Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 127


__ADS_3

Kaffah membalas perlakuan siswa tersebut dengan menabrakkan bahu pada bahunya hingga siswa tersebut terdorong ke belakang hampir terjatuh.


"Kamu_" teriak siswa tersebut.


Siswa itu jelas geram, sambil mengepalkan tangan akan ditinjukan ke arah Kaffah tapi dua sahabatnya melarang. Hal yang sama juga dilakukan Kahfi, dia langsung menarik tubuh saudaranya agar tidak melawan.


"Bryan, jangan cari gara-gara, belum ada seminggu kita dipanggil BK masalah bolos sekolah, bisa-bisa kita masuk BK kembali karena masalah ini, atau bisa juga kita langsung dikeluarkan dari sekolah!" ucap siswa lainnya, memperingatkan temannya.


"Betul kata Morgan Bro, mending kita pergi," sahut satunya masih menahan tubuh Bryan.


"Ok, kita pergi!" pasrah Bryan, meronta agar dilepas.


Tiga siswa itu pun pergi.


"Bubar! Bubar! Pade nonton ape sih! Kayak kagak ade kerjaan lu semua!" seru Pe'i membubarkan barisan yang nampak teratur mengitari keributan yang ada.


Mereka pun membubarkan diri.


"Lepas!" seru Kaffah, karena Kahfi memegang dirinya dengan erat.


Tangan Kahfi baru dilepas setelah tiga siswa itu tidak terjangkau oleh pandangan matanya,,.


"Jangan sampai mommy pappy kecewa pada kita karena masalah ini," ujar Kahfi, menepuk pelan punggung saudara kembarnya.


Kaffah meraup wajahnya, menatap ke arah Kahfi, "Kamu tidak apa-apa kan?" lontarnya kemudian.


Kahfi mengangguk, "Terima kasih untuk pembelaan darimu," ucapnya.


Kahfi Kaffah tersenyum bersama.


"Ade ape lu berurusan ame dia?" sela Pe'i.


Pe'i sedikit tahu mengenai tiga siswa yang menabrak Kahfi. Mereka bertiga kakak senior yang duduk di bangku IPS 2 kelas XII. Mereka cukup terkenal, bukan hanya karena prestasinya di bidang volli tapi juga karena sikap mereka yang juga sering arogan dan merasa paling berkuasa.


Kahfi diam.


"Aye lihat, die pan sengaja tuh nabrak, pas lu buang tuh sampah. Bukan karena kagak sengaja," papar Pe'i.


Kaffah mengerutkan dahi, otaknya berpikir, "Kalau memang benar seperti itu, pasti mereka melakukan karena suatu hal," ujar Kaffah menolehkan pandangan ke arah Kahfi sebagai isyarat agar saudaranya menjelaskan ada sebab apa.


"Mereka hanya mencari puncak kepopuleran," sahut Kahfi, kakinya melangkah ke dalam kelas.


"Belum juga selesai bicara, main masuk," gerutu Kaffah. Namun beberapa detik kemudian bel masuk berbunyi membuat Kaffah memutar kaki untuk masuk ke kelasnya.


...****************...


Kejadian kemarin di jam istirakhat pertama menjadi perbincangan hangat di sekolah SMA Merdeka Berbudi.

__ADS_1


Sekarang mereka, berenam berada di ruang BK.


"Kemarin hanya salah paham begitu?" simpul seorang guru BK setelah mengintrogasi 6 siswanya.


"Morgan, David, Bryan, benarkah seperti itu?" lontar ibu Irma guru BK mereka.


"Ya Bu," sahut mereka kompak. Nyali mereka menjadi ciut karena memang salah.


"Ok, kalian mengakuinya," balas Bu Irma, netranya berpindah tatap ke arah tiga siswa lainnya.


"Kahfi, Kaffah, dan Pe'i benarkah seperti itu?"


Kahfi dan Pe'i mengangguk dan mengiyakan ucapan Bu Irma. Mereka berdua memilih tidak meneruskan perseteruan karena dianggap tidak akan menyelesaikan masalah, cukup berargumen kalau kejadian kemarin adalah kesalahpahaman karena sebuah senggolan yang tidak sengaja.


Berbeda dengan Kaffah, dia hanya diam. Bukan karena takut, hanya enggan saja mengakui kalau kejadian kemarin hanya kesalahpahaman. Namun, sebelumnya dirinya sudah berjanji pada Kahfi untuk mengambil jalan damai.


"Kaffah," panggil Bu Irma karena Kaffah belum juga buka suara, "Kenapa hanya diam? Ada yang mengganjal hatimu?"


Kaffah mendengus, "Bukankah sudah selesai permasalahannya? Ya sudah, tinggal ibu sudahi, kita juga harus masuk kelas karena sudah tertinggal beberapa mata pelajaran," ucap Kaffah tanpa menjawab tanya gurunya.


Bu Irma tersenyum kecil, "Bagus Kaffah, kamu peduli dengan pelajaran. Kedepannya semoga kamu berurusan dengan BK karena sebuah prestasi bukan masalah seperti ini. Tapi sekali lagi, ibu tanya. Benarkah semuanya karena kesalahpahaman?"


