yang aku lakukan dan apa yang sedang menimpaku itu bukan urusan kamu! Ingat, bukan urusan kamu!" dekte Delmira.
__ADS_1
"Aku minta, pergilah sekarang juga," sambung Delmira.
malam menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