Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 14


__ADS_3

"Zai...," lirih Delmira karena tercekat oleh benda kenyal yang menempel di bibirnya.


Zaidan beranjak cepat dan duduk di kursi kerjanya.


"Aku ke toilet dulu," pamit Delmira mengangkat pantatnya akan keluar ruangan.


"Toilet di sini Mrs Delmira," ujar Zaidan menunjuk ke ruangan di belakang barisan buku yang tertata rapi di rak.


Delmira memutar kakinya melangkah masuk ke toilet.


'Sial! Kenapa aku yang salah tingkah seperti ini!' umpat batin Delmira setelah mengunci pintu toilet.


Delmira berkumur, mengusap bibirnya hingga pemerah bibirnya hilang.


"Kenapa sampai lupa tidak bawa lipstik!" gerutu Delmira.


Zaidan tersenyum menyentuh bibirnya.


Senyum manis itu dia tarik manakala sosok yang melayang-layang dalam angannya keluar dari toilet dalam ruangan.


"Yang pertama dan terakhir! Jaga jarak untuk mengantisipasi kejadian seperti tadi!" ketus Delmira berdiri di depan meja kerja Zaidan.


"Kenapa kamu hanya diam?! Jawab ucapanku!"


Zaidan mengangguk.


"Bilang ya, jangan hanya anggukan!" tekan Delmira.


"Ya Mrs."


"Awas!" ancam Delmira.


"Kamu mau kemana?"


"Pulang!" jawab Delmira.


"Tunggu!" seru Zaidan langsung beranjak dari tempat duduk, menarik tangan Delmira hingga tubuh Delmira berputar dan jatuh tepat di dada Zaidan. Sontak Delmira refleks mendorong dengan kuat tubuh Zaidan


Bugh.


Mereka tersungkur bersama dengan posisi Delmira di atas tubuh Zaidan.


"Zaidan!" teriak Delmira kesal karena jatuhnya Delmira otomatis tubuhnya dalam dekapan Zaidan.


"Maaf," ucap Zaidan memegang tangan Delmira akan membantunya berdiri.


"Stop! Jaga jarak aman!" kesal Delmira. Berdiri sendiri mengahalau tangan Zaidan.


"Aku bereskan meja kerja dulu. Kita pulang bareng."


Delmira mengamati Zaidan, diam sebentar. Pikirannya layang, 'Harusnya memang dia yang antar! Ngapain juga kamu Del susah-susah cari ojek on line kalau ada tumpangan gratis!' monolog batin Delmira.


"Tidak pakai lama!" ketus Delmira.


Zaidan segera merapikan meja kerja, Kemudian menghubungi Fernando untuk masuk ke ruangan.

__ADS_1


"Aku pulang dulu, kamu tunggu sampai penurunan barang, monitoring semuanya hingga beres,"


"Den Zaidan sepertinya buru-buru?"


Dagu Zaidan menunjuk ke arah Delmira.


"Oh...Non Delmira sudah tidak sabar ingin cepat masuk rumah lalu masuk kamar," sahut Zaidan.


"Maksud kamu?!" tanya Zaidan dan Delmira serentak.


Fernando tersenyum melihat keduanya kompak berujar. Memang dirinya sengaja meledek dua manusia yang terlihat tidak sedang baik-baik saja. Walaupun memang keduanya selalu terlihat seperti itu.


"Kalian pasti tahu sendiri," jawab Fernando memberikan kunci mobil lalu melangkah keluar.


Ada kecanggungan di antara keduanya. Bagaimanapun mereka tahu apa yang dimaksud oleh Fernando.


"Kita jalan," ajak Zaidan tangannya mempersilahkan agar Delmira jalan terlebih dahulu, tidak mungkinkan tangan itu meraih tangan Delmira, bisa-bisa bogem mentah yang dia terima.


...****************...


Dua Minggu hanya angka, tapi nyatanya. Perkembangan setelah pernikahan tidak sejalan pada umumnya. Alfian Zaidan Mukhtar telah melangkah melewati gerbang pernikahan bukanlah perkara mudah baginya.


Selepas meminta petunjuk pada penguasa alam semesta, nyatanya petunjuk itu mengarah pada persetujuan untuk menikah dengan wanita yang sama sekali belum dia kenal.


'Aku memang belum sepenuhnya mencintai kamu Mrs Delmira tapi aku akan sepenuh hati menjalankan semua karena ibadah pada illahi Robbi. Aku menyebut namamu dalam doa, aku harap suatu saat kamu pun menyebut namaku dalam doa mu,' monolog batin Zaidan saat menatap punggung Delmira yang sedang tertidur pulas.


Tangan Zaidan dengan ragu mengelus rambut sang istri.


"Aku bilang jaga jarak!" teriak Delmira.


Zaidan mengelus dadanya manakala mendengar Delmira bernapas teratur. Itu artinya tadi hanya mengigau. Kakinya lalu melangkah keluar, karena niat awalnya dia memang akan joging di sekitar kompleks rumah.


