Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 40


__ADS_3

'Aku harus bergerak cepat!' lanjut batin Meilin. tangannya meremas sedotan yang dari tadi dia pakai untuk menyeruput lemon tea.


"Hai Sayang, ya Allah...dari tadi Ummi cari ternyata kamu sudah di kantin," sapa Aisyah.


"Eh, teman kamu, siapa namanya Ummi lupa."


"Ya Ummi, dia Meilin," sahut Delmira.


"Hallo Tante," sapa Meilin mengulurkan tangan.


"Hai Meilin," balas Aisyah.


"Tante silahkan duduk, aku sudah selesai makan kok," ucap Meilin pantatnya dia angkat, bergeser dari tempat duduknya.


"Aku duluan Del," pamit Meilin menepuk bahu Delmira.


"Permisi Tan." Meilin juga berpamitan dengan Aisyah lalu kakinya melangkah pergi.


"Hati-hati," ucap Aisyah dan Delmira bersama.


Aisyah memesan makan siang. Delmira duduk menemani mertuanya makan.


...****************...


'Ngapain juga ngajak dinner!' batin Delmira tapi kakinya mengekor Zaidan masuk ke dalam mobil.


Dinner yang sempat dibatalkan akhirnya di jadwal ulang Zaidan lima hari berikutnya.


"Mau makan malam jangan jutek seperti itua" ujar Zaidan menarik hidung panjang Delmira setelah sang istri duduk di kursi samping kemudi.


"Auw! Sakit Zaid!" kesal Delmira menabok tangan Zaidan.


Zaidan malah terkekeh melihat Delmira mengerucutkan bibirnya.


"Berani-beraninya pegang asetku!" dumel Delmira tangannya menyilang di dada.


"Kamu semakin membuatku penasaran ingin menyentuh asetmu yang lain," lirih Zaidan berbisik di telinga Delmira. Sekarang, dirinya tidak khawatir menunjukkan rasa cinta yang belum terucap lewat lisan karena mengingat ucapan Delmira kalau perhatian yang dirinya tunjukkan dianggap Delmira hanya untuk memuluskan misi Zaidan.


"Apa yang kamu lakukan!" seru Delmira karena Zaidan mendekatkan tubuhnya.


Delmira menahan napas yang seperti tercekat di tenggorokan dan refleks matanya menutup.


Ceklek.


"Sudah."


Delmira menegak salivanya dengan cepat. Matanya satu persatu terbuka. Perasaannya yang tidak karuan berubah menjadi lega.


"Kalau hanya berpangku tangan mana bisa seat belt terpasang padahal kita harus cepat sampai lokasi," seloroh Zaidan lalu menekan pedal gas.


'Otak kamu kenapa malah yang mesum Del! Jantung kamu ini! Kenapa berdetak kencang seperti ini! Aduh paru-paru kamu juga ikut tidak normal!' umpat batin Delmira pada diri sendiri.


Dua puluh lima menit mereka sampai di lokasi.


"Loh kok ke panti Zaid?"tanya Delmira setelah turun dari mobil dan jalan berdampingan dengan Zaidan.


"Kamu mengharapkan kita kemana?"


"Bukan dinner romantis?"


"Ups!" Reflek tangan Delmira membungkam mulutnya sendiri.


Zaidan terkekeh mendengar lontar tanya dari Delmira atau tepatnya sebuah protes.


"Itu bisa diatur Sayang," bisik Zaidan.


Jantung Delmira kembali tidak normal. Tangannya mengelus dadanya dan tanpa sadar kakinya langsung berhenti melangkah.


"Sayang, apa hanya akan berdiri mematung di sini?" tanya Zaidan membalikkan tubuhnya dan memundurkan langkah untuk menggandeng Delmira masuk ke panti asuhan.


Acara dinner di panti asuhan Raudhatul Jannah berjalan sangat meriah dan rahat. Hal yang terpenting anak-anak panti bahagia dengan kedatangan Zaidan dan Delmira.


"Anak-anak lucu itu mengingatkanku pada anakku," lirih Delmira, matanya kini berkaca.


Tangan Zaidan mengelus pucuk kepala Delmira, memberi rasa iba pada istrinya.


"Kalau kamu rindu dengan seseorang yang sudah kembali pada Allah, khususkan doa dan surat fatikha untuknya, insyaallah doa itu akan sampai padanya," sahut Zaidan.


Delmira tersenyum membalas ucapan Zaidan.


...****************...


"Alhamdulillah sudah siap semua, tinggal menunggu Fernando lalu berangkat," ucap Zaidan setelah semua barang dia masukkan dalam koper.


Delmira hanya melirik kesibukan Zaidan yang mempersiapkan keperluannya untuk ke luar kota.