Kahfi melirik ke arah Kaffah dengan lirikan tajam, itu isyarat agar Kaffah mengiyakan apa yang diucapkan sang guru.


"Ya Bu," jawab Kaffah kemudian, dengan malas.


Setelah prosesi salam-salaman, mereka baru dipersilahkan keluar dari ruang BK. Mereka kemudian membersihkan ruang-ruangan yang ditunjuk oleh Bu Irma untuk mereka bersihkan sebagai bentuk hukuman.


"Anak baru itu! Sungguh mau main-main dengan kita!" geram Bryan, tangannya bergerak membersihkan kaca ruang laboratorium.


"Kita harus buat perhitungan pada mereka!" sahut David.


"Harus hati-hati, mereka ternyata punya nyali," ujar Morgan mengingatkan.


Sementara Kahfi, Kaffah, dan Pe'i ditugaskan membersihkan kaca perpustakaan.


"Mereka yang berulah kita yang kena getahnya!" sungut Kaffah, melempar spon yang dia pegang ke kaca yang sedari tadi dia bersihkan.


"Ambil hikmahnya, anggap saja itu warning buat kita agar tidak bersinggungan lagi dengan mereka," sahut Kahfi.


"Tetap saja aku tidak rela!" ujar Kaffah, tangannya mengepal.


"Ingat, dendam hanya membuat mata hati kita buta," ucap Kahfi, mengingatkan.


"Bener ape nyang diomongin saudara lu Bro. Kagak useh deh telibat ame mereka. Percume kagak bakal kita menang," sela Pe'i.


"Kita ke kantin," ajak Kahfi karena hukuman mereka sudah selesai.

__ADS_1


Sebelum beranjak pergi, Mereka terlebih dahulu memoto hasil bebersih yang sudah mereka jalani.


"Jangan lupa kirim ke Bu Irma cantik," monolog Pe'i.


"Tumben nih anak ngajak ke kantin, biasanya memilih ke perpustakaan," lirih Kaffah yang akhirnya ikut mengekor langkah saudara kembarnya.


Mereka bertiga duduk di salah satu sudut ruangan.


Suara bel istirahat membuat kantin mulai dipadati siswa.


Kahfi terdiam sesaat saat melihat seorang siswi yang sedang membawa nampan berisi minuman juga makanan.


Kahfi masih menatap tanpa kedip, lalu saat siswi itu semakin dekat dari jangkauannya, Kahfi melempar sebuah senyum.


Namun, siswi itu bersikap pura-pura tidak tahu, dia lebih memilih tak acuh, melewati Kahfi tanpa membalas senyum apalah sapa.


Kahfi menarik senyumnya, dia menundukkan pandangan. Untung saja satu orang yang ada di sampingnya, dan satu lagi yang ada di depannya tidak melihat adegan itu. Kalau mereka tahu, bisa-bisa akan menjadi pertanyaan panjang yang sulit dijawab oleh Kahfi.


Waktu berlalu dengan cepat. Jam yang terpampang di salah satu sudut tembok sekolah sudah menunjukkan pukul 15.30. Pelajaran telah usai. Dilanjut ekstrakulikuler PMR dan bela diri yang Kaffah dan Kahfi ikuti.


Kaffah dan Kahfi langsung ke masjid untuk menunaikan salat asar. Selesai salat, mereka keluar menuju tempat kegiatan.


"Kamu bohong pada mommy, katanya hanya ikut ekskul Pramuka?" lontar Kahfi, melihat saudara kembarnya tidak pulang malah berpakaian serba hitam dan siap-siap akan berbaris di lapangan.


Senyum mengembang pada wajah Kaffah, "Biar saja, cuma kasih surprise untuk mommy," jawabnya dengan enteng.


Kahfi terlihat menggelengkan kepala, merasa heran dengan jawaban saudara kembarnya, "Aku masuk ruangan dulu," pamit Kahfi mendengar seorang berbaju putih dengan rompi almamater PMR mengumumkan agar siswa baru masuk ke sebuah ruang serbaguna yang akan dijadikan latihan PMR.


"Ok Bro, aku juga harus ke lapangan," jawabnya lalu melangkah cepat ke lapangan.


Kahfi berjalan dengan siswa yang lain.


Pe'i mengambil tempat duduk di samping Kahfi.


"Aku cari-cari kami ternyata sudah masuk ruangan," ujar Pe'i.


Kahfi membalas dengan sebuah senyum, matanya kini fokus menatap ke depan, dimana pengurus PMR mulai duduk di kursi yang ditata memanjang dengan meja panjang yang diletakkan di depan mereka.


Deg.


Mata Kahfi berhenti tatap pada siswi yang ada di tengah, duduk di antara teman-teman yang lain.


Wajahnya yang terlihat cantik, kulitnya yang putih bersih, senyum manisnya yang selalu menghias wajah, membuat mata siapa pun tidak lepas untuk tidak menatapnya. Tanpa kecuali sosok Kahfi.


Deg.


Debar jantung Kahfi semakin berdebar tidak karuan tatkala netra milik siswi itu berhenti tatap ke arah dirinya, seakan saling mengunci dan saling bicara satu dengan lain.

__ADS_1


__ADS_2