Satu jam sudah dia lari tanpa henti, semburat matahari nampak dari Timur selaras dengan suara deru motor maupun mobil yang mulai melaju mengantar sang pemilik untuk beraktifitas. Zaidan masuk pekarangan rumah melakukan pendinginan, selesai itu dia langsung masuk ke kamar.


"Masih tidur," gumam Zaidan melihat Delmira belum beranjak dari selimutnya.


Zaidan masuk ke toilet kamar untuk bebersih diri.


"Mrs Delmira..., sudah siang." panggil Zaidan setelah dirinya sudah terlihat rapi dengan setelan jas navy dipadu dengan kemeja biru muda.


Panggilan khas dari Zaidan membuat mata Delmira membuka lebar. Apalagi dia merasakan tepukan tangan lelaki itu di bahunya.


"Baru jam 7 pagi," ujar Delmira, kembali memejamkan mata setelah melihat jarum jam dinding.


"Aku akan mengajak kamu ke rumah sakit."


"Untuk apa?!" ketus Delmira masih mode memeluk bantal dengan erat. Entah kenapa saat Zaidan menyebut rumah sakit dia merasa tidak suka.


Bagi Delmira, tempat itu menjadi salah satu tempat yang masih memberikan bekas luka, dimana dia melihat keluarganya keluar dari ruang jenazah.


"Sudah sepuluh hari Abah di rumah sakit. Dia ingin bertemu dengan kamu," ucap Zaidan.


Delmira mendudukkan pantatnya, meraih pita rambut yang ada di nakas dan mengikat rambutnya asal.


"Mau apalagi?!" sambung Delmira tanpa mendengar jawaban Zaidan dirinya masuk ke toilet kamar.

__ADS_1


"Kenapa belum pergi?!" tanya Delmira dengan nada kesal begitu keluar toilet kamar mandi ada Zaidan yang duduk di tepi ranjang.


Zaidan menundukkan pandangannya ketika Delmira keluar hanya mengenakan handuk hingga batas dada.


Delmira baru menyadari aksinya yang hanya memakai handuk. Entah kenapa awal dia seperti itu biasa saja tapi kali ini dirinya merasa risih hingga tangan Delmira secepat kilat mengambil baju yang akan dia pakai.


Setelah mengenakan pakaian, wajah cantik nan imut terpampang di kaca rias saat Delmira duduk di depannya.


"Masih betah di situ?" gerutu Delmira melirik ke arah Zaidan.


Lelaki itu hanya membalas dengan senyum simpul.


"Aku bosan di rumah! Carikan aku kerja!" pinta Delmira.


"Kamu mau kerja apa?"


"Terserah, yang penting menghasilkan uang."


"Sebenarnya, tanpa bekerja di luar pun kamu bisa mendapatkan uang."


"Maksud kamu aku jadi IRT?"


Zaidan mengangguk.


"Tidak!" sahut Delmira


"IRT itu pekerjaan yang dipandang sebelah mata!" lanjutnya Delmira.


"Tergantung siapa yang menilai, apa seorang istri butuh penilaian orang lain kalau suaminya menilai IRT adalah pekerjaan yang mulia?"


"Bicara di mulut itu memang gampang tapi realita di lapangan itu yang sering menyakitkan," sangkal Delmira.


Zaidan mengempaskan napasnya perlahan. Berdebat dengan Delmira entah mengapa menjadi hal yang menantang buat dirinya.


"Kalau kamu tidak bisa mencarikan pekerjaan untukku nanti aku cari sendiri!" cicit Delmira.


"Kalau aku tidak mengizinkan kamu bekerja?"


"Mr. Z, mulai sekarang dalam kamusku tidak ada kata menurut kemauan suami. Hidup aku ya aku yang mengatur. Menjalankan apa yang aku sukai. Bukan menjalankan kemauan suami. Dan perlu digarisbawahi! Pernikahan kita sebatas status. Jadi, aku minta pengertian dari kamu!"


Zaidan hanya membalas sebuah senyuman pernyataan Delmira. Mencoba memahami situasi dan kondisi adalah hal terbaik untuk pernikahannya.


"Kita pergi," ajak Zaidan meraih tangan Delmira.


"Aku bisa jalan sendiri!" ketus Delmira melangkah terlebih dahulu.


'Kebiasaan! Berwajah tenang tidak peduli kalau aku sudah gregetan melihat setiap reaksi yang dia tunjukkan!' gerutu batin Delmira.


Mata Delmira melirik pada Zaidan yang sudah duduk di kursi penumpang tepat sebelahnya.


"Terima kasih kamu mau aku ajak ke rumah sakit," ucap Zaidan membuka kebisuan.


"Terpaksa!" ketus Delmira.


malam menyapa πŸ€— like komen hadiah vote rate πŸ™ lope lope buat kalianπŸ™

__ADS_1


__ADS_2