__ADS_1


"Kamu beneran tidak ingin ikut?" tanya Zaidan memastikan.


"Tidak!" jawab singkat Delmira tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


"Padahal Ummi menyiapkan paket honey moon loh,"


Uhg


uhg


ugh.


Sontak Delmira terbatuk mendengar ucapan Zaidan. Sedangkan Zaidan malah terkekeh dibuatnya.


"Kamu sangat lucu Mrs. Delmira, aku cuma bercanda. Kenapa serius sekali menanggapinya."


"Isst!" kesal Delmira melempar bantal sofa ke arah Zaidan dan dengan cekatan Zaidan menangkap bantal itu lalu melangkah ke sofa untuk duduk di samping Delmira.


"Tapi kalau kamu mau, setelah ke luar kota nanti kita bisa honey moon," ujar Zaidan dengan tatapan lekat. Sejenak netra mereka saling mengunci tapi sekejap pula Delmira lebih memilih membuang pandangan ke arah ponsel yang dia pegang.


"Bagaimana? Kalau hanya diam berarti kamu setuju."


"Tidak!" jawab cepat Delmira dan sontak membuat Zaidan terkekeh kembali.


"Aku nunggu kamu siap Sayang," lirih Zaidan.


"Jangan mimpi!" sahut Delmira.


"Den, apa semuanya sudah siap?"


Suara dari Fernando memotong perdebatan mereka. Kaki Zaidan gegas melangkah ke pintu kamar.


"Sudah siap, tolong bawakan ke mobil," ucap Zaidan setelah membuka pintu kamar dan mempersilahkan Fernando mengambil koper miliknya.


"Kamu tidak mengantarku ke mobil?"


"Buat apa?!" ketus Delmira matanya hanya melirik ke arah Zaidan.


Sebuah senyum tercetak di wajah Zaidan, dia mendekat ke arah Delmira dan mengulurkan tangannya.


"Aku pergi dulu, jaga diri baik-baik."


"Ya," sahut Delmira membalas uluran tangan Zaidan. Namun Zaidan mengarahkan tangannya ke bibir Delmira agar dia cium.


"Issst! Apaan sih!" protes Delmira mengelap bibirnya.


"Assalamualaikum Sayang," pamit Zaidan masih dengan senyum yang mengembang.


"Waalaikum salam," jawab Delmira setelah punggung Zaidan sudah tertutup pintu kamar.


Terdengar mesin mobil di pelataran rumah dinyalakan dan ada suara Zaidan, Fernando, maupun ummi Aisyah. Delmira gegas ke arah jendela kamar. View dari atas tepat mengarah pada mobil yang akan dipakai Zaidan. Mata Delmira melihat jelas Zaidan akan masuk dalam mobil.


Tepat ketika Zaidan akan masuk, matanya beralih tatap ke balkon kamar. Sebuah senyuman langsung tercetak di wajah Zaidan tatkala melihat sang istri berdiri di tepi jendela kamar.


Tangan Zaidan melambai, membuat Aisyah dan Fernando menatap ke arah lambaian Zaidan.


Sedangkan Delmira, dia langsung salah tingkah, menyembunyikan tubuhnya di balik tembok. Ritme jantungnya kembali tidak normal.


"Oh Tuhan, apa aku benar-benar harus periksa jantung karena akhir-akhir ini sering tidak normal?" gumam Delmira sambil memegang dadanya.


"Kalian so sweet Nak, saling ada rasa tapi masih malu-malu mengungkapkan," lirih Aisyah sambil menyubit pinggang Zaidan.


"Auw! Sakit Ummi," keluh Zaidan sambil nyeringis.


"Assalamualaikum Ummi," pamit Zaidan. Kakinya masuk ke mobil dan Fernando segera melajukan mobilnya.


...****************...


Tiga hari lagi aku pulang, apa kamu sudah sangat merindukanku?


Satu pesan masuk gegas dibaca Delmira.


Tidak sama sekali.


Bibir Delmira tersenyum berlawanan dengan kalimat balasan yang dia kirim.


Aku kecewa nih, ternyata empat hari tidak bertemu tidak membuat kamu merindukanku. Padahal aku sangat rindu dengan Omelan kamu.


Kali ini senyum Delmira semakin melebar membaca balasan dari Zaidan.


Jangan suka menanggung rindu karena rindu itu berat Zaid.


Balas Delmira.


Asalkan rinduku tersampaikan padamu aku rela menanggung rindu itu.

__ADS_1


Delmira merebahkan tubuhnya di kasur, matanya memandang ke arah samping dimana Zaidan biasa di sana. Tangannya bergerak mengambil bantal yang biasa dipakai Zaidan lalu memeluk bantal itu dengan erat.


"Selamat malam Mr. Z," lirih Delmira, matanya lamat terpejam.


...****************...


Marsya, Silvia, dan Yasmin sudah kumpul di kafe Senja.


Mereka sengaja bertemu untuk mengobati rasa rindu, saling bercanda, ngobrol sana sani.


"Yasmin, aku semakin penasaran hubungan kamu dengan Fernando," ucap Delmira.


"Tidak ada yang perlu kamu penasarankan. Aku dan dia tidak ada hubungan spesial," jawab Yasmin.


"Kalau pun ada juga tidak apa-apa. Aku sangat setuju," balas Delmira.


Yasmin menarik satu sudut bibirnya, "Aku akan menjalin hubungan dengan Fernando kalau kamu sudah punya anak dengan berondongmu itu," sahut Yasmin


Sivia dan Marsya terkekeh mendengar lontar Yasmin sedangkan Delmira makin mengerucutkan bibirnya.


Obrolan terhenti tatkala teman mereka yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Namun, bukan karena kedatangan Meilin yang membuat mereka berhenti ngobrol tapi karena lelaki di samping Meilin.


"Hai," sapa Marsya dengan mata tanpa kedip memandang lelaki berwajah oriental itu.


Kalau dilihat secara fisik, lelaki itu terbilang sempurna mulai dari paras hingga pakaian dan aksesoris yang melekat di tubuhnya. Wajah setengah bule, putih, tinggi, bermata hitam pekat, hidung panjang, rahang kuat, bibir sensual, dan tubuh tegap. Belum lagi jam bermerek yang melingkar di pergelangan tangan, sepatu dan satu set pakaiannya juga semua bermerek. Sungguh lelaki sempurna.


"Hai," balas lelaki itu mengulurkan tangan. Marsya membalas uluran tangannya.


"Verel."


Lelaki itu memperkenalkan diri pada Marsya, Silvia, Yasmin, dan Delmira begitupun sebaliknya mereka membalas perkenalan Verel dengan menyebut nama masing-masing.


"Cowok kamu Mei," ledek Marsya.


"Hanya teman," sahut Meilin.


"Boleh gabungkan," ujar Verel.


"Boleh dong," balas Marsya.


"Suka cake coklat?" tanya Verel pada Delmira.


Delmira yang baru memasukkan cake ke mulut hanya membalas dengan sebuah anggukan.


Mereka kembali ngobrol ini itu hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Delmira sedari tadi sebenarnya sudah gusar untuk pamit pulang tapi teman-teman melarangnya pulang.


"Kita keluarkan memang sudah malam Del, ya jelas kita pulang sampai malam juga," ujar Marsya ketika Delmira meminta pamit pulang terlebih dahulu.


"Bentar lagi suamiku jemput aku, kamu jadi nebeng aku kan?" tawar Silvia.


"Boleh?" antusias Delmira. Saat berangkat ke kafe Delmira memilih memakai taksi online karena lebih enak, kalau pulang malam tidak usah buka garasi untuk memasukkan mobilnya.


"Bolehlah," sahut Silvia.


"Dia biar ikut aku saja. Nanti malah ganggu waktu kalian berdua," sela Yasmin.


"Rumah kamu beda arah dengan Delmira Yas. Nanti kamu malah putar balik. Biar dia ikut aku saja," pinta Meilin.


Yasmin membaca pesan masuk ke ponselnya. Maminya sudah menyuruh untuk pulang, mau tidak mau dia harus tunduk titah dari maminya.


"Ok, aku titip Delmira. Mami sudah nyuruh aku pulang terpaksa aku pulang dulu," pamit Yasmin.


"Hati-hati Yas." Pesan yang lainnya.


"Kebetulan suamiku sudah di parkiran aku juga harus pulang, yuk Sya," pamit Silvia dan mengajak Marsya untuk ikut pulang karena mereka pergi bareng satu mobil.


"Huh... padahal pengin lama-lama di sini," keluh Marsya matanya berkedip-kedip menatap Verel.


"Jangan khawatir nanti minta nomor ponselnya ke Meilin," ujar Silvia yang tahu maksud Marsya kalau dia berat meninggalkan lelaki setampan Verel. Silvia menarik tangan Marsya yang berpegang erat di ujung meja.


Delmira dan Silvia terkekeh melihat sikap Marsya.


"Dah...kita pulang dulu."


"Hati-hati Sya, Sil," balas Delmira.


"Ya sudah, kita juga harus pulang kan," ajak Delmira mengangkat pantatnya.


Verel tersenyum mengangguk, mengekor langkah Delmira.


Lalu Meilin, dia semakin melebarkan senyum memilih menatap punggung Delmira dan Verel berjalan terlebih dahulu.


'Aku yakin, ini awal yang bagus,' batin Meilin.


malam menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏

__ADS_1


__ADS_2